
•Detik ini aku tertawa, tapi di detik berikutnya aku menangis. Dunia memang tragis ya, seperti kata orang. Dia membuatmu tertawa terbahak-bahak sebelum akhirnya dia membuatmu menangis terisak-isak.
~Kairen
...****************...
Malam itu suasana berubah menjadi mencekam. Ketegangan melingkupi hati semua orang. Tepat pukul 11 malam, mobil ambulans yang membawa tubuh Kimy tiba di Rumah Sakit. Dokter Cakra yang memang bertugas menangani Kimy sudah standby di lobby ditemani beberapa timnya.
Saat tiba Kimy langsung dibawa masuk ke Ruang ICU, menunjukkan seberapa parah luka yang dialami gadis itu. Pintu ruangan ditutup rapat, orang-orang yang mengantar pun diminta untuk menunggu di luar.
Kai duduk di antara Rai dan Satya, menunduk dalam. Dia menyesal, harusnya dia bisa lebih cepat menyelamatkan Kimy tadi.
Tidak ada yang bicara disana, semua orang cemas menunggu kabar dari Dokter yang menangani. Reyhan berulang kali mondar-mandir untuk menghubungi Bagas, ayah Kimy tapi panggilan tidak tersambung.
Sungguh, suasana seperti ini sangat tidak nyaman untuk Kai. Cowok itu bangkit dari duduknya, memilih berdiri di depan kaca ruangan untuk melihat Kimy. Dari sana dia bisa melihat beragam alat medis menempel di tubuh Kimy. Selang infus dan selang kantong darah menempel di tangan kanan dan kirinya.
Dokter Cakra panik, denyut jantung Kimy semakin melemah. Bahkan sudah berbagai macam tindakan dia lakukan tapi tidak ada respon yang signifikan.
Tubuh Kimy tersentak saat alat kejut jantung mengenai dadanya, begitu terus sampai beberapa kali.
"Satu, dua, tiga..." alat itu kembali menghantamnya, tapi respon tubuh Kimy belum memuaskan.
Kepala Dokter Cakra nyaris pecah, dia kelabakan. Tangannya kemudian naik, bertumpu di atas dada Kimy kemudian menekannya dengan tempo tertentu.
"Kimy, bisa dengar suara saya?!. Ayo, kamu bisa!!"
Kai menatap nanar kearah gadis di dalam ruangan itu. Dia marah pada takdir, dia tidak tega melihat Kimy. Kai mengepalkan kedua tangannya sebagai pelampiasan.
"Lo harus kuat Kim!!"
Perlahan kelopak mata Kimy bergerak, gadis itu kejang-kejang. Dia kesulitan bernafas, dengan segera seorang suster memasangkan alat bantu pernafasan. Dituntun oleh Dokter Cakra, nafas Kimy kembali stabil meskipun matanya kembali tertutup. Dan detik itu juga tim medis menyatakan bahwa Kimy koma.
...****************...
Tidak ada yang bisa mendeskripsikan perasaan Kai sekarang. Sejak kemarin, dia tidak meninggalkan Rumah Sakit sama sekali. Berbagai cara sudah dilakukan untuk membujuk cowok itu, minimal dia pulang untuk ganti baju. Tapi dia selalu menolak.
Orang tua Kimy datang, Cindy terlihat paling terpukul. Sedangkan orang yang paling menyesal di dunia ini adalah Bagas. Bagaimana pun dia sadar, selama ini dia terlalu sibuk dan egois sampai tidak memperhatikan kehidupan Kimy.
Hingga sore itu di hari Rabu, Rachel datang kesana sambil membawa makanan. Kai hanya menatap kedatangannya sekilas kemudian kembali melihat kearah kaca ruangan Kimy.
"Kai?" Rachel memanggilnya, dan Kai hanya menoleh untuk formalitas. Oh, ternyata gadis itu sudah tau tentangnya. Yapi kenapa dia gak marah?.
"Kata Vero kamu gak pulang ya dari kemaren, pasti kamu belum makan juga kan?. Makan dulu yuk, aku udah bawain makanan buat kamu"
Kai menghela nafas kasar. Mau menolak tapi dia tidak tega pada Rachel, bagaimana pun dia tau jarak rumah Rachel ke Rumah Sakit itu sangat jauh. Tapi gadis itu tetap bela-balain datang hanya untuk memberinya makan.
Akhirnya Kai mengalah. Mereka duduk berdua di kursi tunggu. Rachel dengan semangat membongkar kotak makannya, menyusun lauk-lauk agar Kai bisa memilih.
"Kamu mau yang mana?" tanyanya dengan lembut, sudah selayaknya istri yang melayani suami.
"Gue ambil sendiri aja" sahut Kai kemudian. Dia mengambil nasi, kemudian mengambil lauk yang dia mau. Cowok itu menikmati makanannya, kalau boleh jujur masakan Rachel memang enak. Dia tidak pernah kecewa selama ini.
Tidak butuh waktu lama Kai sudah selesai makan. Rachel memberesi kotak makannya, dan Kai membantu.
"Kai?" Rachel memanggil lagi, membuat cowok itu menoleh.
"Kenapa?" tanyanya.
"Kamu gak pulang?" Kai menggeleng sebagai jawaban.
"Gue mau nungguin Kimy".
Rachel tersenyum. Gadis itu mendongak, membuat matanya dengan mata cokelat gelap milik Kai bertemu.
"Sekarang cuma Kimy doang ya Kai, udah gak ada aku?" tanya Rachel dengan sendu.
"Maksud lo?" tanya Kai bingung.
"Aku suka sama kamu" frontal, itu yang bisa Kai lontarkan untuk Rachel. Cewek itu sangat to the point terlepas dari sikapnya yang anggun dan feminim.
"Yakin?. Gue atau Satya?"
Diam, itulah respon yang diberikan Rachel. Bahkan untuk menjawab pun dia butuh waktu berpuluh-puluh menit untuk berpikir. Menunjukkan kalau dia juga ragu.
"Aku suka kamu" sahutnya final.
"Lo itu cuma nyaman, bukan suka apalagi cinta. Lo cuma nyaman sama gue, karna kita sering bareng-bareng. Cuma gitu doang hel, gak lebih" Kairen terkekeh setelahnya, "Mulut lo mungkin bisa bilang kalo lo suka sama gue, tapi dari mata lo gue tau kalo di hati lo cuma ada Satya. Gue saranin lo lebih ngertiin diri lo Hel, jangan sampe salah pilih. Lebih baik lo perjuangin si Bang Sat, jangan gue. Karena yah, seperti pertanyaan lo tadi, sekarang cuma ada Kimy, gak ada lo apalagi orang lain"
Penjelasan panjang dari Kai cukup menampar diri Rachel tentang keegoisannya. Tapi dia sendiri juga bingung apa yang hatinya mau. Dia hanya tidak mau jauh dari Kai, itu saja.
Melihat keterdiaman Rachel membuat Kai berinisiatif pergi, memberi ruang dan membiarkan gadis itu memikirkan semuanya. Tapi baru beberapa langkah Rachel kembali memanggilnya, dia berhenti.
"Kaii"
"Kalo misalnya aku beneran cinta sama kamu, apa pilihan kamu bakal tetep pilih_-
"Kimy, tetep Kimy. Gue cuma gak mau nyesel Hel, gue bakal tetep milih Kimy sampe kapan pun" Kai menjawab pasti, dia kemudian melenggang pergi meninggalkan Rachel sendirian.
Gadis itu tersenyum kecut, dia menunduk. Ini perasaannya yang salah atau waktunya yang terlambat?.
...****************...
Kai
Rachel
See you 2 episode lagiiii:)