
“Selamat pagi” A-Xu
menyapa Shi Ana yang telah berada di ruang makan bersama dengan penghuni
Kediaman Shi lainnya. Xi Yue yang berada di sampinngnya turut berkata “selamat
pagi”
“Ah, Tuan Muda. Selamat
datang” sambut Shi Ana.
“Maafkan saya atas
kelancangan saya yang datang di waktu yang kurang tepat.” Kata Xi Yue.
Pelayan yang pagi ini
melihat mereka berhubungan intim, dia menyembunyikan dirinya di balik pelayan
yang lainnya. Dia merasa sangat malu untuk menunjukan dirinya. “Ada apa
denganmu?” kata pelayan yang punggungnya di gunakan untuk bersembunyi”
“Tidak apa-apa” kata
pelayan itu.
Shi Ana menyadari
sesuatu yang aneh di wajah pelayan wanitanya. Melihat dari wajahnya, Shi Ana
menebak dengan mengaitkannya dengan waktunya. Dia mengingat kalau pagi ini dia
menyuruh pelayan itu untuk datang ke kamar A-Xu. Dan tanpa diketahui Xi Yue
telah ada di Kediaman Shi.
“Perkenalkan, mereka
adalah tamuku. Tuan Muda ini adalah Suami dari Nona Chu Xu, atau bisa dipanggil
Nyonya Xi.” Kata Shi Ana.
Pelayan wanita
sebelumnya semakin tenggelam dalam rasa malu. “Mereka suami istri.” Katanya
dalam benaknya.
“Perkenalkan, saya Xi
Yue” kata Xi Yue. Pesonanya yang melekat dalam pada dirinya membuat para
pelayan wanita terpesona padanya. Senyumnya yang khas tidak bisa dipisahkan
darinya.
A-Xu melirik sinis ke
arah Xi Yue.
“Ah,baiklah. Mari
semuanya sarapan” kata Shi Ana mengambil bicara sebagai kepala rumah tangga.
“Terima kasih”
Setelah mereka
menyelesaikan sarapan mereka, mereka melanjutkan kegiatan mereka. Dari yang
bekerja di toko, merapikan rumah, ataupun belanja kebutuhan rumah.
Sementara Shi Ana pagi
itu tidak langsung pergi ke toko. Dia menunggu A-Xu di halaman Kediaman Shi.
“Nona Chu” panggil Shi
Ana.
A-Xu menjawab panggilan
Shi Ana dan berjalan menuju tempatnya “Nona Shi menunggu kami?”
“Mau jalan-jalan ke
pasar?” tawar Shi Ana ketika A-Xu yang bersama dengan Xi Yue sampai di
depannya.
Sebelum menjawab
tawaran Shi Ana, A-Xu melirik ke arah Xi Yue sembari berharap dia akan mendapat
jawaban. Di sana dia mendapat persetujuan. “Boleh…” kata A-Xu.
Pagi itu pasar kota
cukup ramai seperti biasanya. Banyak pedagang dan pembeli berlalu lalang dengan
kesibukannya.
“Nona Chu, kamu lihat
semua pakaian yang mereka kenakan” kata Shi Ana sembari berjalan anggun di
jalan pasar kota.
“Hm…” A-Xu mengangguk.
“Semua pakaian mereka,
kainnya berasal dari usaha Keluarga Shi. Entah itu dari yang biasa hingga
sutra. Sementara desain pakaian mereka berasal dari Keluarga Shen. Meskipun
tidak semuanya dari mereka menggunakan produk Keluarga Shen.” Kata Shi Ana.
A-Xu diam mendengarkan, berusaha untuk memahami. Sementara Xi Yue, dia hanya
diam. Memposisikan dirinya sebagai pengawal dua wanita cantik yang berjalan di
depannya.
“Keluarga Shen ingin
memperluas produknya, meningkatkan keuntungannya dengan menikahkan putranya.
Keluarga Shen dan Shi bersatu. Usaha tekstil dan desain akan bersatu. Hal ini
tentu saja menguntungkan ke dua belah pihak” kata Shi Ana. Sejauh ini, A-Xu
memahami cerita. Membandingkan dengan informasi yang diterimanya, dia memahami
mengapa Tuan Muda Shen mencoba menyerang Shi Ana beberapa kali.
“Pernikahan bisnis? Aku
bahkan tidak pernah berfikir kalau aku harus menghabiskan hidupku bersama
seseorang yang tidak ku cintai demi sebuah bisni” kata Shi Ana. Kali ini
tidak mampu di pastikan oleh A-Xu, Shi Ana menitikan air matanya. Dengan
ketegarannya, dia berusaha menahan dirinya untuk tidak terbawa perasaan.
“Lalu bagaimana dengan
orang tua Nona? Apakah mereka menyetujuinya ?” kata A-Xu yang merasa iba
sebagai sesama wanita.
“Mereka
menyetujuinya”kata Shi Ana dengan nada yang menunjukan rasa sakit dan
kekecewaannya.
Dalam kasus kali ini
A-Xu tidak mampu berkomentar. Tentang bagaiamana Tuan Muda Shen memaksakan
kehendaknya untuk menikah dengan Nona Shi, tidak jauh berbeda dengan dirinya
yang memaksa untuk menikah dengan Xi Yue dua puluh tahun yang lalu.
“Meskipun mereka tahu
kalau Nona tidak menginginkan pernikahan itu?” kata A-Xu.
“Iya”
A-Xu tidak bisa
berbicara. Dia terdiam. Dia berfikir tentang bagaiamana keluar dari situasi
canggung ini.
“Lalu, apa yang Nona
inginkan?” Xi Yue akhirnya membuka mulut.
“Kenapa tidak bicara
dari tadi. Kamu membuatku hampir sesak karena tidak sanggup berkata-kata” maki
A-Xu di dalam fikirannya. Meskipun dia tidak mengatakannya, namun cara dia
melototi Xi Yue menunjukan kalau dia tengah memakinya di dalam fikirannya. Xi
Yue tidak menanggapi dan beralih kepada Shi Ana. “Apa yang harus kami lakukan?
Bukankah kami tidak mendapatkan undangan secara asal. Bukan begitu?” kata Xi
Yue tanpa bertele-tele.
Shi Ana tersenyum.
Senyumannya menandakan jawaban kalau perkataan Xi Yue benar. “Tanpa
berbasa-basi. Tentu saja karena mendengar kehebatan kalian di masa lalu. Karena
itu aku meminta bantuan kalian.”
“Memang kehebatan apa
yang sudah terjadi” fikir A-Xu. Ingatan yang mampu diingatnya tidak mencakup
hal yang tengah dibicarakan Shi Ana. A-Xu menatap Xi Yue penuh pertanyaan.
“Nona tidak perlu
mengungkit hal yang telah berlalu. Itu hanya masa lalu. Dan saat ini kami hanya
ingin hidup bebas” kata Xi Yue sembari menarik tubuh A-Xu masuk ke dalam
pelukannya. Dengan tatapan penuh keyakinan, Xi Yue berkata “jadi, kami tidak
bisa menjanjikan apapun pada Nona”
“Tu-tunggu dulu. Keinginan
kalian tentu saja aku mengerti. Untuk itu aku akan menawarkan harga yang
sepadan dengan kemampuan kalian” tawar Shi Ana yang kekeh mempertahankan mereka
sebagai pilihan.
“Xi Yue ini, entah apa
yang telah kami lalui selama ini. Aku tidak memiliki ingatan tentang kehangatannya
saat ini. Kehangatan ini sungguh berbeda dari apa yang bisa ku ingat
tentangnya.” Batin A-Xu.
Xi Yue terdiam. Dia tidak
menanggapi tawaran Shi Ana.
“Baiklah langsung saja.
Keluarga Shi memiliki satu toko di kota Qingshan. Kota itu berada di dekat
laut, jauh dari Xihua. Aku akan memberikan itu pada kalian jika kalian bisa
membantuku menyingkirkan Shen Lu. Kalian bisa menggunakan toko itu, mengelola
toko itu untuk kehidupan kalian, kehidupan yang kalian inginkan.” Kata Shi Ana.
“daripada harus menghabiskan waktu di Rumah Bordil” lanjut Shi Ana yang secara
sengaja ingin memprovokasi A-Xu.
Seperti yang
diharapkan, A-Xu langsung menatap dingin Xi Yue.
Xi Yue gelagapan
seketika. Dia tidak percaya kalau Shi Ana akan membongkarnya dengan cepat.
“Itu…” Xi Yue berusaha
menghindari tatapan A-Xu. Dia mengibaskan-ngibaskan kipasnya meskipun dia tidak
sedang kegerahan.
“Baik, aku akan
membatumu. Jika dia tidak mau maka biarkan saja” kata A-Xu yang termakan
provokasi. Shi Ana tersenyum penuh kemenangan.
“Baiklah, kalau begitu
kalian bisa melanjutkan. Sepertinya kalian butuh waktu untuk membahasnya” kata
Shi Ana. “aku permisi” lanjutnya dan dengan segera undur diri dari hadapan A-Xu
dan Xi Yue.