Our Love Story

Our Love Story
Chapter 11 - "Permintaan"



“Selamat pagi” A-Xu


menyapa Shi Ana yang telah berada di ruang makan bersama dengan penghuni


Kediaman Shi lainnya. Xi Yue yang berada di sampinngnya turut berkata “selamat


pagi”


“Ah, Tuan Muda. Selamat


datang” sambut Shi Ana.


“Maafkan saya atas


kelancangan saya yang datang di waktu yang kurang tepat.” Kata Xi Yue.


Pelayan yang pagi ini


melihat mereka berhubungan intim, dia menyembunyikan dirinya di balik pelayan


yang lainnya. Dia merasa sangat malu untuk menunjukan dirinya. “Ada apa


denganmu?” kata pelayan yang punggungnya di gunakan untuk bersembunyi”


“Tidak apa-apa” kata


pelayan itu.


Shi Ana menyadari


sesuatu yang aneh di wajah pelayan wanitanya. Melihat dari wajahnya, Shi Ana


menebak dengan mengaitkannya dengan waktunya. Dia mengingat kalau pagi ini dia


menyuruh pelayan itu untuk datang ke kamar A-Xu. Dan tanpa diketahui Xi Yue


telah ada di Kediaman Shi.


“Perkenalkan, mereka


adalah tamuku. Tuan Muda ini adalah Suami dari Nona Chu Xu, atau bisa dipanggil


Nyonya Xi.” Kata Shi Ana.


Pelayan wanita


sebelumnya semakin tenggelam dalam rasa malu. “Mereka suami istri.” Katanya


dalam benaknya.


“Perkenalkan, saya Xi


Yue” kata Xi Yue. Pesonanya yang melekat dalam pada dirinya membuat para


pelayan wanita terpesona padanya. Senyumnya yang khas tidak bisa dipisahkan


darinya.


A-Xu melirik sinis ke


arah Xi Yue.


“Ah,baiklah. Mari


semuanya sarapan” kata Shi Ana mengambil bicara sebagai kepala rumah tangga.


“Terima kasih”


Setelah mereka


menyelesaikan sarapan mereka, mereka melanjutkan kegiatan mereka. Dari yang


bekerja di toko, merapikan rumah, ataupun belanja kebutuhan rumah.


Sementara Shi Ana pagi


itu tidak langsung pergi ke toko. Dia menunggu A-Xu di halaman Kediaman Shi.


“Nona Chu” panggil Shi


Ana.


A-Xu menjawab panggilan


Shi Ana dan berjalan menuju tempatnya “Nona Shi menunggu kami?”


“Mau jalan-jalan ke


pasar?” tawar Shi Ana ketika A-Xu yang bersama dengan Xi Yue sampai di


depannya.


Sebelum menjawab


tawaran Shi Ana, A-Xu melirik ke arah Xi Yue sembari berharap dia akan mendapat


jawaban. Di sana dia mendapat persetujuan. “Boleh…” kata A-Xu.


Pagi itu pasar kota


cukup ramai seperti biasanya. Banyak pedagang dan pembeli berlalu lalang dengan


kesibukannya.


“Nona Chu, kamu lihat


semua pakaian yang mereka kenakan” kata Shi Ana sembari berjalan anggun di


jalan pasar kota.


“Hm…” A-Xu mengangguk.


“Semua pakaian mereka,


kainnya berasal dari usaha Keluarga Shi. Entah itu dari yang biasa hingga


sutra. Sementara desain pakaian mereka berasal dari Keluarga Shen. Meskipun


tidak semuanya dari mereka menggunakan produk Keluarga Shen.” Kata Shi Ana.


A-Xu diam mendengarkan, berusaha untuk memahami. Sementara Xi Yue, dia hanya


diam. Memposisikan dirinya sebagai pengawal dua wanita cantik yang berjalan di


depannya.


“Keluarga Shen ingin


memperluas produknya, meningkatkan keuntungannya dengan menikahkan putranya.


Keluarga Shen dan Shi bersatu. Usaha tekstil dan desain akan bersatu. Hal ini


tentu saja menguntungkan ke dua belah pihak” kata Shi Ana. Sejauh ini, A-Xu


memahami cerita. Membandingkan dengan informasi yang diterimanya, dia memahami


mengapa Tuan Muda Shen mencoba menyerang Shi Ana beberapa kali.


“Pernikahan bisnis? Aku


bahkan tidak pernah berfikir kalau aku harus menghabiskan hidupku bersama


seseorang yang tidak ku cintai demi sebuah bisni” kata Shi Ana. Kali ini


tidak mampu di pastikan oleh A-Xu, Shi Ana menitikan air matanya. Dengan


ketegarannya, dia berusaha menahan dirinya untuk tidak terbawa perasaan.


“Lalu bagaimana dengan


orang tua Nona? Apakah mereka menyetujuinya ?” kata A-Xu yang merasa iba


sebagai sesama wanita.


“Mereka


menyetujuinya”kata Shi Ana dengan nada yang menunjukan rasa sakit dan


kekecewaannya.


Dalam kasus kali ini


A-Xu tidak mampu berkomentar. Tentang bagaiamana Tuan Muda Shen memaksakan


kehendaknya untuk menikah dengan Nona Shi, tidak jauh berbeda dengan dirinya


yang memaksa untuk menikah dengan Xi Yue dua puluh tahun yang lalu.


“Meskipun mereka tahu


kalau Nona tidak menginginkan pernikahan itu?” kata A-Xu.


“Iya”


A-Xu tidak bisa


berbicara. Dia terdiam. Dia berfikir tentang bagaiamana keluar dari situasi


canggung ini.


“Lalu, apa yang Nona


inginkan?” Xi Yue akhirnya membuka mulut.


“Kenapa tidak bicara


dari tadi. Kamu membuatku hampir sesak karena tidak sanggup berkata-kata” maki


A-Xu di dalam fikirannya. Meskipun dia tidak mengatakannya, namun cara dia


melototi Xi Yue menunjukan kalau dia tengah memakinya di dalam fikirannya. Xi


Yue tidak menanggapi dan beralih kepada Shi Ana. “Apa yang harus kami lakukan?


Bukankah kami tidak mendapatkan undangan secara asal. Bukan begitu?” kata Xi


Yue tanpa bertele-tele.


Shi Ana tersenyum.


Senyumannya menandakan jawaban kalau perkataan Xi Yue benar. “Tanpa


berbasa-basi. Tentu saja karena mendengar kehebatan kalian di masa lalu. Karena


itu aku meminta bantuan kalian.”


“Memang kehebatan apa


yang sudah terjadi” fikir A-Xu. Ingatan yang mampu diingatnya tidak mencakup


hal yang tengah dibicarakan Shi Ana. A-Xu menatap Xi Yue penuh pertanyaan.


“Nona tidak perlu


mengungkit hal yang telah berlalu. Itu hanya masa lalu. Dan saat ini kami hanya


ingin hidup bebas” kata Xi Yue sembari menarik tubuh A-Xu masuk ke dalam


pelukannya. Dengan tatapan penuh keyakinan, Xi Yue berkata “jadi, kami tidak


bisa menjanjikan apapun pada Nona”


“Tu-tunggu dulu. Keinginan


kalian tentu saja aku mengerti. Untuk itu aku akan menawarkan harga yang


sepadan dengan kemampuan kalian” tawar Shi Ana yang kekeh mempertahankan mereka


sebagai pilihan.


“Xi Yue ini, entah apa


yang telah kami lalui selama ini. Aku tidak memiliki ingatan tentang kehangatannya


saat ini. Kehangatan ini sungguh berbeda dari apa yang bisa ku ingat


tentangnya.” Batin A-Xu.


Xi Yue terdiam. Dia tidak


menanggapi tawaran Shi Ana.


“Baiklah langsung saja.


Keluarga Shi memiliki satu toko di kota Qingshan. Kota itu berada di dekat


laut, jauh dari Xihua. Aku akan memberikan itu pada kalian jika kalian bisa


membantuku menyingkirkan Shen Lu. Kalian bisa menggunakan toko itu, mengelola


toko itu untuk kehidupan kalian, kehidupan yang kalian inginkan.” Kata Shi Ana.


“daripada harus menghabiskan waktu di Rumah Bordil” lanjut Shi Ana yang secara


sengaja ingin memprovokasi A-Xu.


Seperti yang


diharapkan, A-Xu langsung menatap dingin Xi Yue.


Xi Yue gelagapan


seketika. Dia tidak percaya kalau Shi Ana akan membongkarnya dengan cepat.


“Itu…” Xi Yue berusaha


menghindari tatapan A-Xu. Dia mengibaskan-ngibaskan kipasnya meskipun dia tidak


sedang kegerahan.


“Baik, aku akan


membatumu. Jika dia tidak mau maka biarkan saja” kata A-Xu yang termakan


provokasi. Shi Ana tersenyum penuh kemenangan.


“Baiklah, kalau begitu


kalian bisa melanjutkan. Sepertinya kalian butuh waktu untuk membahasnya” kata


Shi Ana. “aku permisi” lanjutnya dan dengan segera undur diri dari hadapan A-Xu


dan Xi Yue.