Our Love Story

Our Love Story
Tentang Malam Ini



Malam itu bulan bersinar terang, ditemani oleh bintang untuk menghiasi langit yang gelap. Di tengah semilir angin yang berhembus pelan, Raizel duduk bersandar di atas kap mobionya seorang diri.


Cowok itu berulang kali menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Begitu terus untuk mengurangi rasa gugup yang dia rasakan. Selama 17 tahun dia bernafas, belum pernah Raizel merasa segugup ini. Bahkan saat pertama kali masuk TK pun rasanya tidak sekacau sekarang.


Sebuah mobil taksi yang berhenti membuat kepala Raizel yang semula menunduk menjadi menoleh ke samping, tepat kearah seorang gadis dengan dress abu-abu yang baru turun dari mobil itu.


Tolong siapapun, ingatkan Raizel untuk berkedip!!.


Raizel sampai lupa caranya bernafas saat Agatha sudah datang dan tersenyum lebar kearahnya. Sungguh, itu sangat tidak baik untuk kesehatan jantung. Dia sangat cantik. Rambutnya yang cokelat alami tergerai indah sampai sepinggang, apalagi make up tipis yang kini sudah bertemu dengan kulit putih milik Agatha.


"Udah puas ngeliatin gue nya?" lamunan Raizel langsung buyar. Melihat Agatha yang tersenyum miring menatapnya membuat Raizel segera merubah ekspresi se natural mungkin.


Stay cool brother


"Lo ngapain ngajak ke Danau malem-malem?" tanya Agatha bingung.


"Yang pasti gue yakin lo bakalan suka", Raizel maju selangkah kemudian menyodorkan telapak tangannya, "Percayakan sama gue?"


Agatha tersenyum tipis sebelum akhirnya dia meletakkan tangannya dalam genggaman Raizel. Mempercayakan semuanya pada cowok itu untuk malam ini. Sehari ini saja, Agatha ingin bahagia.


Malam ini, senyum Raizel terulas lebar dan sangat tulus. Merasakan hangat tangan Agatha dalam genggamannya membuat sesuatu dalam dirinya terus memaksanya untuk tersenyum malam ini.


Mata Agatha terbuka lebar saat melihat indahnya pemandangan danau saat malam hari. Terdapat banyak lampu gantung warna warni yang digantungkan di sisi-sisi danau. Membuat air yang biasanya berwarna hijau alami kini memantulkan cahaya lampu dan terlihat sangat indah.


"Mau naik perahu gak?" tanya Raizel menawarkan. Raut wajah Agatha nampak ragu, gadis itu terlihat menimang.


"Pengen sih, tapi gue takut jatuh" jawab Agatha.


"Ada gue. Gue gak bakal ngebiarin lo jatuh sendirian"


Dan saat itu juga Agatha mengangguk setuju. Di bawah sinar lampu gantung dan di atas genangan air yang tenang, dua remaja yang sedang berbahagia itu tertawa bersama dengan sangat bahagia.


"Rai, lo dengerin gue gak sih?!" Agatha mendengus kesal saat dia sudah berbicara panjang lebar tentang masa SMP nya yang dulu sering dibully karena terlalu kurus. Tapi bukannya menanggapi, Raizel hanya siam menatapnya intens sambil mengulas senyum tipis.


"Hah?, gue dengerin lo kok!" sahut Raizel kelabakan.


"Bohong, lo gak dengerin gue!!. Ihh lo ngeselin banget sihh, gue udah ngomong sampek berbusa tapi lo gak dengerin. Sumpah yaa, cewek yang jadi pacar lo harus ekstra sabar ngadepin sikap lo yang 11 12 sama iblis" Agatha berceloteh panjang lebar dengan rasa kesal yang menggebu-gebu. Gadis itu memang sangat cerewet, tapi Raizel menyukainya.


"Berarti lo harus belajar sabar, kan lo yang bakal jadi pacar gue" Agatha sontak terdiam, apalagi saat Raizel kini sudah menatap penuh kearahnya. Dia mendadak gugup.


"Lo mau gak, jadi pacar gue?"


Jantung Agatha nyaris copot saat ungkapan cinta itu terlontar dari mulut Raizel secara tiba-tiba. Tenggorokannya mendadak kering, untuk bicara pun rasanya susah.


"Gue gak tau perasaan ini ada mulai kapan. Tapi saat dideket lo, gue ngerasa sesuatu yang beda. Gue bahagia ada di deket lo Ta, dan gue pengen lo terus ada sama gue sampek kapanpun" Raizel menggenggam tangan Agatha dengan lembut. Menyalurkan ketulusan lewat sorot mata teduh yang hanya akan dia berikan kepada gadis di depannya ini.


Agatha menunduk dalam. Jujur dia bingung, dia bahagia setiap kali bersama Raizel, dia juga selalu nyaman dengan setiap perilaku yang diberikan cowok itu untuknya. Tapi dia tidak tau apakah ini cinta, atau hanya sekedar nyaman. Semuanya masih abu-abu. Agatha tidak bisa meraba perasaannya sendiri.


"Kasih gue waktu" ujar Agatha dengan lirih.


"Gue nyaman sama lo, tapi gue gak tau ini cinta apa bukan"


Raizel menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya dia tersenyum simpul.


"Gue pasti bakal nungguin lo, sampek kapanpun"


*********


Cafe malam itu nampak sangat ramai. Remaja yang sedang dimabuk asmara, para jones yang lagi cari pasangan, ataupun para kaum milenial yang nongki-nongki ala seleb media sosial, semuanya memenuhi meja-meja di Cafe yang terkenal dengan band akustiknya.


Di salah satu meja, ada rombongan Kairen dkk yang sedang nongkrong sembari menikmati malam minggu tanpa pasangan. Di malam yang dingin ini, empat cowok duduk ditemani dengan segelas kopi janji jiwa. Kopinya diminum jiwanya disakiti. Eh?


Di sisi ruangan, tepat diatas sebuah panggung minimalis yang diisi oleh aneka alat musik, gadis dengan rambut kuncir kuda itu tersenyum lebar sembari memangku gitar kesayangannya. Di sampingnya juga ada Arka, Raka, Aska, dan Fadilla yang sudah berada diposisi masing-masing.


Musik mulai mengalun merdu, seakan menghipnotis semua orang untuk menatap kearah mereka. Kimy memetik gitarnya sesuai irama, wajah gadis itu berseri-seri. Dia cantik, dia gadis spesial dan semua orang mengakui hal itu.



Hati yang temaram


Matamu juga mata mata ku ada hasrat yang masih terlara



Satu kata yang sulit terucap


Hingga batinku tersiksa


Tuhan tolong aku jelaskan lah perasaanku berubah jadi cinta



Kai tak mengalihkan pandangannya dari Kimy sedetikpun. Seolah gadis itu adalah magnet yang membuat matanya tak bosan untuk terus menatapnya.



"Yakin lo gak tertarik sama dia?" Noval berbisik pelan, takut-takut kalau Satya yang sedang duduk di depan mereka mendengarnya.



Kai hanya memasang wajah datar, tidak memberikan respon apapun selain mengendikkan bahunya.



"Gue gak tau" sahut Kai seadanya. Dia tidak bisa berspekulasi. Dia hanya diam dan mengikuti takdir seperti air mengalir yang membawa dedaunan hanyut seiring berjalannya arus.



Tak bisa hatiku menafsirkan cinta


Karna cinta tersirat bukan tersurat


Meski bibirku terus berkata tidak, mataku trus pancarkan sinarnya.


Apa yang kita kini tengah rasakan


mengapa tak kita coba tuk satukan


mungkin cobaan untuk persahabatan, atau mungkin sebuah takdir tuhan


Lagu berjudul 'Sahabat jadi Cinta' itu dinyanyikan Kimy dengan sempurna. Gadis itu tersenyum manis saat semua pengunjung menikmati nyanyiannya. Sampai mata cokelat Kimy tertuju pada satu sosok yang juga sedang melihat kearahnya. Senyumnya semakin terulas lebar, tanpa sadar lagu ini adalah sebuah penggambaran.


"Lagu ini tentang kita"


Kimy



Kai



(**abaikan kalungnya yaww:)


Rai**



(Nyesekk, abis ditolak sama ayang:>)