Our Love Story

Our Love Story
Keluarga



Seorang pria seumuran dengan Reyhan keluar dari area Bandara. Kaca mata hitam bertengger manis dihidung pria itu dengan sebuah koper yang dia tarik menggunakan tangan kanan. Matanya melirik kearah jam tangan seharga 50 juta yang baru dia beli kemarin. Tak lama sebuah mobil sedan berwarna hitam datang, lalu keluarlah seorang pria dari sana.


"Maaf, Pak. Saya terlambat" ucap pria itu sambil menunduk takut.


"No problem" pria tadi menyahut dengan acuh. Dia masuk ke dalam kursi penumpang yang sudah dibukakan pintunya. Duduk sambil memyilangkan kakinya dengan arogan. Mobil berjalan pelan, pria itu menatap kearah jendela, tepat kepada gedung pencakar langit yang berjejer rapi di pusat kota. 12 tahun sudah dia pergi meninggalkan negara ini. Dan sekarang dia kembali, kembali untuk membawa pergi pelita hatinya yang katanya melarikan diri ke salah satu Negara bagian Asia Tenggara itu.


Pria itu merogoh saku jasnya, mengambil ponsel dari sana untuk menghubungi seseorang.


"Dimana dia sekarang?" tanyanya pada seseorang setelah panggilan terhubung.


"Dia sekarang sedang berada di Gloria Cafe, sepertinya dia bekerja disana sebagai vokalis band"


Ucapan itu, membuat pria dengan marga Wijaya itu mendesis kesal. Dia mematikan panggilan telepon sepihak tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Kenapa anak itu harus keras kepala seperti ibunya?!, benar-benar merepotkan!!"


******************


🎡🎡🎡


_Ketika ku mendengar bahwa


Kini kau tak lagi dengannya


Dalam benakku timbul tanya


Masihkah ada dia di hatimu bertahta?


Atau ini saat bagiku untuk singgah di hatimu?


Namun siapkah kau 'tuk jatuh cinta lagi?


Meski bibir ini tak berkata


Bukan berarti ku tak merasa


Ada yang berbeda di antara kita


Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena


Diriku tak mampu untuk bicara


Bahwa aku inginkan kau ada di hidupku


🎡🎡🎡


Suara Kimy menyatu dengan aransemen musik pop yang dimainkan oleh Arka, Raka, Aska, dan Dilla. Penampilan mereka berhasil memukau semua pengunjung yang hadir. Apalagi genre musik lagu milik 'Hivi' itu memang cocok untuk seseorang yang sedang memendam rasa untuk seseorang. Seperti Kimy contohnya.


Gadis dengan rambut dikuncir kuda itu tersenyum girang. Tidak ada hal yang bisa menghibur dirinya selain bernyanyi. Mengutarakan perasaannya lewat kata dan nada-nada disetiap bait lagu memang memiliki kesan tersendiri baginya.


Suara tepuk tangan para pengunjung menyudahi pertunjukan mereka hari ini. Mereka turun dari panggung dan langsung disambut Satya dengan wajah puas.


"Kalian keren" puji cowok itu seraya mengacungkan jari jempolnya. Ngomongnya kalian tapi natapnya ke Kimy doang. Ini kah yang dinamakan sakit tapi tak berdarah?!.


"Thanks Bos" sahut Arka dengan girang. Kapan lagi coba dipuji bos-nya yang biasanya ngomong cuma satu tahun sekali.


"Ada bonusnya nggak nih?" Raka si mata duitan memberikan guyonan yang berisi harapan. Kali aja beneran, kan lumayan duitnya bisa buat batarin pacarnya makan di warteg.


"Gampang, entar gue transfer"


Ucapan itu, membuat empat orang yang semuanya rata-rata anak kost memekik senang. Seenggaknya, mereka nggak kepunting uang buat makan pas tanggal tua.


"Boss emang yang terbaik!!" Fadilla berseru senang. Gadis manis dengan rambut sebahu itu memamerkan senyuman terbaiknya kepada Bos muda yang telah berhasil mencuri hatinya sejak dia pertama kali bergabung di band ini.


Tepat lima bulan yang lalu, saat pertama kali dia menginjakkan kaki di Kota J. Kota metropolitan yang mengandung beragam asam manis kehidupan. Dia yang dulu berasal dari kota kecil, harus beradaptasi dengan kerasnya hidup di kota besar yang penuh dengan keserakahan. Sampai suatu saat, dia menemukan jalan buntu. Dunia terasa tidak adil untuk orang kecil sepertinya yang tidak punya apa-apa. Dan saat itulah, Satya datang sebagai malaikat penolong dan memberinya pekerjaan. Satya laki-laki yang baik dan punya rasa empati yang tinggi. Perhatian kecil yang diberikan cowok itu tanpa sadar membuat hati Fadilla menjadi serakah dan mempunyai keinginan lebih untuk mendapatkannya. Tapi Fadilla sadar, dia dan Satya sangat jauh berbeda. Satya anak orang berada, berbeda dengannya yang hanya anak seorang anak petani yang bermimpi dapat meraih kesuksesan di Kota yang katanya berisi sejuta impian.


"Emm Sat, gue balik duluan ya?. Ada urusan soalnya" ucapan Kimy membuat atensi semua orang beralih kepadanya. Gadis itu mengambil tas dan jaketnya di meja, bersiap untuk pergi.


"Urusan apaan?, mau gue anter?" Satya menawari dengan wajah penuh harap. Gapapa jadi supir, asal bisa deket Kimy apapun akan dia lakukan.


Kimy diam dengan wajah bingung. Mau menolak tapi enggak enak. Tapi nggak mungkin juga dia bilang kalau dia ada janji sama Kairen buat ketemuan di Rumah Pohon.


"Ehh, nggak usah. Gue udah.... Gue udah pesen taksi online. Tuh orangnya udah di depan" alibi Kimy seraya menunjuk kearah mobil taksi yang terlihat dari dalam karena kaca Cafe memang tembus pandang.


Satya mengikuti arah tunjuk Kimy. Pemuda itu mengangguk beberapa kali kemudian tersenyum.


"Oh, yaudah. Hati-hati di jalan ya, kalo ada apa-apa kabarin gue" tangan Satya terangkat, mengacak rambut Kimy beberapa kali hingga membuat semua orang menatap aneh kearah mereka. Terutama Dilla. Gadis itu memperhatikan interaksi Satya dan Kimy dengan seksama. Terbesit rasa tidak suka di hatinya saat melihat perhatian yang diberikan Satya kepada Kimy. Tapi dia juga sadar diri, dia tidak punya hak apalun untuk marah.


"Kalo gitu gue pamit ya guys, bye!!"


Kimy berjalan cepat kearah mobil taksi yang dia tunjuk secara random tadi. Dia cuma berharap kalau di dalam mobil taksi itu memang benar-benar kosong. Kalau tidak, mau ditaruh dimana mukanya nanti?!.


Dengan mengumpulkan keberanian dan rasa percaya diri setinggi langit, Kimy membuka pintu mobil taksi tersebut. Dan nice, tidak ada orang selain sang supir. Gadis itu duduk di kursi penumpang dengan tenang. Dia melihat kearah jendela, tepat dimana Satya melambaikan tangan kearahnya.


"Pak, ke Jalan Seruni deket Taman Kota ya" ucap Kimy pada supir taksi yang langsung dibalas anggukan kepala oleh orang itu.


Mobil berjalan dengan kecepatan sedang, membelah jalanan pusat kota yang tidak pernah sepi kendaraan. Panas dan polysi sudah menjadi sahabat pendamping perjalanan di setiap saat. Tapi beruntung hari ini awan sedikit mendung, memberikan sedikit kesejukan untuk orang-orang kecil yang bekerja demi mengais rupiah dengan beratapkan awan.


Jening Kimy mengerut bingung saat mobil yang ditumpanginya berhenti di pinggir jalan. Padahal rute untuk mencapai tempat tujuan masih sekitar 1 km lagi.


"Pak kok berhenti?"


Tidak ada jawaban dari supir taksi membuat firasat Kimy berubah menjadi tidak enak. Buru-buru gadis itu memberesi barang-barangnya kemudian segera membuka pintu mobil dan bergegas pergi.


Panggilan itu, membuat langkah gadis bernama Kimyora itu terhenti. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Suara seseorang yang sangat berarti tetapi juga sangat tidak ingin dia dengar kembali masuk ke dalam indra pendengarannya dengan teratur.


"Kim...." orang itu mendekat, kemudian mencekal pergelangan tangan Kimy hingga mau tidak mau gadis itu berbalik arah. Netranya menatap lekat kearah sorot mata tajam milik seseorang yang sialnya adalah Ayahnya sendiri.


"Lepasin tangan aku!!" Kimy membuang pandangannya kearah lain, enggan bersitatap dengan mata sang ayah yang tengah menatap tajam kearahnya.


"Ayo pulang!!" Bagas berseru dengan penuh penekanan disetiap kata yang dia ucapkan.


"Kalo Papa kesini cuma buat maksa-maksa aku lagi, lebih baik Papa balik aja ke Aussy. Aku bisa urus diri aku sendiri!!" ucap Kimy sambil menatap nyalang kearah sang Ayah, menantang. Dia melepas tangannya dengan paksa hingga pegangan itu terlepas.


Dari kejauhan, Kairen yang tidak sengaja lewat karena ingin ke Rumah Pohon untuk menemui Kimy pun menghentikan laju motor sport-nya saat dia melihat sosok seorang pria yang sudah tidak asing lagi. Bagaskara Wijaya, tentu dia sangat mengenal pria itu. Pria yang sudah membuatnya bertemu dengan Kimy, pria itu juga yang memisahkannya dengan Kimy 12 tahun yang lalu.


"Kamu harus ikut Papa kembali ke Australia!!" ucap Bagas menaham marah. Dia paling tidak suka dibantah, apalagi oleh keluarganya sendiri.


"Buat apa?!. Supaya Papa bisa masukin aku ke sekolah hukum, iya kan?!. Supaya Papa bisa paksa aku jadi pengacara kayak Papa, dan agar Papa bisa pamer ke temen-temen Papa kalo Papa punya anak seorang pengacara, bukan penyanyi. Iya kan?!" Kimy berseru kencang, rasa kesal yang dia pendam akhirnya dia tumpahkan di depan sang Ayah tanpa peduli kalau pria itu memasang wajah tak suka.


"Tutup mulut kamu!!. Siapa yang ajarin kamu berani ngebantah orang tua?!. Pasti perempuan itu kan!!" Bagas menujuk wajah Kimy dengan jari telunjuknya. Rahang pria itu mengeras, sorot matanya menggambarkan kalau dia memang sangat membenci pembantahan.


"Buat apa aku nurutin kemauan Papa tapi Papa sendiri nggak pernah mikirin perasaan aku?!"


"Apa Papa pernah mikirin apa yang aku mau?, apa yang aku suka?, apa yang aku benci?, dan apa yang bisa bikin aku seneng?. NGGAK!!. NGGAK PERNAH SAMA SEKALI. PAPA EGOIS, PAPA SELALU MAKSAIN KEHENDAK PAPA SENDIRI, PAPA NGGAK PERNAH TAU APA YANG KIMY MAU, DAN ASAL PAPA TAU, MAMA PERGI ITU KARENA PAPA!!. KARENA KEEGOISAN PAPA YANG SELALU PENGEN MENANG SENDIRI!!"


Kimy berucap dengan amarah meluap-luap. Sesekali gadis itu mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi.


"CUKUP!!" bentak Bagas sambil menatap tajam kearah Kimy.


"Sudahi omong kosong kamu!!. Sekarang masuk mobil, kita ke Bandara sekarang!!" Bagas menarik paksa Kimy untuk masuk ke dalam mobil sedan hitamnya. Gadis itu memberontak, sumpah demi apapun, dia tidak mau kembali ke rumah yang sudah mirip kastil Rapunzell itu.


"KIMY NGGAK MAU, LEPASIN TANGAN AKU PA!!" Gadis itu menghentak-hentakkan kakinya, berharap pegangan tangan sang ayah bisa terlepas walaupun kecil kemungkinan.


Kairen yang melihat Kimy ditarik-tarik pun tidak tinggal diam. Pemuda itu turun dari motornya, kemudian berjalan cepat kearah Bagas dan Kimy yang berjarak 20 meter dari tempatnya berhenti tadi.


"Om, Om, jangan kasar gitu dong!!. Kasian kan si Kimy" Kairen melerai pegangan tangan Bagas dengan tampang sok jagoan. Dia berdiri diantara keduanya, dan Kimy dengan sigap berlindung di belakang punggung Kai. Seolah meminta perlindungan dari pemuda bermarga Alexander itu.


"Kai kan?!. Kamu masih kecil, nggak usah ikut campur urusan keluarga saya!!" desis Bagas sambil memasang wajah seolah meremehkan.


"Hal apapun yang menyangkut tentang Kimy akan jadi urusan saya juga, Om. Katena Kimy berarti buat saya"


Deg


Kimy menatap kepala belakang Kairen tak percaya. Dia tau ini saat yang tidak tepat, tapi kenapa saat ini jantungnya memompa dua kali lebih cepat.


"Om kan pengacara ya, harusnya om tau dong kalo tindakan Om tadi itu juga termasuk pelanggaran hukum. Saya bisa aja loh, laporin Om ke polisi dengan tuduhan kekerasan, dan pelanggaran HAM. Gimana, saya pinter nggak?!" disaat-saat seperti ini, seorang Kairen Bin Cebong masih sempat-sempatnya mengeluarkan jurus yamet kudasi untuk memancing sungut Bagas yang kedua muncul. Cowok itu menaik turunkan alisnya sembari memasang senyum lebar selebar lapangan bekel tanpa rasa takut sama sekali.


"Saya ini Pengacara, kamu akan kesulitan untuk memenjarakan saya apalagi dengan tuduhan tanpa bukti"


Kairen menyunggingkan senyum miringnya. Dia maju selangkah lebih dekat. Menatap orang yang dua kali jauh lebih tua dengannya dengan wajah menantang.


"Jangankan menjarain Om, bikin karier Om jatuh pun Papa saya sanggup. Jadi, saya minta sama Om dengan hormat, jangan ganggu Kimy lagi"


Bagaikan cebong bertaring, Kairen berhasil membuat Bagas tidak berkutik hanya dengan sedikit gertakan yang terpaksa harus mengikut sertakan nama sang Ayah. Dia kemudian menarik tangan Kimy untuk menjauh. Dia mengambil motornya, mengajak gadis itu pergi dari sana meninggalkan Bagas yang diam sambil diselimuti kekesalan.


*****************


Dua orang beda jenis itu duduk berjajar di sebuah Rumah Pohon untuk menikmati suasana sore hari. Kimy menatap kosong ke depan. Jujur, beban terberatnya saat ini adalah keluarga. Marah, sedih, dan kecewa. Terkadang dia marah kepada takdir, dia sedih melihat nasib keluarganya sendiri yang tidak sebahagia keluarga orang lain, dia sering merasa kecewa dengan keadaan yang selalu memaksanya untuk bergerak tapi realita selalu membuatnya terus terjatuh.


"Kalo mau nangis, nangis aja. Gue pinjemin bahu" Kairen bergurau ringan, berharap Kimy merasa sedikit tenang meskipun gadis itu hanya menanggapi dengan senyuman kecil.


Kimy menyandarkan kepalanya di bahu Kai. Berulang kali gadis itu menarik nafas panjang. Sedikit memberikan senyuman yang malah membuat wajahnya terkesan sangat menyedihkan.


"Papa gue emang gitu. Kadang gue iri liat oranf-orang bisa akrab sama bokapnya. Sedangkan bokap gue, dia itu orang paling egois yang pernah gue temuin. Dan karena keegoisan dia, Nyokap gue pergi. Dia lebih milih ngelanjutin kariernya jadi penyanyi ketimbang nurutin ego bokap gue yang enggak ada habisnya. Gue nggak nyalahin nyokap sih. Kalo gue jadi dia, gue pasti milih jalan yang sama juga"


Kairen merasakan bahunya basah. Dia tau Kimy menangis, dan ini pertama kalinya dia melihat gadis itu sesedih ini.


"Gue tau ini berat buat lo. Tapi yang harus lo inget, lo nggak sendirian. Ada gue. Lo bisa berbagi apapun beban lo ke gue. Yaa, meskipun gue cuma bisa bantu buat numpangin bahu, tapi seenggaknya beban lo bisa agak berkurang"


Kimy mengangkat kepalanya. Gadis itu tersenyum menatap wajah rupawan Kai meskioun jejak air mata madih tercetak di pipinya.


"Lo emang sahabat terbaik gue"


Kairen Elashka Alexander



Kimyora Claresy Wijaya



Satyaaaaa:>



**Hy hy hy...... pa kabar semuaaa?


lama banget othor cantekk nggak menyapa:>


maaf ya guys, udah beberapa hari aku nggak up. ada banyak bangettttt hal yang harus ku urus jadinya novel ini terbengkalai:(


sekali lagi maaf yaaa, thanks yang udah mau nungguuu


jan lupa tinggalkan jejakk, happy reading😍**