Our Love Story

Our Love Story
Umi Abi Love Story



"ASTAGFIRULLAH KAIIIIII" pagi-pagi buta teriakan Kenzia sudah melengking mengisi seisi rumah. Membuat beberapa orang yang masih tidur jadi bangun, bahkan kelinci peliharaan Kai yang lagi asyik makan sontak berhenti saat mendengar teriakan si Kanjeng Ratu, penguasa rumah ini.


Kai yang lagi sibuk main HP terjengkang kaget. HP IPhone barunya hampir jatuh, untung sempat tertangkap. Kalau tidak dia bisa rugi bandar puluhan juta.


"Ada apa sih Bundahhh?" tanyanya sambil menatap bingung kearah emaknya yang lagi berdiri nangkring di depan pintu kamar yang tidak jauh dari tempatnya rebahan saat ini.


Mata Kenzi semakin melotot. Kalau digambarkan, mungkin sekarang wajahnya mirip siluman yang berwajah merah dan memiliki dua sungut di atas kepala. Tidak lupa kebulan asap yang keluar dari hidung untuk menggambarkan kalau dia sedang marah.


"Ada apa, ada apa. Kamu lagi ngisi bathtub apa mau bikin seisi rumah banjir?!. Liat itu airnya ngalir kemana-mana anak kodok!!!"


Kai langsung terkejut. Buru-buru dia mengintip ke bawah. Benar saja, bawah ranjangnya kini ada genangan air yang berasal dari kamar mandi. Gak tinggi sih, tapi cukup buat ngebasahin sendal seisi rumah.


Cowok itu menyengir tanpa dosa kearah ibunya, menampakkan gigi putih rapi yang dia miliki. "Maaf ya Bundaa, hehe. Kai lupa tadi gak matiin kran airnya"


Kenzi mendengus. Sekarang manggil Bunda, kemarin Umi, minggu lalu malah manggil Nyai. Kai ini seperti kumpulan sikap tengilnya waktu muda, ditambahi beserta bobrok-bobroknya sekalian. Bener-bener gak ada yang bisa dipandang.


"Sekarang kamu pel itu semuaa. Mama gak mau tau, pokoknya harus sampe kering lagi!!" titah perempuan itu. Bahu Kai langsung merosot, sungguh kali ini emaknya memang seperti emak tiri.


"Yahh, Maa. Kan ada Mbak. Biar Mbak aja yang beresin yaaa" Kai memohon sambil memasang wajah semelas mungkin, meskipun dia tau itu akan percuma. Karena Kenzia adalah tipe orang yang jarang bisa diajak bernegosiasi.


"Nggak boleh. Kan kamu yang ngotorin, ya kamu lah yang harus beresin lagi. Mbak Ratna haram ngebantuin anak setan kayak kamu" tuh kan, hati emaknya emang sekeras batu akik. Gak ada kasihan-kasihannya sama anak sendiri. Bahkan kalo anaknya harus jadi makanan si Micha pun dia kayaknya tetap legowo.


"Ihh si Mama. Tadi ngatain anak kodok, sekarang anak setan, jadi sebenernya Kai anak siapa?????"


"Sebenernya kamu tuh anak pungut, waktu itu Papa kamu nemu di gerobak cireng"


***********


Malam hari pun tiba. Kai turun dari tangga, dia menutup sesi semedi di dalam kamar dengan makan malam. Di meja makan, orang tuanya dan juga Rai sudah makan lebih dulu. Gak nungguin dia!!. Dasar jahat. Mungkin benar kata Kenzia kalo dia cuma anak pungut yang ditemu di gerobak cireng. Mendengar itu Kai nangis ngenes. Kok hidupnya gak aesthetic banget, masak ditemu di gerobak cireng. Yang lebih elite dikit kek, di kolong jembatan misalnya.


"PAGIII KELUARGAKU TERCINTAHHHH" serunya dengan kencang. Raizel melirik malas, sedangkan Kenzi cuma bisa nahan muntah. Kok dia dulu bisa ngeluarin makhluk kayak Kai itu gimana ceritanya.


"Tuh kan, udah mulai stress. Kasian" celetuk Reyhan seraya meminum air putih di meja.


"Gak asik akhh, dari tadi di bully mulu" cebik Kai kesal. Dia duduk di samping Raizel, membalikkan piring, kemudian mulai memilih makanan yang dia suka.


"Pa, masak tadi Renata dibeliin mobil baru. Ihhh bagus bangett" Kenzia berceletuk ringan, membuat mata tiga pria yang sedang makan langsung menatap kearahnya.


"Bagus dong, berarti sekarang si Vicky gak kere-kere amat" sahut Reyhan seadanya.


Kenzi sontak cemberut, punya suami kok gak peka banget. Kai menyenggol lengan Raizel, sehingga saudaranya itu menoleh sembari menatapnya bingung.


"Si Umi lagi ngode" bisiknya.


"Hooh, kek ABG aja main kode-kodean" sahut Raizel berbisik juga.


"Gak asik ihh, Si Abi gak peka lagi"


"Umi kodenya kurang keras "


"Ayo kita semangatin Umi!!"


"SEMANGAT UMIIII!!!!"


************


Hari minggu memang surganya bagi kaum rebahan macam Kai. Karena gak ada jadwal keluar, cowok itu memilih bersantai-santai ria di ruang tengah. Ditemani setoples keripik kentang, cowok itu merebahkan diri di sofa sembari membalasi pesan Anak Warrior di grub chat mereka.


...**Warrior People💩**...


Vero


David


~Spilll Spilll


Yoshi


~Tinggal serang aja yekan😈


Vero


~Jln Flamboyan, no 21, kiri jalan sblah timurnya ada pabrik kosong


^^^Kairencakepanakmamii^^^


^^^~Lusa otw^^^


Nopal


~Yesss hiburan baru😊


Chat berakhir disana. Pikiran Kai masih berkelana memikirkan Dead Cobra. Seperti gak asing, tapi kok dia gak inget. Masa bodo lah, lusa juga dia bakal tau sendiri.


Tangan cowok itu sibuk mengambil satu persatu keripik kentang sampai tidak terasa kalau sudah habis satu toples. Dia merubah posisinya menjadi duduk, kemudian mengambil segelas air.


"Dead Cobra, kok kayak pernah denger ya?" gumamnya sembari menggaruk rambutnya, mencoba mengingat.


"Kai?, kamu kutuan?" celetuk Kenzia yang baru saja keluar dari dapur, dia bingung saat liat anaknya tiba-tiba garuk-garuk.


"Engga Ma, ini lagi gosok kupon hadiah" Kai menyengir.


"Mau Mama bantu gosokin?. Pake pisau dapur misalnya?" sahut Kenzi geregetan karena jawaban Kai yang ngelantur .


Cowok itu malah menyengir ngeri sambil menggelengkan kepalanya. Didikan emaknya itu didikan psikopat, dia jadi takut dimutilasii beneran. "Gak usah deh Ma, makasih. Kai masih pengen punya kepala. Kasian temen-temen Kai kalo besok liat Kai udah kayak hantu jeruk purut"


Kenzia cuma bisa mengangguk takzim, mencoba memaklumi pola pikir anaknya sambil memohon kepada Tuhan agar diberi kesabaran sedikit lagi supaya dia gak sampe beneran garuk leher Kai pake golok ataupun silet.


Baru juga dia mau balik ke kamar, Kai sudah memanggilnya lagi. Dia menoleh, "Kenapa?"


"Tau Dead Cobra gak?"


Mendengar pertanyaan itu membuat mata Kenzia sontak memicing. Dia menghampiri Kai, berdiri di depan cowok itu dengan tatapan mengintimidasi.


"Tau darimana kamu tentang mereka?" tanya Kenzi.


Kairen merasakan itu, hawa tidak biasa keluar dari tubuh ibunya. Membuat bulu kuduknya berdiri. Tapi dia mencoba tenang.


"Mereka cari gara-gara sama geng Kai"


Kenzi mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum simpul. Ternyata dugaannya benar, dia kembali. Berarti orang yang tidak sengaja dia lihat mengintai rumah ini juga orang itu. Instingnya tidak mungkin salah.


"Mereka cuma orang-orang gak berguna" sahutnya enteng.


"Oh iya, kemampuan karate sama nembak kamu udah oke kan?" tanya Kenzi yang dibalas anggukan oleh Kai.


"Bagus, kayaknya itu bakal kamu dibutuhin nanti"


Gak habis thingking sama keluarga ini😭😭