
Beberapa hari setelahnya Kimy sudah dipersilahkan untuk pulang. Kai yang menjemput. Di dalam mobil sedan warna putih milik Kai, Kimy terus merengek minta jalan-jalan. Jelas dia keberatan. Baru juga beberapa jam keluar rumah sakit, masa mau sakit lagi?.
Tapi Kimy memang dasarnya bebal. Sekarang dia malah menangis hingga membuat Kai kelimpungan. Satu-satunya cara untuk menenangkan cewek itu adalah menuruti permintaannya. Kurang sabar gimana coba?. Sekarang dia jadi merasa seperti single parent yang lagi menjaga anaknya yang masih TK
Agak bngsat tapi gapapa:)
"Emang kita mau kemana sih?" Kai mendengus kesal, sedangkan Kimy cuma menyengir lebar seolah gak salah apa-apa.
"Udah lo fokus nyetir aja, entar juga tau sendiri" sahut cewek itu. Dia kemudian menunjuk ke depan, "Pertigaan itu belok kanan" instruksinya.
Tidak lama mereka berkendara, cuma butuh waktu 15 menit mobil Kai sudah tiba di sebuah sanggar lukis sederhana yang bernama 'Rumah Coretan'.
Kai mengekor di belakang Kimy saat cewek itu mulai memasuki sanggar, menemui anak-anak kecil yang sedang sibuk menorehkan warna-warna di kain kanvas yang semula putih polos.
"Hallo adik-adik!" Kimy menyapa mereka semua dengan wajah ceria, raut yang berbeda 180° dari rautnya tadi sepulang dari rumah sakit.
"HAI KAK KIMY" sahut mereka serentak dengan wajah sumringah.
"Coba tebak, hari ini kakak dateng sama siapa ?" ucapnya sembari melirik Kai yang membuat cowok itu terpaksa ikut tersenyum .
"Pacarnya Kakak ya?" tanya salah satu anak kecil laki-laki. Kimy terkekeh mendengarnya hingga matanya menyipit.
"Hehee. Kenalin, ini Kak Kai. Temennya Kak Kimy. Ganteng gak?" ucap Kimy memperkenalkan Kai.
"GANTENG DONGGG"
Kai terkekeh mendengarnya. Kepercayaan diri cowok itu semakin bertambah berkali-kali lipat, anak kecil gak pernah bohong kan?.
Siang itu Kai menemani Kimy menghabiskan waktunya di sanggar sederhana itu. Sesekali dia berkeliling untuk melihat-lihat. Tempat ini memang dibangun alakadarnya. Temboknya bahkan hanya sebuah batako kasar yang belum diperhalus. Guru pembimbingnya bahkan cuma 1 orang, itu pun adalah seorang sukarelawan yang mau mengajar tanpa dibayar. Dia tulus membantu, membantu anak-anak jalanan untuk mengasah keterampilan mereka.
Dari kejauhan, Kai mengamati wajah itu. Wajah yang menunjukkan kehangatan dan keceriaan untuk menghibur orang lain meskipun dia tau kalau batinnya juga sedang tidak baik-baik saja. Senyuman yang membentuk lengkungan sabit tercetak jelas di wajah Kimy saat cewek itu dengan sabar mengajari seorang anak untuk melukis sebuah danau.
Kai ikut tersenyum melihatnya, tanpa sadar tangan cowok itu mengarahkan kamera ponselnya untuk memotret Kimy. Memotret semua kegiatan cewek itu disana, sebagai kenang-kenangan kalau suatu saat dia merindukan gadis pemilik senyum sabit terindah yang pernah Kai lihat di dunia ini.
"Kak" seorang anak laki-laki menghampirinya, Kai menunduk kemudian berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak itu.
"Gambaran aku bagus gak kak?" dia menunjukkan lukisannya. Kai melihat lukisan itu, dia meringis ngeri. Gambarannya hanya sebuah pohon yang terdapat sebuah kursi dan tiga orang yang duduk di atasnya. Tak lupa sebuah tulisan abstrak menurut Kai, karena tulisan itu lebih buruk dari tulisan dokter.
"Gambarnya sih oke, tapi tulisan lo jelek. Kayak ceker ayam" lebih baik dia jujur kan? supaya orang lain bisa intropeksi diri. Tapi mulutnya emang kadang gak ngotak, bahkan omongan pedasnya gak mandang fisik buat siapa.
***************
Malam hari pukul 19.00 Kai baru mengantar Kimy pulang. Cewek itu tersenyum sumringah saat tiba di depan tempat kos nya.
"Dih apaan lo nemplok-nemplok kek cicak!!" desis Kai sambil menatap aneh kearahnya.
Kimy mencebikkan bibirnya, tangannya bergerak memukul bahu Kai pelan namun cowok itu memekik berlebihan.
"Gak ngotak banget mulutnya"
Kai cengengesan tanpa dosa. Tangannya bergerak mengacak rambut Kimy hingga berantakan, membuat cewek itu baper sendiri . Ini hati apa daun sih, kok gampang terombang-ambing
"Gak usah cemberut, entar muka jelek lo jadi tambah jelek. Sepet gue liatnya"
"HUAAA CEBONG SIALANNNN"
************
Sepulang dari tempat Kimy, Kai langsung mampir ke Basecamp guna membahas rencana mereka untuk menyerang Dead Cobra. Satya, si panglimanya Anak Warrior menyampaikan rencananya dengan rinci. Dia memang otak dari semua misi anak warrior. dan selama ini rencananya belum pernah gagal.
Setelah pembahasan selesai, mereka lanjut bersantai-santai ria seperti biasanya. Bercanda, menggoda satu sama lain atau bahkan main TOD seperti bocil kurang kerjaan.
Tapi fokus Kai seperti tidak disana sekarang. Dia menatap tanpa minat ke sekelilingnya. Hingga Satya duduk di sebelahnya pun dia tidak sadar.
"Punya beban apa sih lo, sampe keliatan sumpek banget. Mikirin utang?"
Kai terkekeh menanggapi, "Kalo gue lagi mikirin Kimy, lo marah gak?"
Pertanyaan itu sontak membuat Satya terdiam. Cuma sebentar, sebelum akhirnya dia membalas dengan senyuman simpul.
"Yakin lo mikirin Kimy?. Kimy doang apa ada yang lain?" sarkasnya. Kai diam.
Satya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Matanya menatap lurus ke depan, menyorot kegiatan yang dilakukan anak Warrior sambil sesekali tertawa saat melihat Vero misuh-misuh karena kalah main catur.
"Gue gak akan marah, emang hak gue buat marah apa?. Gue emang cinta sama Kimy, tapi kalo yang dia cinta itu lo gue bisa apa?" sahutnya sambil tersenyum masam.
"Gue kadang masih bingung sih sama lo. Lo memperlakukan Kimy spesial, tapi lo selalu mementingkan Rachel diatas semuanya. Jadi sebenernya lo mau siapa, Kimy apa Rachel?"
Pertanyaan Satya sukses membuat Kai terdiam, dia tidak bisa menjawab. Pertanyaan itu memukul telak keegoisannya tentang Kai tentang Kimy atau Rachel .
"Gue bakal ngikhlasin Kimy buat lo, tapi jangan pernah lo bikin dia kecewa. Gue tau sebesar apa cinta dia buat lo, dan gue sadar kalo gue bener-bener gak ada tempat disana" dia tersenyum miris.
"Sekarang lo tinggal nentuin, Rachel apa Kimy. Lo gak bisa milih semuanya, karna itu pasti nyakitin mereka banget dan bisa-bisa lo malah kehilangan dua-duanya. Gue harap lo gak cuma jadiin Kimy selingan lo. Karna kalo sampe gue tau itu bener, gue sendiri yang bakal ngambil Kimy dari lo"