
Kai menendang bagian belakang kursi mobil Satya yang diduduki oleh Noval dengan kesal. Otaknya masih terus menerawang bagaimana kecurangan yang dia dapatkan tadi. Seperti prinsipnya, dia lebih baik kalah dalam permainan yang sehat daripada harus kalah karena sebuah permainan belakang. Dia paling benci dengan yang namanya pengecut, orang-orang yang beraninya cuma menggertak tapi tidak berani untuk menghadapi secara langsung.
”Sial....!!!" desis Kai pelan tapi masih bisa didengar oleh Satya, Vero, Noval, dan Boy yang juga berada di dalam mobil itu.
"Udahlah Bong, yang penting'kan lo menang. Masalah siapa orang yang udah ngerjain lo bisa kita urus lain waktu. Gak usah berlebihan lahh" ucap Noval berusaha memberi pengertian. Sedangkan yang lain cuma diam. Mereka semua tau, baik Kai maupun Rai, keduanya tidak akan bisa diajak berdiskusi kalau sedang marah. Dan membiarkan adalah satu-satunya jalan untuk menghindari amukan maut dari dua orang laknat itu.
"Santai lo bilang?" Kai tertawa sinis menatap pantulan mata Noval yang duduk di depan bersama Satya dari kaca dasbor.
"Andai tadi gue nggak hati-hati, bisa aja gue mati disana anjing!!. Mau sampek kapan lo nyuruh gue diem?!, nunggu sampek gue jadi mayat dulu, iya?!"
Mata Kai menajam setajam silet yang baru dibeli tadi pagi. Hilang sudah imej 'Playboy' dalam dirinya. Yang ada sekarang hanyalah sosok Kai yang serius dan tidak pernah main-main dengan apa yang dia ucapkan.
"Ka-....
Ucapan Noval yang hampir saja memanggil 'Kai' terhenti saat Satya memelototinya. Pemuda itu melirik kearah Boy yang duduk di belakang bersama Vero dan Kai, memberi isyarat jika ini bukan saat yang pas untuk menyebut nama Kai yang sebenarnya.
"Opal Anjingg!!!" teriak Vero dalam hati tapi dia tahan. Tadi pagi habis nonton tausiyahnya Mama Dadah, dia nggak mau pahalanya habis cuma gara-gara ngeladenin anak anjing yang nggak ngotak. Kadang Vero bingung, kesambet apa dia waktu kecil kok bisa temenan sama manusia sespesies Kai dan yang lain. Udah goblokk, kadang gila, nyusahin pula. Tapi beggonya Vero sayang.
Boy yang menyadari ada felagat aneh pun mengerutkan dahinya bingung. Apalagi meligat Noval yang tidak jadi ngomong, padahal jelas-jelas pemuda itu tadi dengan lantang mengucapkan jata 'Ka' tapi tidak mengucaokan kata selanjutnya.
Satya berdehem singkat untuk mengurangi kecanggungan setelah insiden mulut ember Noval barusan.
"Lo harus pake kepala dingin kalo nyelesain sesuatu slamet!!. Jan ngegas mulu lo kedepanin, otak dipake mikir jangan dipake buat boker mulu!!" ucap Satya yang berisi cibiran di dalamnya.
Kai berdecak. Bukannya ngasih solusi, ini malah ngomong sinis yang bikin Kai pengen buat mulut Satya disolasi.
"Sok pinter lu Bang Sat!!" sahutnya dengan malas.
Satya memutar bola matanya. Ini alasan kenapa dia lebih dekat dengan Rai, karena Kai terlalu arogan dan susah diatur. Berbeda dengan Rai yang masih bisa diajak bicara baik-baik, SEDIKIT.
"Anjing lo, dasar anak kodok!!" maki Satya segera. Hilang sudah rasa empatinya. Memang sejak awal dia salah kasihan pada Kai, karena nyatanya cowok itu memang lebih pantas untuk dibunuh.
"Jadinya ini Anjing apa anak kodok?!" tanya Kai memastikan
"LO ANAK KODOK TAPI MUKANYA MIRIP ANJING, JINGAN!!. AKHHH, GEMES GUE LIAT LO PENGEN GUE TENDANG KE MESIR. BIAR BISA NGOPI-NGOPI ASOY BARENG RAJA FIR'AUN" Vero memekik kencang hingga suaranya memenuhi seisi mobil. Boy melepas sepatunya sebelah kemudian menampol kepala belakang Vero dengan kesal.
"Gue cium juga lo lama-lama!!" ancamnya dengan gemas.
"HEH WANJERR WOYY, SI BOBOBOY GAY ANJENKK. TOLONG SELAMATKAN PELO DARI SI KOBOY. SIAPAPUN, PLEASE LEMPAR GUE KE JEPANG BIAR BISA KETEMU ARTIS BOK*P. EHH?!" Vero memekik lagi, membuat semua menatap horror kearahnya.
"VERO, DIEM LO SETAN!!!"
*************
Kai mengamati layar monitor yang memperlihatkan rekaman CCTV dari tempatnya balapan semalam. Dia tidak bodoh sampai harus mengulur-ulur hal ini terlalu lama. Apalagi ini menyangkut keselamatannya dan orang-orang yang dekat dengannya.
Hampir semua CCTV di setiap sisi sudah dia lihat tapi tidak ada gal yang mencurigakan. Di area start, hanya terlihat rombongannya, rombongan Bara, dan juga puluhan penonton disana, tidak ada yang aneh. Di bagian belakang, hanya terlihat beberapa orang dan juga Rachel yang keluar masuk kamar mandi kemudian kembali ke area Start. Tidak mencurigakan. Tapi anehnya, CCTV yang merekam dibagian ruang tunggu balapnya mendadak tidak bisa diakses. CCTV itu mati dengan sendirinya, seperti ada sebuah kesengajaan.
"Maaf mas, tapi ini udah rekaman dari semua CCTV disini. Kami nggak punya yang lain" sahut pria yang terligat beberapa tahun lebih tua dari Kai.
Kai menarik nafas panjang, tak lupa menghembuskannya karena rakut sekarat. Kini dia rau, orang itu memang ingin bermain-main dengannya. Membuatnya merasa takut dan terancam, sampai akhirnya dia hancur karena sikap paranoidnya sendiri.
***********
Kai menyusuri jalanan bekas balapan semalam menggunakan motor. Matanya meneliti ke kanan dan kiri, mencari secuil petunjuk yang bisa dia gunakan sebagai acuan untuk mencari orang itu. Jika CCTV tidak bisa membantunya, maka dia akan mencari tau dengan caranya sendiri.
Cowok itu kemudian berhenti di dekat sebuah belokan. Dia membuka helm nya, bersandar di motor itu sembari mengelap dahinya yang berkeringat. 1 jam sudah dia berkeliling, tapi dia belum menemukan petunjuk apapun.
"Gila sih, tuh orang bersih banget mainnya. Dia udah berpengalaman. Dia bukan sekelas gue lagi, bisa jasi dia udah sekelas Papa" monolognya.
Disaat dia nyaris pergi, mata tajamnya tidak sengaja menatap sebuah kain hitam yang menggantung di antara semak-semak. Kai turun dari motornya dan berjalan menunju semak-semak. Diangkatnya kain itu, dan ternyata adalah sebuah topeng.
"Gilak, topeng siapa nih?!" gumamnya seraya membolak-balikkan topeng itu. Hingga dia menyadari sesuatu, matanya sontak melebar.
"Apa jangan-jangan?!!!"
Kai mengamat topeng itu. Ini bukan topeng sembarang. Ini topeng khusus yang dibuat sendiri. Terlihat dari bentuknya yang unik dan tidak ada di toko manapun. Hal ini semakin menambah kecurigaannya bahwa topeng itu adalah milik orang yang menerornya selama ini.
"BR?" inisial huruf yang sangat amat kecil dan menyempil masih bisa Kai temukan di sudut pinggir topeng itu. Mata tajamnya cukup jeli untuk membaca huruf sekecil itu dalam sebuah kain.
"Apa mungkin dia?"
**************
"Gue nemuin ini di tempat balapan gue semalem" ucap Kai seraya meletakkan topeng temuannya di lantai. Saat ini dia sedang berada di kamar Rai. Duduk selonjoran berdua di atas karpet berbulu untuk menikmati hari Minggu yang membosankan.
Rai mengambil topeng itu. Memperhatikannya lamat-lamat dan teliti, seperti tidak asing. Hingga dia menyadari sesuatu, mata cowok itu melebar sempurna. Ini topeng yang sama.
"Ini topeng yang dipake sama orang yang udah nyelakain gue waktu itu" Rai menoleh kearah Kai dengan wajah serius. Tentu dia mengingat topeng ini. Topeng yang dipakai oleh manusia biadap sehingga membuatnya lumpuh selama beberapa bulan.
"Gue bakal cari tuh orang, pengen gue patahin kakinya supaya dia tau apa yang gue rasain!!" Rai hendak berdiri dengan emosi, namun Kai menahan bahunya seraya menggeleng.
"Lo gak perlu kotorin tangan lo cuma karna orang cupu itu. Biar ini jadi urusan gue. Gue yang akan cari dia, dan bales apa yang udah dia perbuat ke lo. Beribu kali lebih sadis" Kai menyeringai iblis. Dendamnya masih tertanam kuat. Dan tidak akan pernah hilang sebelum dia berhasil membalas orang yang sudah membuat orang tersayangnya menderita.
**Kangen aku?, sama aku juga:'(. Maaf guys, baru ada waktu senggang makanya baru sempet up.
Baca doang niih?, ga pake like coment?. Fiks kalian tega:(
Adek butuh support, dan kalian malah don't care.
Yukk gas yukk, comentnya mana nih?!. Likenya jan lupa ya ganteng, cantikkk
see you, and thanks**:)