Our Love Story

Our Love Story
Berbeda



Hari-hari berlalu setelah senja kala itu. Senja yang menyisakan kenangan manis dan tidak akan terlupakan bagi seorang Kimyora.


Pagi itu, Kimy sedang bersiap untuk berangkat ke sekolah. Cewek itu menata buku yang belum sempat dia tata tadi malam. Setelah selesai, dia memasukkan beberapa buku ke dalam tas ranselnya. Bandel-bandel begitu Kimy masih memikirkan sekolahnya. Dia ingin cepat lulus, kemudian mulai merintis karier sebagai penyanyi seperti Mamanya. Dia juga punya cita-cita untuk mendirikan studio musik sendiri. Mengingat itu Kimy terkekeh miris bagaimana mau sukses kalo tiap hari hanya dia isi dengan rebahan.


Kimy keluar dari dalam kos-nya, dan tidak sengaja berpapasan dengan Jihan. Mereka bertegur sapa sebentar.


"Mau berangkat Kim?" tanya Jihan dengan ramah. Gadis dengan tampilan muslimah itu juga sudah siap dengan seragam sekolahnya.


"Iya nih" sahut Kimy dengan cengiran andalannya.


"Yaudah buruan berangkat sana, udah ditungguin pacar kamu tuh di depan" Jihan berceletuk sembari tertawa jahil, membuat kening Kimy mengerut bingung karena tidak tau maksud omongan Jihan.


"Pacar?. Siapa?" tanya Kimy dengan bingung.


"Liat aja sendiri di depan. Dia udah nungguin dari tadi loh"


Sontak saja Kimy langsung berjalan cepat ke luar rumah. Tapi sebelum itu, Jihan memanggilnya kembali.


"Kim.…!!" panggilnya, Kimy menoleh bingung.


"Muka kamu pucet banget, kamu sakit?" tanya Jihan dengan nada rendah. Dari cara bicaranya, Kimy dapat menangkap ada unsur kekhawatiran yang tersirat di dalamnya.


"Gue oke kok, gak usah cemas"


Setelah menjawab demikian, Kimy melanjutkan langkahnya untuk keluar. Mata cewek itu membulat sempurna saat melihat Kairen sudah nangkring di atas jok motornya.


"Lama banget sih lo, gue nungguin dari tadi!!" sungut Kairen dengan kesal. Kimy berjalan menghampirinya sembari bersendekap dada.


"Lagian lo ngapain kesini gak bilang-bilang?!. Bukan salah gue dong" sahut Kimy tidak mau kalah.


"Yee gak romantis banget lo jadi cewek. Kan gue pengen sweet-sweetan gitu, biar kayak di FTV FTV. Lo malah gak konek" ucap Kai bersungut-sungut.


"Ya elo ngapa gak manggil gue oncom?!. Kan kalo tau lo nungguin gue bisa cepet-cepet"


"Kan di kosan lo cowok gak boleh masuk jumintennn, akh kesel-kesel gue telen juga lu!!"


Mereka terus berdebat sampai-sampai orang-orang yang lewat pada menoleh. Itu sebabnya Kimy sama Kairen gak boleh deketan. Mereka pasti ribut, dan ributnya bisa lebih rame dari tawuran emak-emak antar RT.


"Dahlah, capek ngomong sama lo!!. Ayo berangkat" Kai mulai menaiki motor ninja kesayangannya. Cowok itu hendak memakai helm, tapi ucapan Kimy menghentikan aktifitasnya.


"Boncengan nih?" tanya Kimy dengan muka polos.


"GAK, GUE NAIK MOTOR TRUS LO LARI NGEJAR GUE. YAIYA LAH MARKONAH, AKH ELAHH GUE CEBURIN KE KOLAM PIRANHA NIH LAMA-LAMA!! "


************


Seharian ini Kimy terus saja menekuk mukanya. Gara-gara Kai yang tadi pagi ngebonceng naik motor ngebut, cincin berbahan kayu yang merupakan hadiah dari Mamanya jatuh entah dimana.


Sudah berbagai cara Kai lakukan untuk menyogok maaf dari Kimy, tapi semuanya percuma. Cewek itu memang keras kepala.


"Yaelah Kom , maap napa. Gue ganti deh. Lo mau cincin yang kek gimana?. Cincin emas, cincin tunangan, apa cincin kawin"


Omongan Kai yang mulai ngelantur membuat Kimy melirik sinis kearahnya.


"Gue maunya cincin yang sama persis kayak cincin gue yang ilang"


Kimy tertawa dalam hati saat melihat ekspresi tidak terima Kai. Apalagi mengingat kalo cincin itu tidak ada yang jual, karena cincin itu adalah buatan seorang musisi sekaligus seniman dari Kota X tempat Mamanya pertama kali merintis karier. Dan cincin itu dibuatkan khusus untuknya.


"Oke, gue bakal bawain cincin yang sama persis buat lo. Bahkan lebih spesial" diluar dugaan, Kairen menyanggupi. Kimy menyunggingkan senyum tipisnya.


"Berhubung gue baik, gue kasih lo waktu 2 bulan dari sekarang. Cukup kan"


Kai hanya mengangguk pasrah. Waktu 2 bulan mungkin hanya cukup untuk mencari pembuat cincinnya. Soalnya jadinya kapan dia tidak tau. Gampang lah, nanti dia bisa beralasan.


"Gak ada gunanya juga ngajakin lo" mulut pedas Kimy kembali beraksi. Untung mental Vero udah kebal sama ribuan cacian.


Mereka duduk satu meja, membuat perhatian seluruh siswa terpusat pada meja yang palung berisik itu. Banyak siswi yang memandang iri kepada Kimy, Rachel, Gabriel, dan Elsa karena mereka bisa duduk bahkan makan bersama dengan anak Warrior.


"Aduh, hati gue ampek bunyi kretek gara-gara denger omongannya Neng Kikim" ucap Vero mendramatisir sembari memegang dadanya, berakting seolah dia sakit hati beneran dan membuat temen-temennya menatapnya jijik.


"Bukan temen gue, beneran" desis Boy sambil bergidik geli.


"JIJIK SUMPAHH LIAT LO BEGITU PER" Noval berseru lantang. Sebagai orang yang udah menemani Vero dari orok sampek buyutan, dia menjadi orang pertama yang merasa jijik dengan kealayan cowok itu.


"Si Satya diem-diem udah muntah tuh di belakang" Kai terkekeh saat melihat wajah Satya yang menunjukkan seperti orang pengen muntah beneran.


"GAPAPA KOK GAESS, LEDEKIN AJA GUE TERUS GAPAPA. KARNA PADA DASARNYA HATI GUE EMANG LAPANG SELAPANG TANAH ABANG BUAT NERIMA LEDEKAN SETAN DARI MULUT IBLISS KALIAN"


"Lo mending diem deh Ver, gue tendang juga nih lama-lama" celetuk Elsa yang mulai kesal melihat kealayan cowok itu yang tiada tara.


"MBAK JUMI!!" Satya tiba-tiba memanggil Mbak Jumi yang merupakan penjual soto di sekolah mereka. Perempuan paruh baya dengan kerudung pink yang sedang melayani pelanggan itu menoleh kearah mereka.


"Ada apa den?" tanya Mbak Jumi tanpa beralih dari posisinya.


"Pinjem pisau dong" pinta Satya, Mbak Jumi mengerut bingung.


"Buat apa?" tanyanya.


"Buat nyembelih si Vero, kan lumayan Mbak entar dagingnya dibikin soto aja", di detik berikutnya mereka tertawa terbahak-bahak saat Mbak Jumi beneran datang sambil membawakan pisau untuk menyembelih Vero.


"Masih gue pantau, belum gue kulitin" ucap Satya sembari memain-mainkan posau di tangannya hingga membuat Vero meringis ngeri sambil nenyengir lebar.


"Akh elah, bercanda Sat" cengir Vero dengan muka gugup.


"GUYS, GUE MAU PESEN MAKANAN NIH. TITIP GAK?!" teriakan melengking dari Gabriel menarik atensi mereka kearah cewek yang sudah berdiri bersama Elsa di sampingnya. Semua bersamaan menitipkan pesanan, Gabriel bagian terima duit sedangkan Elsa bagian mencatat pesanan.


"Kim, lo gak titip?" tanya Gabriel saat melihat Kimy hanya diam tanpa memesan.


"Gue gak laper, pesenin soda aja satu"


Gabriel mengangguk paham. Berbekalkan selembar kertas catatan dan segenggam uang di sakunya, dia dan Elsa mulai menjelajar stand-stand penjual makanan di Kantin SMA Garuda yang kadang udah mirip pasar malem.


"Kok lo gak makan?" tanya Kai tiba-tiba yang membuat Kimy mengalihkan atensinya dari layar ponsel.


" Kan gue udah bilang, gue gak laper" jawab Kimy dengan nada jengah.


Kai tidak menjawab lagi. Cowok itu tiba-tiba bangkit dari duduknya, membuat Kimy menatap kepergian cowok itu dengan wajah bingung. Dia mengikuti arah gerak Kai, tubuh tinggi tegap milik Kai berjalan kearah stand nasi goreng dan mengantri disana. Kebetulan antrian tidak terlalu panjang. Setelah itu dia beralih memesan segelas Jus Mangga. Setelah dirasa cukup, Kai kembali ke meja dimana dia dan yang lain duduk kemudian meletakkan sepiring nasi goreng dan segelas jus mangga itu di depan Kimy.


"Makan!!" perintahnya tanpa basa-basi.


"Ihh kan gue udah bilang gue gak laper. Kok lo maksa. Gak mau akh" sahut Kimy cemberut.


"Gue tau ya lo dari pagi belum makan apapun. Gak laper darimananya coba?!. Pokoknya gue gak mau tau, lo harus makan se-ka-rang" Kai benar-benar memaksanya. Tapi bukan Kimy namanya kalo langsung setuju begitu aja.


"Gue nggak napsu makan, astagaaa"


"Makan sendiri apa gue suapin pake cangkul?!" oke Kimy pasrah sekarang. Meski dengan ogah-ogahan dia menyendokkan nasi itu ke mulutnya dan menelannya dengan susah payah. Entahlah, akhir-akhir ini napsu makannya menurun. Bahkan baru melihat makanan pun rasanya sudah kenyang.


Kai tersenyum tipis melihat itu. Tanpa sadar tangannya bergerak mengacak pucuk kepala Kimy hingga gadis itu terpaku.


"Anak pinter"


Di sisi lain, Rachel melihat itu semua dengan ekspresi tidak terbaca. Dia hanya diam tanpa memberikan respon apapun selain melihat. Hanya ada satu hal yang dia sadari. Kai berubah.