Our Love Story

Our Love Story
Cincin



Selepas dari semua masalah yang terjadi, dari semua peristiwa yang berlalu, dan dari semua lika-liku kehidupan yang menerjang, Kai memilih untuk menikmati hari liburnya sambil berkeliling menyusuri Kota S. Mencari tempat orang yang bisa membuat cincin yang sama persis seperti milik Kimy. Seperti janjinya waktu itu, dia akan memberikan cincin seperti yang gadis itu minta.


Berbekalkan alamat dari Noval dan arahan dari penunjuk arah, Kai membulatkan tekadnya untuk mengelilingi kota yang tidak bisa dibilang kecil itu. Jaraknya dari Kota J juga jauh. Butuh waktu sekitar 2,5 jam untuk bisa sampai di tempat tujuan.


"Hari ini panas banget yak" keluh Kai sembari meminum sebotol air mineral yang tadi dia beli di pinggir jalan.


Di depan lampu merah, membuat banyak kendaraan harus berjejer terlebih dahulu sampai lampu berubah warna dan mereka bisa melanjutkan perjalanan. Siang itu matahari bersinar sangat terik, membakar kulit manusia-manusia tulang baja yang sedang mengais rezeki dengan beratapkan langit.


Panas bahkan masih terasa di dalam mobil Kai yang ber-AC. Cowok itu membuka kaca mobilnya, melihat kearah luar dengan kacamata hitam yang dia gunakan. Bertepatan dengan itu, seorang anak kecil yang sedang mengamen mendekati mobilnya. Dia bernyanyi lagu 'kasih ibu' dengan diiringi tepukan tangan kecilnya. Penampilan anak itu terlihat sangat kucel, wajahnya kusam dengan baju yang sangat kumuh. Mengundang rasa iba dari orang-orang saat melihat anak sekecil itu harus menjalani kerasnya kehidupan di jalanan.


Kai menyenderkan kepalanya di pintu mobil, tersenyum sembari menunggu anak itu menyelesaikan nyanyiannya.


"Nama kamu siapa dek?" tanya Kai lembut.


"Miko kak" sahut anak itu.


"Miko udah makan?" anak itu menggeleng kecil, Kai terenyuh mendengarnya. Cowok itu mengambil sebungkus roti berukuran besar yang tadi dibelinya di minimarket kemudian memberikan roti serta selembar uang seratus ribu kepada Miko.


"Buat kamu ya..." Miko menerimanya dengan senang hati..


"Makasih Kak" bocah itu berlari senang setelah mendapat hadiah dari Kai. Cowok itu tersenyum melihatnya. Dia bersyukur melihat hidupnya yang serba berkecukupan padahal di luaran sana masih banyak orang-orang yang hidup kekurangan.


Lampu sudah berganti hijau, Kai kembali melajukan mobilnya agar sampai di tempat tujuan. Butuh waktu sekitar 45 menit untuk bisa menemukan tempat yang bisa membuat cincin seperti yang dia mau.


Cowok itu melangkah masuk ke dalam sebuah bangunan berbentuk toko yang lumayan besar. Desain tempatnya unik, semua interior terbuat dari kayu. Bahkan ada beberala sudut yang bisa digunakan untuk spot foto.


"Selamat siang, Pak" sapa Kai dengan sopan pada seorang pria.


"Siang, ada perlu apa ya?" sahut orang itu.


Kai mengeluarkan ponselnya, mencari gambar cincin Kimy yang dia potret beberapa waktu lalu.


"Jadi gini Pak, saya mau pesen cincin kayu kayak yang di foto ini. Terus temen saya ngasih tau tempat ini. Kira-kira bisa gak ya Pak?"


Pria berkaca mata itu mengamati foto yang ditunjukkan Kai. Pria itu mengangguk beberapa kali.


"Bisa sih, tapi ini kayunya pakai kayu khusus, saya harus impor dulu. Kalaupun jadi waktunya agak lama terus biayanya cukup mahal" pria itu menjelaskan.


"Gak masalah Pak. Asalkan jadinya memuaskan, berapapun bakal saya bayar"


Akhirnya perjalanan panjang Kai untuk bisa mendapatkan cincin itu tidak sia-sia. Meskipun masih butuh waktu sekitar 1 bulan lagi dan harga yang lumayan, yang penting dia bisa mendapatkan cincin itu untuk Kimy.


Kurang so sweet apa?!


************


"Kamu harus kemo secepatnya!" untuk kesekian kalinya, Dokter Cakra mengingatkan Kimy untuk menjalani kemoterapi. Meskipun sudah sangat terlambat, setidaknya mereka sudah berusaha. Tapi Kimy si kepala batu selalu menolak.


"Buat apa?. Toh penyakit ini udah parah kan, udah gak bisa sembuh. Dokter gak perlu membodohi saya, saya tau kok dok leukemia stadium 4 itu udah gak bisa disembuhin" sahut Kimy dengan senyum kecutnya. Dada gadis itu bergemuruh hebat saat mengingat hidupnya yang sabgat mengerikan.


Jauh dari kata bahagia.


"Tapi setidaknya dengan menjalani kemo itu bisa mengurangi gejala dan juga menambah angka harapan hidup kamu"


Kimy menunduk dalam. Otaknya berputar memikirkan semua hal yang sudah terjadi. Dia tertawa miris, memangnya untuk apa juga dia bertahan?. Toh tidak ada yang bisa dia jadikan sandaran di dunia ini.


"Biarin saya mikirin ini semua dulu dok, terima kasih atas kepedulian anda"


Kimy beranjak undur diri. Gadis itu keluar ruangan dengan membawa beberapa kantong plastik yang berisi obat- obatan dan selembar hasil laboratorium yang menyatakan bahwa sel kanker dalam tubuhnya semakin menyebar.


Bibir Kimy bergetar hebat menahan isakannya. Kenapa dunia begitu kejam padanya?. Apa dia tidak pantas bahagia?.


Gadis itu berlari ke luar rumah sakit tanpa tujuan. Masa bodo dengan tatapan orang-orang. Langkah kakinya berhenti di sebuah tanah lapang yang terdapat di sebuah taman. Kimy berteriak keras, menumpahkan semua rasa kesalnya pada takdir.


Dadanya naik turun memendung isak tangis, bahunya bergetar hebat, gadis itu menunduk dalam. Kimy berlutut di atas gamparan rumput, memukul-mukul tanah menggunakan tangannya berulang kali.


"Kenapa takdir gak adil banget sama gue?!"


"Salah gue apa?!"


"Seenggak pantes itukah gue buat bahagia?!"


"Gue benci hidup gue!!"


Kimy berteriak keras di tengah kesunyian, hingga sebuah tepukan di bahu membuatnya menoleh. Gadis itu buru-buru menghapus sisa air matanya.


Agatha tersenyum kecil, dia ikut duduk di samping Kimy. Membiarkan kemeja dan celana putihnya kotor terkena tanah.


"Nangis aja, gak usah ditahan. Keluarin semuanya biar lega" ucap Agatha sembari mengusap punggung Kimy, memberikan dampak yang begitu besar pada gadis itu. Kimy menangis keras, berulang kali gadis itu menahan isakannya agar suara menjijikkan itu tidak keluar.


"Capek sama semuanya itu wajar kok, ngeluh juga boleh, manusia itu ada batas sabarnya kan?. Yang nggak wajar itu putus asa sama apa yang terjadi. Gue tau, ngalamin hal ini emang berat banget. Bahkan kalo gue ada di posisi lo, belum tentu gue bisa bertahan sampe kayak sekarang" Agatha menjeda ucapannya.


"Lo tau Kim?, di luaran sana masih banyak orang yang sayang sama lo. Rai, sahabat-sahabat lo, keluarga lo, semuanya pasti pengen lo tetep ada di deket mereka. Lo tau gak sih, lo itu cewek kuat. Lo bisa bertahan sampe di titik ini adalah hal yang luar biasa. Coba deh lo liat ke belakang, udah berapa banyak tahap yang udah lo laluin?. Yakin masih mau nyerah?"


Agatha berceloteh panjang, hingga tanpa sadar isakan Kimy perlahan hilang. Gadis itu mulai tenang dan Agatha bersyukur melihatnya.Setidaknya benteng harapan Kimy perlahan mulai terbangun.


"Lo gak tau rasanya jadi gue, Ta. Ngelaluin semuanya sendiri, keluarga berantakan, bahksn orang tua gue gak peduli sama gue. Mereka cuma jadiin gue boneka supaya gue bisa jadi kayak apa yang mereka mau. Gak, gue gak bisa bertahan di dunia toxic kayak gini. Apalagi setelah tau penyakit sialann ini, gue makin ngerasa dunia benci banget sama gue sampe ngasih penyakit ini supaya gue cepet-cepet mati"


Agatha menamati Kimy dalam-dalam, raut keputusasaan jelas tergambar di wajah gadis itu. Tidak adanya motivasi dari orang terdekatlah yang membuat Kimy pesimis dan engfan menaruh harapan pada apapun dan siapapun.


"Kim, percaya sama gue deh. Seburuk apapun orang tua, mereka pasti peduli sama anaknya. Yaa meskipun kadang sikapnya salah, tapi gue yakin orang tua lo juga sayang sama lo. Yang perlu lo lakuin itu komunikasi, omongin semuanya baik-baik tanpa harus ada yang ditutupin. Gue yakin semuanya bakal baik-baik aja, percaya sama gue" ucap Agatha sembari mengumbar senyum penuh semangat. Gadis ituemang sangat pintar memotivasi seseorang. Tidak heran kalau dia menjadi asisten dokter yang paling disukai pasien disini.


Perlahan senyum Kimy terbit, gadis itu memegang bahu Agatha pelan.


"Thanks, Ta.Saran lo bener-bener berarti banget buat gue"


"Lo bisa cerita apapun ke gue. Inget Kim, lo gak sendirian"


Gimana chapter ini?


Yukkk like yukk, komennya jgn lupa yaaa😍