
"Jadi minggu depan gue udah bisa pulang?!" Raizel memekik senang setelah melihat surat yang diberikan Agatha dari dokter spesialis. Terapinya berhasil, dan minggu depan dia sudah bisa kembali ke rumah.
"Iya. Kaki lo tinggal pemulihan doang, jadi nggak perlu dirawat intensif lagi. Tapi kata Dokter, kaki lo jangan sampek cedera dulu. Jangan dipaksain buat jalan, nanti kondisinya malah makin buruk!!"
Agatha berpesan demikian. 1½ bulan mendampingi Raizel terapi, sudah cukup membuatnya paham kalau pemuda itu adalah orang yang sangat ambisius. Dia tidak akan berhenti sebelum tujuannya tercapai. Tidak jarang kesehatan imunnya menurun karena dia terlalu memaksakan diri untuk terus terapi agar cepat bisa berjalan normal.
"Siap Bu Boss!!" ucap Raizel sembari menunjukkan sikap hormat kepada Agatha. Gadis itu tertawa kecil. Terlihat sangat manis dan imut, berbanding terbalik dengan sikapnya yang mirip kak ros.
Raizel menggapai tangan Agatha, menggenggamnya sesaat hingga membuat gadis itu tertegun.
"Thanks ya, Ta. Selama ini lo selalu bantuin gue, lo yang selalu bikin gue semangat buat terapi"
Ucapan tulus itu terucap dari mulut Raizel yang jarang bicara sopan. Agatha tersenyum tulus kemudian menganguk.
"Gue tulus, karena gue sayang sama lo"
Raizel tertegun. Dia menatap Agatha tak percaya. Dia bahkan menggosok telinganya beberapa kali, rakut salah dengar.
"Ta, lo serius?!" tanyanya memastikan.
"Iya lah. Lo kan temen gue, pasti gue sayang sama lo"
Agak kecewa tapi gapapa. Rai sadar diri kok, terlanjur berharap ternyata cuma dianggep temen. Definisi friendzone yang sebenarnya.
****************
"Lusa sekolah kita akan kedatangan tamu spesial, seorang pengusaha yang akan memberikan edukasi tentang bisnis. Saya mau kamu, dan teman OSIS kamu menyiapkan semuanya, sebaik mungkin. Lakukan dengan sungguh-sungguh, jangan buat malu sekolah!!" titah Pak Burhan serius. Kairen cuma bisa manggut-manggut sambil nahan sepet dalem ati. Disuruh mulu, kenapa bukan dia aja yang bikin coba?!.
Setelah mengantongi perinyah dari si guru berkepala botak, Kairen jalan-jalan keliling sekolah lima kali terus mampir ke toilet cuma buat ngaca.
Dalam hati dia ngomel-ngomel. Peneror belum ketemu, Rai belum sembuh, Satya nyusahin, lah ini Si botak nyuruh terus. Dikira cebong itu babunya kali ya?!.
"SAYANGGGG!!"
Teriakan itu, membuat bulu kuduk Kairen merinding. Suaranya aja horror, apalagi orangnya. Lebih horror dari si manis jembatan sawah.
Dari kejauhan, tampak Sandra melambaikan tangannya. Tapi Kai pura-pura enggak tau.
"Oke, Kai. Anggep aja Lo buta!!" monolognya dalam hati.
Dia berjalan dengan tangan yang meraba-raba. Akting kayak orang buta pada umumnya. Sandra jadi bingung sendiri. Dia mendekat, berdiri di samping Kai yang pura-pura enggak liat.
"Rai, kamu kenapa?" tanya Sandra bingung.
Kai berhenti. Dia menatap kearah lain, seolah tidak tau posisi Sandra.
"Lo siapa?"
"Ini aku, Sandra. Masak kamu lupa sih?" jawab Sandra yang makin heran. Apa mungkin cebong anemia?!.
"Sandra siapa sih?. Kok gue nggak inget" Kairen berdalih. Dia diam, seolah berpikir.
"Aduh, kepala gue sakit" Kairen memegangi perutnya, akting sakit. Meringis dikit biar meyakinkan.
Sandra auto panik. Dia yang otaknya enggak ada seperempat, nggak sadar kalo dikibulin sama cebong sawah.
"Eee gimana ya. Yaudah kamu tunggu disini, aku ke UKS duluu minta obat oke?!. Jangan kemana-mana!!"
Gadis itu ngacir pergi. Kairen tertawa puas. Dia buru-buru pergi, keburu si Annabel hidup dateng. Kan serem kalo dia digorok.
"OII GAS!!" panggilnya saat tidak sengaja berpapasan dengan sekertaris OSIS. Bagas. Cowok kutu buku dari kelas 11 MIPA 2.
Bagas mendekat, berdiri di depan Kairen sembari membenahi kaca matanya.
"Apaan?!"
"Nih" Kai menyodorkan catatan kegiatan dari Pak Burhan tadi kepada Bagas.
"Bilangin ke Anak-anak OSIS, suruh nyiapin itu semua sama Si Botak"
"Kenapa nggak lo aja yang ngomong?, kan elo ketosnya" tanya Bagas. Meski bingung, dia tetap menerima kertas dari Kai.
"Gue ada urusan. Udah bilangin aja ke mereka. Gue cabut dulu" Ucapnya seraya menepuk bahu Bagas beberapa kali. Setelah mengucapkan itu, dia beranjak pergi. Berjalan santai sambil TP-TP ke adek kelas ganjen.
"KIKIM!!"
"Issss ngagetin aja deh lo!!" desis Kimy dengan kesal. Dia baru aja boker, nggak taunya ketemu manusia taii disini.
"Lo tuh cantik, tapi sayang bukan punya gue" Kairen berceletuk polos. Dia aja nggak pernah berfikir apa yang baru aja dia omongin. Cowok itu emang tipikal orang yang blak-blakan.
Kimy bungkam. Dia membiarkan Kai merangkul bahunya sepanjang mereka berjalan. Banyak sorak-sorai iri dari para cabe-cabean sekolah. Khususnya korban-korban Kai yang hampir menyentuh angka 30. Iri?, ya jelaslah. Meskipun bagi merrka sikap cowok itu hangat kepada semua cewek, tapi tidak ada yang bisa sedekat itu dengannya kecuali Kimy dan Gabriel.
Mata Kairen melirik rambut Kimy yang dikuncir kuda. Tangan pemuda itu terangkat. Menarik kuncir rambut Kimy hingga rambut panjang gadis itu terurai.
"Lo ngapain sih?!. Balikin kuncir rambut gue!!" Kimy mendesis kesal. Baru juga melting dikit, udah dibikin breakdown sama cebong minim akhlak.
Kai menggeleng pelan. Dia tersenyum jahil seraya memasukkan kuncir rambut Kimy di saku celananya.
"Gue suka rambut lo yang kayak gini" bisiknya di telinga gadis itu.
Kimy terdiam. Mulutnya yang tadinya siap ngomel mendadak kaku. Dia menatap Kai, begitupun sebaliknya.
"Lo cantik"
*****************
Kimy memasuki ruang kelas dengan wajah lesu. Kuncir rambutnya tidak berhasil dia dapatkan. Terpaksa dia mengurai rambut sampai pulang sekolah nanti.
Saat di ambang pintu, dia tidak sengaja berpapasan dengan Satya. Pemuda itu tersenyum manis kearahnya, dia pun tersenyum juga.
"Lo darimana aja?" tanya Satya
"Eee, gu-gue. Gue dari.... Gue dari toilet. Yaa, gue dari toilet" Kimy jadi gelagapan. Entahlah. Setelah ketemu Kai tadi, otaknya jadi hilang setengah.
"Ke kantin yuk. Gue traktir deh" Satya mengajak sambil memassng wajah penuh harap. Jangan sampai dia ditolak.
Kimy berfikir sejenak. Jujur dia laper, tapi gengsi.
"Ngerepotin lo nggak nih?" alibinya.
"Ya nggak lah, kan gue yang ngajak"
Mendengar itu Kimy mengangguk semangat. Kapan lagi dapet gratisan coba?!. Sama cowok ganteng pula.
Mereka menuju kantin. Duduk berhadapan di satu meja sambil menunggu pesanan. Hati Satya berbunga-bunga. Ini adalah moment yang paling dia tunggu. Bisa makan satu meja sama cewe yang dia suka.
Tak lama pesanan datang. Kimy memesan pecel lele, sedangkan Satya cuma mie ayam. Es teh sebagai pendamping, jaga-jaga kalo Kimy keselek duri.
"Tumben rambut lo digerai?" tanya Satya keheranan. Pasalnya selama ini Kimy selalu menguncir rambut.
"Kuncir gue diambil sama si cebong!!" adunya dengan kesal.
"Kok bisa?" kening Satya mengerut bingung. Antara heran sama nggak suka. Cemburu?,_ yaiyalah. Kai kan juga cowok.
"Tau tuh, dia kan emang nggak waras" sahut Kimy dengan acuh.
Satya tidak bertanya lagi. Dia tidak mau merusak moment nya dengan hal yang tidak perlu. Sekarang dia mencoba tersenyum, mengajak bicara Kimy dengan obrolan yang asik.
"Yaudah, di makan gih. Entar ikannya keburu lepas"
Kimy melihat lele dipiringnya, kemudian melihat Satya. Seketika dia tertawa, mana ada lele goreng bisa gerak.
"Ngelawak banget sih lo!!"
"Asal bisa bikin lo ketawa, apapun bakal gue lakuin" Satya berucap dengan serius, tapi Kimy menanggapinya hanya candaan.
"Nggak usah gombal, gue nggak mempan digituin"
**************
Jangan lupa like, coment ya guyss. Ngasih gift and vote juga gapapa:).
Happy reading all