
Langit nampak biru cerah ditemani oleh awan putih yang selalu berdampingan. Matahari kala itu tepat berada di atas kepala, memancarkan teriknya panas kepada ribuan kehidupan.
Kimy menyeka keringat yang menetes dari dahinya. Panas matahari siang ini memang bukan main-main. Cewek itu berjalsn ketepian, berteduh di bawah pohon rindang setelah selesai menjalani hukuman berlari 8 putaran karena tidak mengerjakan tugas.
Kimy memang sangat muak dengan tugas matematika. Melihat angkanya aja dia udah pusing. Apalagi kalo disuruh menyatukan si X dan Y yang udah lama LDR-an. Itu lebih rumit daripada ngertiin cewek yang kalo ditanya jawabannya terserah.
"Panas banget gilaa, udah kayak omongannya Bu Tirex" celetuk Kimy sembari mengibaskan-ibaskan tangannya ke rambut. Cewek itu mengambil kuncir rambut dari dalam saku kemudian mengucir rambutnya tinggi-tinggi.
Dia berulang kali menghela nafas, matanya menatap kearah langit biru. Cerah, tidak seperti hatinya yang gundah karena mencintai orang yang salah.
Sebenarnya bukan cinta yang salah, bukan juga hatinya yang salah memilih tempat untuk singgah, tapi waktu yang kurang tepat yang mengharuskannya untuk terus bersikap pasrah.
Biarkan takdir membawanya mengalir seperti air. Andai dia bisa, dia ingin mengulang waktu dan memilih untuk tidak mengenal Kai di waktu itu. Dia ingin menjadi orang baru, yang hadir dengan membawa rasa yang berbeda. Bukan hanya rasa seorang sahabat, tapi rasa sayang yang begitu hebat.
Tapi itu semua hanya andai, Kimy tersenyum miris. Posisinya memang cuma hanya sahabat, entah akan berubah atau tidak, dia tidak tau.
Cewek itu kemudian menunduk, mengernyit pelan hingga kedua alisnya menyatu. Akhir-akhir ini dia sering pusing dan lemas tidak menentu. Mungkin karena kecapean dan dia sering begadang sampai tidak sadar kesehatannya menurun.
"Cuci muka dulu deh" dia bangkit dari duduknya, berniat menuju toilet dan mencuci muka. Berharap cara itu bisa menghilangkan rasa peningnya meskipun cuma sedikit.
Kimy berjalan pelan, sesekali menyahuti sapaan dari siswa untuknya. Meskipun citranya di mata guru buruk, tapi Kimy cukup terkenal di kalangan siswa SMA Garuda. Selain karena dia dekat dengan Kai, Kimy memiliki wajah yang manis dan sikap yang ramah meskipun dia bisa ketus kepada orang yang tidak dia suka.
Langkah kaki Kimy berhenti saat telinganya menangkap suara seseorang yang dia kenali. Dia mengintip ke dalam ruangan tempat penyimpanan alat-alat pramuka. Ruangan itu memang jarang dibuka jika tidak ada kegiatan tertentu.
Di dalam sana ada 5 orang siswa, dia mengenali salah satunya. Boy.
"Gak usah sok deh lo, bilang aja lo takut kan balapan sama kita?!" ucap cowok berambut ikal dengan nada meledek.
"Takut?, sama kalian?!. Hahaa, jangan mimpi!!" tukas Boy.
"Yaelah, kita semua tau kali. Lo famous itu karna lo deket sama si Rai. Coba aja lo gak sama dia, lo sama aja kayak mereka. Cupu!!"
"Famous hasil jilat kok bangga!!"
"Cupu sok suhu anjirr"
Boy menggebrak meja dengan emosi. Dia tidak terima harga dirinya dijatuhkan.
"Oke, gue terima tantangan lo!!"
Empat cowok itu tersenyum penuh kemenangan sembaru bertepuk tangan ringan.
"Akhirnya anak ayam berani lepas juga dari induknya" ledek salah satu dari mereka.
"Kalo kalah, jangan nanges yee"
Bughhh
Boy sudah tidak tahan lagi. Dia memukul rahang cowok itu dengan keras hingga membuatnya tersungkur ke lantai. Tiga temannya tentu tidak tinggal diam. Mereka menyerang Boy secara bersamaan, hingga membuat cowok itu kewalahan.
Bughhh
Brakkk
Suara pintu yang dibuka paksa membuat aksi lima cowok yang sedang adu jotos itu terhenti. Mereka kompak melihat kearah pintu, tepat kearah seseorang yang baru masuk ke dalam ruangan.
"PERGI ATAU GUE PANGGIKIN GURU BK?!" ancam Kimy dengan wajah garang. Empat cowok itu saling tatap, sebelum akhirnya berlari ke luar ruangan. Mereka tidak mau nama baik dan uang jajannya terancam hanya karena orang tua mereka dipanggil oleh guru BK.
Kimy mendekat kearah Boy lalu berjongkok tepat di depan cowok itu.
"Lo gapapa kan?" tanya Kimy khawatir.
Boy menggeleng kecil sambil menyunggingkan senyum tipisnya.
"Cuma lecet dikit, tapi oke lah. Thanks udah nolongin"
"Iku gue yuk, gue obatin luka lo" Kimy memapah Boy untuk keluar. Perut cowok itu terkena tendangan. Tidak begitu keras, tapi rasa nyerinya cukup terasa.
Mereka duduk berdua di taman belakang. Kimy mengambil antiseptik dan kapas dari dalam kotak P3K yang dia ambil dari ruang UKS.
"Hadap sini" Kimy memegang dagu Boy, menyuruhnya untuk menatap ke samping. Cowok itu cukup terkejut. "Tahan bentar ya"
Kimy mengarahkan kapas yang sudah diolesi antiseptik kearah memar yang ada di pelipis Boy. Cowok itu meringis kecil saat rasa perih mendominasi disana.
"Pelan-pelan napa, kasar banget jadi cewek" dengusnya dengan kesal.
Kimy berdecak, "Berantem aja kuat, masak gini doang udah ngeluh. Lebay lo!!" hardik Kimy tanpa mengalihkan pandangannya dari luka Boy.
Tanpa diduga, Kimy mendekatkan wajahnya kearah Boy lalu meniupi luka cowok itu dengan pelan. Boy tertegun, dia tidak pernah melihat wajah Kimy sedekat ini. Matanya tak berkedip sama sekali, mengamati wajah manis di depannya dengan intens.
"Udah selesai" cewek itu menjauhkan wajahnya, dan Boy segera mengalihkan pandangan kearah lain.
"Ada yang luka lagi gak?" tanya Kimy.
"Gak ada"
"Ohh" Kimy ber-oh ria.
"Lain kali ati-ati. Lo bukan ironman yang bisa ngalahin orang sendirian. Itu bahaya tau gak, iya kalo mereka tangan kosong, kalo bawa senjata gimana. Bisa mati lo disana"
Boy tersentak saat tangan Kimy menepuk pundaknya, dia menoleh.
"Lo gak sendiri, lo punya temen-temen lo, lo punya gue. Kalo mau cerita, lo bisa cerita ke gue. Yaa, gue tau sih kita baru kenal. Tapi... gue itu pendengar yang baik. Rahasia lo dijamin aman kalo ceritanya ke gue, gak tau kalo ke Gabriel" ucap Kimy panjang lebar sambil menampilkan senyum manisnya.
Boy tertegun. Dia dapat menangkap ketulusan yang tersirat dari sorot mata gadis itu. Baru kali ini, Boy merasakan orang lain benar-benar peduli dengannya. Bukan hanya sekedar cari muka ataupun untuk menjilat sesaat.
Tanpa sadar cowok itu tersenyum begitu manis, senyuman paling tulus yang belum pernah dia tunjukkan.
"Thanks"