
Seminggu sudah Kimy koma, dan selama itu juga Kai tidak pernah absen untuk datang ke Rumah Sakit. Setiap pulang sekolah dia selalu menyempatkan waktu untuk datang kesini, sekedar untuk ngobrol dan bercerita kepada Kimy tentang apa yang dia lalui hari ini. Kadang dia bingung, sebenarnya apa yang dimimpikan gadis itu sampai betah tidur berlama-lama.
Dan hari ini, tepat di hari ulang tahunnya, Kimy bangun. Mata indah itu kembali terbuka setelah sekian lama tertutup. Semua orang senang, Cindy dan Bagas yang sedang bekerja pun segera pulang dan langsung menuju Rumah Sakit. Biarkanlah sekali ini saja mereka memprioritaskan Kimy, membahagiakan gadis itu di sisa-sisa waktunya.
Ada banyak orang di Rumah Sakit sore itu. Tapi semuanya menunggu di luar, hanya Bagas dan Cindy yang masuk karena jumlah pengunjung memang dibatasi.
Kimy tersenyum hangat menatap kedua orang tuanya, apalagi saat dua pahlawan hidupnya itu memeluknya dengan penuh kasih sayang. Jujur, dia tidak meminta permintaan yang muluk-muluk kepada Tuhan. Cukup diberikan orang-orang yang sayang dan mau menemani hidupnya yang suram itu sudah cukup.
"Apa yang sakit sayang?. Bilang sama Mama, kita panggil dokter ya?" tanya Cindy dengan lembut. Tapi Kimy menggeleng tanpa menyurutkan senyumnya.
"Gak usah Ma, Kimy udah gak butuh dokter. Aku udah gak ngerasain sakit apa-apa lagi kok" jawaban itu membuat hati Cindy mencelos. Diusapnya ramput Kimy yang tidak diperban sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.
Mata Bagas ikut berkaca-kaca. Dia mengusap bahu ringkih Kimy, menyalurkan kehangatan dari seorang ayah untuk menguatkan anaknya.
"Kuat ya, habis dari sini kita terbang ke Aussie. Kita cari dokter terbaik disana buat kamu. Harusnya kamu bilang dari awal nak, kenapa kamu gak bilang kalau kamu sakit?" tatapan Bagas berubah sendu, dia merasa gagal menjadi seorang ayah. Tapi senyuman ikhlas Kimy seperti mengatakan bahwa ini semua adalah takdir.
"Aku cuma nggak mau nyusahin Mama sama Papa, aku ngga mau ngebebanin kalian lagi." gadis itu mencicit.
"Kamu gak pernah ngebebanin kami. Jangan pernah ngerasa kalo kamu ngebebanin Mama sama Papa" Cindy menggenggam tangan Kimy. Tangan itu terasa sangat dingin digenggamannya, membuat batin Cindy tercabik-cabik.
"Hari ini Kimy ulang tahun kan?. Happy Birthday ya sayang, kamu mau minta hadiah apa?. Kamu minta apaaaa aja pasti Mama turutin"
Sekali lagi Kimy tersenyum manis, hatinya menghangat. Akhirnya kehangatan yang dia rindukan kembali. Dia cuma berharap semoga Tuhan memberinya waktu sedikit lebih lama lagi untuk bisa bersama orang-orang yang dia sayang.
Gadis itu ikut menggenggam tangan ibunya, dan sebelah tangannya meraih tangan Bagas kemudian menumpukan tangan kekar itu dengan tangan Cindy yang berada diatas perutnya.
"Aku gak mau apa-apa, aku cuma mau Mama sama Papa balik lagi kayak dulu bisa?. Jujur, Kimy pengennnn banget keluarga yang utuh kayak orang-orang. Kadang pas pulang sekolah, Kimy liat temen Kimy di jemput sama orang tuanya, aku iri Ma Pa. Aku cuma mau kalian, di sisa waktu aku"
Dan saat itu juga Cindy dan Bagas sama-sama menangis di bahu Kimy. Mereka sadar bahwa selama ini mereka terlalu egois sampai tidak memikirkan anak mereka. Dan disini Kimy lah yang paling tersakiti.
"Iya, iya, tapi kamu harus janji ya kalo kamu harus sembuh" Cindy meraung di sebelah Kimy. Gadis itu tersenyum menanggapi, entahlah dia juga tidak yakin dengan keadaan.
...****************...
Setelah Bagas dan Cindy keluar, giliran Kai yang masuk. Cowok itu memilih duduk di samping Kimy. Menatap gadis itu dengan lembut tanpa bicara apa pun.
"Lo butuh sesuatu?" tanya Kai
"Ada"
"Apa?"
"Kalo gue jawab lo boleh gak?. Karna yang gue butuhin sekarang cuma lo" bibir Kai terkatup rapat. Melihat cowok itu tak kunjung menjawab membuat Kimy mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamarnya.
"Kai, lo tau gak kalo lo itu bukan tipe gue banget?. Lo petakilan, jahat, playboy, plin plan, ngeselin, pokoknya semua sikap cowok yang gak gue suka ada di lo semua. Tapi gak tau kenapa, gue malah jatuh cinta sama lo. Cowok yang dulu cuma gue anggep sebagai sahabat"
"Tiap hari gue selalu bilang gini ke diri gue 'Lo harus sembuh Kim, Kai gak suka sama cewek penyakitan kayak lo. Kalo lo sembuh lo pasti bisa dapetin Kai' Gue selalu ngomong gitu ke diri gue meskipun gue tau itu cuma penyemangat aja. Capek maksain badan ini lama-lama"
"Tapi gue gak pernah nyesel kenal cowok jahat kayak lo. Karna dari lo gue belajar, selama apa pun kita nunggu tapi kalo hatinya bukan buat kita ya percuma. Gue gak mau sembuh Kai, gue gak tau kenapa. Toh kalo gue sembuh kita gak bisa sama-sama, gue gak mau maksain lo lagi. Dan dari lo gue tau kalo mengikhlaskan adalah bagian dari mencintai"
Kai cuma diam mendengarkan Kimy sesekali mengelus pucuk kepala gadis itu. Di saku jaketnya sudah ada cincin kayu yang dia pesan untuk hadiah ulang tahun Kimy, tapi dia bingung bagaimana cara memberikannya.
Dia menatap wajah kimy lamat-lamat. Mata gadis itu menyiiratkan tidak ada semangat hidup, tidak ada keceriaan. Kimy sendiri juga tidak tau kenapa dia merasa sangat lelah padahal kerjaannya cuma tidur.
"Lo capek kan?. Istirahat gih" Kai mengelus kepala Kimy dengan lembut. Bertepatan itu senja tiba, kebetulan ruangan Kimy terletak di lantai atas sehingga senja itu terlihat jelas. Kimy menyukainya.
"Gue takut kalo gue tidur, gue gak bisa ketemu lo lagi. Gue gak mau" Kimy menangis keras, padahal di depan orang tuanya tadi dia terus tersenyum dan menahan air matanya. Tapi di depan Kai, gadis itu menangis sekeras mungkin.
"Gue gak bakal ninggalin lo sampek lo bangun, janji!!
Kimy mengeratkan pelukannya di pinggang Kai. Nyaman, itu lah yang dia rasakan. Dia tidak mau pergi, dalam hati dia memohon kepada Tuhan agar diberikan waktu lebih lama supaya dia bisa terus bersama cowok yang dia cintai ini.
"Kai, lo mau tau nggak apa kegiatan gue akhir-akhir ini?" tanya Kimy.
Kai mengulas senyum tipis, tangannya bergerak mengelus pipi gadis itu dengan lembut. "Apa?"
"Akhir-akhir ini gue selalu menghitung hari, berapa lama lagi ya gue hidup di...-
"Kim tidur!!" cowok itu memotong ucapan Kimy. Dia tidak suka mendengarnya. Tapi gadis itu masih betah menangis.
"Gue udah gak butuh jawaban dari perasaan lo Kai, karena dari perhatian lo gue tau kalo lo juga cinta. Mungkin emang ini cara lo nunjukin perasaan lo kan"
Kimy menghela nafas pendek, bahkan helaan nafasnya membuat hati Kai tersayat. Nafasnya terdengar bergemuruh. Mata Kimy terasa berat, tapi dia enggan untuk tidur. Kimy juga bingung, akhir-akhir ini dia merasa jiwanya tidak bebas. Seperti semua beban sedang bertumpu kepadanya.
Tanpa dia ketahui pun ada seseorang yang sedang berusaha mati-matian menahan tangisan yang dia punya. Kai meletakkan dagunya di kepala Kimy, dia melipat bibirnya menjadi segaris. Menahan sekuat tenaga agar tangisannya tidak keluar.
Sampai akhirnya Kimy tidak bisa menahan lagi. Dia membisikkan sebuah kalimat kepada Kai sebulum akhirnya matanya tertutup rapat, "Gue sayang lo Kai, masih sedalam lautan"
Dan detik itu juga tangis Kai pecah saat merasakan pegangan tangan Kimy di pinggangnya melemah, bertepatan dengan itu monitor di samping ranjang menunjukkan satu garis lurus. Kai menangis sesakit-sakitnya.
Dia memeluk tubuh Kimy erat-erat meskipun dia tau pelukannya tidak akan terbalaskan. Sebagian hati Kai yang sudah diiri oleh Kimy terasa hancur berkeping-keping. Cowok itu meraung keras.
"Kim, bangun Kim!!. Lo katanya pengen peluk gue, tapi kalo gue peluk lo bales gak Kim?!"
Seakan belum mau melepaskan, Kai menghujam pelipis gadis yang sudah terbujur kaku dalam pelukannya itu dengan ciuman.
"Gue tau jawaban gue udah telat banget, gue juga sayang sama lo Kim"
Seandainya Kai tau seberapa besar cinta Kimy untuknya, seandainya Kai lebih cepat menyadari perasaannya, seandainya Kai segera menyatakan apa yang dia rasakan. Tapi itu cuma seandainya, karena waktu tidak bisa diputar lagi kan?.
"Bangun Kim, gue belum siap kehilangan lo" wajah yang biasanya terlihat menawan kini memerah karena air mata.
Kai terlambat. Siap atau tidak siap dia harus menerima kenyataan kan?. Ketidak siapannya juga tidak bisa mengembalikan Kimy.
Kai ingin marah pada dunia. Kenapa dia begitu tidak adil, mengambil Kimy disaat dia sudah mantap menjatuhkan hatinya pada gadis itu.
Tapi bukankah dunia memang suka memberikan kejutan?. Memberikan tawa di sela-sela luka dan memberikan luka diantara tawa. Sekarang dia cuma bisa menerima kenyataan dan mencoba ikhlas.
Dan untuk yang pertama dan terakhir, Kai mendaratkan bibirnya di bibir Kimy yang tertutup rapat. Cowok itu masih terisak-isak,
"I love you now, tomorrow, and forever"
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜