Our Love Story

Our Love Story
Gobloque



Pagi hari harusnya adem, tapi kali ini terasa panas untuk kelas 11 IPS 1. Pagi-pagi mereka sudah disuguhi pelajaran matematika, pelajaran yang membuat para penemunya botak di tempat.


Kai menggambar abstrak di buku tulisnya, tanpa mau memperhatikan papan tulis sama sekali. Dia takut otaknya kepas kalo harus melihat si X dan Y yang udah kayak pasangan abadi. Dimana-mana pasti ada.


Bel istirahat pertama berbunyi, membuat siswa 11 IPS 1 langsung menghela nafas lega.


"Baik anak-anak, sebelum mengakhiri pembelajaran apa ada yang ingin ditanyakan?" Pak Rasul, selaku guru matematika memberi pertanyaan sembari memberesi buku-bukunya.


Semua diam, mereka saling tatap satu sama lain.


"Saya Pak" Kai tiba-tiba mengacungkan tangannya, membuat semua menatapnya bingung. Tumben seorang Kai bertanya. Tapi mereka bersyukur,, seenggaknya otak Kai mulai berprogres meski cuma sedikit.


"Iya Rai, mau tanya apa?" tanya Pak Rasul. Iya, namanya Rasul. Tapi kalo udah ngasih tugas, guru itu kadang cosplay jadi malaikat maut.


"Semua orang itu pasti mati kan Pak?" tanya Kai.


Guru itu mengerutkan keningnya bingung, apa hubungannya matematika sama mati?. Tapi tak urung dia tetap menjawab.


"Iya lah, semua makhluk pasti akan kembali ke asalnya" jawab Pak Rasul.


"Terus Bapak rencananya kapan?" asli, siswa 11 IPS 1 lagi ketar-ketir. Ini lebih merinding daripada nahan berak yang udah di ujung. Mereka yangvmules karena matematika, jadi tambah mules denger pertanyaan Kai yang kayak ngajak mereka ke neraka.


"Otak saya udah ngebul Pak ngerjain matematika, mana nyusahin lagi" bohong besarrrr, padahal dia tidak memperhatikan sama sekali, apalagi ikut menghitung.


Tanpa diduga, Pak Rasul malah tertawa garing yang membuat semua orang tercengang.


"CEKEK SAYA AJA, CEKEK!!. SAYA UDAH NGGAK KUAT NGELIAT KEBANGSATTAN KALIAN!!"


*********


Kai memarkirkan motornya di garasi rumah sang nenek yang sudah mirip sorum. Mobil dan motor berbagai mereka berjajar rapi disana, membuat jiwa-jiwa misquen yang melihat langsung bergejolak. Hari ini dia memang pulang ke rumah neneknya, karena Justin dan keluarganya baru datang dari Mexico


Kai memasuki rumah Keluarga Aleskey dengan langkah lebar, rumah masa kecil Mamanya itu terlihat sama. Tidak ada perubahan yang signifikan.


"Wehhh ada kamprett!!" Kai mendudukkan dirinya di samping sang adik yang lagi rebahan asoy di sofa. Rai berdecak, dia merubah posisinya menjadi duduk di karpet berbulu karena terusik dengan kedatangan Kakak kembarnya itu.


"Ganggu aja si lo elahh" cebik Raizel dengan kesal.


"KAKAKKK" suara panggilan dari arah belakang membuat Kai maupun Rai menoleh. Seorang gadis kecil berlari dari arah tangga sembari membawa boneka teddy bear kecil di tangannya.


"Jamillah" ucap Kai sembari merentangkan kedua tangannya sebelum akhirnya memeluk gadis 7 tahun itu.


"Namanya Jemina goblokk, asal ganti nama orang aja lo!!. Emang lo mau bikinin dia bubur merah?!" tukas Rai tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Sama aja, sama-sama cewek" sahut Kai acuh. Dia malah sibuk memainkan rambut anak kecil di depannya.


"Jam, Daddy sama Mamy mana?" tanya Kai dengan lembut.


"Di kamar, nggak tau ngapain" jawab Jemina polos.


Otak nakal Kai berkelana. Cowok itu menggeleng beberapa kali dengan wajah miris.


"Parah banget si Om, udah bangkotan masih aja suka bercocok tanam" ucapnya sambil geleng-geleng.


Alis Rai terangkat satu, dia menoleh menatap Kai dengan bingung.


"Maksud lo?" tanyanya.


"Yaelah, nggak usah sok polos deh. Itu bercocok tanam, tebar-tebar benih gitu" sahut Kai sambio tersenyum mesum. Rai bergidik, sodaranya itu emang nggak waras. Dari dulu, otak Kai nggak pernah bener meskioun udah di ruqyah 5 kali.


"Siapa yang tebar benih?" Kenzia tiba-tiba datang, membuat Kai sedikit terperanjat. Emaknya itu emang suka bikin orang jantungan. Datang tak dijemput, pulang nggak disuruh. Kan nggak tau diri namanya.


"Umi, ngagetin aja" ucap Kai sambil ngelus dada.


"Umi,, Umi, panggil yang bener!!" desis Kenzi galak. Punya anak kok gak punya pendirian. Hari ini manggil umi, besok panggil mami, eh si dia manggil sayang tapi nggak jadian. #jiakhhh


"Iya, Umi. Jangan marah-marah, nanti keriputnya makin nambah" sahut Kai sambil menyengir anjingg.


Tangan Kenzi terangkat, menyentil hidung putranya agak keras hingga cowok itu meringis.


"Sakit Mahh" pekik Kairen sembari mengelus pucuk hidungnya.


"Rasain, anak kodok emang harus digituin dulu biar otaknya stabil" si emak nggak ada akhlak mulai bertingkah. Ngatain anaknya sendiri kayak ngatain anak tikus.


"Ihh si Umi, kalo ngatain kayak ngatain anak angkat. Padahalkan kalo Kai anak kodok, berarti Mama emaknya kodok"


Skak


Kenzi tidak bisa menjawab. Bener juga sih, tapi kan....


"Kok aku sih-


"Nggak usah protes. Mau si ici digoreng?!" ancam Kenzi sambil tersenyum licik. Ici itu marmut kesayangannya Kai. Dan itu adalah senjata ampuh yang bisa membuat cowok itu bungkam.


"Akhh si Mama mahh" Kai mencebik kesal tapi tak urung dia tetap berdiri.


"Yuk Jam, ikut kakak ganteng beli garem" ajaknya pada Jemina. Gadis kecil itu mengangguk sambil tersenyum lebar, dia paling senang kalo diajak Kai. Alesannya satu, Kai ganteng.


Mereka berjalan beriringan menuju garasi untuk mengambil motor. Jemina duduk di depan, kali ini Kai memilih motor matic.


"Pegangan ya" ucapnya pada Jemina.


"Let's go!!"


*********


Satu jam sudah dua orang beda umur itu berkeliling. Sampai akhirnya Kai menghentikkan motornya di pinggir jalan.


"Jem, nanti kalo onty Kenzi nanya kok nggak beli garem, jawab aja kalo duitnya ilang ya?"


"Kok ilang, kan duitnya tadi dipake buat beli ice cream, Kak" sahut Jemina dengan wajah polos.


k


Kairen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, susah emang ngajak kompromi anak kecil. Tadi dia emang mau beli garam, tapi karena warungnya tutup dia malah beralih membeli ice cream di toko sebelahnya. Lalu tiba-tiba jajaran para gebetannya datang, sehingga mau tak mau cowok itu membelikan mereka ice cream untuk mereka. Dia juga tidak melupakan Jemina. Dia membelikan tiga ice cream sekaligus dan langsung habis di tempat.


"Emang kamu mau diamuk onty?, onty galak loh. Kalo ngamuk sungutnya suka keluar" Kai mencoba menakut-nakuti.


"Makanya, jangan bilang ke onty kalo uangnya udah dipake beli ice cream. Bilang aja kalo uangnya hilang, oke?"


"Oke Kak" sahut Jemina.


"Jangan sampek keceplosan ya, nanti pasti kakak ganteng yang kena hukum"


"Oke Kak"


Kai tersenyum iblis, akhirnya berhasil. Ternyata tidak sulit membujuk anak kecil.


**********


Kairen dan Jemina memasuki area rumah sambil berjalan beriringan.


"Loh, garemnya mana?" Kenzi yang baru datang dari


dapur langsung bertanya saat melihat Kai tidak membawa apa-apa.


"Nggak bisa beli Ma, uangnya ilang" sahut Kai sembari memasang wajah sesantai mungkin.


Mata Kenzi memicing.


"Ilang apa ilanggg?" godanya.


"Ilang Ma, kalo nggak percaya tanya aja ke Jem. Iya kan Jem?" Kai menunduk pada Jemina.


"Iya kok onty, uangnya ilang" ucap Jemina.


Mata Kenzi memicing lebih dalam. Dia mencium bau-bau kebohongan dari mulut anak cebongnya itu.


"Uangnya ilang dimana Jem?" tanya Kenzi.


"Di tukang ice cream onty"


gubrakkkk


Kai pengen jungkur balik. Apalagi ngeliat emaknya udah senyum miring, perutnya langsung mules seketika.


"Maap Ma, tadi Kai khilaf"


Kenzi terdiam, otaknya memikirkan hukuman apa yang cocok untuk anak bangsattnya itu.


"Karena kamu udah boong ke Mama. Sebagai hukumannya, kamu kalo makan hitung ada berapa bulir nasi yang ada di piring kamu. Kalo udah tau hasilnya lapor ke Mama"


Mata Kai melotot, ini hukuman apa siksaan sih.


"ASTAGHFIRULLAH UMMI!!!"