Our Love Story

Our Love Story
chapter 2 Aira dan Melvin



Untuk beberapa menit, Aira menimang-nimang sesuatu. Gadis itu ragu antara pergi keluar kelas atau duduk di dalam kelas sembari memakan bekal. Pasalnya, sejak kelas tetap diumumkan, Aira tidak pernah bersosialisasi pada teman-teman nya. Gadis itu hanya mengikuti teman kelas sementaranya yang masih mau berteman dengannya.


Andai saja dulu, teman SMP yang satu kelas dalam kelas sementaranya menjadi bagian dari kelas tetap nya saat ini, Aira pasti tidak akan kesepian seperti ini. Sepanjang waktu Aira lebih banyak diam, sementara ketiga temannya sibuk berujar tentang banyak topik.


Setiap jam istirahat, Aira selalu mengikuti mereka tanpa ikut pembicaraan yang tidak cocok dengannya. Sesekali gadis itu tertawa ketika ketiga temannya tertawa, meski tak tahu hal apa yang mereka bahas.


Aira merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia sangat tertutup atau bahkan seringkali ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Justru hal itulah yang membuatnya seolah membangun dinding dari dunia luar. Membatasi diri hingga akhirnya dia bahkan tak memiliki keberanian untuk sekedar menyapa orang asing yang ingin dijadikannya teman. Ia tak bisa mengikuti arah pembicaraan mereka. Seringkali ia merasa terkucil hingga berakhir menatap rendah dirinya sendiri.


Iri.


Perasaan itu selalu muncul setiap ia melangkah. Membayang-bayangi dirinya sendiri. Merasa memiliki banyak kekurangan, lalu membandingkan keunggulan orang lain dengan keunggulannya. Bahkan ia sendiri tidak tahu apakah ia memiliki keunggulan atau tidak.


Dan saat ini, Aira berada dititik terendah. Dimana ia sangat ingin berteman namun pikiran buruk itu menetap dipikirannya hingga akhirnya ia tidak pernah percaya diri ketika berbicara pada teman-teman sekelasnya yang sebutlah 'populer' sementara dirinya bukan apa-apa.


"Aira,"


Aira menoleh. Sasa, gadis yang dulu menjadi teman kelas sementaranya kini menatapnya dengan tatapan bertanya. "mau ikut? Kami mau pergi ke kantin,"


Aira tahu, Sasa tidak benar-benar ingin dirinya ada. Baginya, Aira bersamanya atau tidak, menurutnya bukan masalah. Sasa tidak peduli. Yang terpikir olehnya adalah; aku sudah menawarinya. Ikut-tidak ikut itu bukan urusanku.


Aira tersenyum masam. "Tidak perlu. Aku bisa makan bekalku disini," tolaknya.


Sasa menatapnya sesaat sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan Aira. Aira menghela napas panjang. Ia sangat membenci keadaan dimana hanya dia sendiri yang ada. Gadis itu sudah mencoba. Dulu saat Fani—teman sekelasnya yang pendiam dan rajin—duduk sendirian sambil memakan bekal, Aira mendekatinya berniat mencari teman. Tapi harapannya pupus setelah beberapa saat kemudian empat orang dari kelas lain mengajak Fani bersama mereka.


Aira menjauh, dia tidak ingin mengganggu Fani dengan teman-teman barunya. Aira duduk disebelah tangga dekat kelasnya sambil memakan bekal.


Gadis itu tidak menyadari bahwa didepannya ada seseorang yang dari tadi sedang memperhatikan nya.


Orang itu terus memandangi Aira tanpa henti."kamu Aira kan?"ucap orang itu bertanya pada Aira. Aira segera sadar dari lamunannya.


"Kamu siswa yang manjat pagar waktu pertama masuk kan?hmmm.. Siapa ya namamu?"


"Melvin, aku ingat namamu bagaimana mungkin kau tidak ingat namaku!"


Ucap Melvin mencoba bercanda dengan Aira. "Sendirian saja?" Tanya Melvin sembari duduk disebelah Aira. Aira hanya diam saja tidak menjawab Melvin yang sedang bertanya padanya. "Kau sendiri tidak dengan temanmu?" Tanya Aira balik.


"Tidak, tadi saat dikantin aku terpisah dengan temanku jadinya aku jalan-jalan saja"


Melvin tersenyum ke arah Aira. "Mau kutemani?" Ucap Melvin. Aira kaget dan mukanya memerah.


"Kamu sakit demam ya?"


Aira salah tingkah dengan kata-kata Melvin yang ingin menemaninya. "Tidak usah kamu nanti bosan kalau menunggu aku makan".


" Tidak kok"


Ucapnya lagi sambil tersenyum ke arah Aira. Aira baru tau kalau Melvin adalah orang yang sangat ceria. Mereka berdua mengobrol sampai jam istirahat usai.


Waktu pelajaran sekolah pun telah usai ini saatnya para siswa pulang. Aira berjalan ke arah gerbang sekolah karena ia hendak pulang.


"Aira!"


Suara teriakan salah seorang siswa yang memanggil namanya. Aira reflek menoleh ke arah sumber teriakan itu dan ternyata itu adalah Melvin. Nafasnya tersengal-sengal karena berlari mengejar Aira.


"Jangan teriak begitu! Kamu tidak malu dilihat siswa lainya?"


Melvin menggelengkan kepalanya dan tersenyum ke arah Aira lagi.


"Kamu ini sangat ceria ya"


Ucapnya sambil berjalan beriringan dengan Melvin.


085xxxx7xx9


Hai Hai!


086xxx12x09


Siapa ini?


085xxxx7xx9


Melvin save nomorku ya!


Aira segera menyimpan nomor Melvin ke kontak hpnya. Mereka berbicang-bincang seperti saat disekolah. Aira merasa sangat senang mendapatkan teman baru setelah memiliki kelas tetap.


#


"Mau?"


Melvin menyodorkan sekotak susu cokelat pada Aira. Setelah mengucapkan terima kasih tulus, ia meminumnya sedikit dan meletakkannya di samping nya.


"Itu temenmu, 'kan?" Tanya Aira seraya menunjuk seorang lelaki berkacamata yang tengah berdiri di samping lelaki dengan postur tubuh tinggi dan tegap.


Melvin mengangguk. Pemuda itu memincingkan sebelah matanya. "Nggak suka susu cokelat ya?"


Tatapannya meredup, lalu menatap sekotak susu yang sedari tadi diletakkan di samping Aira. Aira yang semula masih sibuk mengunyah keripik kentangnya cepat-cepat meraih kotak susu itu lantas menghabiskannya hingga tandas.


"Suka, kok. Tadinya mau ku minum buat nanti. Kan sayang kalau dihabiskan langsung." Aira menatap datar kotak susunya. "Tapi karena kamu bilang gitu, ya aku kan agak ... "


Kalimatnya menggantung diudara. Aira masih mencoba mencari kata yang tepat. Tapi ia tak kunjung menemukannya hingga para akhirnya, gadis itu hanya menghela napas.


"Aku tahu."


Melvin tersenyum tipis sebelum kemudian kembali berujar. "Maaf ya,"


"Eh? Itu bukan salahmu," balas Aira canggung. Suasana diantara mereka menjadi lebih canggung dan kaku.


Maka, Melvin mengambil inisiatif terlebih dahulu untuk melangkah pergi setelah mengucapkan 'sampai jumpa' pada Aira. Aira yang sedari tadi menunduk, akhirnya membalas Melvin dengan senyum kecil dan lambaian tangan.


#


Melirik arloji warna putih miliknya, Aira menghitung waktu sejenak. Masih tersisa 15 menit sebelum pemberitahuan pergantian jam. Dengan langkah lebar, ia melintas melewati lorong sesekali matanya menatap lukisan yang tergantung disepanjang lorong. Sebagian besar dari semua lukisan itu adalah lukisan kanvas. Beberapa lukisan, menggambarkan suasana senja, flora, dan fauna.


Sesampainya di dalam kelas, Aira menghampiri bangku Risa. Gadis itu menatap fokus kearah layar ponselnya. Bahkan, eksistensinya mungkin tidak disadari oleh gadis itu. Karena penasaran, Aira sedikit melirik smartphone Risa. Ia tengah menonton anime.


Menyadari kehadiran Aira, Risa berjengit kaget. "Ada apa?" Tanyanya to the point.


Aira mengangkat sebelah bahunya. "Aku hanya ingin tahu apa yang kau tonton,"


"Kemarilah. Ayo kita lihat bersama," ajak Risa. Ia membalik layar ponselnya, membuat Aira dapat melihatnya lebih jelas.


#


Belum pergantian jam telah berbunyi ini saatnya pelajaran berikutnya dimulai. Aira sibuk mengambil buku yang ada di tasnya. Tidak sengaja Aira menoleh ke arah anak laki-laki yang duduk dibelakangnya, tatapan laki-laki itu tampak sayu.


Pelajaran usai. Aira menengok ke belakang untuk memasukkan buku kedalam tas nya. Di lihat laki-laki yang duduk dibelakangnya sedang memegang smartphone. Tampaknya laki-laki itu sedang bermain game.


Aira tak mempedulikan hal lelaki itu. Aira pergi ke lab komputer untuk pelajaran TIK. Saat berjalan di lorong kelas Aira tak sengaja bertemu dengan Melvin.


"Pelajaran TIK ya?"


Aira mengangguk. "Kamu kenapa di luar kelas? bukanya sudah ganti jam ya?" Tanya Aira. Melvin hanya tersenyum tipis dan pergi. Aura bertanya-tanya kenapa Melvin tidak menjawab dan hanya tersenyum saja.


                              #


Bel istirahat ke 2 pun berbunyi. Aira pergi keluar kelas, bukan karena ia bosan tapi hatinya berharap dia bisa bertemu Melvin lagi saat istirahat. Benar saja Melvin berdiri di lorong dekat kelas Aira. Rasa senang dalam hatinya membuatnya selalu tersenyum.


"Aira!"


Panggil Melvin dengan melambaikan tanganya ke arah Aira yang sedang berjalan. Aira segera menghampiri Melvin.


"Aku menunggu kamu dari tadi lo"


Sekali lagi Kata-kata Melvin membuat rona diwajah Aira terlihat. "ke perpustakaan?" tanya Melvin ke Aira dan Aira menganggukan kepalanya.


                   


#


Aira melompat-lompat berusaha mengambil buku yang ada di rak paling atas. Ingin Aira berteriak tapi di perpustakaan dilarang membuat bising.


"Kok susah banget sih?"


Ada tangan lain juga yang ingin mengambil buku yang sama dengan Aira.


"Makasih"


Ucap Aira. Tapi orang itu tak menghiraukanya dan pergi dengan membawa buku yang ingin dipinjam Aira. Kesal bercampur malu itulah yang dirasakan oleh Aira saat ini. Akhirnya Aira mengambil buku lain dan berjalan kearah meja yang tersedia di perpustakaan itu, Aira duduk disebelah Melvin.


"Kenapa wajahmu kayak kesal begitu?"


Tanya Melvin heran karena Aira terlihat sangat kesal sekali.Aira menceritakan apa yang terjadi kepadanya.


"Pfft"


Melvin berusaha menahan tawa setelah mendengar cerita dari Aira dan Aira malah bertambah cemberut.


"Ah, maaf."


Meski begitu, bibir Melvin berkedut samar, jelas-jelas ia sedang berusaha menahan tawanya. Aira yang menyadari hal itu segera beringsut pergi dari kursi kayunya. Akibat gerakan mendadak, kursi itu sedikit berderit karena bergesekan dengan lantai keramik berwarna nila. Beberapa orang yang mendengar derit kursi itu menoleh tapi keseluruhan dari mereka hanya menatap tanpa berkata-kata.


Sementara penjaga perpustakaan di ujung ruangan, berdehem pelan sambil membenarkan letak posisi kacamata bacanya dan memberi peringatan untuk diam pada Aira lewat tatapannya. Setelah mengangguk kaku sebagai pengganti ucapan maaf, Aira kembali menarik kursinya mendekati meja lalu beralih menatap tajam Melvin.


"Kenapa?" Melvin menatap Aira dengan tatapan bertanya seolah meminta keterangan apa yang membuat Aira sedikit marah.


Kali ini Aira mendengus. "Tidak apa-apa," jawabnya singkat.


Dibawah meja, Melvin menyilangkan sebelah kakinya. Aira yang sedari tadi berkutat dengan buku bacaannya, kini kembali menatap Melvin yang tampak santai. Gadis itu menginjak ujung sepatu hitam Melvin tanpa ragu sambil membaca buku seolah berlagak bukan dia yang melakukannya.


Melihat Melvin memberi respons berupa ringisan pelan, Aira yakin ia telah menginjak kaki Melvin dengan benar. Diam-diam Aira tersenyum tipis meski saat ini dia sangat ingin membalas Melvin dengan menertawai nya didepan banyak orang. Tapi, setelah dipikir-pikir, itu bukan ide yang bagus.


"Kenapa?" Tanya Aira ketus saat menyadari bahwa Melvin menatapnya tajam.


Melvin mendengus. "Kakiku sakit tahu!" Protesnya sedikit berbisik.


Aira nampak tak acuh. Ia melirik Melvin sejenak sebelum kemudian kembali menatap buku bacaannya.


"Bukan salahku," balas Aira santai.


"Padahal aku, kan tadi minta maaf," gerutu Melvin.


Tak ingin terjadi adu mulut lebih jauh, akhirnya Aira menghela napas lelah. "baiklah. Aku minta maaf,"


Melvin tertawa kecil. "Wah, aku bercanda lo. Tapi karena kamu benar-benar minta maaf. Jadi, aku akan memaafkan mu,"


Wajah Aira tidak menunjukkan perubahan ekspresi yang berarti. Kalaupun sedikit marah, gadis itu tidak menunjukkan nya. Aira terdiam cukup lama sebelum kemudian bunyi gemerisik plastik sedikit mengganggunya. Tanpa menoleh pun ia tahu siapa yang akan melakukan hal itu. Melvin. Nama itu terlintas dipikiran nya begitu saja. Aira berniat menegur Melvin, tapi sebuah benda yang terlebih dulu menyentuh tangannya di bawah meja, berhasil membuat atensinya teralihkan.


Aira menunduk, berusaha melihat benda apa yang menyentuh tangannya. Matanya terbelalak lebar ketika menyadari bahwa sesuatu yang menyentuh tangannya bukan benda namun tangan orang lain. Tangan Aira yang semula dingin kini mulai menghangat. Dan seketika, ia menyadari jika tangan Melvin yang menggegam tangannya memberikan kehangatan tersendiri bagi Aira. Kemarahan yang semula bergejolak di rongga dadanya sekarang sirna. Yang dirasakannya sekarang hanya ketenangan dan kehangatan dari Melvin.


Aira membiarkan tangan mereka saling mengait satu sama lain. Dia melirik ke depan, dimana Melvin tengah membaca sebuah buku. Wajahnya tidak tampak lantaran buku yang dibacanya terlalu menutupi wajah.


#


Tepat setelah 12 menit sejak pemberitahuan jam pulang sekolah bergema di seantero sekolah. Sementara Melvin belum juga nampak keluar dari gerbang sekolah. Berulang kali Aira menerima pesan chat dari grup kelas, grup ekstrakurikuler, dan chat pribadi dari salah satu teman sekelasnya. Tapi, tak satupun pesan chat masuk dari Melvin. Padahal, beberapa saat yang lalu lelaki itu mengajaknya pergi ke salah satu toko muffin sepulang sekolah. 


Berulang kali jemari nya mengetuk-ngetuk permukaan dinding tepat di depan gerbang. Sementara ekspresi mukanya berubah gelisah. Sekilas, pikiran-pikiran buruk menghampiri nya. Namun, Aira segera menepis semua itu dan berharap Melvin menepati janjinya.


Yang dilakukan Aira hanya melirik pintu gerbang berulang kali sambil berpikir untuk pergi mencari Melvin, sebelum kemudian Aira menarik napas lega saat Melvin menepuk bahunya pelan sambil terengah.


Alih-alih memarahinya, Aira kini mengulas senyum lebar. "Syukurlah. Aku kira kamu melupakanku,"


Sambil menstabilkan napasnya, pemuda itu ikut tersenyum lebar. "Tidak. Aku hanya memiliki sedikit urusan," tukas Melvin.


Baru saja Aira hendak bertanya. Tapi Melvin lebih dulu menarik tangan kanannya sambil berlari. Hendak memprotes, namun Melvin menginterupsi nya dengan kalimat yang terdengar seperti jawaban meski Aira tidak menanyakan apapun.


"Jika tidak berlari, waktunya tidak akan cukup."


Kalimat singkat itu membuat Aira bungkam seolah pernyataan itu menjawab pertanyaan yang hendak disampaikan nya. Kali ini Aira memilih untuk berdiam sementara kedua kakinya terus berlari dengan Melvin yang menarik tangannya.


#


"Apa yang kau lakukan?!"


Teriakan itu menggema di telinga Melvin. Seorang pria paruh baya dengan tubuh semampai menamparnya telak di pipi kanan. Hingga kemudian bekas kemerahan terlihat disana.


Pemuda itu hanya terdiam.


"Apa yang kau lakukan!?" Kalimat itu diteriakkan dengan nada yang lebih tinggi dan mengintimidasi.


"Kamu hanya seorang anak angkat! Ingat posisimu baik-baik!" Ada jeda beberapa saat sebelum pria itu menarik paksa tubuhnya dan menghempaskan nya di ruangan tertutup dan menguncinya rapat.