
Sesuai dengan janjinya pada Kimy tadi siang, sore itu Kairen benar-benar datang untuk menjemput gadis itu dan mengajaknya jalan-jalan. Entah mendapat dorongan darimana, dia sendiri juga bingung. Yang jelas sore ini dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama gadis itu, Kimyora.
Kimy keluar dari kamar kosnya dengan mengenakan baju yang sedikit feminin, tak lupa riasan tipis yang dia poleskan di wajah. Rambut panjangnya dia biarkan tergerai, dia tau Kai suka saat dia menggerai rambutnya. Anggaplah dia berlebihan, tapi Kimy tidak peduli. Dia hanya ingin semua berjalan indah, sore ini saja.
"Sorry nunggu lama"
Kai tertegun di tempat saar melihat penampilan Kimy yang menurutnya spesial sore ini. Gadis itu nampak manis dan anggun, sama seperti Kimy yang dia kenal 12 tahun yang lalu.
"WOY!!" sentak Kimy seraya melambaikan sebelah tangannya di depan muka Kairen. Cowok itu tersentak dengan wajah cengo, namun secepat mungkin dia merubah ekspresi dan menfalihkan pandangannya kearah lain.
"Lama banget sih lo, sampek jamuran gue nungguin" desis Kai dengan nada dongkol untuk menutupi kegugupannya.
"Yaudah sih, suruh siapa ngajak gue. Pergi aja sono sama Rachel" ketus Kimy seraya memajukan bibirnya beberapa senti.
Kai terkekeh geli. Ekspresi Kimy saat ini sangat lucu menurutnya. Tangan kanan cowok itu terangkat, mencubit hidung Kimy agak keras hingga meninggalkan bekas kemerahan.
"Gak usah manyunn, muka lo jelek kalo kayak gitu. Mirip bebek!!" ledeknya.
Tangan kanan Kimy gantian menjewer kuping Kai, sedangkan tangan kirinya mengusap hidungnya sendiri yang terasa panas.
"Ihhhh, dasar tukang cubitttttt!!!"
"Akh sakit monyett!!" pekik Kai keras. Kiny melepas jewerannya kemudian beralih mencubit kedua pipi cowok itu dengan gemas.
"Lo monyetnya!!"
"KIM, JANGAN PACARAN DI KOSAN SAYA!!!" teriakan dari ibu kos terdengar begitu nyaring, membuat Kimy meringis ngeri sembari mengusap telinganya yang berdengung. Kos tempatnya tinggal itu memang sangat menjunjung tinggi larangan berpacaran di area Kos.
"IYA BU, LAGIAN MANA MAU SAYA PACARAN SAMA TITISAN MONYETT!!"
***********
Setelah perdebatan unfaedah tentang siapa monyett yang sebenarnya, akhirnya dua orang yang otaknya sama-aama ketinggalan di rahim itu bisa duduk tenang di dalam mobil. Niat hati Kai ingin mengajak jalan-jalan, tapi dia bingung mau mengajak kemana.
"Kai, gue tadi kan baca artikel di browser"
"Hmm, terus?"sela Kai tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.
"Ihhh dengerin dulu. Belum selesai ngomong juga" cebik gadis itu dengan kesal.
"Iya dehh iyaa. Silahkan nyonya Kimy untuk meneruskan ucapannya"
Kimy melirik sinis kearah Kai. Dahlah, mood bicaranya hilang sudah karena balasan Kai yang kurang menggugah minat. Dia badmood.
"Gak jadi" sahutnya agak ketus.
"Dih, gak jelas lo kek dora" cibir Kairen menatap aneh kearah gadis di sampingnya. Bagaimana bisa dia mengenal gadis macam Kimy. Cewek bar-bar yang memang bukan tipenya sama sekali. Tapi dia lebih heran, kenapa bisa dia bertahan hidup berdampingan dengan Kimy selama bertahun-tahun.
Setelah itu tidak ada percakapan sama sekali di antara mereka. Kai sibuk menyetir, sedangkan Kimy sibuk dengan ponselnya. Cewek itu bermain game pou untuk menghilangkan rasa boring. Lumayan, rasanya kayak punya anak beneran.
30 menit berlalu, mobil Kai berhenti di depan sebuah pantai yang kebetulan saat itu dikunjungi banyak wisatawan. Apalagi mengingat kalau ini memang sore hari, pasti banyak diantara mereka yang ingin menikmati sunset. Entah sendiri, bersama pasangan, ataupun bersama sahabat.
Kaki Kai dan Kimy menapaki pasir putih yang terhampar di bibir pantai. Menikmati semilir angin yang berhembus kencang menerpa tubuh mereka. Kimy tersenyum lebar. Gadis itu melepas sepatunya, melempar kesembarang arah lalu berlarian di bibir pantai. Membiatkan kaki polosnya menyentuh pasir dan air pantai secara langsung.
Tanpa sadar sudut bibir Kai tertarik keatas membentuk senyuman yang tipis, amat tipis sampai hanya dia yang mengetahui kalau dia sedang tersenyum. Matanya tak lepas dari sosok Kimy. Mengamati setiap gerak-gerik gadis yang sedang berlarian. Rambut panjangnya yang terurai bergoyang kesana kemari seiring dengan langkahnya yang kian cepat.
"Yahhh, kehapus dehh"
"Lagi bikin apaan sih lo?" karena penasaran akhirnya Kai mendekat. Berdiri di samping Kimy yang tengah membungkuk dengan tangan yang sibuk memegang ranting untuk menulis sebuah kata di atas pasir.
"Wish terbesar gue" sahut gadis itu dengan senyum lebarnya hingga matanya menyipit.
*I hope happy love story for the rest in my life*
Hanya itu yang ditulis Kimy. Sangat sederhana, dan dia bilang itu adalah impian terbesarnya.
"Lo tau kan Kai, hidup gue dari dulu gak sebahagia yang dikira orang-orang" gadis itu berjalan ketepian. Duduk di atas pasir pantai yang kering sembari menekuk kedua lututnya. Kai ikut duduk di sampingnya. Mereka berdua duduk berdampingan dengan mata yang menyorot kearah langit yang mulai memancarkan cahaya kekuningan.
"Dari dulu gue selalu maksain diri buat keliatan bahagia di depan semua orang. Gue cuma gak mau ditatap kasian sama orang lain, gue benci tatapan itu. Tapi ternyata pura-pura gapapa itu susah ya. Hahaa, gue akuin gue emang lemah" pandangan gadis itu mulai sendu. Dan Kai dapat merasakan kesedihan itu.
"Sejak Mama sama Papa mutusin buat pisah, gue ngerasa kek kehilangan arah. Gue ngerasa kayak gak punya tempat bersandar. Disaat orang-orang yang gue anggep rumah, malah matahin semua angan gue hanya karena sebuah perpisahan. Belum lagi sikap egois bokap yang bener-bener bikin gue muak, gue ngerasa dunia bener-bener gak adil. Boleh gak sih kalo gue bilang benci sama hidup ini, kenapa harus gue yang dapetin ini semua!!"
"Karena Tuhan tau lo mampu Kim. Karena dia tau lo itu cewek kuat, gak cengeng, lo bukan cewek lemah" usapan Kai dibahunya membuat Kimy menoleh. Menatap wajah teduh Kai yang kini menatapnya sembari memancarkan senyuman tulus seolah berkata bahwa 'ada gue disini'
"Gue mungkin gak bisa bantu apa-apa. Dan omongan gue mungkin gak bisa ngurangin beban di pundak lo. Tapi gue cuma mau bilang, gue ada disini. Gue bakal tetep disini, di samping lo, gue bakal tetep ada saat lo butuh gue sebagai sandaran. Lo gak perlu takut, lo gak perlu ngerasa cemas, selama gue masih ada disisi lo, gak ada hal buruk yang bakal terjadi. Lo bisa berbagi kesedihan sama gue, karena mulai sekarang gue bakal menjabat jadi 'Dear Diary Kimy"
Kimy tersenyum lebar. Ucapan Kai seperti sebuah penenang untuk hatinya yang gundah. Memang benar. Dia merasa dunia bahkan akan terasa baik-baik saja saat dia menggenggam tangan Kai.
"Udah gak usah mewek, entar maskara lo luntur terus lo dikira kunti" memang dasar mulut Kai gak bisa diajak kompromi. Baru juga melow dikit, udah diamburadulin sama mulutnya yang engga ada remnya.
"Apaan!!. Gue gak nangis ya, cuma...." Kimy mencoba mengelak tapi bingung harus beralasan apa. Sedangkan tangannya sibuk menghapus air mata yang hampir menetes di ujung matanya.
"Cuma apa?. Mewek aja pakek gengsi" cibir Kai sembari bangkit dari duduknya.
"Mau kemana lo?" tanya Kimy dengan wajah bingung.
"Bentar doang. Tunggu sini, jangan kemana-mana" setelah mengucapkan itu, cowok itu benar-benar pergi entah kemana. Kimy pun cuma mengendikkan bahunya acuh. Dia menatap kearah jam tangannya, 40 menit lagi adalah detik-detik sunset.
25 menit setelahnya, Kai datang dengan tangan yang membawa dua buah kantong plastik.
"Bawa apa?" tanya Kimy saat Kai sudah duduk di sampingnya.
"Sate kerang. Lo suka kan?" Kimy mengangguk semangat sebagai jawaban. Dia tidak menyangka Kai masih mengingat itu. Gadis itu mengambil satu tusuk dan memakannya dengan gembira, begitu juga dengan Kai.
Angin berhembus lumayan kencang, membuat rambut Kimy berterbangan kesana kemari. Berulang kali Kimy menyelipkan rambutnya di belakang telinga, menyisihkan rambut yang menghalangi pandangan matanya.
"Hadap sini" tanpa aba-aba Kai meraih dagu Kimy, menyuruh gadis itu menghadap kearahnya. Sebelah tangan Kai mengambil sesuatu yang tadi dia letakkan di dalam saku. Sebuah jepit rambut.
"Karna gue gak suka lo kuncir rambut, jadi lo pake jepitan aja" ucapnya seraya memasang jepit rambut berwarna peach di sisi kiri rambut Kimy lalu menyelipkan beberapa helai ke belakang telinga.
Kimy tertegun, salahkah dia kalau dia jatuh cinta?.
"Cantik" puji Kai secara spontan.
"Hah?. L-lo ngomong apa?' tanya Kimy memastikan, entah mengapa kupingnya mendadak tuli sekarang.
"Jepitnya yang cantik, bukan lo. Gak usah GR!!"
Kai tersenyum senang saat berhasil menjahili Kimy. Apalagi melihat gadis itu menekuk wajahnya karena kesal. Itu hiburan tersendiri untuknya.
"Lo jelek, lo cuma boleh cantik di mata gue"