
Sinar mentari menyeruak memasuki indera penglihatan dua remaja yang masih tertidur dengan posisi duduk di bawah sebuah pohon rindang. Kairen menggeliat pelan, matanya mengerjap saat sinar matahari menyilaukan matanya yang baru beberapa menit terbuka. Cowok itu mengedarkan pandangannya ke segala arah, ternyata ini sudah pagi. Malam yang makin larut dan gelap, membuatnya memutuskan untuk istirahat dan berlindung di bawah pohon sembari menunggu pagi menjelang.
Dia kemudian menunduk, melihat kearah wajah seorang gadis yang masih tidur dengan menjadikan pahanya sebagai bantalan. Kai juga tidak tau, motif apa yang membuatnya mau melakukan itu semua sampai sejauh ini. Mencari Kimy dan melawan bahayanya hutan di malam hari, yang jelas dia mau gadis yang menjadi sahabat masa kecilnya itu tetap aman dalam kondisi apapun.
Sinar matahari mulai terik dan menerpa wajah Kimy yang putih bersih. Gadis itu menggeliat, matanya bergerak kesana kemari karena silau. Melihat itu Kai segera meletakkan telapak tangannya di depan wajah Kimy, menghalau sinar matahari menggunakan punggung tangannya.
"Dasar kebo!!" dia terkekeh pelan. Tangannya menyibak anak rambut Kimy yang terjatuh menutupi wajah. Wajahnya terlihat sangat tenang dan polos seperti bayi baru lahir. Tanpa sadar, seulas senyum tipis terbit di bibir Kairen. Tipis sekali sampai tidak ada yang tau kalau dia tengah tersenyum.
"Lo cakep kalo lagi tidur, beda lagi kalo bangun. Jelek, kayak keteknya Mang Ujang" Kairen tertawa kecil, "Eh tapi lo kan emang jelek dari dulu, yang cakep cuma Rachel. Calon bini gue wkwk"
Setelah itu Kai diam, tidak mengeluarkan suara apapun. Dia membiarkan pahanya dipakai Kimy sampai puas. Kesemutan pun dia abaikan, kurang baik apa lagi coba?!.
Di sisi lain, Satya yang hanya berbalut kaos hitam polos berjalan mendekati Rachel yang masih tidur dengan memakai jaketnya. Tidak mungkin dia tega membiarkan gadis di depan matanya kedinginan, sampai akhirnya dia merelakan jaket hitamnya digunakan Rachel untuk tidur.
"Sel, bangun. Udah pagi!!" seru Satya seraya mengguncang bahu Rachel pelan. Gadis itu menggeliat, kemudian mengucek matanya yang baru terbuka.
"Kamu udah bangun dari tadi?" masih dengan menguap kecil, pertanyaan itu Rachel ucapkan dan hanya di balas anggukan kecil oleh Satya.
"Oh iya, nih jaket kamu. Makasih ya udah minjemin" Rachel menyerahkan jaket Satya yang semula dipakainya, gadis itu menampilkan senyum lebar. Sangat manis dan menawan, Satya mengakui itu.
"Pagi ini dingin, pake aja" sahut Satya dengan wajah datar.
"Terus kamu?" tanya Rachel yang nampak khawatir.
"Gak usah pikirin gue. Gue udah biasa"
Setelah itu tidak ada percakapan, mereka saling diam di tengah kaki mereka yang terus mrlangkah mencari jalan keluar. Berbekalkan peta yang entah arahnya benar atau tidak, mereka menyusuri hutan yang dipenuhi pepohonan menjulang tinggi hingga menutupi sinar matahari. Semuanya temaram, bau tanah dan embun pagi sangat terasa disini. Menambah kesan misti yang tidak bisa dielak oleh siapapun.
Satya melirik kearah Rachel yang terus berjalan sembari menunduk. Dia tau gadis itu ketakutan, dia bisa melihat itu. Tanpa aba-aba, tangan Satya menggapai tangan kiri Rachel. Mengaitkan jemari mereka hingga membuat gadis itu cukup terkejut.
"Gak usah takut, ada gue" ucapan itu seperti angin yang berhembus di tengah padang pasir. Sangat sejuk dan menenangkan hati Rachel yang semula gundah.
"Thanks"
************
3 jam lamanya dua orang itu berjalan tanpa arah. Bermodalkan tekad dan feeling, Kimy dan Kai nekat menyusuri hutan tanpa pedoman apapun. HP Kimy lowbat, sedangkan HP Kai tidak ada signal. Benar-benar kesialan double kill.
Kini mereka berhenti, di dekat jajaran pohon tinggi yang sebelahnya terdapat jurang yang lumayan dalam. Kimy bergidik melihat itu.
"Gila sih, capek gue anying!!" keluh Kimy sembari membungkuk lesu. Kakinya sudah mati rasa karena terlalu lama berjalan.
"Ngeluh mulu lo kek nenek-nenek!!. Gue tinggal nih!!"ancam Kai yang langsung mendapat hadiah tendanngan di pantat dari gadis di belakangnya.
"Lo pikir gak capek dari semalem jalan terus?!. Kaki gue pegel!!"
"Lo pikir gue dari semalem kesini pake apaan, terbang?!. Gue juga jalan jaenab, bukan lo doang yang capek"
"Akh tau lah, susah ngomong sama lo. Dasar gak pengertian!!" desis Kimy sembari memalingkan wajahnya kesal.
"Yaudah, siapa suruh ngomong sama gue" sahut Kai cuek.
Kimy menggertakkan giginya kesal. Dia mencibir Kai di belakang, tangannya bahkan sempat terangkat hendak memukul kepala belakang Kai andai cowok itu tidak menoleh.
"Mau ngapain lo?!" ujar Kai dengan wajah curiga.
"Gak ngapa-ngapain" kilah Kimy gelagapan. Tatapan tajam milik Kai membuat dua mati kutu.
"Mau mesum ya lo?!" tuding Kai. Kimy melotot kesal, " Yeee gak ya!!. Mana nafsu gue sama cebong got kek lo!!"
"Alahhh, ngaku aja deh. Suka kan lo sama gue, siapa sih yang gak suka sama Kairen Elashka. Cowok paling ganteng se-SMA Garuda" ucap membanggakan dirinya sendiri. Ya emang ganteng sih:(
"Prik lo!!" hardik Kimy sembari memutar bola matanya malas.
"KIM!!" seruan dari arah belakang membuat dua orang itu menoleh. Nampak dari arah selatan, Satya dan Rachel berjalan cepat kearah mereka sambil bergandengan tangan. Kai dan Kimy tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, bagaimana bisa mereka disini?!.
"Satya?" ucap Kimy pelan.
"Lo ngapain disini?!, sama Rachel lagi!!" ucap Kai dengan wajah sinis. Matanya melirik tajam kearah tangan Satya yang membuat cowok itu seketika melepas gandengan tangannya. Saat itu Rachel melirik tangannya yang terbebas dari genggaman Satya, seperti ada yang hilang dan membuatnya kecewa.
"Bangstt!!" umpat Kai pelan namun masih bisa di dengar oleh Satya.
"Kimy biar balik sama gue" ucap Satya seraya menarik sebelah tangan Kimy tapi di tahan oleh Kai.
"Apa-apaan lo, enak aja!!. Gue yang nemuin, lo yang ngajak balik. Kalo mau cari muka di depan anak-anak Smada, usaha dong!!. Jangan nyari gampangnya doang!!"
"Maksud lo apaan anjing!!" Satya mendorong bahu Kai dengan emosi, membuat tubuh cowok itu sedikit terhuyung ke belakang.
"Kok marah, bener dong omongan gue?. Lo emang hobby cari muka, di depan siapapun. Rachel, Kimy, Bokap gue. Gak cukup ya punya 1 muka pas-pasan sampek masih nyari muka lagi?!" cowok itu menyunggingkan senyuman sinis yang berhasil membuat emosi Satya terpancing.
"Seenggaknya, gue gak kayak lo. Gak ada otak, tebar pesona sana sini. Buat apa sih, gak penting. Sampah!!"
Bughh
Satu pukulan Kai mendarat di pipi kiri Satya hingga sudut bibir cowok itu mengeluarkan darah.Satya tidak tinggal diam. Dia balik menendang perut Kai, dan terjadilan perkelahian antar dua orang itu. Saling pukul, menendang, dan mengumpat.
"KAI, SATYA, UDAH!!" Seru Kimy dengan lantang. Wajahnya panik, apalagi melihat tubuh Kai dan Satya yang sudah penuh lebam tapi tidak ada yang mau berhenti.
Rachel hanya terpaku di tempatnya, bingung mau melakukan apa. Apalagi melihat Kai dan Satya yang bertengkar hanya demi Kimy, dia merasa tidak dianggap.
Di satu sisi, Boy tersenyum puas melihat itu semua. Semua berjalan mulus tanpa dia harus mengotori tangannya sendiri. Dendamnya terbalaskan..Musuhnya hancur dengan sendirinya hanya karena satu hal, cinta.
Pertengkaran itu terus berlanjut, sampai tak sadar langkah kaki mereka membawa mereka ke bibir jurang. Kai hendak memukul Satya, tapi Satya mengkisnya dengan keras sampai tubuh Kai oleng dan hendak jatuh ke jurang. Tangan cowok itu mencoba meraih apapun, dan yang dia dapatkan adalah kaos Satya. Dia berniat berpegangan pada Satya agar tidak terjatuh, tapi itu malah membuat tubuh Satya ikut oleng dan ikut terjatuh ke jurang.
"RAII!!!"
"SATYA!!!"
Kimy dan Rachel berjalan panik ke bibir jurang. Mereka melihat ke bawah, tepat kearah Kai dan Satya yang sedang bergelantung berpegangan pada akar pohon.
"Kim, tolongin gue please"
"Kim tolong!!"
Satya dan Kai sama-sama minta tolong. Posisi Satya lebih terancam. Pegangan cowok itu sudah berada diujung, sedangkan Kai masih bisa bertahan meskipun dia harus menahan mati-matian lengannya yang nyeri karena tendangan Satya.
Kimy bingung, matanya melirik Rachel yang sama khawatir dengannya.
"Ada Rachel, dia pasti lebih milih bantu Kai. Yaa dia pasti milih Kai, sedangkan Satya gak ada yang nolong. Gue harus nolong dia" batin Kimy menebak
"Sat, pegang tangan gue!!" Kimy mengulurkan tangannya, dan saat itu juga ada 2 hati yang tersambar. Kai menatapnya tajam, dan itu juga yang membuat Kimy merasa bersalah.
"*Lo milih dia Kim?, padahal gue yang dateng buat lo" batin Kai bergejolak.
"Sorry Kai, tapi lo udah ada Rachel. Udah saatnya gue bantu Satya*"
Melihat Kai terabaikan, Rachel segera mengulurkan tangannya pada Kai.
"Pegang tangan aku", Kai tersenyum tipis, sekarang dia tau mana yang harus dia perjuangkan. Tanganya meraih tangan Rachel, dengan bersusah payah dia mencoba untuk naik, dan akhirnya berhasil.
Empat orang itu terduduk dengan nafas memburu setelah berhasil lolos dari maut. Di saat itu juga Kimy merasakan perubahan pada sikap Kai, cowok itu mengacuhkannya.
Kai tiba-tiba berdiri, membuat Kimy menatapnya intens.
"Sel, anter gue ke tenda. Gue mau istirahat"
Rachel mengangguk setuju. Dia ikut berdiri, dia meletakkan tangan Kai di bahunya. Memapah cowok itu untuk berjalan pergi meninggalkan tempat yang menyakitkan. Kimy menatapnya dengan sendu, hatinya terasa tidak rela.
"Maaf"
*********
**Kangen aku gak? wkwk
coment dong, jan lupa like yaa
Happy reading**:)