
Setelah seharian berkutat dengan tugas kuliah dan pekerjaan magangnya, Agatha memutuskan untuk pulang ke unit apartemen yang dia tinggali bersama kakaknya. Gadis itu melangkah gontai memasuki ruang tamu, melempar tasnya ke sembarang arah lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa.
Agatha mencoba memejamkan mata sejenak, dia sangat lelah sungguh. Tapi rasa lengket karena belum mandi seharian membuat cewek itu tidak bisa tidur tenang.
"Aaa capek, pengen ngilang aja sehari!!" dia mengeluh kesal, ternyata masa-masa ini tidak semudah yang dia bayangkan. Dunia dewasa tidak seindah yang dia pikirkan sebelumnya. Dulu dia berpikir menjadi dewasa itu menyenangkan, bisa membeli apapun yang kita mau, bisa pergi kemana pun yang kita suka. Ternyata tidak, semua anggapannya salah. Menjadi dewasa penuh dengan pengorbanan, mental dan fisik. Semua dipermainkan disini.
Agatha memutuskan untuk mandi, tapi kesialan malah menimpanya karena kran air di kamarnya mati. Mungkin karena sudah lama tidak dibetulkan.
"Mau tidur aja susah amat sihhhh" gadis itu berdecak keras sembari berjalan kearah kamar kakaknya. Mencoba membujuk cowok itu agar memperbolehkannya menumpang mandi sekali. Jujur Agatha tidak pernah maauk terlalu dalam ke kamar Boy. Mungkin hanya sebatas di ranjang kemudian kembali keluar.
"Bang, Lo di dalem gak?!" cewek itu mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan dari dalam. Dia ppun berinisiatif menarik engsel pintu, tidak dikunci.
"Bang gue masuk ya, mau numpang mandi!!"
Masa bodo Boy dengar atau tidak, yang penting dia sudah izin. Saat dua masuk pun tidak ada orang di dalam, membuat Agatha bingung kemana perginya kakaknya itu.
"Kok lemarinya ke buka?" gumam Agatha bingung. Dia berjalan kearah pintu lemari yang terbuka lebar. Karena penasaran, dia melihat-lihat isi di dalamnya.
"Kotak apa nih, gede banget" isi lemari Boy sangat rapi, cowok itu memang orang yang perfeksionis sejak dulu. Tapi sebuah kotak hitam besar yang terletak di lemari bagian bawah menarik perhatian Agatha. Dia bingung, pasalnya sudah ada lemari kenapa harus meletakkan kitak segini besarnya di dalam sana.
Tangan lentik gadis itu membuka kotak berwarna hitam ysng tidak memiliki corak di bagian luarnya. Dia sedikit bingung saat menemukan baju serba hitam dan topeng hitam ada di dalam kotak itu. Di tambah lagi adanya beberapa benda tajam seperti pisau lipat, gunting, dan sebuah pistol. Sekarang Agatha mempertanyakan rahasia kakaknya sendiri.
Tangannya meraba semakin dalam, hingga dia menemukan sebuah bingkai foto yang sudah ditusuk-tusuk dengan pisah dan beberapa tintai merah. Bingkai foto yang membuat setengah jiwa Agatha seakan mati rasa, dia berharap bahwa ini cuma mimpi. Tapi suara bariton yang menyapa pendengarannya membuat dia tersadar bahwa ini lebih dari sekedar mimpi.
"Ngapain lo disini?!" Boy tiba-tiba masuk kamar, dan menemukan Agatha ada di dalam kamarnya. Dia kaget, lebih kaget lagi saat Agatha memegang barang yang selama ini dia sembunyikan. Boy segera merebutnya.
"Lancang banget lo buka-buka lemari gue!!" bentak Boy kencang. Agatha tidak takut, sungguh. Gadis itu berdiri tegak, menatap kearah kakaknya dengan tatapan nyalang menantang.
"Maksud Abang apaan pake benda-benda itu?. Abang mau jadi orang kriminal?!. Abang sadar gak sih itu bahaya, gimana kalo sampek ada yang mati terus Abang dipenjara, gak mikir sampek situ?!" Agatha benar-benar marah, dia tidak mengira kakaknya akan melangkah sejauh ini.
Brakkk
"Lo, GAK TAU APA-APA!! JADI JANGAN IKUT CAMPUR!!" dia mengambil bingkai foto itu lalu menunjukkan foto itu tepat di depan muka adiknya.
"Lo liat, liat muka orang-orang sialannn di foto ini!!. Gara-gara mereka Papa kita mati, terus Mama depresi!!. Lo pikir segampang itu gue bisa lupain apa yang mereka lakuin ke keluarga kita?. GAK TA, GUE GAK SEBEGGO LO YANG GAMPANG LULUH CUMA GARA-GARA OMONG KOSONGNYA SI RAI SIALANN ITU!!. Gue bakalan bikin mereka ngerasain apa yang gue rasain, dan gak ads yang bisa ngehalangin gue termasuk lo!!"
Boy benar-benar kalap, bahkan dia sampai membentak Agatha yang selama 19 tahun ini tidak pernah dia bentak sekalipun.
"Tapi itu semua belum tentu bener Bang!!. Belum tentu mereka yang salah!!!.
"OMONG KOSONG!!" nafas Boy memburu hebat. Dia mencoba mengontrol emosi agar tidak sampai melakukan kekerasan pada satu-satunya keluarga yang dia miliki.
"Belum tentu salah lo bilang?!. Bahkan masih membekas jelas diingatan gue sebelum mama depresi dia cerita tentang busuknya suami istri itu ke gue!!. Dan lo lebih percaya mereka daripada nyokap lo sendiri Ta?. Gila lo!!"
Boy melenggang pergi dari kamar dengan membawa sejuta kemurkaan dalam hatinya. Dia memilih pergi keluar untuk menenangkan diri, mungkin dia tidak akan pulang dan menemui Agatha beberapa hari ke depan sebelum amarahnya terkontrol.
Sedangkan seorang gadis yang sedang mematung sembari menatap bingkai foto yang sudah hancur itu mendadak gelisah. Batinnya tidak tenang, hatinya menolak keras dan mengatakan bahwa ini semua tidak benar. Tapi semua cerita yang terungkap memukul telak dirinya untuk tidak bersikap naif.
"Gak mungkin Tante Kenzia sama Om Reyhan yang nyebabin semua ini"
Gadis itu meringkuk sembari menutup kedua telinganya. Ucapan Boy beberapa menit yang lalu terus terngiang, membuat Agatha jengah hingga menggeleng keras menyangkal semuanya.
"*Gara-gara mereka Papa mati terus mama depresi!!!"
"Mereka yang udah bikin keluarga kita hancur*!!"
Agatha tertekan karena sebuah kenyataan. Dimana dia harus berada dalam pilihan yang sulit, cintanya atau kakaknya.
"Kalo kenyataannya kayak gini sekarang gue harus gimana Rai?"