Our Love Story

Our Love Story
Setitik Rasa



3 hari berlalu setelah acara camping di hutan berlalu, banyak hal yang berubah. Semua nampak tak sama, rasanya berbeda. Mungkin benar, sikap manusia memang berubah-ubah. Tidak ada yang kekal di dunia ini, begitu juga dengan perhatiannya.


Kimy menatap kearah Kairen dan Rachel yang duduk salah satu meja kantin. Mereka memilih duduk terpisah dari yang lain seakan enggan untuk diganggu. Kimy menatap Kai penuh arti. Semenjak kejadian di hutan bersama Satya di hutan, cowok itu banyak berubah. Kimy merasa dia menghindarinya, enggan bercanda bahkan bertatap muka.


"Lo ngeliatin apaan sih?" tanya Elsa secara tiba-tiba yang langsung membuyarkan lamunan Kimy. Gadis itu sontak mengalihkan pandangannya,


"Bukan apa-apa"


Satya yang melihat perubahan raut wajah gadis di sampingnya terdiam. Tangannya menepuk bahu Kimy pelan, membuat gadis itu menoleh.


"Mau nambah gak?, gue traktur dehh" tawar Satya, tapi Kimy menolak dengan senyuman seraya menjawab tidak.


Di sisi lain, Kai bangkit dari duduknya membuat suara decitan yang berasal dari kursi yang bergesekan dengan meja.


"Bentar ya Sel, gue mau ke toilet bentar. Mau ikut?" pamitnya pada Rachel seraya menggoda. Membuat gadis itu tertawa manis sembari menggelengkan kepalanya.


"Ya gak lah, entar aku dikira cewek apaan" sahut Rachel.


"Ceweknya aku dong" goda Kai lagi sembari menaik turunkan alisnya.


"Udah akh, sana buruan!!. Jangan lama-lama" Rachel mendorong punggung Kai pelan agar menjauh, cowok itu terkekeh kecil.


"Iya, iya. Bentar ya cantik" Kai menyempatkan mengacak pucuk kepala Rachel, membuat si pemilik rambut merengut seraya menggembungkan pipinya lucu.


"Duhh, cantik banget sihh. Kenapa gak jadi pacar gue aja coba?" ucapan itu tanpa sadar membuat pipi Rachel memerah. Jangan salahkan dia yang baperan, salahkan aja satu cebong gak ada akhlak yang hobi tebar pesona ini.


"Sana buruan ihh"


Kai menyengir jahil setelah berhasil mengusili gadis cantik itu. Dengan langkah lebar, Kairen membawa tubuh tegapnya untuk keluar dari area kantin. Hasrat untuk buang hajad sudah di ujung dan harus dia tuntaskan sekarang.


Melihat Kai pergi dari kantin, Kimy sontak ikut bangkit dari duduknya dan hal itu sukses membuat orang yang duduk satu meja dengannya mengernyit bingung.


"Mau kemana lo?" tanya Noval mewakili.


"Toilet bentar" hanya itu yang terlontar dari bibir Kimy sebelum akhirnya gadis itu pergi meninggalkan kantin dan menghilang diantara belokan antar kelas.


Gabriel hanya diam menamati kepergian Kimy. Dia tau kemana perginya gadis itu..Pasti tentang Kai, dia menyadarinya. Menyadari setiap perubahan pada diri Kimy. Beberapa hari ini gadis itu jadi uring-uringan, tanpa cerita pun Gabriel sudah tau apa penyebabnya.


"Gue udah ngingetin lo berulang kali Kim, tapi logika lo tetep kalah sama perasaan"


.


.


.


Kimy menunggu di depan toilet cowok sembari menyandarkan punggungnya di tembok. Berulang kali dia menoleh saat ada orang yang keluar dari toilet tapi dia harus menelan pil pahit saat tau bahwa itu bukan Kai. Banyak pasang mata yang menatapnya aneh, tapi dia tidak peduli. Kimy memang tidak pernah peduli dengan sekitar apalagi dengan hal-hal yang menurutnya tidak penting.


"Ngapain aja sih dia di dalem, mandi kali yak?" gumamnya yang mulai jengah.


Setelah 10 menit lamanya menunggu, akhirnya Kai keluar dari toilet dengan rambut dan muka yang basah karena air. Mungkin dia cuci muka. Dan gilanya itu membuat dia semakin cool, Kimy bahkan sampai lupa bagaimana caranya bernafas.


"Ikut gue!!" Kai menoleh terkejut saat mendapati Kimy sudah berdiri di sampingnya dan menarik tangannya tanpa permisi ke Taman Belakang.


Dia hanya diam sembari menatap heran kearah punggung gadis yang hanya sebahunya itu. Mau bertanya tapi dia enggan, jadilah dia hanya diam sembari menebak beberapa kemungkinan dalam hati.


Sampai akhirnya mereka tiba di Taman Belakang yang memang tidak terlalu ramai. Jarang ada siswa yang menghabiskan waktu istirahat disini kecuali para kutu buku yang suka mencari ketenangan..Kimy membalikkan badannya. Menatap kearah Kai yang juga sedang menatap lurus kearah bola mata cokelat miliknya. Kimy mendadak gugup, semua kata yang sudah dia susun hilang begitu saja.


"Kenapa?" suara berat itu menyapa indera pendengaran Kimy yang membuatnya semakin kesulitan untuk bicara.


Melihat Kimy yang tak kunjung memberikan respon, membuat Kai menghembuskan nafas panjang.


"Kalo gak penting gue balik", baru saja dia ingin membalikkan badannya untuk pergi menghampiri Rachel, suara Kimy lebih dulu muncul yang membuat dia mengurungkan niatnya.


"Kenapa lo jauhin gue?"


"Gak ada yang jauhin lo" sahut Kai dengan wajah datar.


"Tapi gue ngerasa lo ngejauhin gue. Lo selalu menghindar, lo bersikap seolah gue gak ada di hidup lo?. Kenapa?, seenggak penting itu ya gue di hidup lo?" pertanyaan itu akhirnya lolos dari mulut Kimy. Pertanyaan yang hanya bisa dia pendam, kini berhasil tersampaikan. Ditatapnya wajah datar Kairen dengan intens. Wajah seseorang yang berhasil memorak-porandakan hatinya beberapa hari ini. Kimy mendadak lemah.


"Gue gak ngejauhin lo!!. Batu banget sih dibilangin!!" seru Kairen dengan nada yang sedikit meninggi.


Kimy tersentak, baru kali ini Kai membentaknya. Tenggorokannya mendadak sakit, dia merasakan oksigen di tempat ini sangat terbatas sampai tidak bisa memasok ke paru-parunya yang mendadak sesak.


"Lo bohong!!. Lo ngejauh dari gue. Gue salah apa sih sampek lo kayak gini. Gue gak suka!!"


Isakan itu akhirnya lolos, membuat ego Kairen yang tadinya setinggi tower Dubai, runtuh dan hanya menyisakan sebiji jagung. Dia merasa bersalah.


"Cengen banget sih lo!!" niat hati ingin menenangkan, tapi mulutnya emang gak bisa bicara halus. Terbukti bukannya tenang, Kimy malah semakin terisak membuat Kai kelabakan.


"Jangan nangis, gue gak suka liat air mata lo. Ngerti gak sihh" dia maju selangkah, tangannya menepuk pucuk kepala Kimy berulang kali seperti bocil SD.


"Lo gak mau gue nangis tapi lo juga yang bikin gue selemah ini Kai"


***********


"SIANG BU DOKTER!!" Raizel masuk ke dalam ruangan Agatha tanpa permisi sembari berseru kencang. Cewek yang sedang duduk di meja kerjanya itu terjingkat kaget sebelum akhirnya mendengus kesal saat tau siapa yang datang.


"Dateng salam dulu kek, main teriak-teriak aja. Lo pikir ruangan gue tempat buat padus?" decak Agatha.


Raizel menyengir lebar, menjahili Agatha memang menjadi kesenangan tersenduri untuknya. Dia berjalan mendekat lalu meletakkan sebuah paper bag berisi kotak makan di atas meja.


"Gak usah marah-marah, tuh titipan dari Mama"


Setelah mengucapkan itu dia berjalan kearah sofa meninggalkan Agatha yang tersenyum sumringah dengan tangan ysng sibuk membuka isi paper bag satu persatu.


Saking seringnya kesini, Raizel sampai terbiasa dan seolah bersikap bajwa ini adalah ruangannya juga. Dia bersikap seenaknya dan kadang melihat-lihat barang Agatha tanpa permisi. Agatha pun tidak mempermasalahkan hal itu karena di ruangan ini memang tidak ada barang yang penting.


"Tumben lo kesini, ada apa?" tanya Agatha di sela memaksn salad buah buatan Kenzia.


"Mau ngajakin lo jalan entar malem, mau gak?" tanya Raizel penuh harap. Akan ada hal penting yang akan dia sampaikan dan itu tidak boleh gagal.


"Boleh, tapi gak usah jemput ya. Abang gue entar di Apart. Lo sharelok aja entar gue dateng sendiri"


Senyum Raizel merekah lebar sebelum akhirnya dia menangguk setuju.


"Gue tunggu jam 7 malem, dandan yang cantik ya bidadarinya Raizel"


*******


Like, like, likeeee, coment nya juga yaaa. Happy Reading:)