Our Love Story

Our Love Story
Udang dibalik-balik?



"Sat, Sat, buruan.... Depan ada musuh tuh!!"


"Lo maju dikit beggo!!. Gue dikepung nih!!" desis Satya kesal.


"Cepetan anjenkk, ke buru mati gue!!".


Umpatan demi umpatan dua pemuda itu ucapkan sejak 2 jam yang lalu. Duduk selonjoran diatas karpet berbulu dengan keripik singkong sebagai bekal, mereka daritadi mabar epep yang ributnya ngalah-ngalahin pasar tanah ijo.


"KALIAN RIBUT BANGET SIH!!. VIO LAGI NGERJAIN TUGAS, JADI NGGAK KONSEN KAN JADINYA!!" Viola berseru dari tangga. Gadis yang kini menginjak bangku kelas 10 itu berdecak kesal saat rangkaian jawaban di otaknya buyar gara-gara ulah kakak dan kakak sepupunya yang otaknya ketinggalan di dalam rahim.


"Bocil diem aja deh lo!!" seru Kairen tanpa mengalihkan atensinya dari layar ponsel.


"Tau tuh, ganggu aja!!" Satya ikut menimpali. Pemuda itu merubah posisinya menjadi tengkurap dengan bantal yang ia jadikan ganjalan.


"Dih, nggak ngaca!!!. Kan kalian yang dari tadi berisik!!" ucap Viola bersungut-sungut.


"BODO AMAT. ORANG GANTENG MAH BEBAS!!" Ucap Kairen dan Satya secara bersamaan.


Viola menganga lebar. Gadis itu mengetatkan gigi-giginya kesal. Punya kakak nggak ada yang bener. Kakak kandungnya kayak jamet, tapi kakak sepupunya malah ngejokes. Belom lagi sikap playboynya yang kadang bikin gemes. Vio sampek pernah mikir, apa ini yang dibilang cobaan?


"YAALLAH, YA ROBBI. GINI NIH, GINI JADINYA KALO BANG SAT SAMA BANG KAI DISATUIN, NGGAK ADA YANG WARAS!!" ucap Viola dengan kencang. Suara cemprengnya yang udah mirip tikus kejepit pipa, mendenging memenuhi ruangan sampai jam dinding pecah jadi tiga.


"KAKAK!!" seru Kairen dan Satya bersamaan sembari menatap tajam kearah Viola. Percayalah, mereka paling nggak suka kalo dipanggil abang. Bukannya estetik, jatohnya malah akrobatik.


"Panggil kakak nggak?!" Satya melotot kesal. Punya adek satu, tapi otaknya nggak lengkap satu.


"Nggak mau. Bang Kai sama Bang Sat lebih oke. Cocok sama kalian!!"


Viola melengos pergi. Enggan menanggapi dua kakaknya yang lagi duduk menepi sambil ngelus dada sendiri.


"Percayalah, sesungguhnya mulut perempuan seperti dia memang pantas kena azab" Kairen memulai khotbahnya sebagai ustadz dadakan yang siap membuat orang sesat.


"Sok alim lo!!. Sholat setahun sekali aja belaga jadi kyai!" Satya menampol kepala belakang Kairen menggunakan bantal. Dia maklum, otak Kai dulu setengahnya disumbangin ke anak kodok sama Reyhan. Makanya Kai kadang kelakuannya sangat subhanallah yang bikin orang tuanya kompak bilang astagfirullah.


"Wahai saudaraku yang budiman, tidak bisakah engkau...-


"CEBONG SETRES!!" Satya melempar bantal kearah Kairen dan tepat mengenai wajah pemuda itu hingga ucapannya terhenti.


"Anjenkk lo ya!! Sini lo, gue botakin pala lo biar kayak si Slamet!!" umpat Kairen sembari membuang bantal ke sembarang arah.


Satya meraih lap basah yang berada di bahu seorang pelayan yang baru melintas. Dia melempar lap itu ke muka Kai.


"Makan tuh botak!!!"


*****************


Kimy memasukkan beberapa barang yang akan dia bawa ke dalam tas. Ini sudah pukul 07.15, tapi gadis itu masih berdiam diri di dalam kamar kost nya.


"Buku udah, pulpen udah, cicak udah. Oke, pertunjukan bakal di mulai"


Kimy memeriksa satu persatu barang di dalam tasnya. Setelah dirasa tidak ada yang tertinggal, dia menyampirkan tas itu di bahunya, bersiap berangkat ke sekolah.


Pintu kamar warna cokelat yang terbuat dari kayu dia buka. Gadis itu menarik nafas panjang, dia menampilian senyum manisnya untuk menyapa semua orang. Seakan menunjukkan kalau dia lah orang yang paling bahagia.


Kimy menuruni tangga dengan perlahan. Kamar kost nya memang terletak di lantai dua. Sedangkan lantai satu di tempati oleh perempuan yang rata-rata sudah bekerja.


"Pagi, Jihan!!" Kimy menyapa seorang gadis yang tengah berdiri di teras dengan ramah. Gadis berjilbab dengan seragam SMA itu tersenyum manis sembari mengangguk.


"Pagi, Kim. Mau berangkat?" tanya Jihan tak kalah ramah.


"Iya nih. Lo sendiri kok belum berangkat?" jawabnya sekaligus bertanya.


"Lagi nungguin ojek online. Lagian di sekolah gue nanti ada pensi, jadi berangkatnya rada santai lah"


Kimy mengangguk mengerti. Dia tau betul bagaimana Jihan. Gadis yang sengaja merantau ke kota untuk mencari beasiswa sekolah. Jauh dari keluarga, hidup serba hemat dan apa adanya.


"Yaudah, kalo gitu gue duluan ya?"


"Iya, hati-hati"


Kimy mengambil motor scoopy nya dari garasi yang memang disiapkan untuk tempat kendaraan para penghuni kostan. Motor scoopy warna hitam itu dia nyalakan kemudian melaju dengan kecepatan sedang.


************


Kimy memarkirkan motornya di parkiran sekolah. Gadis itu melepas helmnya, merapikan rambut sejanak kemudian bergegas masuk ke kelas.


Saat di koridor, tidak sengaja dia bertemu dengan Satya yang baru keluar dari Ruang Guru.


Pemuda itu melihat kearahnya, kemudian tersenyum menyapa.


"Baru dateng lo?"


"Iya. Biasa, anak kost. Pagi, siang, nggak ada yang ngingetin" sahut Kimy sambil memasang senyuman.


"Entar kalo gue yang ngingetin, elo risih sama gue" ucap Satya dengan nada bercanda. Pemuda itu terkekeh kecil sampai mata sipitmya nyaris terpejam.


Kimy tertawa kecil. Gadis itu mengangkat tangannya, menepuk bahu Satya beberapa kali.


"Nggak mungkin lah gue risih sama cowok kayak lo. Cuma cewek bodoh yang nggak mau deket sama lo"


Satya terdiam dengan raut wajah penuh arti.


"Iya deh. Entar gue ingetin tiap hari, biar lo nggak lupa waktu" godanya sambil merangkul bahu Kimy. Mengajak gadis itu untuk masuk ke dalam kelas.


"YAHHH NI ANAK DUA, DATENG-DATENG LANGSUNG NEMPLOK AJA KAYAK CICAK!!" Vero si manusia gas, kayak biasa pasti selalu mengeluarkan jurus seribu toanya. Untung anak sekelas punya kuoing yang kebal, tahan banting dan tahan budeg.


"Jomblo diem aja deh, sirik aja lo!!" Satya melengos gitu aja melewati meja Vero dan Kairen.


"Cieee, Neng Kikim lagi pedekatean sama Bang Sat" si cebong got memulai aksinya. Menggoda sambil memainkan alis, nggak tau kalo Kimy udah pengen muntah liat muka dia.


"Dih, gak jelas lu!!" desis Kimy dengan kesal. Dia berlalu kearah mejanya. Meletakkan tasnya di meja dan duduk dengan tenang tanpa beban.


"Yoi!!"


Sorak semurai anak kelas 11 IPS 1 terpaksa berhenti saat guru sosiologi yang badannya mirip ikan buntal memasuki ruang kelas sembari membawa rotan di tangannya.


"Selamat pagi anak-anak!!" sapanya sambill meletakkan buku di meja guru.


"Pagi Bu...."


Guru itu mengambil spidol, bersiap menuliskan sesuatu.


"Pagi ini kita akan bahas pelajaran minggu lalu. Silahkan keluarkan buku tulis masing-masing dan catat semua yang saya tulis di papan"


Guru itu mulai menuliskan kata demu kata di papan tulis. Dan saat itu lah akal bulus seorang Kimyora muncul. Gadis itu tersenyum miring sembari menggenggam cicak mainan di tangannya.


Kairen yang menjanya tepat berada di samping meja Kimy melihat hal itu. Dia menatap kearah cicak mainan di tangan Kimy. Sebagai rajanya bikin guru tobat, tentu dia tau apa yang sedang gadis itu rencanakan.


"Hayo loh, mau ngapain lo sama tu cicak?" ucap Kairen dengan nada berbisik.


"Sstttt jangan banyak bacot deh Lo, mau istirahat cepet nggak?!" bisik balik Kimy.


"Berhubung gue murid teladan, ya jelas lah gue mau"


Kimy cuma bisa menatap sinis kearah Kairen yang kadang bikin orang pengen nelen gendang. Disabarin ngelunjak, dikasarin dia lebih kasar. Kan repot.


"Taii lo!!. Makanya diem, serahin semuanya ke si cantik Kimy"


"Lo mau ngapain Kim?!. Lo jangan macem-macem ya, tuh guru killer abis njirr. Mampuss lo kalo sampek ketauan sama dia" Gabriel memberi peringatan. Hampir 2 tahun diajar oleh guru yang bernama Prety itu sudah membuatnya hafal silsilah dari guru sosiologi tersebut. Nama doang prety, kelakuannya kek kampret.


"Udah deh, lo tenang aja. Kalo ketauan palingan juga cuma dihukum"


Gabriel cuma bisa geleng-geleng kepala. Dari dulu ngomong sama Kimy emang susah. Selain keras kepala, cewek itu juga nggak percayaan. Makannya jomblo terus.


Saat guru itu tengah sibuk menulis, Kimy melempar cicak mainannya hingga menempel di bahu Bu Prety dengan sempurna.


"BU, DI PUNDAK IBU ADA CICAK!!!" Kimy berteriak kencang sembari menunjuk kearah bahu kanan Bu Prety. Guru itu pun juga ikut melihat kearah bahunya. Seperkian detik dia berteriak histeris sambil lompat-lompat yang membuat orang was-was. Bagaimana tidak, mereka takut bangunan ini roboh karena ada raksasa lompat-lompat.


"AAAA, SIAPAPUN TOLONG SAYA!!" teriaknya dengan kencang.


"Bu, Bu santai Bu. Ibu harus rilex. Tarik nafassss, tahan dua jam" Kairen memberikan instruksi konyol sambil berdiri di samping Bu Prety tanpa dosa.


"Beggo sia!!" Boy menampol kepala Kairen pelan.


Bertepatan dengan itu, Bu Prety ambruk ke lantai yang membuat semua orang terkaget melihatnya. Jujur, Bu Prety ini alergi cicak.


"OMO, LANTAINYA NGGAK RETAK KAN?" Vero memekik histeris, suaranya tentu 5× lebih keras.


"Waduh, tanggung jawab lo Kim!!!"


*******************


"Ini surat panggilan orangtua untuk kamu. Harap besok orangtua kami bisa datang tepat waktu" sebuah amplop cokelat dengan logo SMA Garuda Pak Slamet sodorkan kepada Kimy. Pria paruh baya itu menghela nafas panjang sembari membenahi kaca matanya yang hendak terjatuh. Kemarin Kai, sekarang Kimy, besok siapa lagi?!.


"Saya nggak ada orangtua" ucap Kimy dengan nada dingin sembari terus menatap kearah amplop di depannya.


Pak Slamet tercengang. Dia tidak mengira kalau gadis di depannya ini tidak memiliki orangtua.


"Kamu serius?!"


Helaan nafas panjang keluar dari bibir Kimy. Gadis itu mendongak, menatap kearah Pak Slamet dengan dua mata indahnya.


"Saya udah biasa hidup sendiri"


Dia meraih amplop itu kemudian berdiri.


"Saya permisi"


Kimy berjalan di koridor dengan wajah lesu. Ingatannya tentang orangtua kembali terngiang. Tidak, dia suka begini. Hidup bebas tanpa kekangan yang tentunya bisa berjalan seperti yang dia mau.


"Ngelamun mulu, entar kesambet loh!!" suara bariton dari arah belakang membuat Kimy membalikkan badannya. Terlihat Satya sedang bersandar di dinding sambil tersenyum kearahnya.


"Lo Sat, gue kira siapa" seperti biasa, Kimy selalu menunjukkan senyumannya saat berada di depan orang lain.


Satya berjalan mendekat. Dia berdiri di depan Kimy. Menatap lekat kearah gadis itu sambil bersendekap dada.


"Lancar tadi sidangnya?"


Kimy terkekeh kecil kemudian mengangguk. Dia mengangkat amplop di tangannya.


"Dapet ini"


Satya ikut terkekeh. Mereka kemudian berjalan beriringan menuju kelas.


"Gue lagi nyari kerjaan nih. Buat bayar kost sama yang lain-lain. Secara, nggak mungkin gue minta ke bokap. Dikasih kagak, disuruh pulang iya"


"Lo bisa nyanyi?" Satya menoleh sambil bertanya dan dibalas Kimy dengan anggukan.


"Kalo lo mau, besok lo bisa dateng ke Cafe gue. Disana ada band, dan itu lagi nyari vokalis. Kali aja lo cocok"


Kimy tersenyum senang. Dia bahkan melompat-melompat sambil bertepuk tangan kecil.


"Aaaa Satya, lo emang sahabat gue paling baik. Sayang deh"


Kimy memeluk Satya secara tiba-tiba yang membuat pemuda itu terkejut. Namun tak urung dia juga membalasnya.


"Lo kan temen gue, pasti selalu gue bantu"


Akankah bakal ada udang dibalik-balik?, ya mana saya tahu, saya kan tempe:v.


Like woy, coment, vote jan lupa. Happy reading:)