Our Love Story

Our Love Story
Siapa?



Pukul 18.00 Agatha baru memasuki unit apartemennya. Dia memang masih berumur 18 tahun tapi karena kepintarannya dia bisa loncat kelas sehingga sekarang sudah menjadi seorang mahasiswa. Dia hanya tinggal berdua dengan sang kakak, sedangkan kedua orang tua mereka dia sediri tidak tau. Setiap kali bertanya, kakaknya selalu marah tanpa sebab. Itu sebabnya dia memilih diam meskipun rasa penasaran terkadang tidak bisa dia bendung.


"Baru pulang?" suara bariton langsung menyapa saat Agatha pertama melangkah masuk. Cewek itu menengok kearah sumber suara, tepat kepada kakaknya yang sibuk bermain ponsel di sofa.


"Iya" jawabnya seadanya.


Agatha ikut duduk di sofa, tepat disamping sang kakak.


"Tumben abang udah pulang, biasanya juga baru sampe jam 10"


Agatha hafal betul bagaimana kebiasaan kakaknya. Pulang malam, balapan, pulang bonyok, kadang sering mengurung diri di kamar. Tapi meski begitu, kakaknya adalah orang yang penyayang. Dia selalu berusaha membuat Agatha selalu aman dan hidup berkecukupan. Dia rela kerja part time sembari membantu mengurus bisnis tante mereka di usianya yang baru menginjak 20 tahun.


"Lagi pengen aja, lagian anak-anak juga gak ngajak nongkrong. Lo sendiri gue liat-liat sekarang sering pulang malem. Biasanya kalo gak kuliah jam 4 sore lo udah di apart, sibuk banget emangnya?"


Kebiasaan mereka saat bertemu. Mereka pasti akan saling menanyakan tentang kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan di luar. Itu yang membuat mereka lebih dekat dan saling sayang satu sama lain.


"Ya enggak sibuk-sibuk banget sih Bang. Tapi gue sama Om Cakra disuruh nanganin cowok yang lagi lumpuh karena cidera pas kecelakaan. Suruh nemenin dia, ngajak ngobrol, sama ngebujuk dia supaya mau rajin terapi. Ya awalnya sih dia nyebelin, banget malah. Tapi makin kesini dia baik juga, jadi nggak ngebebanin gue banget" Agatha berceloteh panjang lebar. Menceritakan sosok Rai yang dikenalnya 3 bulan belakangan ini. Sosok cowok yang hampir tiap hari dia temui meskipun hanya untuk terapi dan kontrol.


"Lo suka sama dia?" sang kakak menggoda sambil tersenyum jahil, membuat Agatha sedikit tersentak.


"Dihh, ya enggak lah" elak Agatha dengan gugup.


"Lagian ya Bang, kita itu beda jauh. Dia ganteng, dari keluarga kaya raya, bokap nyokapnya aja pengusaha sukses. Terus denger-denger kakek-neneknya juga konglomerat. Mana berani gue deketin dia, gue juga sadar diri kali. Cowok sesempurna dia pasti milih cewek yang selevel" Agatha tertawa hambar. Dia sadar diri, dia insecure melihat keluarga Raizel yang nyaris sempurna.


"Nama dia siapa sih?, dari keluarga mana?"


"Namanya Rai"


Mata kakak Agatha terbelalak setelah gadis itu menyebut nama Rai.


"Rai?, nama lengkapnya?"


"Nama lengkapnya Raiz-....


Drttt drtttt


Ucapan Agatha terhenti saat ponselnya berdering. Cewek itu mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Tertera nama Om Cakra dilayar ponsel, buru-buru dia mengangkat telfon.


"Halo om?"


"Tha, rekapan hasil pemeriksaan Rai ada di kamu ya?"


Agatha menepuk jidatnya sendiri. Bisa-bisanya dia lupa.


"Ehh iya, Om. Maaf ya, Atha kelupaan. Tadinya mau aku taroh di mejanya Om, tapi lupa kebawa sampek apart. Trus ini jadinya gimana?"


"Bisa tolong kamu anter kesini nggak?. Om butuh banget soalnya"


"Oh iya Om, Agatha kesana sekarang"


"Makasih ya Agatha, maaf kalo ngerepotin"


"Iya Om, gapapa"


Agatha memasukkan ponselnya ke dalam tas setelah panggilan terputus.


"Dari siapa?" kakaknya langsung bertanya.


"Om Cakra, gue mau ke Rumah Sakit dulu mau ngasih rekapan hasil pemeriksaan Rai. Gue berangkat ya Bang, gak pulang malem kok. Janji" Agatha segera bangkit dari duduknya sembari membawa tas kecil dan setumpuk berkas.


"Ati-ati, jangan pulang diatas jam 9!!" peringat kakaknya.


"Siap Pak Boss!!"


Agatha keluar dari unit Apartemennya, meninggalkan sang kakak yang diam karena penasaran. Cowok itu terdiam, otaknya berpikir keras memikirkan sesuatu.


"Rai?, lumpuh?" gumamnya dengan kening mengerut.


"Nggak mungkin Rai yang dimaksud Agatha itu Raizel, jelas-jelas gue liat dia tiap hari di sekolah kok. Mana mungkin dia lumpuh"


Cowok itu mengibaskan tangannya ke udara sambil tertawa bengis.


"Yaa, itu pasti Rai yang lain. Gak mungkin Rai ada dua. Dan gue nggak mungkin salah orang"


***********


Malam ini Kai, Rai, Satya, Vero, dan Noval menginap di rumah Vero. Kumpul mereka kali ini terasa lengkap, apalagi kini sudah ada Rai yang ikut gabung.


"Kalian udah pada makan belom?" tanya Renata pada sekumpulan remaja yang sedang leyeh-leyeh di atas karpet berbulu yang ada di Ruang Tamunya.


"Udah sih Tan, tapi kalo minum belom" sahut Rai tanpa segan.


"Boleh tuh Tan, aku cappuccino ya, kalo ada pake es batu" ucap Kai. Ini nih ciri-ciri tamu yang nggak tau malu. Karena pada dasarnya urat malu Kai udah putus dari orok.


"Aku samain aja Tan sama si cebong, jangan lupa cemilannya juga"


Memang benar-benar kembar identik. Udah kembar fisik, sifatnya juga kembar. Sama-sama nggak ngotak. Renata sampek geleng-geleng.


"Bener-bener titisannya Kenzi" gumam wanita itu sambil berbalik badan berjalan kearah dapur.


"Nggak tau malu banget lo setan!!" desis Vero sembari melempar kulit kacang. Mulut doang ngedumel, tapi sebenarnya dia sudah terbiasa sama sikap Kai dan Rai yang nggak tau malu. Apalagi mereka udah temenan dari orok.


"Apa itu malu?" Rai bertanya dengan wajah goblokk.


"Malu itu kembarannya si Malih, tapi beda bapak" sahut Kai sok tau.


"Pasti dulu emaknya selingkuh, makanya sampek beda bapak" Noval yang otaknya nggak ada 1 ons ikut berceletuk, membuat Vero yang mendengarkan mereka bicara nyebut dalam hati.


"Ngimpi apaan gue bisa dapet temen sejenis setan kek lo pada!!" ujar Vero


"Harusnya lo bersyukur, kapan lagi punya temen ganteng kek gue" Kai menyahut.


"Yang kece kek gue" timpal Rai


"Yang imut kek gue" Noval ikut menambahi.


"Najis bangsad!!" Vero mengumpat sembari melempari mereka menggunakan bantal. Ketiganya tertawa, sedangkan Satya yang sedikit lebih waras hanya geleng-geleng kepala.


Tatapan Satya kemudian beralih pada bingkai foto seorang cowok yang terletak di dekat meja TV.


"Ni foto siapa Ver?" tanyanya.


Vero menoleh kemudian menatap kearah foto yang ditunjuk Satya.


"Oh, itu bapak gue lah, siapa lagi?!. Gantengkan?!" jawabnya dengan bangga.


"Om Vicky waktu muda keren juga yak, tapi kok nggak mirip elo?!" ucap Noval yang mengundang kebangsattan.


"Wahh jangan-jangan lo anak pungut!!" Satya berseloroh kencang diikuti tawa temannya yang lain.


"ANJING LO!!" umpat Vero sembari menendang kaki kiri Satya pelan.


"Jiakhhhh, canda anak pongottt" jiwa-jiwa bangsatt Kairen sudah muncul. Ngomong nggak ngotak, untung Vero orangnya sabar. Saking sabarnya serasa pengen ngelempar mereka ke segitiga bermuda.


"Siapa yang anak pungut?" Vicky yang tiba-tiba datang membuat tawa mereka terhenti. Keempat cowok itu diam sambil saling melempar tatapan, bingung mau menjawab apa. Melihat itu Vero bersorak dalam hati, dia mendekat kearah ayahnya berniat mengadu.


"Mereka tuh Yah, masak aku dikatain anak pungut" adu Vero sembari menujuk teman-temannya.


"mampusss!!" gumamnya dalam hati.


"Kamu kan emang anak pungut, ayah dulu nemuin kamu di kaleng kerupuk"


"HAHAHA....." tawa teman-temannya meledak.


"ANAK PUNGUTT DALEM TOPLESS WOYYY"


"MUNGKIN DULU ORTU NYA SI VERO RENGGINANG SAMA KERIPIK SINGKONG"


"BIKINNYA MADE IN WAJAN"


Vero mendengus kesal. Meski dia tau bapaknya cuma bercanda, tapi tetep aja itu sama aja dia lebih ngebela temennya buat jadiin dia bahan ledekan.


"Mwehehe canda Tong" ucap Vicky sembari menyengir tanpa dosa.


"Tau akhhh, aku mau resign aja jadi anaknya Ayah!!"


ngambek nih ceritanya.


"Yaudah sono, pergi lu yang jauhh" alih-alih menahan, Vicky malah mengusir dengan wajah tengil. Vero langsung megang dada.


"ASTAGHFIRULLAH PAPIHHH" pekiknya mendramatisir.


"KAYAKNYA BENER DEH GUYS, GUE CUMA ANAK PUNGUTT. BOKAP GUE LEBIH SAYANG ANAK TETANGGA DARIPADA ANAKNYA SENDIRIIII"


**********


**Jan lupa tinggalkan jejak gaesss, like coment itu wajib lohhhh. makasih yg udh nunggu, maaf ya kalo kelamaan.....


see you, happy reading😍**