
Sore hari menjelang di Kota J, menjadi saat paling tepat untuk semua orang mengakhiri aktivitasnya. Di jalanan yang sedikit senggang, mobil sport putih yang semula berjalan dengan kecepatan sedang tiba-tiba berhenti. Seorang gadis berseragam SMA keluar dari dalam mobil. Dia berjalan kearah bagasi depan, guna mengecek meskipun dia tidak mengerti tentang mesin.
"Ini mobil kenapa sih?!. Nyusahin banget, mana bentar lagi hujan lagi" Rachel, yang mobilnya tiba-tiba masuk angin di tengah jalan berdecak kesal. Tangannya berkacak pinggang, bingung harus melakukan apa.
Tangan kanannya sibuk memegang ponsel, mencoba menelfon montir ataupun mencari bantuan.
"Yah Pak, nggak bisa lebih cepet lagi ya?" ucap Rachel pada orang di seberang telepon. Niat hati ingin memanggil montir, tapi mereka baru bisa datang 2 jam lagi.
Gadis itu berdecak setelah panggilan terputus. Montir gagal dia dapat, ojek online pun tidak ada yang memberi respon. Apalagi jarak ke rumah masih jauh, tidak mungkin dia jalan kaki.
Dari kejauhan, nampak sebuah motor ninja merah melaju kencang. Awalnya Rachel acuh, tapi saat melihat motor itu berhenti di depannya, dia menoleh.
Seseorang itu menurunkan standard motor. Tangannya sibui membuka helm fullface yang dia kenakan. Setelah helm terlepas, orang itu menyurai rambutnya ke belakang supaya lebih rapi.
"Sendirian aja?, mobil lo kenapa?" tanya Satya yang membuat lamunan sesaat Rachel terhenti. Gadis itu mengerjap beberapa kali sambil tersenyum canggung saat menyadari bahwa dia sempat melamun sesaat.
"Mogok nih, gak tau kenapa" jawabnya kemudian.
"Udah telfon montir?" tanya Satya lagi.
"Udah, tapi mereka baru bisa dateng 2 jam lagi" wajah Rachel terlihat kesal, setelah seharian beraktivitas, dia malah harus menghadapi hal ini di perjalanan pulang.
Satya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, ini sudah pukul 16.00 berarti Rachel disini cukup lama dari jam pulang sekolah.
"Gue anter aja yuk, ini mau hujan juga. Kasian elo kalo nunggu disini" Satya menawarkan tumpangan. Matanya melihat awan yang mendung, bisa dipastikan kalau sebentar lagi pasti turun hujan. Sebagai seorang laki-laki tidak mungkin dia tega membiarkan Rachel sendirian disini.
Gadis itu nampak ragu, terlihat jelas dari raut mukanya yang terlihat bingung.
"Nggak ngerepotin kamu?, rumah aku jauh tau"
Satya terkekeh kecil, membuat matanya menyipit karena tersenyum. Dan itu terlihat sangat manis.
"Mau rumah lo sejauh Mekah pun bakal tetep gue anterin" godanya sambil tersenyum jahil. Kepalanya menengok kearah jok belakang, memberi kode lewat sorot matanya.
"Yuk, kasian jok motor gue. Berdebu gara-gara jarang ngebonceng cewek cantik"
Kini Rachel yang tertawa. Mata yang sipit nyaris terpejam karena mendengar gombalan receh Satya yang menurutnya garing.
"Apaan sih, garing tau nggak" ucapnya, tapi tak urung pipinya tetap memerah. Dia salting.
"Bentar ya, aku ambil tas dulu"_
Rachel membuka kembali pintu mobilnya. Dia mengambil semua barangnya dari sana, mulai dari tas, dompet, handphone, dan kunci mobil. Setelah dirasa tidak ada yang ketinggalan, dia kembali menutup pintu mobilnya.
"Udah?" tanya Satya yang dibalas anggukan oleh gadis itu. Tanpa disangka-sangka, dia melepas jaket yang dia kenakan kemudian memberikannya kepada Rachel.
"Nih, pake. Buat nutupin paha lo, rok lo kan pendek"
Rachel tersenyum tipis sembari menerima jaket dari Satya.
"Makasih" ucapnya. Dia mengikat jaket pemuda itu di pinggang, sama persis seperti yang dia lakukan dulu saat bersama Kai.
Satya kembali memakai helm. Dia menyalakan motor ninjanya, bersiap untuk pergi. Rachel naik ke boncengan dibantu bahu Satya. Dia sedikit memberi jarak, sebagai orang baru kenal dia cukup sadar diri untuk tidak terlalu ganjen pada sepupu Kairen itu.
Motor Satya mulai melaju, membelah jalanan Kota J diiringi langit mendung. Mereka yang memang orang kaku, tidak ada yang memulai pembicaraan. Jadilah perjalan mereka hanya dipenuhi kesunyian.
Rachel sibuk melihat pepohonan, sedangkan Satya sibuk menyetir. Hingga tiba-tiba seekor kucing melintas, membuat Satya harus mengerem motornya mendadak. Tubuh Rachel yang belum siap apa-apa menabrak punggung lebar Satya, tanpa sadar tangannya juga ikut melingkar di perut pemuda itu. Waktu seolah berhenti. Dua orang itu diam terpaku dengan posisi seperti orang berpelukan. Satya menelan ludah hingga jakunnya naik turun, sedangkan Rachel diam dengan jantung berdebar entah karena apa.
Hujan yang turun tiba-tiba membuat dua remaja berbeda jenis itu sadar dari lamunan masing-masing. Rachel segera menengakkan tubuhnya, begitupun dengan Satya.
"Kita cari tempat neduh dulu ya?" tawar pemuda itu dengan suara agak keras. Berusaha mengusir kecanggungan yang tercipta diantara mereka.
"Aku ngikut aja"
Motor Satya kembali melaju dan berhenti di sebuah halte bus. Mereka berlari meneduh. Disana mereka tidak hanya berdua, masih banyak orang-orang disana yang sama-sama ingin menghindari dinginnya air hujan.
Petir yang mengkilap membuat Rachel harus menutup mata dan telinga. Hal itu tak lepas dari pandangan mata Satya, kini dia tau kalo ternyata Rachel takut dengan petir.
Angin yang berhembus kencang membuat hawa dingin dan percikan air masuk ke dalam halte. Rachel menggosok-gosokkan kedua tangannya, hawa dingin mulai terasa menusuk, apalagi bajunya sudah basah.
Satya tiba-tiba berdiri di depannya, menghalau dinginnya hujan dan air yang hendak masuk. Posisi mereka saling berhadapan. Tinggi Rachel yang hanya sebatas dadanya, membuat gadis itu harus mendongak untuk menatap wajahnya.
Jantung Rachel sudah berdebar sejak tadi, apalagi melihat sikap Satya yang tidak terduga.
Satya tersenyum miring. Dia sedikit menunduk, menyamakan tingginya dengan tinggi gadis itu.
"Seenggaknya gye masih gantle buat ga ngebiarin cewek kedinginan" bisiknya diiringi senyuman.
Rachel menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya. Dia juga bingung, kenapa dia harus salah tingkah dengan sikap Satya yang hanya berniat menolong.
"I like it"
*************
Raizel dan Agatha berjalan beriringan di lobby Rumah Sakit. Di luar hujan, dan mereka memilih berjalan-jalan untuk mengurangi kesunyian. Hari ini adalah jadwal check up Raizel. Pemuda itu sudah terbebas dari tongkat. Kini dia sudah bisa berjalan normal setelah 4 bulan menjalani terapi dan pengobatan dari dokter ahli syaraf.
Sambil menyelam minum air, itulah yang dilakukan Rai saat ini. Selain check up kondisi kakinya, dia juga bisa mendatangi Agatha, gadis yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya.
"Ta, lo tau nggak sih kenapa gue nggak suka Harry Pother?" tanya Rai di sela-sela langkah mereka.
Agatha menghentikkan langkahnya, Rai pun ikut berhenti. Dia menoleh ke samping, menatap kearah pemuda itu dengan raut bingung.
"Emang kenapa?"
Rai maju satu langkah lebih dekat. Dia menunduk, menatap Agatha yang lebih pendek darinya.
"Karna gue lebih suka hari-hari sama lo" ucapnya sambil tersenyum jahil. Setelah mengucapkan itu Raizel berlari menjauh karena bisa dipastikan kalau Agatha pasti akan memukulnya.
Agatha tertegun. Bibirnya meringis ngeri dengan mata yang menatap kearah punggung Raizel yang mulai menjauh.
"Rai sialan" gumamnya sambil terkekeh.
"RAI, SINI LO!!. HATI GUE MAU MELEDAK GILA!!" Agatha berlari mengejar, masa bodoh kalau ini di Rumah Sakit. Rai berlari ke taman Rumah Sakit, membiarkan tubuhnya diterpa air hujan. Agatha pun ikut menyusul.
Rai berhenti di depan kolam. Tubuh dan rambutnya basah terkena air hujan. Dia berbalik badan, menatap kearah Agatha yang baru sampai..
"LO NGAPAIN DISINI, NANTI LO SAKIT!!" ucap Agatha dengan agak keras.
"KEBAHAGIAAN KADANG DI DAPETIN DARI HAL YANG GAK BIASA TA, CONTOHNYA KAYAK GINI" Raizel ikut berteriak. Derasnua hujan yang turun membuat suara mereka teredam dengan suara gemericik air.
Raizel mengulurkan tangan kanannya.
"Mau dansa?"
Agatha tersenyum manis kemudian menerima uluran tangan itu.
"Yes"
Mereka berdansa di bawah guyuran air hujan. Membiarkan rambut dan baju mereka basah terkena air. Di teras-teras Rumah Sakit para suster mengamati interaksi dua remaja itu dengan tatapan kagum.
"So sweet banget ya" ucap salah satu suster kepada temannya.
"Iyaa, andai dia jodoh gue"
Raizel mengamati wajah Agatha yang tersenyum senang. Dia ikut tersenyum hingga tanpa sadar dia berkata.
"Gue suka sama lo"
Agatha mendongak saat mendengar sebuah suara.
"Lo ngomong apa?" tanyanya. Derasnya air hujan membuat suara Raizel tidak terdengar jelas. Apalagi dia berbicara dengan volume kecil.
"Gue suka sama hujan" Rai segera meralat ucapannya. Dia merasa ini bukan saat yang tepat untuk memberi tahu Agatha.
Agatha tersenyum tipis.
"Gue juga suka hujan" ucapnya.
"Sama kayak gue suka sama lo" lanjutnya dalam hati.
**************
Jangan lupa like, coment nya ya guyssss, see you:)