
Pukul 22.00 ponsel Kairen masih terang benderang. Layar ponsel itu menampilkan roomchat-nya bersama Rachel. Dari puluhan chat yang dia kirim, tidak satupun yang dibalas oleh cewek itu. Chat aja cuma diread, apalagi perasaan.
"Gini nih kalo chat sama seleb" gumamnya.
Tapi bukan Kairen namannya kalo menyerah, jari jemari cowok itu masih sibuk mengetikkan gombalan-gombalan receh untuk bidadari empang kesayangannya.
Senyum cowok bermarga Alexander itu merekah setelah berhasil mengirim pesan yang ke 150. Meskipun reaksinya sama, cuma diread.
Kairen meletakkan ponselnya di saku celana. Dia kemudian berjalan kearah balkon dan membuka pintu kaca yang menjadi pembatas. Semilir angin malam langsung menyapu wajah tampan Kairen. Rambut cokelatnya berterbangan diterpa angin. Cowok itu memasukkan tangannya ke dalam saku, matanya menatap langit malam yang dipenuhi oleh bintang.
"Si Kikim lagi ngapain ya?" ucap Kairen dengan lirih.
Dia mengambil ponselnya dari saku. Iseng-iseng, Kai mengirim pesan ledekan kepada sahabat kecilnya itu. Dia yakin, gadis itu pasti ngedumel setelah membaca pesan yang dia kirim.
***
drttt
Bunyi ponsel berdering membuat aktifitas Kimy yang lagi ngemil kacang di kamar kos-nya terhenti.
"Satya nih pasti" gumam Kimy menebak. Karena biasanya, yang sering mengiriminya pesan cuma Satya. Entah mengingatkan tidur ataupun makan, cowok itu selalu perhatian.
"Tumben si cebong ngechat"
Satu pesan dari kontak yang dia beri nama 'Cebong Kamvrett' dia buka. Satu pesan singkat yang membuatnya jengkel dan gondok disaat yang bersamaan.
Cebong Kamvrett
~*Malem minggu gini, jones biasanya pada mewek di pojokan. Kek elo contohnya:>
~Molor sono lo, daripada ngenes sendiri. Gue takut lo gantung diri gara-gara kelamaan ngejomblo*
Anda:
~Ngajak jalan kagak, bacot doang lo gedein!!
Cebong Kamvrett
~Besok jam 9 gue jemput
"Wahh gila sih nih anak, gue kan cuma bercanda!!" Kimy mendesis kesal. Niat hati"Gila sih nih anak, gue kan cuma bercanda!!" Kimy berseru kesal. Niat hati cuma pengen bercanda, malah diseriusin sama si cebong sawah.
"Tapi belum tentu juga sih, dia kan tukang ngibul. Pasti cuma ngomong doang" monolognya lagi. Orang modelan kayak Kai, emang enggak bisa dipercaya. Hari ini bilang A, besok bilang B. Mulutnya kadang minta pengen ditampol pake teflon karna sering plincutan.
Enggan menanggapi Kai terlalu jauh, Kimy memilih untuk tidur. Kadang dunia mimpi lebih indah daripada dunia nyata yang kenyataannya terlalu pahit untuk diterima.
Sedangkan ditempat lain, Rachel meletakkan bolpoin yang baru dia pakai untuk menulis diatas meja. Ponselnya sejak tadi berdering, dan dia sudah tau siapa pelakunya. Gadis itu menghela nafas panjang. Andai kakaknya tau kalau dia diganggu laki-laki, pasti kakaknya itu sudah bertindak untuk memberi pelajaran kepada orang yang sudah mengganggunya.
Rachel meraih ponselnya. Membuka aplikasi chat dan menekan usernumber Kairen yang belum dia save.
+628.....
~Lo cantik tapi sayang, bukan punya gue
~Jangan ke dapur ya, nanti gula insecure sama lo hehee😄
~Ciptaan tuhan itu emang selalu sempurna ta, elo contohnya
~Gue rela disamber petir 10 kali demi lo, asal nggak kena😆
Rachel terkekeh kecil membaca pesan terakhir dari Kairen. Gadis itu menggelengkan kepalanya, baru kali ini dia bertemu dengan cowok seperti Kai.
"Lucu banget sih dia"
***********
Pagi hari, seperti biasa Keluarga Kai-Rai selalu sarapan bersama. Sesibuk apapun mereka, mereka selalu meluangkan waktu meskipun hanya untuk duduk di meja makan. Karena bagi mereka, hanya di meja makan lah mereka bisa merasakan arti kebersamaan yang sebenarnya. Di meja makan tidak akan ada cekcok, pembahasan hal lain ataupun kepentingan sendiri. Semuanya berkumpul untuk bersenda gurau, menikmati moment kebersamaan di umur mereka yang tidak tau tersisa berapa.
"Napa kagak ngambil sendiri sih!!" desis Kairen sembari mengunyah makanan di mulutnya.
"Gue enggak sampek" jawab Raizel
Kairen berdecak, tapi dia tetap mengambilkan barang yang diminta adiknya dan menyerahkan kepada cowok itu.
"Thank you Abang cebong" Raizel menyengir anjing, membuat Kairen sepet melihatnya.
Reyhan dan Kenzi melihat kedua anak mereka bergantian. Dua anak itu emang nggak pernah akur. Entah rebutan mainan, rebutan makanan, ataupun rebutan siapa yang mau ke WC duluan.
"Kamu jadi ke Rumah Sakit Rai?" tanya Kenzi
Raizel mengangguk beberapa kali.
"Jadi, aku tadi juga udah janjian sama Agatha"
"Cieee, sama Agatha nihhh" timpal Kairen meledek. Kalo soal ledek meledek, dia jagonya. Orang botak aja bisa langsung keriting kalo berurusan sama Kai.
"Diem lo, dasar cebong!!"
"Dasar kamprett!!"
"Sama-sama anak monyet jangan suka berantem!!" Reyhan menengahi sambil mengucapkan kata-kata menusuk jantung terus tembus ke usus. Gini nih, ciri-ciri bapak enggak berperasaan.
"Kalo kita anak monyet, berarti Papa bapaknya monyet dong?!" sahutan Raizel membuat Reyhan tersedak kopi.
"Iya juga ya"
***********
Raizel turun dari mobil taksi yang ditumpanginya. Dia memang menolak diantar supir. Alasannya simple, biar bisa modus sama Agatha nanti.
Cowok itu berjalan santai berbekalkan tongkat di tangan kanannya. Kondusi Rumah Sakit pagi itu tidak terlalu ramai, membuat Raizel bisa lebih leluasa bergerak tanpa harus berdesak-desakan.
"Nahh kalo ada obat maag kan aman"
Boy yang saat itu juga kebetulan baru keluar dari Rumah Sakit untuk membeli obat maag pun tidak sengaja berpapasan dengan Raizel. Raizel terkejut, begitu juga dengan sebaliknya.
"Loh, Rai. Lo ngapain disini?" tanya Boy menyapa.
Raizel gelagapan. Dia merutuki dirinya sendiri yang lupa tidak memakai topi dan masker. Cowok itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung mau menjawab apa.
"Terus itu, kok lo pake tongkat?. Kaki lo kenapa?"
Boy terus mencecarnya dengan pertanyaan. Membuat Raizel semakin bingung untuk menjawab.
"Anu itu, gueee..... Eeee gue tadi abis kepleset. Haa iya, gue tadi abis kepleset terus keseleo kayaknya. Makanya ini mau periksa" alibi Raizel sambil tersenyum kaku.
Boy menatap kearahnya dengan mata memicing seakan tidak percaya.
"Lo nggak boong kan?" tudingnya segera.
"Ya enggak lah. Ngapain juga gue boong sama lo. Udah ya, gue mau ke dalem dulu. Baek baek di jalan" Raizel menepuk bahu Boy sebelum akhirnya melesat masuk ke dalam Rumah Sakit.
Mata Boy mengikuti arah gerak Raizel yang kian menjauh. Timbul rasa tidak percaya dalam hatinya. Apalagi kemarin dia baru saja bertemu dengan cowok itu dan keadaannya baik-baik saja.
"Mikir apa sih gue, ya kali si Rai ada dua" gumamnya dalam hati.
**********
**hy semuaaa, maaf ya aku baru up. lagi persiapan buat UAS, jadi waktu buat nulis aku koting dikit😂.
Makasih yaaaaa yang udah setia nunggu, jangan lupa like coment-nya yaaa, happy reading all😍**