
Mentari sudah menunjukkan sinarnya. Pertanda kalau waktu beraktifitas seluruh makhluk di Bumi sudah dimulai. Tapi tidak dengan Kairen. Cowok dengan rambut cokelat itu masih setia menggulung diri di dalam selimut padahal waktu sudah menunjukkan pukul 07.00.
*Tokk.... Tokk... Tokkk
Suara pintu diketuk oleh seseorang membuat mimpi Kairen yang sedang bertemu bidadari di empang pun terganggu. Cowok itu merubah posisinya menjadi tengkurap dan menutup kedua telinganya menggunakan bantal.
*brakkkk
Kini bukan ketukan, tapi tendangan. Kuping Kai jadi panas. Dengan menahan dongkol setengah hidup, cowok itu berjalan kearah pintu. Membuka kunci dan memutar knop pintu, bersiap memaki siapapun yang ada di depan pintu kamarnya.
"WOY....-
Kalimat Kairen menggantung begitu saja dengan jari telunjuk yang terangkat di udara. Mata cowok itu melotot kaget. Antara percaya dan tidak percaya, matanya melihat ke bawah. Memastikan apa kaki orang di depannya ini menapak di lantai atau tidak, dia takut orang di depannya ini genderuwo.
"EHHH KAMPRETT?!" Kairen memekik keras saat menyadari bahwa orang itu benar Raizel, kamprett kesayangannya.
"Ututuuu, cebong sayang" Raizel memeluk Kairen menggunakan sebelah tangannya yang tidak memegang tongkat.
"Huaaa, lo kapan dateng?!" Kairen menggoyang-goyangkan tubuh Raizel ke kiri dan ke kanan, tidak peduli kalau kembarannya itu kesulitan bergerak.
Raizel memukul punggung Kairen agak keras hingga membuat cowok itu meringis sakit. Kai melepas pelukannya, beralih mengusap punggungnya sendiri yang terasa panas.
"Taik Lo, sakit beggo!!" umpat Kairen bersungut-sungut.
Raizel menjulurkan lidahnya mengejek. Kai emang begitu, harus dikasarin dulu biar ngerti. Maklum, dulu otaknya disumbangin ke kebun binatang sama bapak mereka. Jadinya Kairen agak-agak telmi membagongkan.
"Lo juga beggo, udah tau gue masih pakek tongkat, malah digoyang-goyangin kek kuda lumping!!" sahut Raizel sembari menyurai rambutnya kesamping, persis seperti kebiasaan Kai.
"Ya kan gue kangen sama lo, Prett"
"Kangen kangen, gue di Rumah Sakit aja lo kagak jengukin gue"
Kairen menyengir anjing seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Memang benar, selama 2 bulang Raizel dirawat dia hanya 3 kali menjenguk cowok itu. Itu pun hanya untuk meminta jawaban dari tugas matematika.
"KAI, BURUAN BERANGKAT SEKOLAH!!. JANGAN KELAMAAN NGOBROL SAMA RAI!!"
Kenzi berteriak dari lantai bawah. Dia hafal, kalo anak kodok dan kamprett-nya ketemu, sampek monyet kawin sama sapi pun mereka nggak akan berhenti.
"IYA, MAH. RAI NIH, MASAK KAI MAU MANDI DIA PENGEN IKUT" sahut Kairen yang membuat Raizel melotot kesal. Andai dia nggak pakai tongkat, mungkin udah dia tendang anunya si cebong biar ngangkang seumur hidup.
"Gue balikin ke got baru tau rasa lo!!. Buruan sono, berangkat sekolah. Jangan sampek lo ancurin image gue disekolah!!" Raizel memberi peringatan. Sebenarnya dia ragu pas Kairen minta izin buat nyamar jadi dirinya. Karena bagaimana pun, dia tau tabiat cowok itu. Bisa mampuss kalo namanya ikutan jelek.
"Gampang, nama lo aman kalo yang gue yang make. Bahkan fans lo tambah banyak"
Iya, fans. Fans yang antri minta jatah malem mingguan. Wkwkwk
***************
Kairen memasuki kelasnya sambil mengendap-endap. Dia telat 15 menit. Apalagi ini waktu pelajarannya Bu Bety. Guru Sejarah paling galak dan sering dipanggil Kai dengan plesetan, Bu tirex.
Kai melongokkan kepalanya ke dalam kelas. Bu Trix belum datang. Cowok itu tersenyum lebar. Dia merapikan bajunya sambil berdehem sebentar kemudian masuk ke dalam kelas dengan tampang sok cool.
"Bu Tirex belom dateng?" tanyanya pada Kimy yang menelungkupkan kepalanya di meja.
Gadus itu mengangkat kepalanya, kemudian mengamati sekitar.
"Nggak tau, gue tadi tidur"
Kai mendengus malas. Salah memamg bertanya pada Kimy yang hobby molor di kelas. Tapi yang buat Kai bingung, kenapa cewek itu nggak pernah letahuan ya pas tidur?!.
"Briel, Si Tirex belom dateng?" tanyanya pada Gabriel.
"Udah, tapi keluar lagi pas dapet telfon. Tau tuh, nggak balik-balik dari tadi" sahut Gabriel dengan wajah nggak minat. Setelah mengucapkan itu, dia kembali menatap ke lembar kertas fambar yang menampilkan sketsa wajah seseorang. Gadis itu memang gemar menggambar, entah darimana dia mendapat bakat itu. Padahal Ariel dan Andien tidak memiliki jiwa seni sama sekali.
Kairen duduk di kursinya samling Vero. Cowok itu sibuk bermain game dengan Noval yang duduk di depan mereka bersama Satya. Sedangkan Boy, cowok itu duduk di depan Satya dan Noval bersama Faizal, cowok kutu buku yang selalu jadi bully-bullyan Geng Bara andai Kairen dkk tidak mengawasinya.
Mata Vero sontak melotot. Mulutnya terbuka, hendak mengeluarkan teriakan dengan kekuatan seribu sangkakala.
"Gue kepret pala lo pake golok kalo lo sampek tereak!!"
Teriakan Vero tertahan di tenggorokan setelah mendengar ucapan Kai barusan. Cowok itu menelan ludahnya susah payah. Dia sendiri juga heran, kenapa dia punya hobby kok kudu ngegas?. Padahal banyak hobby lain yang lebih berfaedah. Naikin darah orang misalnya.
"Kapan dia balik?" tanya Vero dengan nada berbisik.
"Tau, tadi pagi kayaknya"
Suara pintu terbuka membuat suara penghuni kelas 11 IPS 1 yang tadinya ricuh mendadak hening. Semuanya menatap ke depan, tepat kearah guru perempuan berperawakan tinggi besar yang masuk bersama seorang gadis cantik di sampingnya.
"Anak-anak, hari ini saya membawa berita baik. Kita kedatangan siswi baru yang berasal dari Yordania. Dia merupakan siswi dari hasil pertukaran pelajar kita dengan salah satu sekolah disana. Rachel, perkenalkan diri kamu"
Gadis cantik dengan rambut panjang tergerai itu tersenyum lebar.
"Hai guys. Kenalin, nama aku Rachelia Brigitta. Kalian bisa panggil aku Rachel, aku harap kita bisa berteman dengan baik"
Kairen tertegun. Dia ingat, Rachel adalah orang yang dia temui di Bandara waktu itu dan dia juga Bidadari di Empang yang dia temui di mimpi tadi malem.
"Itu kan, si Bidadari Empang" gumam Kairen yang masih bisa di dengar oleh Vero.
"Lo kenal Bong?" tanya Vero
"Iya, dia Bidadari pinggir Empang"
"Baik Rachel, kamu bisa duduk di bangku yang kosong. Saya harap, kamu bisa beradaptasi dan membawa pengaruh baik bagi kelas ini"
Rachel mengangguk mengerti. Gadis itu berjalan kearah satu-satunya bangku yang masih kosong, yaitu bangku di samping Kimy.
"Hai, aku Rachel" Rachel mengulurkan tangan kanannya, mengajak berkenalan. Kimy menatap uluran tangan itu, kemudian menyambutnya.
"Kimyora, panggil aja Kimy"
Disitulah persahabatan dimulai. Mereka berbincang ria. Sekarang Kimy tau, Rachel sama sepertinya. Anak Broken Home. Bedanya, kedua orang tua Rachel sama-sama pengertian dan tidak egois. Berbeda dengan orangtuanya.
**************
Jam istirahat tiba. Kimy dan Rachel berjalan beriringan menuju kantin. Mereka tertawa bersama, sampai sebuah lengan kekar menghadang langkah mereka. Kai pelakunya.
Cowok itu tersenyum manis kearah Rachel. Kimy memutar bola matanya malas, dia tau apa yang akan terjadi sebentar lagi.
"Hai cantik, masih inget gue nggak?"
Rachel menatap kearahnya dengan kening mengerut, seolah berfikir.
"Kamu?" tunjuknya pada Kai
"Iya, ini gue. Masa depan lo"
Rachel memasang wajah jijik. Mungkin baginya, Kai ini orang nggak waras yang belagak sok akrab.
"Apaan sih, nggak jelas deh. Ayok Kim, kita pergi!!" gadis itu melengos begitu saja sambil menggandeng tangan Kimy. Seolah tidak peduli dengan Kairen yang gantengnya melebihi seribu arjuna.
"Huaaa ditolaque" Vero datang sambil nengejekk.
"Tidack laque" timpal Noval, kemudian mereka tertawa bersama. Kapan lagi coba, bisa ngeliat seorang Kai ditolak.
Kai tidak menanggapi. Dia menatap punggung Rachel yang semakun menjauh diiringi senyuman tipis.
"Mungkin nggak sekarang, tapi suatu saat lo pasti jatuh hati sama gue"