Our Love Story

Our Love Story
Pelaku



"Gue masuk duluan ya?" Agatha bertanya sembari menunduk menatap ke dalam mobil lewat kaca mobil yang dibuka. Rai tersenyum kemudian mengangguk, 1 hari menghabiskan waktu bersama Agatha sudah lebih dari cukup untuknya. Kini waktu sudah menjelang petang, dia tidak mungkin menahan Agatha untuk pulang.


"Iya, thanks buat hari ini" sahut Raizel.


"Mau gue anter ke dalem?, gue belum pernah ketemu sama abang lo selama ini" ucapnya lagi. Memang benar, setelah sekitar hampir 4 bulan bersama, dia belum pernah bertemu dengan kakak Agatha sekalipun. Namanya saja dia tidak tau, karena Agatha memang hampir tidak pernah menceritakan keadaan keluarganya andai Rai tidak bertanya.


Gadis itu terdiam sejenak, menimang tawaran Raizel baik-baik. Dia sih boleh saja, tapi kakaknya selalu melarang untuk membawa orang asing masuk ke dalam unit apartemen mereka.


"Lain kali aja ya, entar gue atur waktunya deh. Abang gye orangnya ribet soalnya" ucap Agatha memberi pengertian. Raizel mengangguk sebagai jawaban, dia tidak ingin memaksa.


"Oh yaudah, kalo gitu lo masuk gih. Gue pulang dulu" setelah mendapat persetujuan dari Agatha, dia memberi intruksi kepada supirnya untuk kembali menjalankan mobil. Semenjak kecelakaan itu Reyhan dan Kenzia melarangnya membawa mobil sendiri. Meskipun kakinya sudah 99% sembuh, tapi mereka tetap melarang.


Agatha masuk ke dalam apartemen yang terletak di lantai 8. Dia menekan beberapa tombol hingga pintu itu terbuka otomatis. Gadis itu melangkahkan kakinya untuk masuk. Sepi, seperti biasanya. Hanya dentingan suara jam dinding yang mengisi kesunyian di ruangan ini.


Mata Agatha melirik kearah pintu kamar kakaknya yang terbuka, itu berarti dia ada di rumah. Gadis itu memutuskan untuk masuk, mencari keberadaan sang kakak di dalam kamar bernuansa hitam itu. Kamarnya bersih, rapi, dan wangi. Sangat bertolak belakang dengan kamar laki-laki pada umumnya. Ujung mata Agatha melirik kearah sebuah papan yang sudah bertahun-tahun terpasang di dinding pojok kamar pemuda itu. Sebuah papan kayu yang tertempel dua haruf besar yang ditulis dengan tinta merah darah. K & R.


"Ngapain lo disini?" suara bariton seseorang membuat Agatha tersadar dari lamunannya. Gadis itu buru-buru menoleh, menatap lekat kearah pemuda perawakan tinggi besar yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Gapapa, lagi pengen aja. Udah lama gue nggak ke kamar Abang" sahutnya dengan santai. Dia memilih berjalan dan duduk di sofa hitam yang ada disana. Sedangkan kakaknya hanya acuh, mengambil sisir lalu menyisir rambut yang basah sehabis mandi.


"Abang kapan sih bisa ikhlas?" pertanyaan dari Agatha membuat gerakan pemuda dengan kaos biru muda itu terhenti. Dia diam, tanpa berniat menengok sedikitpun.


"Ayolah, Bang. Jangan buang-buang waktu lo cuma buat hal gak penting kayak gini. Ikhlasin semuanya, mungkin ini udah takdir kita. Jangan sia-siain masa muda lo cuma karena dendam masa lalu"


"LO GAK NGERTI APA-APA AGATHA!!" bentakan itu membuat Agatha sontak terdiam. Kakaknya hampir tidak pernah membentaknya. Tapi kali ini, dia dapat melihat jelas sorot kemarahan dari tatapan tajam yang pemuda itu tunjukkan.


"TAPI MEREKA SIAPA BANG?!. LO GAK PERNAH NGASIH TAU GUE SIAPA MEREKA. GIMANA GUE BISA NGERTI?!" Agatha berteriak balik. Menantang iris mata hitam pekat itu dengan berani.


Kakaknya membuang muka, dia mengusap wajahnya dengan kasar sambil berusaha meredam emosi. Jangan sampai dia menyakiti adiknya sendiri hanya karena hal ini.


"Lo gak perlu tau. Yang jelas, mereka harus ngerasain rasa sakit yang selama ini gue rasain. Bakal gue buat hidup mereka gak tenang dengan cara gue sendiri" da menyeringai iblis, membuat Agatha menatapnya tak percaya. Dia sudah dibutakan oleh dendam, sampai tidak berfikir resiko apa yang akan dia dapat dikemudian hari.


"Lo jangan ngelakuin hal gila Bang!!" peringat Agatha khawatir. Tapi kakaknya malah tersenyum miring sembari mengambill jaket di ranjang.


"Terserah" dia hendak pergi, dan Agatha segera mengikutinya.


"ABANG!!!"


"BANG BOY" pemuda itu sontak berhenti tanpa membalikkan badannya.


"KALO LO SAYANG SAMA GUE, PLEASE TOLONG BERHENTI. AYO HIDUP NORMAL, LUOAIN SEMUANYA BANG!!. INI GAK BENER"


Boy mengepalkan tangannya di bawah sana. Cowok itu menahan emosi hingga urat lehernya tercetak jelas. Dia marah, tentu. Dia yang merasakan kepahiyan ini dari awal, dan dia tidak akan berhenti begitu saja.


"Justru karena gue sayang sama lo makanya gue ngelakuin ini, Tha. Lo yang seharusnya ngertiin gue"


***Hayolohhh gimana nihhhh, mulai-mulai deh konfliknya. Si koboy enaknya diapain nih gaes?, dibakar, digiling, apa di orek sama cabe ijo? wkwk.


Jan lupa like, comentnyaaa. thenkyu***