Our Love Story

Our Love Story
Chapter 7 Teman lama Aira



" Dasar anak tidak berguna! "


Teriak seorang wanita paruh baya kepada Melvin setelah melihat nilai ulangan Melvin yang mendapat nilai 80. " Maaf ibu "  Melvin tidak tahu apalagi yang harus diperbuat selain meminta maaf pada ibu angkatnya. " Sepertinya aku kurang tegas kepadamu! " Bentak wanita itu lagi. Melvin segera di seret ke suatu tempat oleh wanita itu sembari membawa sebuah tongkat. Benar saja wanita itu menukuli Melvin dengan tongkat itu hingga banyak lebam di tubuh Melvin.


" Jika lain kali seperti ini aku tidak akan segan lagi! "


Bentak wanita itu lalu meninggalkan Melvin sendirian di ruangan yang gelap dan sempit itu.


#


Esoknya Melvin pergi ke apotek untuk membeli obat. Ibu angkatnya tidak mengobati Melvin dan hanya membiarkannya saja, tapi dia mengacam Melvin jika ada yang tahu tubuhnya penuh dengan lebam karena ibunya. Dia akan menghukum Melvin lebih kejam lagi. Melvin pergi ke apotek menggunakan jaket untuk menutupi luka lebam nya.


" Ada yang bisa dibantu? "


Tanya salah seorang pegawai di apotek itu.


" Apa ada obat untuk menghilangkan lebam? "


Pegawai apotek itu segera mengambilkan obat oles untuk menghilangkan lebam. " Berapa harganya? " Tanya Melvin, Melvin tidak mempunyai banyak uang sekarang. Semua uangnya diambil oleh ibu angkatnya kemarin. " Harganya 30 ribu rupiah" Melvin segera mengecek dompetnya. Tetapi di dompetnya hanya terdapat uang 15 ribu rupiah saja.


" Maaf, obatnya tidak-"


Belum selesai Melvin berbicara ada seorang gadis dengan netra biru sapphire mendekatinya.


" Aku akan bayar obatnya! "


Ucap gadis itu sembari menyodorkan uang. Melvin terkejut karena gadis itu ternyata adalah Aira. " Ini obat mu" Ucap Aira sembari menyodorkan obat. " Terima kasih, lain kali akan kuganti uangmu" Melvin tersenyum palsu lagi. " Ngomong-ngomong kenapa kamu beli obat oles untuk lebam? Kamu terluka? " Tanya gadis netra sapphire itu.


Aira menatapnya lekat yang membuat pemuda itu salah tingkah. Melvin menghindari kontak mata dengan Aira dengan memalingkan wajah ke samping. Melvin menggeleng pelan.


"Maaf aku harus pergi sekarang. Sekali lagi, terima kasih. Sampai jumpa,"


Aira menatapnya dalam diam ketika Melvin melangkah pergi hingga punggungnya tak lagi terlihat setelah masuk ke sebuah gang. Aira tahu, ada yang aneh dengan sikap Melvin tapi dia tak mampu menyuarakan isi pikirannya. Dia tak mau Melvin tersinggung karena ucapannya. Pada akhirnya, yang bisa ia lakukan lagi-lagi hanya diam memendam seluruh perasaan cemas yang mendadak memenuhi pikirannya.


Aira melenggang keluar dari halaman apotek. Awalnya, gadis itu memang tidak berniat untuk membeli apapun disini. Namun, Aira memutuskan untuk kemari saat tatapannya tak sengaja mengarah pada Melvin yang tengah berbicara dengan salah satu pegawai apotek.


Bruk!


Aira nyaris terbentur permukaan paving ketika tiba-tiba seseorang menahan badannya dengan kedua tangan. Spontan, Aira menarik dirinya menjauh hingga jarak memisahkan mereka. Ia menatap seseorang yang tak sengaja menabraknya hingga kehilangan keseimbangan.


"Maafkan aku," lelaki itu berucap lebih dulu.


"Tidak. Harusnya aku yang minta maaf karena tidak fokus ketika berjalan kaki," Aira buru-buru menyahut.


"Kamu ..." Pemuda itu mengamatinya dengan cermat, yang membuat Aira sedikit heran sekaligus tidak nyaman.


"Ada apa?" Aira bertanya ketika pemuda itu tak kunjung menyelesaikan kalimatnya.


"... Aira, 'kan?"


Aira mengerjap beberapa kali ketika lelaki itu mendekat lalu menyentuh kedua bahunya sambil tersenyum simpul. "Aku Alan."


#


Aira duduk di sebuah kursi, sementara Alan mengambil posisi duduk berhadapan dengannya. Gadis itu bertopang dagu menatap keluar jendela kaca yang membatasi cafe dengan jalanan luar. Suara musik pop yang berbunyi cukup keras berhasil menyamarkan suara rendah orang-orang yang ikut duduk dalam ruangan yang sama.


Aira menyesap coffee latte yang telah tersaji sejak 2 menit lalu. Ia menyisakan minumannya setengah bagian gelas dan mengabaikan fakta bahwa es batu telah mencair hingga gelas kacanya sedikit mengembun. 


"Berhentilah menatap keluar. Aku ada di depanmu bukan di sana, Ra." Alan terkekeh di ujung kalimat. Ketika Aira beralih menatapnya, Alan telah menghabiskan minumannya dan bersiap untuk memesan pada seorang barista.


"Jadi ..." Aira mengubah posisi tangannya yang semula menopang dagu menjadi terlipat rapi diatas meja. "Kenapa kamu mengajakku kemari, Al?"


Alan lagi-lagi tersenyum simpul. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya mendekat hingga jarak diantara mereka semakin berkurang. Aira masih dalam posisinya dengan sikap tenang. Sejujurnya, Aira tidak menyukai keberadaan Alan dalam hidupnya. Lelaki itu tidak bersalah. Yang salah disini adalah Aira yang terlalu banyak berharap. Aira mengangumi sosok Alan saat masih berada di bangku SMP. Tapi sayangnya, lelaki itu hanya menganggapnya tak lebih dari sekedar teman.


"Apa laki-laki tadi pacarmu?"


Aira menghela napas pendek. "Bukan urusanmu. Jangan ikut campur urusan pribadiku,"


"Kamu kenapa, sih?" Alan memberi jarak diantara mereka ketika seorang barista membawa minuman untuknya.


"Apanya? Aku hanya merasa selama ini kamu terlalu mengurusi urusan pribadiku, Al. Tolong, berhentilah." Aira menarik napas panjang untuk mengendalikan emosi yang perlahan menggelegak dalam dadanya.


Aira meraih sling bag yang berada di atas meja. "Maaf. Kurasa sebaiknya aku pergi."


Setelah mengatakan hal itu Aira benar-benar pergi keluar dari cafe. Tak peduli pada coffee latte yang masih tersisa setengah bagian gelas. Sementara itu, Alan hanya bisa menghela napas berat sambil menatap punggung Aira lamat-lamat hingga tak lagi terlihat setelah melewati pintu cafe. Alan mengacak-acak rambutnya kesal.


"Aku harus menyingkirkan laki-laki itu. Kau yang membuatku berbuat itu, Aira." Gumamnya lirih.


" Apa-apaan dia itu sok dekat denganku " Gumam gadis itu sembari berjalan melewati sebuah mall besar di kota itu. Karena tidak tahu harus kemana akhirnya Aira memutuskan untuk jalan-jalan di mall itu sebentar.


" Aira "


Panggil seseorang dari belakang sembari menepuk pundak Aira. Sontak Aira terkejut. Ketika menengok ke belakang Aira mendapati bahwa seseorang yang menepuk pundaknya adalah Risa. " Oh.. Aku kira siapa " Aira bernafas lega saat mengetahui Risa lah yang berada dibelakangnya. " Kamu sedang apa disini Ra? " Tanya Risa.  " Hanya jalan-jalan saja, kamu sendiri sedang apa disini? Sendirian aja? " Tanya Aira balik.


" Aku nggak sendiri,aku tadi habis pergi ke event anime di mall ini dengan Alfi"


Aira lalu tersenyum nyengir mendengar jawaban Risa. " Wah.. Wah kalian sedang kencan rupanya" Goda Aira. " Bu-bu-bukan tadi-" Risa langsung gagap dan salah tingkah, wajahnya merona. " Pfftt... Aku hanya becanda, jadi dimana Alfi? "


Risa menunjuk ke arah kedai minuman yang tak jauh dari mereka berdua. " Mau sekalian gabung? " Tanya Risa lagi. Aira mengangguk dan  Risa mengajak Aira duduk di sebuah meja yang kosong.


" Ini minumannya "


Alfi datang membawa minuman untuk mereka berdua. " Minuman ku mana Fi? " Tanya Aira. " Dih! Beli sendiri sana! " Jawab Alfi sembari duduk. " Cih dasar pelit! ". " Kamu boleh minum punyaku kalau mau" Ucap Risa sambil menyodorkan menjadi numan coklat dengan toping marshmello. " Makasih, Risa memang yang terbaik, gak seperti makhluk yang duduk di tengah-tengah kita " Sindir Aira sambil menyorotkan matanya ke arah Alfi " Apa maksudmu makhluk yang duduk di tengah-tengah kita?! Dasar makhluk astral! " Ucap Alfi. " Dasar makhluk fantasi!" Serang Aira balik. Tak mau kalah Alfi mengatai Aira " Dasar makhluk goib! ". Mereka beradu mulut selama beberapa menit.


" Bagaimana kalau kita nonton? " Tiba-tiba Risa menyela adu mulut mereka berdua. " Baiklah, tapi aku tidak mau duduk di belah makhluk Fiksi ini! " Ucap Aira sembari memalingkan mukannya ke arah Risa. " Siapa juga yang mau duduk di sebelah makhluk astral sepertimu " Balas Alfi.


Sepanjang perjalanan menuju bioskop Alfi dan Aira saling beradu mulut. " Fi kamu beli popcorn sama minuman ya! Aku  dan Aira akan membeli tiket" Ucap Risa sambil berjalan menuju loket. Ketika di dalam bioskop secara kebetulan Aira dan Alfi malah duduk bersebelahan sedangkan Risa duduk di depan mereka. " Kenapa aku harus duduk dengan makhluk astral ini ?! " Keluh Alfi.


"wah, film nya seru ya!" Aira bersorak senang. Sementara Alfi menatapnya sambil menyipitkan mata.


"Apanya? Yang ngasih saran film nya Risa kok bukan kamu," Aira terkekeh geli.


"Jangan bertengkar. Oke?" Risa lebih dulu berucap ketika Alfi hampir membalas ucapan Aira. Risa memposisikan diri di tengah-tengah mereka.


"Udahlah. Kamu pulang aja sana! Ngganggu orang," Alfi berkata sambil membuat gerakan mengusir menggunakan kedua tangannya. "Hush! Hush!"


"Apaan sih? Aku diajak Risa kok. Kamu aja sana yang pergi!" Aira menatap tajam ke arah Alfi.


"Duh ... Ayolah! Kalian bukan anak SD, tapi kelakuannya kekanakan," Risa memijit keningnya sambil melangkah lebih dulu, meninggalkan Aira dan Alfi.


"Kamu sih! Risa jadi marah!" Aira melotot ke arah Alfi. "Sana, sana. Kejar dia lah! Kamu nggak peka banget sih!" Aira kembali menatap tajam ke arah Alfi ketika lelaki itu tak kunjung berlari mengejar Risa.


"Di kejar?" Alfi kembali bertanya.


"Ishh ... Kasihan banget sih Risa kencan sama lelaki kayak kamu. Nggak peka! Ayo, buruan sana!" Aira buru-buru mendorong Alfi ke depan. Lelaki itu segera berlari mengejar Risa yang tengah berjalan di depan sebuah kedai makanan.


"Enaknya jadi mereka," gumam Aira sambil berlalu meninggalkan Mall.


#


Aira berjalan melewati beberapa gedung-gedung tinggi yang menjulang ke atas langit di kota itu. Tak sengaja Aira melihat dia orang laki-laki yang sedang bertengkar di daerah sekitar situ. Sontak Aira menghampiri kedua lelaki itu untuk melerai pertengkaran mereka.


" Kalian berdua hentikan pertengkaran ini! "


Teriak gadis itu dari kejauhan sembari mendekati dia lelaki itu. Aira terkejut karena dia lelaki itu adalah Melvin dan Alan. Aira melihat Alan memmukuli Melvin sampai babak belur, tapi Melvin juga masih berusaha melawan.


" Alan! Apa-apaan ini!? Kamu apakan Melvin?! " Bentak Aira.


" Kamu sendiri yang minta aku melakukan ini " Jawab Alan dengan santai sambil tersenyum.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Alan. " Wah wah, Baik kulepaskan kali ini tapi tidak lain kali" Alan bejalan pergi meninggalkan mereka berdua. " Lukamu... Tunggu disini sebentar! " Aira segera berlari ke apotek dekat tempat itu. Beberapa menit kemudian Aira kembali dengan membawa obat dan perban. " Kamu tidak usah membantuku! " Melvin tiba-tiba membentak Aira. " Kamu jangan dekati aku! Ada apa denganmu?! " Melvin terus membentak Aira dan Aira hanya diam saja.


" CUKUP! "


Bentak gadis itu. " Apa yang salah denganmu?! Aku hanya membantumu! Kenapa kamu menjauhiku?! Kita ini kan teman! " Bentak Aira. Kini Melvin menjadi terdiam. Aira segera mengoleskan obat yang dia beli ke luka Melvin.


Ketika selesai Melvin segera pergi. Tapi Aira menarik tanganya sembari berkata " Kumohon.. Jangan jauhin aku lagi, jika ada masalah katakan saja aku pasti akan bantu" Ucap Aira dengan lirih. Melvin hanya terdiam dan meninggalkan Aira.


Melvin kembali ke rumah dengan banyak perban di sekujur tubuhnya. Orang tua angkatnya hanya melihat saja tanpa mempedulikan seberapa parah luka anaknya itu. Di kamar Melvin segera membaringkan tubuhnya di kasur. Melvin mengingat-ingat apa yang dikatakan Aira tadi. " Aku hanya ingin keselamatan mu dasar bodoh! " Gumam Melvin kemudian dia tertidur.


#


Paginya Aira berangkat ke sekolah seperti biasa. Dia duduk di kelas sembari termenung hingga dia tidak menyadari bahwa bell masuk kelas telah berbunyi. Aira tersadar dari lamunannya ketika guru wali kelasnya memasuki kelas.


" Anak-anak kali ini kita kedatangan murid baru " Usai guru wali kelas itu menjelaskan seorang laki-laki berambut hitam sedikit coklat memasuki kelas. Aira langsung sadar bahwa laki-laki itu adalah...


" Perkenalkan nama saya Alan dan semoga kita bisa berteman baik"


Para siswi perempuan bersorak kecuali Risa dan Aira,karena Alan memang cukup tampan. Alan duduk tepat dibelakang Aira.


" Kenapa kamu disini? Mau Membututiku? " Bisik Aira ketika pelajaran di mulai. " Jahat sekali aku kan memang pindah sekolah karena keluarga " Jawabnya sembari sedikit tertawa.


Jam istirahat pertama pun dimulai dan seperti biasa anak-anak berhamburan keluar kelas. Risa duduk dibangku Aira untuk memakan bekal bersama. " Wah kelihatannya enak! " Ucap Alan tiba-tiba. " Hah? " Risa mengeluarkan tatapan dinginnya saat melirik Alan. " Wah dinginnya, jangan begitu dong! Aku kan hanya menyapa" Risa sudah menyadari bahwa kedatangan Alan membuat Aira tidak nyaman. " Ris kita makan di luar aja yuk! " Ajak Aira. Mereka berdua keluar dan duduk dibangku dekat air mancur seperti biasanya.


Dari kejauhan Risa melihat Alfi sedang berjalan ke arahnya. " Tumben kamu makan bekal disini Ris, dan kenapa ada Makhluk astral ini? " Goda Alfi pada Aira. " Kamu juga kenapa disini? dasar makhluk fantasi! " Jawabnya balik.


"Mau gabung?" Risa menepuk tempat duduk di sebelahnya beberapa kali.


Alfi menggeleng. "Maaf. Lain kali ya. Hari ini aku ada sedikit urusan di ruang TU."


Risa mengangguk mengiyakan. "Heh ... Yasudah sana pergi!" Aira memalingkan wajahnya sambil mendecih. 


"Alan itu ... Siapa?" Risa mendadak membuka percakapan setelah Alfi benar-benar pergi menjauh dari tempat mereka duduk. Aira yang mendengar hal itu terdiam. Gadis itu menunduk dalam sambil memainkan sendok makan miliknya.


"Hm ... Kalau ada sesuatu nggak usah dijawab nggak apa-apa kok," Risa buru-buru menyahut ketika menyadari perubahan suasana diantara mereka.


"Dia ..." Aira membuka suara. "Teman SMP ku. Dulu dia tidak begitu. Di SMP dulu dia adalah ketua OSIS. Sifatnya baik, ramah, dan cukup perhatian. Aku menyukai Alan yang dulu. Tapi sayangnya, seiring berjalannya waktu, dia bergaul dengan anak-anak bermasalah. Dia dan aku pernah bertengkar karena 'suatu masalah'. Yah, begitulah."


Aira menghela napas. Risa tiba-tiba menepuk bahunya pelan. "Aku tahu. Aku tidak akan membiarkan Alan mendekatimu," Risa tersenyum lembut.


"Duh, kenapa jadi gini sih suasananya?" Aira menggaruk tengkuknya canggung sambil tersenyum kaku.


#


Bel berdentang 3 kali. Usai guru pengajar yang mengisi jam pelajaran terakhir keluar dari ruang kelas, Risa dan Aira segera membereskan alat tulisnya. Di dalam ruang kelasnya hanya ada 3 anak; Risa, Aira, dan Alan. Seluruh siswa kelasnya telah meninggalkan kelas sejak beberapa menit yang lalu. Akibat terlalu terburu-buru, salah satu pensil milik Aira terjatuh begitu saja diatas permukaan lantai. Menggelinding sampai kemudian berhenti ketika membentur ujung sepatu Alan. Alan memungutnya lalu memainkannya sambil melangkah mendekati bangku Aira.


"Pensilmu?" Tanya Alan sambil mengangkat sebelah alisnya.


Menyadari Alan berada disampingnya, Aira menghembuskan napas panjang. Gadis itu memilih untuk mengabaikan Alan. Ia masih menyibukkan diri dengan alat tulisnya. Setelah seluruh alat tulisnya masuk ke dalam tas kecuali pensil yang berada dalam genggaman Alan, ia melangkah begitu saja melewati Alan.


"Ayo, Ris."


Risa menunggu Aira di depan pintu masuk. Sebelum melangkah mendekati pintu kelas mendadak Alan menarik pergelangan tangan Aira.


"Kamu kenapa sih?!" Aira menepis tangan Alan.


"Ini pensilmu?" Alan menatapnya tajam. Aira menggigit bibirnya.


"Bukan. Jangan mengganggu—"


"Heh ... Kamu pikir bisa pergi begitu saja?" Alan meletakkan sebelah tangannya tepat disamping leher Aira. Jari-jari tangan nya menyentuh permukaan dinding sementara tangannya yang lain bergerak memainkan pensil Aira.


Risa yang melihat hal itu segera menarik Aira menjauh dari Alan.