Our Love Story

Our Love Story
Suka?



Kairen menyalakan sebuah komputer khusus di ruangan khusus milik sang ayah. Dia mengetikkan nomor orang yang menelfonnya tadi ke komputer itu, komputer yang dirancang khusus untuk misi balas dendamnya.


Puluhan angka acak dan kode-kode yang dijamin bisa membuat orang pusing, tertera pada layar komputer itu. Hingga sebuah notif dari mesin pencari muncul, sebuah notifikasi yang membuat Kai mengumpat kesal.


"Siall!!!" umpatnya.


Orang itu cerdik. Nomor yang dia gunakan tadi sudah tidak aktif. Dia sudah memperkirakan kalau Kai akan menyadap nomor ponselnya sehingga dia langsung merusak nomor tersebut.


."Ternyata lo emang mau main-main sama gue"


***************


"Saya kecewa sama kinerja kamu. Kamu ini Ketua Osis loh Rai. Seharusnya kamu bisa menjadi contoh yang baik untuk siswa lain, bukannya malah ikut-ikutan buat onar!!"


Kairen mendengus kesal. Sudah satu jam lamanya Pak Burhan, selaku Kepala Sekolah SMA Garuda memberinya takziah di pagi hari. Baru juga ngelewatin gerbang selangkah, udah dipanggil sama Pak Burhan yang dijuluki Mahsyar oleh mulut Kairen yang minim akhlak.


Bukan tanpa alasan. Hal ini dikarenakan rambut tengah Pak Burhan itu botak, mulus banget kayak Padang Mahsyar. Mungkin dulu waktu bayi ngasih baby oil nggak rata, jadi rambutnya tumbuh juga nggak merata.


Pak Burhan membuka mulutnya, ingin kembali bicara. Tapi Kairen lebih dulu menyela.


"Pak, Bapak tau nggak kenapa saya jadi begini?" tanya Kairen dengan wajah serius.


"Ya nggak tau lah"jawab Pak Burhan segera. Jujur, dia males berhubungan sama muridnya yang satu ini. Kalo nggak bikin onar, bikin malu, ya bikin orang serasa pengen cepet mati. Ada aja tingkahnya.


"Nahh, Bapak aja nggak tau, apalagi saya!!" Baru juga dibilangin, Si anak kodok udah berulah. Tanpa dosa ataupun rasa malu, Kairen beranjak dari duduknya. Dia berdiri, berjalan kearah pintu hendak pergi.


"RAI, SAYA BELUM SELESAI!!" seru Pak Burhan geregetan. Ihhh gemes deh pengen bunuh.


"Telfon saya aja Pak, saya dengerin sampek kuping jebol!!" sahut Kairen dari luar Ruangan.


Pak Burhan cuma bisa merem melek sambil nahan napas. Guru berkepala gundul itu memijit pelipisnya. Menghadapi siswa sejenis Kairen memang butuh ajian khusus dari Para orang sabar. Pemain Indosiar, wkakaa.


"Untung Mama kamu cantik, Rai"


***************


Kairen bersiul ria menyusuri koridor sekolah. Banyak cewek-cewek genit menyapanya, pemuda itu tentu merespon.


"Rai, nanti malem jadi kan?" Tiara, gadis kelas 11 Mipa 4 itu tiba-tiba muncul. Berjalan berlenggak-lenggok sambil memainkan rambut kepangnya, gadis itu bertanya dengan nada sok diimut-imutkan.


"Jadi dong. Nanti gue jemput depan gang rumah lo ya"


Ini nih, ciri-ciri cowok letoy. Ganteng-ganteng, jemput cewek depan gang:v.


"Oke, habis ini gue mau ke ATM dulu buat ambil uang. Jadi kita bisa jalan sepuasnya" ucap Tiara dengan girang.


"Nggak perlu. Gue masih mampu buat biayain ngedate kita nanti" sahut Kairen dengan nada malas. Tanpa menunggu jawaban dari Tiara, dia segera pergi meninggalkan gadis itu tanpa permisi.


"Sok-sokan ngambil uang ke ATM, bilang aja minta dibayarin" gerutunya dalam hati.


Dari sekitar 30 perempuan yang pernah dekat dengannya, sudah biasa bagi seorang Kairen menghadapi orang seperti itu. Basa-basi, ujung ujungnya minta.


Dari sekian banyak orang yang melintas, ada dua orang yang menyita perhatian cowok bermarga Alexander itu. Dari kejauhan, tampak Satya dan Kimy tengah tertawa bersama di depan mading sekolah. Mereka tampak akrab dan dekat. Bahkan Satya tidak segan mengusap rambut Kimy saat gadis itu menjahilinya.


"Wihhh, bau-bau PJ cair nih" ucap Kairen sambil tersenyum jahil. Dia menyandarkan bahunya di dinding sambil bersendekap dada.


Dia masih mengamati dua orang itu. Hingga Kimy pergi meninggalkan Satya sendirian, barulah dia datang mendekat.


"Cieee, Bang Sat lagi pedekatean sama si Baskom" ledek Kairen sembari merangkul bahu Satya tiba-tiba.


"Njirr, ngagetin aja lo!!" cebik Satya kesal.


"Lo suka ya sama Kimy?!" seakan enggan menanggapi kekesalan sepupunya, Kairen segera melontarkan pertanyaan yang membuat Satya seketika terdiam.


"Jawab anjenkk, lo suka kan sama Kimy?!" desaknya lagi. Sumpah demi apa, jiwa kepo Kairen lagi bangun.


Satya menyengir seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya gitu dehh"


Kai menangkup pipinya sendiri sambil memasang wajah kaget. Dia geleng-geleng kepala, matanya melotot kayak dukun kecolok dupa.


"GILA, SUMPAH DEMI APA LO SUKA SAMA SI BASKOM?!!!!"


Satya menampol kepala Kairen agak keras sampai pemuda itu nyaris terjungkal seandainya tidak berpegangan pada dinding. Gini nih jadinya kalo punya saudara setengah cebong, nggak bisa diajak kompromi sama sekali.


Kairen mengusap kepala belakangnya yang terasa panas. Seriusan deh, tampolan Bang Sat lebih sakit daripada jitakan bapaknya.


"Lo seriusan suka sama Kimy?!" Kai mengulangi pertanyaannya lagi, seakan tidak puas meledek sepupunya yang lagi bucin ke baskom berjalan.


"Iya" sahut Satya dengan nada malas.


Kai mengangguk beberapa kali. Dia mengusap dagunya, seakan memikirkan sesuatu.


"Dia cakep sih, tapi tomboy. Galak lagi. Andai dia kalem, pasti gue naksir sama dia"


Satya memutar bola matanya malas. Siapa sih yang nggak lo taksir Bong?!.


"Eh Kai, bantuin gue dong"


Kairen mengangkat sebelah alisnya, bingung dengan maksud dari ucapan yang pemuda itu ucapkan.


"Maksud lo?" tanyanya bingung.


"Bantuin gue deket sama Kimy. Please" pinta Satya sembari. Sembari memasang wajah memelas


Karen melotot tak percaya dia bahkan sampai menggelengkan kepalanya saking terkejutnya dengan apa yang diucapkan sepupunya Barusan gue jadi Mak Comblang Gila apa ya.


Anjir lo nyuruh gue jadi Mak Comblang nggak mau lah kayak kurang kerjaan aja


"Yaelah Kai bantuin gue dong, sekali iniiii aja. lo Kan udah berpengalaman deketin cewek. Please lah, lo tega ngelihat saudara lo jomblo terus?! pinta Satya lagi.


Karen mendengus Malas. Kalau masalah gini aja bawa-bawa nama saudara. Dia kemudian bersedekap dada menatap kearah Satya sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Gue nggak janji tapi gue bakal berusaha buat bantuin lo deketin Kimy"


***************


Kimy memasuki ruang kelasnya sambil memasang wajah senang. Dia dalam kelas tidak ada siapapun, mungkin karena bertepatan dengan waktu istirahat. Hari ini dia mendapat coklat dari Satya, katanya sih buat hadiah karena dia menang main game online pas mabar kemarin malam. Gadis itu meletakkan hadiah dari Satria di laci.


Kimy kemudian duduk di bangkunya, tapi sebuah rasa aneh menjalar di tubuh gadis itu. Dia merasa ada semilir angin yang masuk ke rongga dadanya. Saat dia menunduk, matanya melotot sempurna saat menyadari bahwa kancing atasannya tiba-tiba sudah terlepas satu.


"Gila, kok gue bisa nggak berasa sih?!"


Kimy mengambil peniti dari dalam tasnya. Dia melepas kancingnya satu lagi untuk menyamakan panjang bajunya.


Bertepatan dengan itu, seseorang masuk ke dalam kelas dengan tiba-tiba. Kairen terpaku di tempat. Niat hati ingin memberikan surat cinta Satya kepada Kimy, tapi justru mata polosnya ternodai gara-gara baskom.


"Gilaaa" Kairen menggumam kecil namun dapat didengar oleh Kimy. Gadis itu spontan menoleh. Matanya langsung melotot sempurna saat melihat Kairen sudah berdiri di dekatnya.


Buru-buru Kimy merapatkan atasan seragamnya. Sumpah demi apa, dia berharap si cebong sawah nggak liat.


"CEBONGG, KOK LO MASUK NGGAK BILANG-BILANG SIH!!!" serunya dengan kencang.


"Sorry Kim, gue nggak liat tanktop lo yang warna biru. Seriusan deh!!"


Kimy melotot kesal. Itu bukannya nggak liat, tapi diperjelas bamvankkk!!.


"KAIIIIIIIII" teriakan Kimy menggema mengisi ruangan. Membuat kuping Kairen budeg setengah hidup.


"Pak Muji matanya kabur, lebih baik aing kaburrrr"


"WOY ANJENKKK, JAN KABURR LO!!!"


******************


Ada yang kangen?, kangen othor apa ceritanya nih?.


Maaf ya guys, aku ada banyak kegiatan jadi nggak bisa sering up.


Makasih yg udah nunggu, jangan lupa tinggalkan jejak ya....


Happy reading:)


Kairen Or Raizel