Our Love Story

Our Love Story
chapter 1 MOS



MOS atau Masa Orientasi Sekolah kegiatan pengenalan siswa pada lingkungan sekolah.


Sudah hari ke 2 para siswa menjalani MOS. Pagi itu Risa sedang duduk sambil memandangi layar smartphone yang sedang ia genggam. Seperti menanti-nanti sesuatu Risa terus melihat ke layar smartphonenya. Aira yang barusan masuk kelas melihat Risa sedang memandangi layar smartphone di tempat duduk paling ujung kelas, karena penasaran Air menaruh tasnya dan mengintip sedikit apa yang sedang dilihat oleh Risa.


"Apa yang kau lihat?!"


Bentak Risa. Aira kaget dan hampir saja terjatuh. Aira tidak tahu kalau Risa akan semarah itu kalau dia mengintipnya. Risa ternyata sedang memandangi aplikasi chat dan sedang menunggu seseorang membalas chatnya.


"Aku tahu, siapa yang kamu tunggu"


Ucap Aira dengan percaya diri karena dia tahu siapa yang sedang berkirim pesan di aplikasi chat dengan Risa.


"Dia temanku semasa SMP, namanya Zen kan?"


Ucap Aira, tetapi Risa tidak menghiraukanya dan pergi meninggalkan Aira di kelas. Selang beberapa Menit Risa kembali, kemudian duduk dibangku paling pojok tempat duduknya tadi. Kakak OSIS masuk dan memberikan beberapa materi kepada adik kelasnya.


Waktu istirahat dimulai seperti biasa Risa akan pergi ke kantin sendirian.Risa duduk di bangku dekat dengan air mancur di sekolahnya dengan memandangi smartphonenya. Mata Rupanya berbinar-binar saat melihat smartphonenya.


Zen


Hai!


Risa


Hai juga!


Perasaan senang menghampiri Risa karena Zen membalas chatnya. Risa belum mengetahui rupa Zen seperti apa padahal mereka sekelas.


Risa


Kamu itu orangnya yang mana?


Zen


Aku padahal duduk di depanmu lo!


Gadis itu kaget bukan kepalang. Agaknya, sifat terlalu cueknya membuat gadis itu lupa siapa laki-laki yang duduk di depannya. Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri. Atensi nya teralihkan saat sebuah notifikasi dari ponselnya terdengar.


Dari chat singkat itu, Risa dapat menyimpulkan; Zen anak yang ceria dan humoris. Pemuda itu memiliki kesamaan dengannya sebagai sesama penyuka anime. Terlibat percakapan dengan Zen, membuat gadis itu mudah mencari topik untuk pembahasan mereka. Terlebih lagi, dengan sifat Zen yang dinilainya lumayan baik, membuat Risa tak segan untuk mengungkapkan segala hal.


Sekembalinya ke kelas, tatapannya terantuk pada seorang pemuda yang duduk didepannya. Lelaki itu memiliki iris berwarna emas yang redup dengan rambut gelap. Rambutnya dipotong cepak, hingga beberapa helai mencuat. Meski begitu, Zen memiliki wajah baby-face yang membuat penampilannya lumayan terlihat unik.


Tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa saat,mereka tak saling sapa. Hingga kemudian seorang gadis menepuk Risa dari belakang. Hal itu sedikit membuatnya tersentak terlebih lagi ketika menoleh dan mendapati gadis itu adalah gadis yang sama ketika Risa membentaknya.


Tatapan Aira dalam, namun terkesan merendahkan sebenarnya. Dan tentu saja Risa sedikit tidak menyukainya. Aira bersikap acuh, seolah yang dilihatnya hanya seseorang yang tak begitu penting.


Begitu pun dengan Risa, gadis itu terlalu cuek untuk meladeninya. Risa menemui banyak anak-anak seumurannya yang memandangnya demikian. Jadi, hal itu sudah menjadi hal biasa buatnya meski setengah hatinya tidak suka diperlakukan demikian.


#


"Kalian akan berkeliling sekolah besok. Untuk sekarang, kalian bisa meninggalkan sekolah setelah mengisi daftar hadir,"


Seorang lelaki bertubuh tegap dengan seragam biru-putih lengkap dengan almamater itu memberikan selembar kertas buram kepada salah satu siswa tempat duduk depan untuk diedarkan kebelakang.


"Eh, kamu suka anime, 'kan?" tanya Aira. Semula, Risa sedikit ragu menjawab gadis itu. Namun, akhirnya ia mengangguk.


"Wah. Aku juga suka lo," balas Aira sedikit antusias.


Risa menatapnya beberapa saat sebelum kemudian bertanya. "Lalu?"


Aira memilih untuk mengabaikannya dan beralih berbicara pada salah seorang gadis berbadan gemuk yang duduk bersebelahan dengan bangku mereka. Akhirnya, kali ini, Risa kembali terdiam. Gadis itu menatap datar anggota OSIS yang memberikan penjelasan dan hiburan atau bahkan candaan ringan untuk mencairkan suasana.


"SD mu lumayan jauh ya dari rumahmu," ucap gadis gemuk itu.


Aira tersenyum tipis. "Yah, tapi aku menyukainya,"


"SD ku juga lumayan jauh dari rumahku," ujar Risa.


Gadis gemuk menatapnya sejenak. "Oh, begitu. Dulu waktu SD, temen SD ku banyak yang unik," ucap si gemuk pada Aira dan Risa.


"Wah, Della pasti banyak temennya ya," seorang gadis disamping gadis gemuk ikut berkomentar.


"Uh ... Temen-temen di SD ku banyak yang nakal," tutur Risa seraya menopang dagu.


"Tapi ada juga yang baik. Aku punya temen baik. Namanya Naila. Kami sering bermain ini," tukas Risa seraya menyodorkan buku bersampul cokelat kearah si gadis gemuk—Della.


Della menerimanya. Lantas, mulai membuka halaman pertama dari depan. "Oh, ini. Aku juga pernah memainkannya dulu,"


Risa sudah mulai tidak terlalu dingin dengan temannya. Hanya saja dia kesulitan ketika hendak mengajak bicara Aira. ketika Risa ingin mengatakan sesuatu pada Aira,Aira tidak pernah mendengarkanya.


Risa keluar kelas untuk mencari udara segar. Tiba-tiba Risa merasa ingin pergi ke kamar mandi. Risa berjalan menelusuri sekolah tersebut, sampai di suatu tempat ada petunjuk dimana kamar mandi berada. Risa pun mengikuti petunjuk itu sampai ke belakang sekolah. Ternyata kamar mandi tersebut berada dibelakang sekolah, Risa bingung karena di kamar mandi tersebut tidak ada tulisan untuk kamar mandi perempuan. Akhirnya Risa memutuskan untuk bertanya kepada kakak kelas yang berdiri agak jauh dari kamar mandi siswa.


"Permisi kak, kamar mandinya disebelah mana ya?? "


Kakak kelas itu menoleh.


"Kamar mandinya ada di sebelah sana dek"


Jawab kakak kelas itu sambil menunjuk ka arah kamar mandi yang sebelumnya Risa sudah kesana.Risa berterima kasih kepada kakak kelas tersebut.


"Jadi kamar mandinya campur?"


Pikir Risa, karena saat SMP dulu kamar mandi laki-laki dan perempuan disendirikan.seusai dari kamar mandi Risa kembali ke kelas.


Risa kembali duduk ditempatnya. Tanpa sadar Risa selalu memperhatikan Zen dari jauh. Zen sedang mengobrol dengan temanya saat Risa memperhatikannya. Zen menyadari dia sedang diperhatikan.jadi saat Zen menoleh ke arah Risa,Risa langsung buang muka menghadap ke arah jendela. Zen hanya tersenyum melihat kelakuan Risa yang sangat pemalu. Risa sangat pemalu terhadap laki-laki.


"Bagaimana sekolah barumu?"


Wanita paruh baya itu tersenyum, meski tatapannya masih terfokus kearah jalanan yang padat. Dari kaca spion motor, wanita itu mendapati anaknya tengah menunduk.


"Risa," panggilnya lembut, membuat Risa tersentak.


Gadis itu mendongak, lalu menatap spion motor seraya menarik garis lengkung bibir, tersenyum manis. "Aku menyukai sekolahnya,"


Sang Ibu kembali mengulas senyum. "Ibu senang kamu menyukai sekolah barumu,"


Untuk beberapa saat, tak ada lagi yang bersuara. Deru motor mendominasi suasana diantara mereka. Bersahutan dengan klakson mobil, mobil, dan bel sepeda. Di sisi dan tengah persimpangan, dua orang polisi tengah mengatur jalanan. Sesekali meniup peluit, atau menggunakan kedua tangannya untuk ikut mengatur lalu lintas.


Di arah yang berlawanan, mata Risa memincing. Tatapannya terfokus kearah anak berseragam biru-putih yang menatap datar lampu merah.


Zen.


3 huruf yang terlintas dalam pikirannya membuat gadis itu sedikit tak percaya. Sementara Zen diujung sana masih menatap datar lampu merah, Risa lebih dulu mengamatinya tanpa mampu mengatakan sesuatu. Gadis itu terpaku untuk sesaat yang ganjil. Ada debaran aneh yang membuat rongga dadanya bergejolak. Perasaan sedih, senang, atau kecewa?


Bahkan, gadis itu sendiri tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.


"Risa," teguran halus dari sang Ibu membuat gadis berambut hitam itu kembali menatap spion motor.


"Hm?" Gumamnya. Agaknya gumaman itu mampu membuat Ibunya kembali bersuara.


"Jangan melamun," nasehatnya.


Risa mengangguk, meski yang dilakukan nya tak lebih dari sekedar menggerakkan kepala tanpa benar-benar mengangguk. Alih-alih tersenyum, kali ini Ibunya menghela napas berat.


"Temanmu?" Tanya sang Ibu tiba-tiba. Wanita itu mengikuti arah pandang anaknya sebelum kemudian sedikit terkejut mendapati seorang anak lelaki yang menjadi objek tatapan Risa.


Berbeda seperti sebelumnya, kali ini gadis itu tersenyum simpul. "Belum. Tapi mungkin kami akan menjadi teman," ucapnya lembut.


Ibunya tertawa. "Ajak dia main ke rumah kalau begitu,"


Risa membelalak sebelum kemudian menggeleng cepat sambil berucap, "tidak mau,"


"Ibu hanya bercanda," balas Ibunya santai.


Jam menunjukan pukul 12 malam. Risa masih terbangun karena dia tidak bisa tidur,hanya ada Zen di pikiranya. Risa sangat mengharapkan Zen bisa menjadi teman bahkan sahabat.Tapi Risa berfikir kenapa dia bisa berdebar saat melihat Zen?, hal itu mengganhal dipikiran Risa.


Hari ini MOS terkahir dimana kelas tetap akan ditentukan. Siswa mengerjakan soal-soal untuk menentukan dimana kelas mereka. Risa, Aira, Zen, dan Alfi mengerjakan soal dengan serius.


Risa tersentak kaget mendengar suara pengawas. Dikumpulkannya kertas soal dan jawaban ke depan. Kemudian pengawas kelas membagikan kertas lagi.


"Apa?! Soal lagi?! "


Batin Risa, setelah dibaca ternyata itu kertas untuk memilih ekstrakurikuler.


"Kamu ingin masuk ekstrakurikuler apa?"


Tanya orang yang duduk didepan Risa, yang tak lain adalah Zen. Risa kaget karena ini pertama kalinya Zen mengajaknya bicara secara langsung bukan dari aplikasi chat.


"Mungkin aku akan memilih karate dan musik, kalau kamu?"


Tanya Risa balik setelah menjawab pertanyaan dari Zen.entah menngapa Risa sangat gugup saat menjawab pertanyaan Zen.


"Mungkin basket"


Semua siswa pun mengumpulkan lembaran kertas tadi ke pengawas/kakak OSIS. Risa memandangi laki-laki yang duduk sebangku denganya, dia sangat pendiam. Risa pun mengintip Name tag laki-laki itu.


"Alfi"


Ucap Risa lirih. Laki-laki menoleh kearah Risa, tak disangka laki-laki itu mendengarnya berbicara meskipun lirih.


"Maksudku,Alifian Komeng itu lo pelawak"


Risa sangat malu sekali. Laki-laki itu hanya menatap Risa dan kembali lagi menoleh ke arah depan.


"Besok kelas kalian akan ditempel dipapan pengumuman"


Ucap pengawas kelas dan pergi meninggalkan kelas. Jam istirahat tiba semua anak berhamburan keluar kelas kecuali Risa karena ia lupa membawa uang saku. Laki-laki disebelahnya ternyata juga tidak keluar kelas. Didalam kelas hanya ada Alfi dan Risa sekarang.


"Sepertinya dia tidur"


Batin Risa karena melihat Alfi meletakkan kepalanya di meja. Risa mendekatkan dirinya ke Alfi untukemastikan Alfi benar-benar tertidur. Tiba-tiba Alfi menoleh kearah Risa.


Gubrak!


Risa terjatuh dari kursinya karena kaget tiba-tiba Alfi menengok. Untung saja Alfi tidak terbangun dan Risa pergi keluar kelas untuk mencari udara segar. Mukanya merona entah mengapa karena malu mungkin?.


"Aku tadi kenapa sih?!"


Batinya merasa malu dan rona merah menghiasi wajahnya.


Pulang sekolah Risa berjalan ke arah gerbang. Nampaknya Risa belum dijemput oleh ibunya. Risa duduk di kursi dekat pos satpam. Sudah 1 jam Risa menunggu ibunya. Alfi lewat didepannya dengan menuntun sepedanya.


"Jadi dia naik sepeda"


Batin Risa,tiba-tiba Alfi menoleh arah Risa. Risa hanya tersenyum ke arah Alfi, tak disangka-sangka Alfi malah buang muka dan mempercepat jalanya.


Risa hanya diam saja karena itu sudah biasa dialaminya pada saat SMP dulu.


"Risa"


Suara seseorang memanggil Risa. Ternyata itu adalah ibunya yang datang menjemputnya.


Risa merebahkan dirinya dikasur dan memeriksa smartphonenya apakah Zen menulis chat kepadanya.


"Tidak menulis chat ya?"


Gadis itu dilanda rasa sedih dan kesepian. Risa merasa sedih sekali jika Zen tidak menulis chat padanya. Risa berfikir Zen adalah penyelamat hidupnya, dia tidak pernah mendapat teman yang selalu menhiburnya.


Teman SMPnya dulu hanya memaki Risa.


"Mungkin dia sudah bosan denganku"


Pikir Risa yang membuatnya tambah murung, dia takut kalau Zen tidak mau berbicara padanya lagi karena bosan.dimatikannya smartphone itu kemudian diletakkan diatas meja belajarnya.


Tring!


Risa terbangun dari tidurnya dan memeriksa Smartphone nya.


Zen


Ohayou!


Rasa kantuk nya mendadak hilang seketika ketika mengetahui Zen mengirim chat padanya. Risa sangat senang sekali.


Risa


Ohayou!


Zen


Sedang apa?


Zen bahkan menanyakan apa yang sedang dilakukan oleh Risa. Rasa senangnya membuat senyuman diwajah Risa.


Risa


Barusan bangun tidur.


Zen


Sama berarti aku juga barusan bangun tidur.


Mereka berdua asik mengobrol di aplikasi chat.


Risa melihat kearah papan pengumuman.


"Kelas 10 IPA II"


Segera Risa pergi ke kelasnya. Zen berbeda kelas dengan Risa karena Zen mengambil jurusan IPS. Setibanya di kelas Risa memilih tempat duduk paling depan karena hari ini dia tidak membawa kacamatanya. Selang beberapa menit seseorang ada yang ke kelas. Dia adalah Alfi teman sebangku nya saat MOS.Alfi memilih duduk dekat tembok.


"Boleh aku duduk bersamamu? "


Seorang perempuan bermata coklat sayu bertanya kepada Risa.


"Tentu saja, silahkan"


Gadis itu duduk disebelah Risa.


"Siapa namamu? "


Tanya Risa memberanikan diri meskipun dia sangat dingin seperti dia telah berubah karena Zen.


"Aku Clara, kalau kamu?"


"Aku Risa"


Mereka berdua tidak mengobrol. Mereka hanya sebatas berkenalan saja kemudian tidak bicara lagi.


Waktu istirahat tiba dan para siswa berhamburan keluar kelas. Sepertinya mereka sudah akrab satu sama lain. Kini di kelas hanya tinggal Risa, Aira, dan Alfi. Aira sedang memakan bekarlnya kalau Alfi? Dia sepertinya tidak suka keluar kelas. Risa pergi keluar kelas disusul oleh Aira karena Aira tidak suka jika berdiskusi dengan laki-laki di kelas.


"Enaknya beli apa ya?"


Pikir Risa.


Bruk!


Tiba-tiba dia menabrak seseorang dan membuat barang orang tersebut jatuh.


"Maaf aku tidak sengaja"


Risa membantu mengambilkan barang orang itu dan ternyata orang itu adalah..