
Ponsel Adara berdering saat dirinya mengemudi. Di liriknya benda itu mencari tahu siapa yang menghubunginya. Napasnya panjang begitu melihat nama dilayar benda itu. Rion. Adara memilih menepi dan mengangkatnya.
"Honey, kau dimana?" Adara menghela napas, "Honey ...?" Sapa Rion kembali menyadari Adara terdiam.
"Aku ... dalam perjalanan pulang, kenapa? Apa kau sudah pulang?"
"Masih di kantor," Adara tersenyum. Bohong! ia menggigit bibirnya. "Hun, apa kau dari kantor?" Adara mengerutkan kening. Adara ingat Anatha, mungkin sekretaris itu yang memberitahukannya.
"Maaf, aku ada urusan di luar. Ini baru balik ke kantor, terima kasih makan siangnya."
Urusan apa Ion? Apa yang kau coba sembunyikan dariku?
"Honey, apa kau mau jalan nanti malam denganku?"
Pria yang selingkuh akan selalu baik pada pasangannya untuk menutupi kelakuaanya. Adara tiba-tiba saja mengingat tulisan di sebuah artikel yang ia baca.
"Hun...?" Adara menggeleng. Tidak suamiku tidak mungkin selingkuh.
"Aku baru kembali dari tempat Jie. Pengen istirahat. Pulanglah ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."
"Oh, mmm baiklah." Suaranya terdengar kecewa. Adara menyadari itu, kesal ia langsung mematikan ponselnya.
Dara dari kafe? Rion menghubungi Jie, kali ini Rion memang harus di repotkan oleh masalahnya sendiri.
"Jie," sapa Rion begitu tersambung. "Dara dari sana?"
Jie yang sedang ngelap gelas-gelas menjauhkan ponselnya dari telinganya. Suara pria itu terlalu bersemangat.
"Jangan khawatir aku masih menutup mulutku, Rion. Tapi entah sampai kapan." Terdengar helaan napas lega dari pria itu.
"Terima kasih, Jie."
"Adara dari kantormu, ia menemukan rokokmu. Saranku jujurlah padanya." Jie meletakkan lapnya kemudian menarik tempat duduk untuknya.
"Tiga hari lagi, aku akan mengatakannya." Rion menarik laci kerjanya, Sial! mengumpat dalam hati kenapa ia lupa membuang rokok itu.
"Kenapa harus tiga hari, Rion?"
"Setelah Dara menerima transferan embrio pada rahimnya."
"Gila! Kau hanya akan menambah masalah, Rion. Pikirkan baik-baik. Kalau Dara stres kau masukkan apapun kedalam rahimnya tidak akan berhasil." Kesal Jie, suaranya bergema di ruangan itu. Membuat beberapa pelanggan menoleh padanya. Begitu juga dengan Kia dan Nial pelayan di sana. "Kau sungguh tidak waras ya!?" Tambahnya.
Rion mematikan sambungan telponnya, memikirkan kata-kata Jie. Karena masalah yang ia hadapi membuat pikirannya berjalan lambat.
Jika Adara mengetahui hal itu setelah penanaman embrio pada rahimnya. Adara pasti stres, dan rencana bayi tabung yang mereka akan lakukan tidak akan membuahkan hasil. Adara akan semakin terpukul dan Rion tidak punya senjata kalau-kalau Adara meminta cerai darinya.
Rion semakin bingung, berulang kali pria itu menghela napas panjang. Lalu memutuskan pulang kerumahnya.
Ditempat lain ...
Hana mengajak Calista makan di restoran. Wanita itu sengaja memesan makanan bergiji yang menggiurkan untuk di lahap. Meski rautnya menyebalkan melihat Calista ia tetap memikirkan bayi dalam rahim Calista.
Walau suasana canggung Calista tetap menikmati makanan itu. Ia butuh tenaga dan juga vitamin untuk janinnya.
Hana mengeluarkan selembar cek dan menyodorkannya pada Calista.
"Ini ada cek, sampai hasil tes DNA itu keluar, kau bisa membiayai dirimu dengan cek ini." ujar Hana mengulurkan cek dengan penerima Calista.
Calista meletakkan sendok dan garpunya menatap kertas kecil itu. Selera makannya hilang, menganggap betapa rendahnya nilai Calista di mata wanita itu.
"Aku bisa membiayai diriku, Nyonya." Katanya menolak. Hana berdecih.
"Jangan menolak, bayi dalam kandungan itu butuh asupan yang banyak. Terlebih kau baru saja melakukan tes DNA menggunakan air ketubanmu." Hana memberi pengertian.
"Nyonya ...." Calista melihat Hana, " Apa rencana Nyonya setelah mengetahui hasil tes DNA itu?"
"Kita tunggu saja nanti," Hana menghela napas panjang.
Hana juga bingung harus melakukan apa. Rion putranya si bodoh itulah yang mencari masalah dan korbanya sekarang Adara. Menantunya sipolos yang di nikahi saat usianya delapan belas tahun.
"Janin ini benar-benar darah Rion," gumam Calista, wajahnya sendu saat mengatakannya. "Andai saja aku tidak hamil, aku tidak akan pernah menemuinya. Karena kejadian itu benar-benar terjadi begitu saja." Tambahnya, merasa bersalah. Ia mendongak menahan air matanya yang hampir berlabuh ke pipi.
Calista tersenyum pahit, melihat cek yang ada di atas meja.
Dia bahkan menatapku sebagai wanita rendahan.
_____________________________________________
Rion menepikan mobilnya setelah memasuki perumahan elite tempat mereka tinggal. Ia belum siap bercerita pada Adara mengenai masalahnya. Mengenai cinta semalam yang ia lakukan hingga menghasilkan darah daging di tubuh wanita itu. Rion menghela panjang, memukul-mukul belakang kepalanya pada sandaran jok mobilnya.
Lama ia mengurung diri dalam mobilnya, sampai melihat sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Rion menautkan kedua alisnya melihat Hana keluar dari dalam mobil itu.
Hana berdiri menunggu mobil yang ia tumpangi meninggalkannya. Kemudian helaan napas panjang terdengar darinya, menatap mobil putranya menepi di tak jauh dari pintu gerbang perumahan itu. Hana tahu, putranya itu dalam dekapan masalah saat ini.
Hana menghampiri, tanpa di minta Rion membukakan jendela mobilnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Hana bertanya, melihat betapa bodohnya Rion saat ini.
"Apa yang harus aku lakukan, Ma?" Hana berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat Rion yang kebingungan.
"Kita tunggu sampai hasil tes itu keluar. Setelah itu mama akan bantu kau bicara sama Dara."
"Apa Dara akan memaafkan aku?"
"Dia pasti memaafkanmu," ujar Hana, berjalan mengitari mobil lalu membuka pintu dan naik, "ayo jalan," katanya, Rion menjalankam mobilnya.
Adara mengeringkan rambutnya dengan handuk di depan cermin. Ia menatap bayangannya di sana. Wajah itu jauh lebih dewasa ketimbang tujuh tahun yang lalu saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di kamar ini.
Usianya saat itu baru delapan belas tahun. Ia sangat di cintai Rion, hingga pria itu cepat mengikatnya dengan pernikahan. Bahkan hampir saja menidurinya dengan alasan supaya Adara tidak lari dari genggamanya. Mengingat bagaimana Rion posesif padanya menjadikan Adara mempertimbangkan kecurigaanya kalau suaminya itu berselingkuh.
Tapi bukankah cinta ada batas waktunya? Kadaluarsa begitu orang menyebutnya. Apakah Rion dalam tahap itu? Ia merasa bosan pada bunga yang setiap hari di cumbunya, disedot sarinya hingga bunga itu layu dan mengering? Entahlah!
Saat Adara disibukkan dengan pikirannya, sebuah tangan sudah melingkar di pinggagnya hingga membuatnya sedikit melonjak kaget dibuatnya.
"Kau baru mandi, Honey?" Desis Rion tepat di ceruk leher Adara. Mencium kulit leher itu lembut, mengundang desiran pada darah istrinya itu. "Aroma tubuhmu sangat enak, aku menyukainya." Rion mendesiskan perkataanya dengan sensual sembari menghirup aroma sabun yang di keluarkan tubun Adara.
Adara bergeming menatap Rion lewat cermin dengan raut kesal. Napas Rion terasa hangat dan pria itu sengaja menggodanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Adara saat tangan Rion menarik tali piyama yang ia kenakan. Rion yang sudah berhasrat mengabaikan ucapan Adara, ia hampir melepaskan piyama itu dari tubuh istrinya tapi tertahan oleh tangan Adara.
"Aku tidak mau." Kata Adara, mengikatkan kembali tali piyamanya. Rion meletakkan dagunya di bahu Adara. Menatap bayangan Adara lewat cermin di depan dengan hasrat yang bergejolak, memohon kehangatan tubuh Adara.
Adara berbalik mendongak menatap Rion. "Honey, aku mau kamu," gumam Rion menangkup dagu Adara dan ibu jarinya membelai lembut bibir istrinya itu. Hampir saja Rion melabuhkan ciumannya tapi Adara memalingkan wajahnya, menolak.
"Dara ...," bisik Rion dengan suara serak, menahan tangan Adara yang hendak meninggalkannya.
"Aku lelah," sialan seharunya kau mengajakku bicara bukan bercinta. "apa kau tidak capek? Mandilah, makan. Minta Lulu menyiapkan makanmu."
"Aku mau kamu Dara, bukan makan. Aku kangen kamu." Masih berharap, Adara menghempaskan tangannya.
"Aku tidak mau!" Ketusnya, lalu duduk ditempat tidur. Rion meringis menahan hasratnya yang sudah naik.
"Ada apa, Dara? Kenapa menolakku, Hun ...," ujar Rion duduk di tepi ranjang, membelai rambut Adara yang lembab. Pria itu masih berusaha merayu, memiringkan kepalanya untuk mencium bibir Adara.
"Ion!" Teriak Adara mendorong dada Rion menjauh darinya. "Jangan mengangguku! Kau pembohong! Menyebalkan! Aku kesal!" Adara meluapkan emosinya memukuli Rion dengan tangannya, Rion berusaha menahan Adara dari kemarahannya, menangkap tangan Adara lalu merengkuhnya ke dalam dekapannya.
"Dara ...,"
"Kau bohong, kan? Masalahmu bukan masalah kerjaan? Katakan Ion! Apa masalahmu," Adara terisak dalam dekapan Rion.
Rion menhembuskan napas panjang, memeluk erat Adara.
"Aku memang ada masalah, Dara. Aku janji akan mengatakannya nanti kalau aku sudah benar-benar siap," ujar Rion diakhiri dengan desahan napas panjang.
Adara mendongak, "a-apa masalahnya berat?" Adara bertanya dengan suara serak. Hidungnya memerah dan setitik air matanya menetes di pipinya. Rion mengangguk, menyeka air mata itu lalu mencium sudut mata Adara yang sembab.
"Ion, kau tidak selingkuh, kan ...?"
Bersambung ...