
Sinar mentari menembus kaca dinding kamar rawat Adara, membangunkan perempuan itu dari tidur lelapnya. Rasa haus terasa olehnya, Adara perlahan membuka mata dan menyadarkan diri. Mengingat apa yang telah ia lalui.
"Oh God ...," gumamnya, mulutnya susah terbuka karena kedua bibirnya menempel erat seolah dilem rapat oleh air liurnya yang mengering.
"Rumah sakit," Adara menyadari kalau dirinya berakhir di tempat berbau obat-obatan itu.
"Kenapa harus disini?" rutuk Adara, ia jengkel karena masih terbangun di dunia yang sama.
Perlahan Adara memalingkan wajahnya, melihat tangan terpasang infus sementara tangan satunya yang terluka di balut perban elastis.
Seharunya mereka tidak perlu menolongku, aku lelah dan ingin tidur dalam waktu yang lama. Andai saja Calista melakukannya dengan benar sudah pasti kehidupan baru menyambutku.
Pintu kamar itu terbuka, Emre, melangkah lebar begitu melihat Adara terbangun.
"Hei, Adara ... Syukurlah kau sudah bangun." Emre tampak khawatir jelas terlihat dari raut pria itu. Ia menarik kursi yang ada di samping bangsal Adara dan duduk disana.
"Aku mencemaskanmu," Emre menatap lekat Adara. Pria itu masih dengan seragamnya. Rupanya Adara dibawah ke rumah sakit tempat Emre bekerja.
"Kau tahu aku disini?" Adara bergumam, memaksa mulutnya terbuka lebar.
"Yah, Jie memberi kabar."
"Dimana gadis itu?" tanya Adara saat mendengar nama temannya itu dari Emre.
"Semalam dia ada di sini, tadi pagi aku memintanya pulang." Emre merapikan helai rambut Adara yang terjatuh di pipih.
"Emre, kenapa hidup begitu panjang?" Tanya Adara membuat dahi Emre berkerut.
"Karena hidup itu perjuangan, Dara.
"Perjuangan untuk apa?"
"Mencapai kemenangan, menyelesaikan tantangan yang diberikan Tuhan pada kita."
"Semua telah berakhir Emre, tidak ada yang harus aku perjuangkan di dunia ini. Lalu kenapa aku masih dikembalikan pada kehidupan ini. Ibuku meninggal dibunuh dan orang yang aku ... cintai telah kulenyapkan." Adara bergumam, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
Hati pria itu berdenyut mendengarnya. Emre tidak tahu kata-kata mana yang telah melukai hatinya. Rasa putus asa Adara atau Perasaan Adara pada Rion yang belum pupus.
Emre tersenyum tipis. "Tuhan mengirimmu kembali karena masih ada tanggung jawabmu di dunia ini, Dara."
Adara melihat Emre dengan rasa penasaran.
"Ibumu meninggal dibunuh, bukankah tugasmu menyelesaikan itu? Kau harus mendapat keadilan untuk itu, kan?" Tanya Emre, kali ini pria itu memberanikan diri menyentuh pipih pucat perempuan yang ia cintai itu. "Dan mengenai Rion ... jangan salahkan dirimu untuk itu. Pria itu yang menginginkan itu terjadi." kata Emre dengan nada lembut.
Terdengar helaan panjang dari Adara.
Kau tidak tahu Emre, akulah yang meminta Rion lenyap. Jika kau tahu itu apa kau masih bersedia dekat denganku?
"Aku masih bertugas, Dara. Jam makan siang aku akan kesini. Lagipula kau butuh istirahat banyak. Aku tidak ingin menganggumu, tidurlah sampai aku datang membawakan makanan."
"Jangan pikirkan aku, pergilah dokter tampan." Adara menyungingkan senyum pada Emre dan dibalas dengan kekehan ringan.
"Apa aku tampan Adara?" tanya Emre seraya menyugar rambutnya kebelakang. Adara menilai dengan tatapan sipit.
"Aku rasa begitu,"
"Berapa persen untuk membuat para wanita tergila-gila?"
"Ya ... 85 persen."
"Kalau begitu, jatuh cintalah padaku Adara."
Hening ...
Kemudian Adara tersenyum tipis melihat Emre. Ia tahu untuk jatuh cinta bukan sesuatu yang gampang lagi baginya, terlebih mengingat status dan kehidupan malang yang ia jalani.
Adara tidak ingin kehidupan Emre rumit karena dirinya dan pun Adara tidak ingin bersentuhan dengan hubungan emosional yang telah menghancurkan hidupnya dalam seketika.
"Kau tidak perlu jawab sekarang, aku akan menunggu." Emre bangun dari duduknya dan menunduk sedikit lalu mendaratkan bibirnya pada dahi Adara. Perempuan itu mengerjap, ia tidak menduga Emre melakukan itu padanya.
"Aku akan memulainya dari sekarang, aku mencintaimu Dara. Kalau untuk masalah hatimu aku akan menunggu." Emre berucap di dekat wajah Adara. Aroma napas pria itu menerpa wajahnya Adara, hangat dan menggairahkan.
_____________________________________________
Hana berkunjung ke rumah sakit, untuk membawa pulang putri Rion. Wanita itu di temani suster yang di pekerjakan Calista mengurus bayi itu.
Bayi itu berada nyaman dalam box kecil yang didesain khusus untuknya. Suster mengeluarkan bayi itu dan memberikannya pada Hana.
Bayi malang ...
Hana menyentuhkan tangannya pada pipi kecil itu, tanpa mengatakan apa-apa. Melihat Hana enggan menggendong suster kembali memasukkan bayi itu ke dalam Box.
"Ayo kita pulang," ucap Hana, dan memimpin langkah meninggalkan rumah sakit setelah selesai melakukan prosedur yang berlaku untuk bisa membawa bayi kecil itu pulang.
Hana menghentikan langkahnya tepat di depan lift, ia teringat akan Adara yang masuk kerumah sakit karena Calista. Hana tampak memikirkan sesuatu lalu memutar tubuhnya mencari tahu ke bagian informasi mengenai wanita itu.
Hana berterima kasih dan berjalan kembali ke arah lift dan menekan tujuan langkahnya.
Adara tidak sepenuhnya tidur, ia mendengar pintu kamarnya terbuka. Adara pikir itu Emre dan seketika perempuan itu menutup matanya erat.
"Bagaimana kabarmu?" Suara itu mengangetkan Adara, ia spontan membuka matanya dan bersitatap dengan Hana.
Adara tidak menjawab, ia melihat suster dengan Box dalam pelukannya berdiri tak jauh dari Hana.
"Pasti dia mirip Rion." ucap Adara, membuat kening Hana mengerut.
"Yah ..., aku rasa begitu." Hana, menghela napas panjang. "mengenai ibumu, aku rasa Calista sudah mengakuinya."
Adara kembali mengingat ucapan Calista mengenai ibunya, wanita jahat berparas cantik itu menjadikan nyawa ibunya mainan. Adara tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya saat Ibunya merengan nyawa tanpa belas kasihan.
"Kau bisa menuntutnya, pembunuhan berencana. Tapi aku mohon jangan libatkan nama putraku dalam masalah ini." pinta Hana dengan egois.
Adara mengerti, ia juga merasa bersalah pada Hana tapi bagaimana ia mengaku kalau Rion hilang karena keegoisannya saat itu.
"Lekas sembuh, kau sangat beruntung Rion menyiapkan segalanya untukmu." ucap Hana menunjukkan sikap iri pada Adara. Hana hendak beranjak dari ruangan itu dan tertahan oleh suara Adara.
"Ibu mertua," Panggilnya dengan nada lembut. Hana berbalik. "Aku ingin hidup bersamamu. Ijinkan aku menggantikam posisi Rion."
"Apa maksudmu? Apa kau pikir, kau cukup menggantikan posisi putraku?" Hana berdecak -decak menatap Adara yang tampak pucat.
"Akibat keegoisan kalian aku kehilangan putraku." ucap Hana kemudian mendengkus. Sekira tak ada yang ingin di bicarakan lagi, Hana keluar dari ruangan itu dan diikuti susternya.
Dua tahun kemudian ....
Sesaat setelah mobil mewah itu berhenti di halaman rumah mewah itu. Seorang pria berusia sekitar tiga puluhan keluar dari dalam mobil lalu berlari kecil membukakan pintu untuk majikannya.
Pria itu mengulurkan tangan membantu wanita itu keluar dari mobil.
"Terima kasih," ucapnya begitu berhasil keluar dari mobil kemudian membawa langkah menuju pintu masuk.
"Mommy ...." panggil seorang gadis kecil berlari dari pintu ke arahnya dengan sigap wanita itu berjongkok dan membuka kedua tangannya agar gadis kecil itu menghambur pada pelukannya.
"My quen ...," sambutnya, keduanya berpelukan erat seolah mereka telah terpisah lama. Wanita itu berdiri membawa gadis kecil itu dalam gendongannya.
"Bagaimana harimu sayang?" tanya wanita itu sembari melangkah masuk.
"Menyenangkan," satu kecupan manis di pipi wanita itu dari gadis kecil berambut kriting dengan netra coklat jernih.
"Oh terima kasih, My quen." Wanita itu patut berterima kasih atas ciuman yang ia dapatkan.
Langkah mereka kini sudah berada di kamar gadis kecil itu, ia diturunkan di atas tempat tidur.
"Baiklah, Mommy akan bertukar pakaian dan kita akan bermain. Oke?"
"Oke, Mom." Sorak gadis kecil itu bahagia. Tapi saat wanita itu hendak keluar kamar. Langkahnya tertahan. "Mom, apa itu anak sial?" wanita itu melebarkan mata mendengar pertanyaan gadis kecil yang bahkan bicarapun belum terlalu jelas.
"Kau mendengar itu dari siapa?"
"Nenek." rautnya sendu mengatakan itu lalu kemudian binar matanya indah seolah apa yang ia katakan bukanlah masalah. "Maafkan aku Mom, Illy tidak sengaja membuat marah nenek." katanya menyesal.
"Oke, Mommy akan bicara pada nenek jadi jangan khawatir."
"Bawah aku minta maaf padanya." Illy memohon lewat tatapannya yang indah.
"Tentu, tapi untuk sekarang Illy istirahat dulu." Illy mengangguk. Wanita itu menutup pintu kamar Illy dan berjalan ke kamar Hana.
Sebuah ketukan ia lakukan sebagai tanda kalau dirinya berkunjung. Seperti biasa tidak ada jawaban. Wanita itu masuk dan mendapati Hana duduk di kursi roda menatap pontret putranya yang terpajang di dinding kamar itu.
"Pergilah! Jangan mengangguku." katanya tanpa melihat siapa yang datang.
"Ibu, jangan terlalu keras pada Illy, dia masih kecil untuk mendengar kata-kata kasar Ibu."
"Apa aku salah? Anak itu memang pembawa sial di keluarga ini."
"Ibu ...,"
"Cukup Adara, jangan membelanya. Kau juga sama dengannya. Pembawa sial, jangan berharap aku akan memujimu setelah apa yang kau raih untuk membesarkan Emirat. Itu tidak berarti bagiku, semua pencapaianmu akan sia-sia saja karena setelah saya berakhir dari dunia ini. Nama Emirat akan lenyap.
"Ada Illy Ibu,"
"Kau pikir dia bisa meneruskan garis keturunan ini. Seperti Ayahmu setelah tiada apa kau membawa nama ayahmu Adara? Keturunan keluarga Ayahmu berakhir pada dirinya sendiri."
"Baiklah aku mengerti tapi setidaknya jangan mengatakan kata-kata itu padanya. Dia terlalu dini untuk mendengarnya." kata Adara, keluar dari sana tapi sebelumnya ia menatap photo Rion tersenyum kearahnya.
Bersambung ...
Terima kasih banyak untuk like, vote dan juga komentarnya. Kalian yang terbaik dan terus dukung Obsessive Loves ya, teman ...
Regards