OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Ah ... kau sangat pelit



"Hun, kenapa kau menyimpan benda aneh milik temanmu itu?" Rion penasaran, ia melihat Adara merapikan kembali testpack yang membuatnya salah paham. Seperti barang mahal Adara meletakkan benda itu di atas nakas bersama ponselnya.


"Bukan urusan kamu," ketus Aralia.


"Kau masih marah? Astaga!" Rion mencubit hidung mancung Adara gemes.


"Sakit bodoh," Adara menepis tangan Rion.


"Makin hari tidak sopan, panggil sayang!" perintah Rion.


"Dalam mimpimu," sahut Adara, memalingkan wajahnya.


"Panggil sayang ... kalau tidak aku cium," Rion mengancam.


"Jangan coba-coba kalau tidak ingin digigit,"


"Gigit hun, gigit hun, gigit hun." menyodorkan diri dengan harga murah.


"Rion!" Adara mendorong dada pria itu, menjauh.


Rion terkekeh, perlahan menatap Adara lembut. Tangannya terulur merapikan rambut Adara yang masih lembab.


"Kau tahu, aku sangat beruntung bertemu denganmu kembali. Terima kasih karena sudah hadir dalam mimpiku setiap aku terpejam. Terima kasih juga kau menjemputku di tengah laut, kalau tidak aku sudah pasti membusuk di sana." Rion mendesiskan kata-katanya dengan tatapan teduh dan nada serius.


"Aku tidak mencintaimu Rion, aku membencimu,"


"Mmm, terserah yang pasti kau milikku." Adara menahan senyum. Tangan pria itu masih membelai rambutnya.


"Honey, aku membeli bunga untukmu mereka sangat cantik sama seperti kamu," Rion menghela napas berat. Ia turun dari ranjang dan mengambil bunga yang tergeletak di lantai karena pertengkaran mereka. Rion memberikan buket bunga itu pada Adara.


"Aku suka ... tapi aku masih kesal sama kamu." ucap Adara datar, lalu menghirup aroma kelopak bunga itu dan menikmatinya.


"Sini aku peluk, supaya rasa kesalmu hilang." Rion mendekat dan tanpa persetujuan Adara ia sudah membawa Adara kedalam pelukannya.


"Rion,"


"Mmm,"


"Aku mau ke rumah sakit menemui Emre," Rion seketika melepas pelukannya dan menangkup dagu Adara.


"Untuk apa kau menemuinya?" tanya Rion dengan tatapan dingin.


"Aku mau bicara dengannya mengenai Jie,"


"Tidak boleh!"


"Rion, Jie hamil anaknya Emre," mendengar ucapan itu Rion berubah sikap. Penasaran layaknya ibu-ibu tukang gosip.


"Sungguh? Mereka pacaran?" Tanya Rion, menguncangkan bahu Adara bersemangat.


"Ada apa denganmu? Kau tampak senang?"


Tentu saja pria sialan itu menyukaimu! Jadi aku tidak perlu khawatir lagi dengannya.


"Cuma penasaran," Rion tersenyum lalu seketika mendaratkan kecupan singkat di bibir Adara.


"Cinta semalam, Ion," gumam Adara.


"Bukan saling suka?"


"Tidak,"


"Jadi?"


"Jie merahasiakan kehamilannya," guman Adara sedih.


Rion menarik napas panjang, "kenapa kau yang jadi sedih?"


"Jie akan pulang ke Toronto," sahut Adara, merendahkan kepalanya.


"Kenapa Jie merahasiakannya?" Rion penasaran.


"Karena Emre mencintaiku,"


"Itu bukan alasan!" Hardik Rion.


"Kenapa kau yang marah?"


"Aku tidak marah," Rion memalingkan wajahya yang memerah karena marah.


"Kau marah?" Tanya Adara


"Tidak!"


"Kau cemburu?"


"Astaga kau sangat ingin aku cemburu?"


Adara menggelitik pinggang Rion, membuat pria itu terkekeh geli, lalu mendorong Adara tiduran. Kedekatan mereka sangat intim. Rion membelai wajah Adara dengan jemarinya yang panjang, menikmati aroma tubuh Adara yang semerbak bunga bakung. Rion menatap mata teduh Adara, seolah meminta ijin untuk memadu kasih dengan wanitanya itu.


Adara memejamkan mata memberi ijin, Rion mulai bergerak mencium dengan gerakan lembut. Bibir keduanya saling memijit, bergerak naik turun dengan gerakan erotis. Degub jantung Rion semakin memacu, ciumannya berubah agresif me*umat bibir Adara dengan liar.


"Uhhmm ...,"Adara mendesah saat Rion menelusuri bibir seksi itu dengan giginya, lembut. Memberi gigitan nakal pada bibir bawah Adara. Desahan nakal terdengar seksi ditelinga Rion saat dirinya membenamkan kepala di lekukan leher Adara, mengisap dan menggigit kecil lalu menjilat di area telinga dengan lidahnya yang basah. Tubuh Adara bergelinjang kenikmatan.


Rion menggeram, melepas ciumannya menatap Adara dengan penuh gairah. Ia meminta lebih dari sekedar cumbu.


"Hun ...," Rion meniupkan napasnya yang panas pada wajah Adara. "Aku ... tidak kuat lagi menunggu sampai kita menikah," gumam Rion, kemesraan intim yang mereka lakukan ingin berakhir dalam kenikmatan yang tiada tara. Rion ingin mendengar desahan wanitanya itu lebih keras menyebut namanya di setiap hentakan saat tubuh mereka menyatu.


"Ti-tidak mau," gumam Adara, ia mengerti maksud Rion yang ingin membuainya kedalam kenikmatan duniawi.


Rion menggigit bibirnya, seraya menahan hasratnya yang bergejolak dalam dirinya.


"Aku janji sekali ini saja, " Rion memohon penuh harap. Adara menolak.


"Ah ... kau pelit," gumam Rion menghela napasnya putus asa, ia beralih dari tubuh Adara dan mengecup singkat bibir yang sudah merekah itu.


"Bangunlah, aku sangat lapar." katanya lagi sembari merapikan diri pada sisa kaca yang tertinggal di bingkainya.


"Kau harus mengganti cerminnya," ujar Adara, memeluk Rion dari belakang.


"Mmm," jawab Rion singkat, memejamkan mata menikmati pelukan erat Adara pada pinggangnya.


"Ion, kau mengizinkan aku ketemu Emre, kan?" tanya Adara memastikan, ia tidak ingin pria itu salah paham lagi.


"Tentu, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya." Rion berbalik, menepuk pucuk kepala Adara lembut. "Aku akan mengantarmu setelah makan, berpakaianlah atau kau ingin pergi dengan jubahmu ini?" Rion menarik ikatan jubah Adara.


"Menemui Emre? Boleh saja." Goda Adara dengan cepat berlari ke arah pintu kamar mandi.


"Dara!" Rion menggeram, lalu tersenyum saat melihat Adara mengayun-ayunkan ujung jubahnya, sengaja menggoda.


Dia menggodaku tapi diajak bercinta tidak mau. Aku ingin menelanya hidup-hidup agar tetap satu denganku.


"Rion ....!!!" Adara berteriak dari kamar mandi, dan dengan cepat Rion berlari keluar dari kamar itu. Menuruni anak tangga ke lantai bawah.


"Ini tidak akan hilang dalam waktu singkat" gerutu Adara di depan cermin melihat tiga tanda merah di lehernya.


______________________________________________


"Kenapa kau mengenakan syal ini? Tidak pantas. Lagipula ini musim panas, orang -orang akan memandangmu aneh." Rion menahan senyumnya melihat Adara cemberut sepanjang perjalanan dan bahkan saat mereka makan siang.


"Lepasin!" Dengan sengaja Rion menarik Syal yang melilit di leher Adara.


"Ion! Aku lebih baik di tatap aneh daripada ditatap murahan, rendahan karena ulahmu pada leherku," bentak Adara.


Rion terbahak puas, " itu sebuah tanda kalau kau sudah ada yang punya," Rion berhasil melepaskan syal dan melempar ke jok belakang mobil.


"Rion!" Teriak Adara kesal, tiga tanda gigitan di lehernya sangat jelas.


"Aku akan menemanimu ke dalam, dengan begitu kau tidak perlu malu."


"Tidak waras,"


"Tapi kau tetap suka sama pria gila ini, kan?" goda Rion.


Hening ...


Adara mengabaikan Rion yang terkekeh-kekeh.


"Baiklah, baiklah, kau bisa mengenakannya sampai depan ruang Emre." Rion memutar tubuhnya mengambil syal rajut dari jok belakang dan mengenakannya pada leher Adara. "Saat di depan pintu kau bisa melepasnya, "


"Aku tahu itulah tujuanmu melakukan ini," Rion tergelak lagi, tebakan Adara memang benar adanya. Rion ingin memprovokasi Emre lewat tanda di leher Adara "kau sangat picik," tambah Adara.


"Baiklah Honey, aku ikut menemani at—"


"Aku sendiri aja, Ion." Sahut Adara menyela ucapan pria itu. Ia ingin bebas bicara dengan Emre tanpa ada yang memberi batasan karena cemburu.


"Oke," Rion menempelkan jarinya pada bibirnya. Minta di cium, Adara pura-pura bodoh. Membuka pintu mobil dan hendak keluar tapi segera di tahan oleh tangan Rion. "Ayo kita pulang, kau tidak per—"


"Muah," Itu yang kau inginkan bukan? Pakai ngancam pulang. Sejak kapan Rion jadi maniak? Ihh ...


Rion tersenyum puas lalu membalas mengecup panjang di bibir Adara sampai-sampai wajah Adara memerah karena kehabisan oksigen.


Adara keluar dan ingin menutup pintu mobil.


"Honey, jaga jarak minimal tiga meter darinya," Adara berdecak sebal, "Demi kebaikanmu, Hun. Corona!" Rion tergelak begitu Adara membanting pintu mobil kesal.


Bagaimana cara membuat merah di leher ini? Dia sangat ahli aku bahkan tidak merasakan apapun. Saat aku mengetahui caranya, aku akan tandai semua tubuhmu itu.


Bersambung ....