OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Antara Rion dan Mert



Mert di larikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Pria itu belum juga sadar, peluru sudah di keluarkan dari punggung Mert.


Adara marah dan menggertak Mete karena kejadian itu. Mete mengatakan rencana untuk menculik Mert batal karena pria itu mencoba melarikan diri dan terkena tembakan.


"Kalau begitu pindahkan dia ke rumah sakit FM. Anatha akan mengurus segala sesuatunya." perintah Adara, mengakhiri sambungan telponnya.


Kenapa Mert melarikan diri dari sana? Apa yang kau coba tutupi, Tuan Kenan?


Sesuai perintah Adara kini Mert di pindahkan ke rumah sakit MF, menggunakan pesawat pribadi yang disewa Adara.


Lantai atas menjadi kamar VVIP di rumah sakit itu. Adara sengaja meminta ruangan khusus langsung pada pimpinan Rumah sakit dan beruntungnya tidak butuh waktu untuk membuat kesepakatan, mengingat Emirat salah satu pendonasi tertinggi di rumah sakit tempat Emre bekerja.


Kini pria yang menyelamatkan Illy terbaring lemah tak sadarkan diri dengan bantuan alat penunjang kehidupan melekat pada tubuh Mert. Posisi tubuhnya sedikit miring untuk menghindari luka tembakan yang sudah dibebat.


Anatha mengikuti langkah Adara dari belakang, masuk ke dalam ruang dimana Mert dirawat. Langkah kaki Adara terhenti satu meter dari pintu masuk, entah kenapa hati dan langkah wanita itu menolak untuk mendekat.


"Bagaimana keadaanya?" tanya Adara pada dokter yang bertugas. Dokter itu menjelaskan keadaan Mert dan alasan kenapa pria itu masih belum sadarkan diri.


"Ini sudah delapan belas jam, kau yakin pria itu tidak mati?" tanya Adara dengan tatapan menyelidik pada dokter cantik yang khusus menangani Mert. Dokter ternama di rumah sakit itu.


Mendengar atasannya berujar begitu, Anatha meringis. Dokter itu tersenyum mendengar pedasnya ucapan Adara.


"Benda itu masih berfungsi Ibu Adara." ucap dokter itu seraya mengarahkan tatapannya pada monitor yang tersambung pada tubuh Mert dan berbunyi bib,bib terus menerus di ruangan itu. "Aku pastikan dia masih hidup sekalipun mesin itu tidak berjalan dengan benar." Tambahnya menyakinkan Adara.


"Bagunkan dia secepatnya!" Suara dingin itu kembali terdengar dengan nada memerintah. "Lakukan uji darah, besok aku mau hasilnya." Adara memberi isyarat lewat tangannya pada Anatha yang berdiri di sampingnya. Supaya menyerahkan rekam medis Rion dan juga sikat gigi Hana untuk dilakukan uji DNA dengan begitu ia akan membuktikan gagasan Jie mengenai kemiripan manusia di dunia ini tanpa adanya hubungan darah.


"Baik Ibu Adara." kata dokter itu, lalu melihat punggung kedua wanita itu keluar dari ruangan itu.


Lift yang membawa mereka terbuka, Adara berhenti dan berpikir akan menemui Emre, lagipula Adara belum mengatakan sesuatu tentang Mert pada Emre.


"Pulanglah, Anatha."


"Bagaimana dengan, Ibu?"


"Aku akan mengunjungi teman disini. Suruh Ahmed kembali kesini setelah mengantarmu pulang."


"Baik, Bu." Anatha membungkukkan badanya sedikit sebagai salam perpisahan.


Adara berjalan menuju ruangan Emre, sesampainya di depan pintu ia meraih handle sembari mengetuk.


"Masuk." Emre tercengang melihat kehadiran wanita angkuh dihadapannya ini.


"Dara, kau kesini? Aku sangat senang dan bersemangat melihatmu. Duduklah!" Emre bangun dari kursi kerjanya menuju sofa yang ada di ruang kerja Emre.


Setelah Adara duduk, ia memperhatikan wajah Emre, pria itu menautkan kedua alisnya heran.


"Aku tahu wajahku sangat tampan Adara. Tapi kau jangan terlalu menganguminya." Emre menyugar rambutnya kebelakang sembari tersenyum jenaka.


"Apa di dunia ini ada yang mirip denganmu?" Emre mengerutkan dahit. Pertanyaan macam apa itu?


"Ada," jawab Emre singkat.


"Siapa? Artis? pengusaha? Orang penting atau gelandangan?"


"Ayahku."


"Aku benci kamu."


"Kalau kamu mencintaiku kita sudah menikah.


"Emre ...."


"Baiklah, kenapa kau bertanya hal konyol?"


"Entahlah," Adara mencibir, " Emre, aku menemukan seseorang yang mirip dengan Rion. Saat ini dia di rumah sakit ini."


Air muka Emre berubah seketika. Jelas terlihat ketidak sukaanya pada pria yang bernama Rion. Ada atau tidaknya Rion tetap saja ia dikalahkan mantan suaminya itu.


"Kau selalu memikirkannya?" Emre, memijit pangkal hidungnya. Nada suaranya terdengar serius.


"Dia ada dirumah sakit ini. Di ruangan VVIP, kalau tidak percaya aku bisa membawamu kesana." Emre menaikkan sebelas alisnya. Ia tidak percaya dengan ucapan Adara.


"Kau ingat saat aku menceritakan Illy tenggelam? Pria itulah yang menyelamatkan Illy. Dia sangat mirip Rion ..." Adara kemudian menceritakan dari awal hingga penculikan yang ia lakukan pada Mert.


Mendengar itu Emre menatap serius Adara. "Bagaimana kalau dia Rion?"


Adara tersenyum, Emre sediki kaget dibuatnya. Sudah lama Adara tidak menampilkan senyum meski setipis tadi.


"Menyerahkan semua milik Rion dan ... aku ... akan ke London." Mata Emre terpejam mendengarnya. Adara bahkan tidak perduli dengan cinta yang ia miliki untuknya. Jika tidak berniat kembali pada Rion, seandainya ia menoleh kepada pria yang telah lama menanti hati Adara.


"K-kau tidak ingin kembali padanya?" Ragu-ragu Emre bertanya.


Perlahan Adara menggelengkan kepalanya."Terlalu banyak luka dalam hubungan kami. Ibuku, Calista, Ibu Rion dan juga Illy. Mereka semua korban dari keegoisan kami." Adara menarik napas berat, sudah saatnya wanita itu pulang. Ia melirik waktu pada ponselnya.


"Aku pulang, Emre." Pamit Adara, bangun dari duduknya dan melangkah ke arah pintu.


"Adara ...." panggil Emre menahan langkah kaki Adara.


Emre mendekat, tatapannya sangat misterius. Seketika Emre mencengkram kedua lengan Adara, sangat erat lalu melabuhkan ciuman dibibir Adara. Hanya menempel Emre menunggu reaksi Adara, rupanya wanita itu menutup mata. Merasa mengantongi sinyal Emre membelah kelopak bibir Adara dengan bibirnya. Memijat bibir tipis itu dengan bibirnya, dimulai dengan lembut dan perlahan hingga ciuman itu mulai agresif dan nyaris melakukan gerakan me**mat. Adara tersadar, membeliak lalu mendorong dada Emre menjauh.


"Keterlaluan kau, Emre." Adara melayangkan satu pukulan tepat di hidung Emre.


"Shiit!" Emre meringis kesakitan dan merasakan sesuatu yang hangat keluar dari hidungnya.


"Apa itu sakit?"


"Tidak." jawab Emre sembari mendongak menahan darah itu agar tidak terjatuh.


Adara tersenyum miring. "Tetaplah berteman denganku, ciuman tadi sebuah kesalahan. Jika kau mengulanginya lagi aku akan meledakkan kepalamu." ancam Adara, kemudian membuka pintu dan keluar dari ruangan itu.


Setidaknya aku sudah mencium bibir cinta pertamaku. Batin Emre, mendongak sembari berjalan ke arah meja kerjanya mencari tisu lalu menyumpal hidungnya dengan tisu.


"Astaga! Tangannya terbuat dari apa?" Emre tersenyum.


______________________________________________


Adara kembali ke kamar rawat Mert, ia membuka pintu pelan, kemudian melangkah mendekati pria yang terbaring lemah di sana. Adara menarik kursi dari kolong bangsal untuk ia duduk, ia menyusuri wajah Mert dengan tatapan sedih.


Wanita itu berharap pria yang ada di depannya ini adalah Rion. Pria yang membuatnya putus asa, pria yang sampai sekarang ia rindukan.


Adara menghela napas berat, Mert dan Rion jika mereka orang berbeda maka Adara akan kembali terpukul. Ia bahkan sudah membuat pria itu terluka karenanya, meskipun Mete sudah menjelaskan perihal luka tembak yang di dapat Mert bukan karena penculikan itu, tapi tetap saja Adara merasa bersalah.


Adara memberanikan diri untuk menyentuh tangan Mert yang bebas dari selang infus. Ia mengambil tangan itu lalu mengelus lembut punggung tangan Mert.


Mert yang tengah terlelap di dunia gelap dengan tenang seolah terusik dengan rasa sentuhan hangat yang dikirimkan Adara. Ia terbangun dan berjalan pada kehangatan yang memanggilnya.


"Honey," panggilnya dengan mata tertutup rapat. Suara itu bahkan tidak terdengar karena tercegat dalam kerongkongan kering Mert. Pria itu kembali mencoba memanggil tapi hanya bisa dalam hati. Mulutnya tertutup rapat lalu Mert menggerakkan jemarinya yang masih dalam genggaman Adara.


Adara terkesiap dan spontan melepaskan tangan itu, ia gugup dengan tindankan bodoh yang ia lakukan. Bagaimana kalau pria itu menganggapnya gila atau wanita mesum yang mengelus mesra tangan pria tidak mengenalnya.


Adara kemudian tersadar, saat melihat pria itu seolah berusaha membuka mata dan dengan bersamaan suara alarm alat penunjang kehidupan itu berbunyi cepat. Adara bangun dari duduknya dan menekan tombol panggil pada dokter dan berlari keluar meninggalkan ruangan itu.


Saat pintu ruangan itu terbuka, ia tidak sengaja bertabrakan dengan Emre.


"Emre ... dia bangun."gumam Adara, wajahnya tampak pucat. Beberapa perawat dan dokter jaga masuk melewati mereka. Emre mengangguk. "kau kesini untuk memastikan apa yang aku ceritakan, bukan?" tanya Adara, mengingat Emre bukan dokter yang menangani hal semacam itu.


"Seperti yang kau bilang kita teman, aku harus pastikan orang yang kau culik itu berbahaya atau tidak. Supaya aku bisa melindungimu." ucap Emre, berbasa basi. Terlalu sulit untuknya mengakui kalau dirinya sangat penasaran mengenai pria yang mirip dengan Rion. Pria itu sangat cemburu, Adara bahkan tidak perduli pada ciuman yang baru terjadi diantara mereka.


"K-kau bisa membuktikannya." Adara meninggalkan Emre mematung di depan pintu ruang rawat Mert sementara wanita itu menyeret langkahnya ke lobi dan bersiap pulang, Illy pasti sedang menunggunya atau sudah terlelap mengingat ini sudah larut malam.


Sementara Emre, memutuskan masuk untuk memastikan ucapan Adara dan benar saja pria yang terbaring disana membuatnya melebarkan mata.


"Rion ...." gumam Emre, memejamkan matanya, mulai saat ini ia tak lagi punya kesempatan untuk mendapatkan Adara, cinta pertamanya.


Bersambung ...


Terima kasih masih tetap di Obsessive loves. Terima kasih untuk Vote, like dan ulasannya. Maaf ya nggak balas komentar kalian. Harap mengerti tapi saya sangat antusias membacanya.


Emre dan Adara (foto gugel)