OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Kejutan untuk Adara



Sarapan pagi di kediaman Emre berjalan dengan hening, pria itu menatap Ibunya yang berada di ujung meja makan kiri sementara dirinya berada di ujung kanan mengantikan posisi ayahnya. Diantara mereka ada kakak perempuannya dan keponakannya yang masih berusia tujuh tahun.


Emre meletakkan peralatan makannya setelah menelan suapan terakhirnya lalu pria itu membersihkan mulutnya dengan tisu.


Emre menghembuskan napas panjang, menatap Ibu dan kakak perempuannya lalu tersenyum manis pada putri kecil yang duduk tepat di dekatnya.


"Aku akan menikah," katanya tiba-tiba memecah keheningan di meja makan itu. Ibu Emre tampak biasa berbeda dengan kakaknya Cihan.


"Sungguh? Itu bagus sudah seharusnya kau menikah, Benar kan, Ma?" Cihan menoleh pada Ibunya meminta pendapat. Wanita itu meletakkan peralatan makannya dan meneguk air minumnya lalu melihat ke arah Emre yang tepat di hadapannya.


"Dengan janda itu?" Tanya Ibu Emre tanpa ekspresi.


Emre tersenyum pahit, perceraian Ibunya dengan ayahnya mengubah hidup wanita itu menjadi sensitif. Ia ingin wanita dari kalangan atas menjadi menantunya untuk menunjukkan kalau dirinya berhasil membesarkan putra -putrinya tanpa pria yang memilih pergi karena kehidupan ekonomi yang payah.


"Aku ingin sekali menikahinya, tapi dia menolakku berulang kali," Emre menuang air minum ke gelasnya.


Wanita menarik sudut bibirnya, ia lega putranya tidak jatuh pada kembang yang sudah berulang kali di hinggapi lebah dan di ambil sarinya lalu di campakkan.


"Apa pekerjaanya?" Emre meletakkan gelasnya setelah menghabiskan isinya.


"Dia kerja di cafe,"


"Di cafe? Maksudmu dia bekerja sebagai pelayan?" Wanita itu menyipitkan matanya dalam, penuh selidik. Cihan kakak Emre cepat-cepat membersihkan mulut putrinya. Ia tahu keadaan akan buruk.


"Ucapkan salam perpisahan pada paman," bisik Cihan, pada putrinya, gadis tujuh tahun itu bangun dari bangkunya.


"Aku sayang, paman," gumamnya, mendaratkan ciuman di pipi Emre.


"Paman juga sayang, kamu." Emre mencubit hidung keponakannya itu gemes lalu menepuk pucuk kepalanya.


"Aku pergi, Nek." Dan seperti biasa wanita tua itu hanya mengangguk. Cihan menepuk pundak Emre pelan seolah mengatakan semoga beruntung karena Berdebat dengan ibunya hanya pekerjaan sia-sia.


"Tidak ada yang salah dengan pekerjaan itu," ujar Emre setelah kakak dan ponakannya keluar.


Ibu Emre berdecih, "kau memang payah, Emre. Putus asa karena wanita itu menolakmu dan berakhir pada pelayan cafe. Bagaimana bisa kau berkencan dengan perempuan yang bukan dari kalanganmu!" Gertak wanita usia empat puluh lima tahunan itu. Suaranya lantang sementara tatapannya menusuk pada putranya itu.


"Cukup Ma, kau sangat terobsesi pada kehidupanku. Cihan yang kau jodohkan dengan pria kaya kembali ke rumah ini karena tidak di hargai oleh keluarganya." Emre bangun dari duduknya berjalan meninggalkan Ibunya.


"Berikan aku alamat perempuan itu, Emre." Emre terus melangkah mengajuhkan teriakan ibunya. Emre tahu ibunya akan menemui Jie lalu menilai dari ujung kaki hingga ujung rambut. Jika tidak sesuai maka ia akan mengintimidasi.


______________________________________________


Ipek melihat Abizard menyembunyikan pistol di dalam laci nakas dari celah pintu kamar yang tidak sepenuhnya tertutup. Pria itu kemudian masuk ke kamar mandi, Ipek membuka pintu perlahan lalu berlari jinjit mengambil pistol itu dan membawanya ke kamarnya.


Ia mengatur napas setelah menyimpan benda itu dalam tasnya. Dimalam hari Ipek melihat Abizard mabuk dan memaki -maki Rion. Pria itu berteriak kalau Rion harus ia lenyapkan untuk mendapatkan Adara, tentu saja Ipek tidak akan rela jika kehilangan Mert tapi, salah satu dari mereka harus tiadakan.


Ipek menunggu Abizard selesai mandi, ia beralih ke dapur mini yang ada di Apartemen itu dan menyiapkan sereal berikut susu untuk sarapan mereka.


______________________________________________


"Morning, honey ...," sapa Rion begitu Adara mendaratkan bokongnya di jok penumpang, lalu bergerak mengecup bibir Rion.


"Pagi juga, Ion. Bagaimana dengan Illy?" Rion menghidupkan mesin mobilnya.


"Dia merindukan ciuman selamat pagimu, hari ini Illy sangat manja. Aku yang mengantarnya sekolah," Mobil itu keluar dari halaman rumah Adara.


"Aku juga merindukannya,"


"Oh iya, Hun,"


"Mmm,"


"Kau sangat cantik hari ini." Adara bersemu, bukan kali pertama Rion memuji kecantikannya tapi entah kenapa setiap kata-kata itu keluar dari mulut Rion rasanya sangat manis. Rion tersenyum, melirik Adara yang memalingkan wajahnya yang merona.


"So ... where are we going?"


"Suatu tempat," Rion mengambil tangan Adara lalu mengecupnya lembut.


"Jadi bukan kencan?"


Rion terkekeh melirik Adara, wanita nya itu sungguh menginginkan kencan rupanya. "baiklah kita kencan sesudahnya,"


Hampir saja Adara mengatakan isi pikirannya namun, pria itu seolah menebak dan berkata.


"Tapi bukan ke Mall," Tukasnya, Adara menghela napas putus asa. Itu tempat yang ingin ia tuju.


"Itu cuma rencana, sesampainya disana kau akan berjalan dari timur ke barat selatan barat daya dan kembali ke timur. Aku tidak ingin mematahkan kakiku mengikuti langkahmu yang bersemangat saat tiba di tempat itu."


"Please ...," Mohon Adara mengedip-ngedipkan bola matanya yang cerah.


"Tidak!"


"Lalu kita kencan dimana?" Adara melipat tangan di dada, Rion tampak berpikir.


"Akan aku pikirkan,"


"Ion ...," Adara masih berusaha merayu.


"Tidak akan, Hun. Tempat itu bukan untuk kencan tapi berbelanja."


"Sekalian,"


"Lain waktu," Adara mencebik, Rion tidak akan mengabulkan keinginanya sekalipun wanita itu merayu seperti anak kecil.


Rion mematikan mesin mobilnya, setelah tiba di area parkiran. Adara mengerutkan dahinya, menatap gedung tujuan mereka dari jendela mobilnya.


"Kesini?" Tanya Adara, pria itu mengangguk sembari mengulas senyum terbaiknya. "Gedung apa ini?"


"Ayo keluar, nanti kau akan tahu juga." Rion keluar begitu juga dengan Adara. Keduanya bergandengan tangan masuk ke dalam gedung dan menuju lift ke lantai lima, saat keluar dari lift Adara di kejutkan dengan apa yang ia lihat.


"Ion...." Adara menutup mulutnya, begitu melihat ruangan itu di penuhi pajangan gaun pengantin, jantungnya berdegub baginya ini adalah kejutan sangat mengejutkan.


"Kita akan menikah, Honey," Desis Rion, memeluk tubuh Adara erat. Adara mengangguk di dalam pelukan lelakinya itu.


Dua wanita dewasa lebih tua darinya menyambut dengan ramah.


"Selamat datang di Elif Desainer," Elif sendiri yang menyambut sebagai pemilik gedung, ia tahu Emirat adalah pengusaha ternama tapi wanita itu juga tercengan melihat Rion di sana.


"Tuan Mert?" Elif meragu menyapa, ia menyipitkan kedua matanya menatap Rion. Ia ingat pria di depannya ini pernah datang ke tempat itu.


"Rion Emirat," Rion menerima uluran tangan Elif. "Dan ini calon istri saya, Adara Emirat."katanya lagi, memperkenalkan Adara lengkap dengan nama belakangnya yang tanpa persentujuan Adara.


"Adara,"


"Elif," keduanya berjabat tangan, "silahkan duduk," Elif mengarahkan tamunya itu duduk di sofa.


"Kau tidak penasaran denganku?" Tanya Rion pada Elif, wanita itu tersenyum sementara Dahi Adara mengerut.


"A-aku," entah kenapa Elif susah berujar, ia tidak tahu memulai dari mana. Saat Rion menelpon sehari sebelum ini pria itu tidak membahas hal itu. Itulah kenapa Elif terkejut saat menyambut pengusaha sukses itu. "Anda mirip dengan tuan Mert. Tunangan pria itu customer saya beberapa bulan lalu."


"Iya benar, itu saya Nona Elif." Elif terheran-heran, berbeda dengan Adara, ia berdecak melirik Rion yang membawanya ke tempat itu. Tempat dimana Rion dengan Ipek memesan gaun. Ia kecewa. "Dan ini wanita yang saya minta anda gambar," Adara menelan salivanya berat, ia tidak paham apa maksud Rion.


Elif kembali dikejutkan, ia melihat Adara yang menampilkan senyum canggung.


"Wanita dalam mimpi Anda?"


Rion mengangguk." Ya, ceritanya panjang, intinya Mert itu adalah saya. Saya hilang ingatan karena suatu kejadian, dan ini calon istri saya yang sesungguhnya. Saya datang kesini untuk berterima kasih dan saya rasa gaun buatan tangan Anda akan terlihat cantik di kenakan pengantinku nanti."


"Terima kasih pujiannya, tuan Rion. Saya senang Anda memakai jasa saya." ucap Elif tersanjug atas pujian yang ia terima dari pria tampan di depannya.


" Mari saya bantu melihat gaun yang sudah jadi atau Nona memiliki konsep sendiri?" Elif berujar dengan ramah, ia berdiri meraih tangan Adara membantu wanita itu berdiri.


Adara terkekeh, ia melihat Rion seolah meminta ijin pria itu tersenyum mengangguk.


"Gaun untuk pernikahan sedernaha," ujar Adara, saat keduanya berjalan melihat-lihat beberapa gaun yang sudah jadi.


"Nona ada konsepnya?"


"Tidak, aku memilih yang sudah jadi aja." Elif mengeluarkan beberapa gaun dari lemari kaca raksasa dimana jejeran gaun pengantin terpajang di dalamnya.


Elif menunjukkan beberapa gaun, wanita itu mengangguk setuju.


"Baiklah, mari saya bantu ke ruang ganti," Elif membawakan lima gaun untuk di coba.


Adara mencobanya satu persatu, dan berakhir pada gaun ke tiga. "Saya suka yang ini," Adara memilih dari lima gaun yang sudah dicoba.


"Waoh, Selera anda sangat baik, saya akan bantu," ujar Elif, Adara kembali mengenakan gaun pilihannya. Setelah rapi ia keluar dari ruang ganti dan menunjukknya pada Rion.


Bersambung ....