
"Apa?"
Rion berang menendang kursi di depannya setelah menerima telpon dari pengawal Adara. Pesawat yang ia tumpangi baru saja take off. Demi apapun ia menyesal meninggalkan Adara dan bersumpah serapah karena pengawal yang ia kirim terlambat mendatangi Adara.
Napas pria itu terputus-putus, memberi perintah pada Anatha supaya berbicara pada pilot untuk melakukan Return to Base.
Tatapan Rion tampak suram dengan rahang mengetat, bayangan Adara melekat di pikirannya. Ia tidak dapat membayangkan rasa sakit yang diderita Adara saat ini.
Wanita nya itu hanya terlihat kuat di luar, Adara seorang yang rapuh sekalipun hanya dengan tatapan tajamnya, Adara akan menunduk takut, lantas tembakan itu? Rion berteriak marah mengepal kedua tangannya erat tidak dapat membayangkan bagaimana menjeritnya Adara saat ini karena peluru menghacurkan lutut wanita itu.
Sementara di tempat lain, Ipek menangis sesugukan di pelukan Abizard. Tangan wanita itu masih gemetaran, berulang kali ia jelaskan pada kakaknya bahwa dia tidak sengaja.
"A-aku hanya mengancam kak, aku t-tidak tahu kenapa benda itu bekerja sendiri. Kakak tahu aku bahkan tidak pernah melihat benda itu sebelumnya. Aku mengambilnya dari laci kakak untuk menggertak Adara supaya meninggalkan Mert." Ipek mengadu sembari memeluk Abizard.
Abizard menoleh pada pistol yang Ipek letakkan di atas nakas. Benda itu telah menyakiti wanita yang ia sukai. Rencana Abizard berantakan untuk memiliki Adara karena kecerobohan adiknya ini.
"Lakukan sesuatu kak, jangan diam saja. Mert akan membunuhku."
Abizard mengeratkan kedua tangannya di lengan Ipek, saat ini keselamatan Ipek yang terpenting.
"Kemasi pakaianmu dan aku akan mengantarmu ke bandara. Aku tunggu di parkiran, jangan lama aku akan pesan tiket." Ipek mengangguk lalu berlari ke kamarnya sementara Abizard, pria itu mengambil pistol dan menyelipkan di pinggang kemudian turun ke parkiran.
Setelah Rion keluar bandara, mobil sedan keluaran negara ratu elisabet melesat membawa pemiliknya ke rumah sakit dimana Adara di rawat.
"Temukan secepatnya!" Perintah Rion, ia memerintahkan pengawal mencari keberadaan Abizard dan Ipek. Rion mematikan ponselnya, tatapan pria itu semakin dingin begitu mengetahui Adara belum sadarkan diri.
Rion bersumpah akan menghabisi Ipek dengan tangannya sendiri maka itu ia menghubungi seseorang untuk mengambil rekaman Cctv. Benda itu tidak boleh jatuh ke tangan polisi sebelum ia melenyapkan Ipek. Hukuman Ipek ada ditangannya.
______________________________________________
Rekam medis Adara menerangkan bahwa lutut wanita itu rusak karena tembakan peluru cepat dari jarak dekat.
Rion menekan dadanya yang terasa sesak membawa langkahnya keluar dari ruangan dokter yang menjelaskan keadaan Adara.
Adara mengalami pendarahan hebat, pertolongan pertama terlambat ia terima hingga tubuh wanita itu memucat seperti mayat hidup dan pahitnya Rion harus menerima kenyataan bahwa kaki Adara akan diaputasi.
Rion berpegangan pada dinding, kedua kakinya tak kuat menahan tubuhnya yang gemetar hebat. Ia meninju beberapa kali dinding hingga tangannya terluka.
Emre melihat dari ujung koridor, ia berlari penuh amarah.
"Keparat! Sudah aku peringatkan tinggalkan Adara. Kau hanya pembawa masalah baginya." Emre mencengkram leher kemeja Rion. Meninju pria itu berulang kali. Rion bergeming, ia tidak peduli ucapan Emre menurutnya benar.
"Kau menguasai dirinya, hingga wanita itu menyerahkan hidupnya untukmu. Tapi, kau tidak bisa melindunginya. Kau pantas mati Rion!" gertak Emre. Ia mengangkat tangannya hendak melayankannya kembali. Sudut bibir Rion dan pelipis pria itu berdarah.
"Bunuh aku Emre, aku tidak berniat hidup lagi. Kau benar, aku pembawa masalah bagi Adara. Aku menyulitkan hidupnya. Bunuh aku Emre."
"Sialan!" Emre menendang perut Rion hingga pria itu terlempar ke belakang. Rion meringis lalu tawa kesedihan ia perdengarkan.
"Dasar sialan!" Desis Emre, ia menjadi sorotan di tempat itu. Emre meninggalkan Rion terduduk lemah di lantai.
Ponsel Rion berdering, tangannya gemetaran mengeluarkan dari saku celananya.
"Kau sudah menemukannya?"
Jawaban dari lawan bicaranya tidak menyenangkan hati Rion. Pria itu mengumpat dan menendang udara setelah berhasil bangun dari duduknya.
"Lalu kenapa kau menelpon, brengsek!" Gertak Rion mengabaikan tatapan beberapa orang padanya di tempat umum itu.
"Temukan dan bawah padaku!" ucapnya penuh penekanan di setiap katanya. Rion kembali melihat keadaan Adara yang ada di ruang ICU. Rion hanya bisa melihat dari luar ruangan. Wanita itu masih belum sadarkan diri. Rion menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit hatinya melihat Adara terbaring dalam ruangan itu.
Ponselnya berdering, ia buru-buru mengeluarkan benda itu dari saku celana. Hana, menelponnya.
"Jangan kemari, tetaplah di rumah dan tolong perhatikan Illy," ucap Rion, bahkan Hana belum mengucapkan sepatah katapun.
"Baiklah, semoga dia cepat pulih." Rion mengangguk seolah lawan bicaranya ada di hadapanyan air matanya menitik, ia benar-benar rapuh dan hancur.
Delapan jam berlalu, Rion masih setia duduk di ruang tunggu menunggu Adara sadarkan diri. Abizard dan Ipek juga belum ditemukan. Rion semakin gelisah, dokter mengatakan kalau kaki Adara harus segera diaputasi.
"Tidak ada cara lain, dokter?" Rion merendahkan kepalanya lemah, saat berhadapan dengan dokternya Adara. Pria bertubuh tinggi melebihi tinggi Rion menggeleng dengan raut menyesal.
"Kita akan memotong kakinya yang sudah terkena racun peluru sebelum menyalurkan bakteri pada darahnya."
Rion mengusap wajahnya kasar, beberapa kali pria itu menghela napas panjang. Mete menghampiri Rion dan memberikan jerutu yang ia pesan.
Rion menerimanya dan mengamati benda itu, "Saya keluar sebentar, hubungi saya kalau terjadi sesuatu,"
Rion berlalu dari tempat itu, ia ingin menenangkan pikirannya dengan jerutu nya. Tapi sebelum langkahnya tiba di tujuan. Ponselnya berdering, Rion mengangkatnya dan mendengarkan.
"Baiklah, bawah dia ke gudang," katanya dengan datar lalu mematikan telponnya.
______________________________________________
Gudang Emirat.
Abizard tertangkap di rumah sakit MF tempat Adara di rawat. Abizard ingin melihat keadaan wanita itu, namun langkah kaki Abizard terseret sebelum rencana pria itu terwujud.
Dalam ruangan tiga kali tiga itu, Abizard di sekap dengan kedua tangan di ikat kebelakang. Kaki pria itu juga turut di belenggu sementara mulut Abizard di sumpal pakai kain.
Penerangan ruangan itu remang hingga menjadikan suasana seperti mencekam. Rion tiba di tempat itu dan melangkah lebar memasuki ruang sempit.
Pengawal yang ditugaskan Rion memburu Abizard meletakkan kursi untuk Rion. Pria itu duduk, tanpa mengalihkan tatapannya dari Abizard. Tajam, jahat dan mematikan bagi mereka kaum yang lemah.
Rion memberi isyarat lewat gelengan kepalanya supaya mulut Abizard di buka dari bungkamanya.
"Katakan dimana adikmu!" Di tangan Rion terdapat kayu seukuran genggaman tangannya. Abizard menantang Rion lewat tatapannya. Pria itu tidak takut walau sedikitpun dengan Rion. Abizard bahkan berpikir kalau Rion hanya akan menggertak, ia mengenal Rion selama dua tahun. Rion sosok yang baik.
"Tidak akan!" Abizard meludah, air muncratan ludahnya mengenai kemeja Rion. "Kau ingin membunuhku? Lakukan! Aku yakin kau tidak akan pernah bisa membunuh. Nyalimu tidak sebesar itu, Mert."
Rion menarik sudut bibirnya, ia diremehkan.
Rion berdiri lalu menendang Abizard hingga terjungkal ke belakang.
"Berdirikan dia."
Dua bodyguard segera membantu Abizard berdiri. Meski kesakitan pria itu tetap menunjukkan wajah angkuhnya.
"Kau menyukai Adara, bukan?" tanya Rion, memperhatikan kepalan tangannya yang lecet . "Dokter bilang, kakinya akan diaputasi." Abizard melebarkan matanya mendengar ucapan Rion. Pria itu tidak menyangka akan separah itu.
"Besok saat dia terbangun mungkin ia akan histeris mengetahui kakinya terpotong dan aku tidak bisa merasakan bagaimana menderitanya dirinya. Dia sempurna tapi karena ulah ja*lang itu ia akan merasa dirinya beban untuk orang lain. Maka karena itu, aku ingin kau merasakan hal yang sama Izard. Aku ingin kau menderita melihat adikmu hidup tanpa kakinya. Jadi katakan dimana kau sembunyikan adikmu?!"
"Saya turut prihatin untuk Adara, tapi kau tidak akan mendapatkan Ipek."
Dalam hitungan detik Rion sudah melayangkan tinju sebanyak tiga kali di wajah Abizard tak lekas puas Rion memukulnya kembali menggunakan kayu yang ia ambil kembali dari lantai.
Abizard meringis kesakitan. "Aku beri satu kesempatan lagi, katakan dimana adikmu?"
"Sampai matipun aku tidak akan mengatakan keberadaanya." ucap Abizard dengan kekehan mengejek. Darah mengucur dari kepala Abizard.
Ponsel Rion berdering, pria itu mengeluarkan benda itu dari kantongnya. Dokter Adara menelponya. Rion menghembuskan napas panjang.
"Saya setuju, lakukan apapun yang terbaik untuknya." ucapnya, setelah mendengar dokter itu meminta persetujuan Rion sebagai wali Adara.
"Tanda tangan Anda dibutuhkan,"
"Tanda tangan bisa di belakang, saya sedang ada urusan di luar." Rion mematikan ponselnya.
"Kesempatanmu habis Abizard, kau akan mati ditanganku. Malam ini Adara akan diaputasi. Sekali lagi katakan dimana Ipek?" Rion mengeluarkan senjata merek Desert Easgle dari pinggangnya senjata yang memiliki daya tembak luar biasa lalu mengarahkannya pada Abizard.
"Katakan! Kalau tidak kau akan mati." Ancam Abizard.
"Selesaikan secepatnya Mert, aku akan melindungi adikku. Dia tidak menembak Adara, adik kecilku tidak berniat melakukan itu."
"Nyatanya Adara tertembak olehnya. Ja"lang itu menyakiti tunanganku."
"Aku bersedia mati untuknya,"
Rion terbahak, ia mengamati benda yang ada di tangannya. Malam ini ia akan mengubah hidupnya sepenuhnya. Menjadi sosok begis. Ia bersumpah akan menghabisi Abizard.
"Sekalipun kau lenyap, aku akan memburu adikmu. Selama aku masih hidup. Aku berjanji." Rion menarik pelatuk pistolnya lalu menembak kepala Abizard.
"Sampai bertemu di neraka." katanya menyematkan kembali senjata itu di pinggangnya.
"Bersihkan dan buang ke tengah laut, penghuni laut akan berterima kasih padaku," ucapnya dengan nada dingin. Sebelum Rion keluar dari ruangan itu ia menatap wajah Abizard yang bersimbah darah sementara matanya membola.
"Baik Tuan."
Bersambung ....