OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Aku Ingin Cinta sederhana



Pelayan restoran itu mengarahkan tempat duduk mereka, Rion duduk begitu juga dengan Adara satu diantara pelayan membawakan botol wine berikut gelasnya. Menuangkan sedikit lalu meminta Adara mencicipnya.


"Thank you," Adara menerimanya dan mengoyangkan gelas berisi Red wine lalu mencicipnya. "Mmm, perfect saya pesan yang ini." Katanya dan pelayan itu tersenyum meletakkan botol itu di atas meja.


"Pesanan Anda untuk makan malam, sudah kami siapkan. Satu dari mereka akan tetap berada di ruangan ini." ujar pelayan itu dengan sopan. Adara mengangguk, pelayan itu keluar setelah memberi salam dan meninggalkan satu orang berdiri di belakang pintu masuk.


Suasana canggung, Rion bahkan tidak mengatakan sepatah kata dahi pria itu semakin mengerut saat Adara mencicipi anggur itu.


"Rion, katakan sesuatu kau bisa pulang kalau tidak ingin menemaniku," ujar Adara dengan nada kecil tapi suara itu menyiratkan kekesalannya. Rion berdecak dan mendorong kursinya dengan punggungnya lalu berdiri. Adara kaget di buatnya. Pria itu tidak serius kan? Meninggalkan Adara sendirian menghadapi Abizard?


"Aku mau ke toilet," gumamnya, wajahnya ditekuk. Adara menelan salivanya lalu bernapas lega setelah berpikir kalau Rion akan meninggalkannya.


"Cepat kembali," Adara mengulas senyumnya melihat Rion berlalu dari ruangan itu.


Tidak lama kemudian Abizard datang dengan buket mawar merah di tangannya. Pria itu melihat Adara dari ambang pintu sedang mengusap-ngusap tengkuknya. Pelayan mengarahkan Abizard masuk.


"Nona Adara," sapa Abizard setelah pelayan itu kembali ketempatnya.


"Tuan Abizard," Adara berdiri dan keluar dari kursi menyambut Abizard. Mengulurkan tangan untuk berjabat. Abizard menerimanya lalu membawa tangan itu ke dalam ciumannya. Adara membeliak, ia tidak menduga Abizard akan melakukan itu.


Rion tersenyum kecut melihatnya dari ambang pintu, ia masuk dengan langkah panjang dan menarik Adara cepat. Tubuh mungil Adara tersentak menubruk dada Rion.


Rion!


Rion menarik sudut bibirya sinis sementara tatapannya tajam menghunus tepat pada Abizard.


"Kau berlebihan, Abizard." Rion melingkarkan tangannya pada pinggang Adara posesif. "Dia istriku jaga sikapmu!"


Abizard membalas tatapan Rion dengan hangat, tak lupa ia mengulas senyum terbaiknya. "Senang bertemu denganmu, Mert. Oh iya, setahu aku Adara wanita lajang. Apa aku salah, Nona Adara?" Abizard menyerahkan buket bunga yang ia bawah pada Adara.


"Bunga yang cantik untuk wanita cantik," sambungnya, Adara melirik Rion yang masih menatap tajam Abizard tapi tangannya semakin erat di pinggang Adara seolah memberi peringatan untuk tidak menerimanya.


"Terima kasih Abizard, aku suka bunga Lily tapi mawar ini juga sangat indah. Aku menyukainya," ujar Adara menghargai Abizard. Bagaimanapun wanita itulah yang mengundangnya. Rion mengedurkan pelukannya, mengambil bunga dari tangan Adara dan melemparnya ke lantai.


"Rion!" Adara meradang melihat sikap Rion yang terang-terangan menunjukkan kuasanya atas diri Adara.


"Pelayan restoran ini akan melayanimu, Abizard. Dan terima kasih karena sudah menolong putriku saat itu, aku juga turut disana bukan? Kau bisa memesan apa saja yang kau inginkan sebagai ucapan terima kasih Adara, Aku akan meminta sekretarisku melunasinya. Selamat malam." Rion mengambil tas Adara dan menarik tangan wanita itu keluar dari ruangan itu. Langkah Adara terseret paksa mengikuti langkah panjang Rion.


"Bukankah ini terlalu kekanak-kanakan, Mert? Aku bahkan melihat Adara terpaksa mengikuti langkahmu." Rion mengetatkan rahangnya, berbalik dan menatap Abizard.


"Bukan urusanmu!" Rion membawa keluar Adara meninggalkan Abizard yang memasang senyum iblisnya. Ia sangat terhina, mendengar ucapan Rion seolah dirinya datang untuk makanan.


Adara menghentikan langkahnya, ia kecewa dengan sikap ketidak dewasaan Rion.


"Lepaskan!" Adara menghempaskan tangannya, Rion mendelik.


"Hun!" Rion kembali menarik tangan Adara tapi, wanita itu menepisnya kembali.


"Pengecut!" ucap Adara dengan nada menekan.


"Apa?" Rion menyugar kasar rambutnya, melihat Adara melewatinya. Rion mengejar langkah Adara dalam diam, ia tidak ingin berdebat hingga menjadi bahan tontonan gratis di restoran itu. Adara membawa langkahnya ke luar restoran dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Ahmed.


"Dara," gumam Rion, suaranya melembut meraih bahu Adara dan memutarnya untuk menghadapnya. "Aku bukan pengecut, Hun. Kau lihat cara dia menatapmu, bahka—"


"Cukup Rion! Aku tidak suka di kendalikan olehmu,"


"Selama aku hidup kau ada dalam kendaliku. Kau tidak perlu membalas budi karena pria itu sudah menyelamatkan Illy," tegas Rion.


Aku benci pria ini.


Adara menghela napas panjang sembari memejamkan mata. Menenangkan hatinya yang terasa berdenyut. Ia menginginkan cinta sederhana bukan cinta posesif seperti yang di berikan Rion padanya. Meski dari awal ia sadar kalau dirinya adalah Obsesi Rion.


Tidak lama mobil mereka tiba, Rion menarik Adara dan membawanya masuk ke dalam mobil. Selama dalam perjalanan keduanya saling diam, Adara menatap malam penuh kerlip lampu kendaraan dari jendela mobilnya sementara Rion menatap lurus kedepan, tangan Adara masih Ia ngenggam dengan erat.


Macet menjadikan mobil itu berjalan seperti siput, Rion berulang kali berdecak saat macet begini ia butuh helikopternya.


Adara hayut dalam suasana hatinya yang sedih. memikirkan sikap posesif Rion membuatnya meragu menerima pria itu. Bukankah suatu saat nanti ia gampang dihempaskan jika pria itu tidak lagi berselera padanya? Adara bergidik ngeri memikirkan itu dan Rion merasakan getaran tubuh Adara.


"Hun ...," Adara segaja memejamkan matanya, begitu merasakan Rion memeriksanya. Ia menyenderkan punggung pada jok mobil dan memposisikan kepalanya ke arah berlawanan dengan Rion.


"Kau tidur ya? Jalanannya macet dan akan memakan waktu lama. Bersandar padaku saja, aku akan menjagamu." Rion melembutkan suaranya, membawa kepala Adara bersandar padanya, Rion memainkan rambut Adara lembut, memberi rasa nyaman hingga Adara benar-benar tertidur.


Ahmed membuka pintu mobil begitu tiba di depan rumah Adara. Rion memperhatikan Adara masih nyenyak hingga ia memutuskan untuk menggedong wanita itu. Rion menyenderkan Adara pada jok mobil supaya ia keluar terlebih dulu lalu berlari kecil membuka pintu rumah untuk memudahkan Rion masuk. Rion kembali ke mobil dan menggendong Adara,


"Pulanglah pak Ahmed, aku akan pulang mengenakan mobil Dara." katanya sambil berjalan masuk kerumah, ia menaiki anak tangga menuju kamar dan bersusah paya membuka pintu kamar itu.


Adara tersenyum, semenjak tubuhnya di gendong ia sudah terjaga dan memilih berpura-pura tidur. Biarkan saja Rion bersusah payah mengurusnya sebagai balasan kekesalannya pada pria itu.


Rion meletakkan Adara pelan di tempat tidur, lalu duduk di tepi ranjang. Menatap wajah Adara yang mengenakan riasan tebal. Ia mengangumi meski sedikit tidak suka dengan warna lipstik Adara.


Rion bergerak ke ujung ranjang, dan membuka sepatu Adara. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati agar wanitanya itu tidak terjaga. Rion kembali menatap Adara dan mendaratkan ciuman pada dahi Adara.


"Aku pulang tidurlah yang nyenyak." bisiknya. Rion berdiri hendak berbalik tapi, terhenti. Adara menarik tangannya.


"Hei, kau bangun?" Rion kembali duduk melihat Adara sudah duduk.


"Rion, hatiku sangat sakit. Rasanya ingin menangis, a-aku ingin sekali membencimu tapi aku benar-benar tidak bisa. " Adara memukul dada Rion berulang kali, hingga pria itu kebingungan. Ia bahkan mengira Adara mengingau. Rion menarik Adara dalam pelukannya.


"Aku ingin membencimu, benar -benar membencimu."


"Maafkan aku, Honey. Jangan membenciku lebih dari sehari. Kau harus menerimaku apa adanya." gumam Rion, memeluk Adara dan menjatuhkan ciumannya pada pucuk kepala Adara berulang kali. Isakan Adara memukul memukul hatinya, ia menyesal. Seharusnya ia harus bersikap dewasa bukan sebaliknya. Sayangnya pria itu terbakar cemburu.


"Aku sangat mencintaimu, Dara." bisiknya, ia mendorong sedikit bahu Adara dan menatap wajah sembab wanita itu lalu menyekanya dengan punggung jemarinya.


"Aku akan menjemputmu besok dan membawamu ke suatu tempat. Luangkan waktukmu, ya." Adara mengangguk, hatinya luluh melihat wajah lembut Rion.


"Aku pengangguran sekarang, apa kita mau kencan?" tanya Adara, Rion menggelengkan kepala.


"Tidurlah, aku akan menjagamu."


"Setelah aku tidur apa kau akan pulang?"


"Mmm,"


"Peluk aku Ion." Adara merentangkan kedua tangannya, pria itu masuk dalam pelukan Adara dan mencium ceruk leher wanitanya itu lalu membaringkan Adara, memeluknya dan menjaga hingga wanita itu tertidur.


Bersambung ....