OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Menghabiskan waktu bersama (Revisi)



Pria bersurai hitam pekat yang tersisir asal tersenyum sinis, matanya yang jernih memindai lawannya bagaikan elang di atas awan mengintai sang mangsa. Senyum merehkan yang ia tampilkan seolah mengambarkan kalau pria yang ada di hadapannya itu tak pantas menjadi saingannya mendapatkan Adara belahan jiwanya.


Tatapan itu dibalas oleh Emre dengan santai, "kau tidak punya rasa malu." gumam Emre. Mengundang kilat tajam dan aura iblis di wajah Rion.


Bug!


Pukulan Rion yang mendadak mengenai sasaran tepat di tulang pipi, Emre. Membuat pria bermanik gelap itu terhuyung kehilangan kestabilan pada tubuhnya.


"Rion!" Pekik Adara berlari ke arah Rion, memukuli badan Rion kesal. Rion mengabaikan Adara dan lebih tertarik melanjutkan pukulannya pada Emre.


Rion tertahan saat hendak melayangkan kembali tinjunya pada Emre. Adara menarik kemeja Rion sekuat tenanganya.


"Aku bilang hentikan!" Teriak Adara, dan saat itu Emre membalas tinju Rion dengan tendangan tepat mengenai sudut bibir Rion.


"Keparat! Pergilah ke neraka." Rion tersungkur ke lantai, begitu juga dengan Adara karena terdorong tubuh Rion.


"Dara ...." Eme bergegas membantu Adara berdiri. "Maaf," sesal Emre.


"Emre aku mohon pergilah," ujar Adara saat Emre mengkhawtirkannya, mencari apa ada yang luka pada lutut Adara yang membentur lantai saat terjatuh.


Rion mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Wajahnya makin gelap saat melihat Emre sangat dekat dengan Adara.


Rion bergegas, mendekat dan menarik kerah kemeja Emre mendorong pria itu pada tembok besar dan menyudutkannya disana.


"Aku peringatkan jangan mendekati Adara, jangan mendekati Istriku." Setiap kata yang diucapkan Rion sebanyak kata itupula dia menghujani Emre dengan kepalan tangannya.


"Aku mohon Rion ...." Adara menangis, berlutut di lantai. Memohon dengan tangisnya. Ia putus asa dan tidak ingin Emre terluka parah hanya karenanya.


"Aku mohon hentikan, aku lelah aku ingin pulang." gumam Adara. Rion menggeram melepas tangannya dan menjatuhkan pria yang sudah tak berdaya itu.


Rion berdecak kesal melihat Adara yang berlutut demi Emre, pria yang menjadi penghalang untuknya.


Rion menghampiri, "apa yang kau lakukan bodoh?" Geram Rion, menunduk membantu Adara bangun. Ia sangat marah hingga wajah putihnya memerah.


"Ayo bangun," Rion mencengkram bahu Adara erat. Adara menepis tangan itu menggelengkan kepala lemah, ia melirik ke arah Emre yang terkapar. Sebenarnya Emre bukanlah pria lemah, hanya saja ia kehilangan kesempatan menghindar karena sibuk mencemaskan Adara.


Rion mengikuti tatapan Adara, lalu berdecih dengan sikap arogant. "Kau tidak boleh peduli padanya, cukup peduli padaku! Ayo kita pulang." Kata Rion dengan nada mengancam. Mengangkat tubuh Adara lalu mengendong paksa masuk ke mobil. Mendudukkan wanita itu di bangku penumpang dan sekaligus memasang sabuk pengaman.


"Rion ..., aku mohon bantu Emre, dia terluka." Rion tersenyum miring, menunjukkan sikap ketidakpeduliaanya. Pria disana meringis kesakitan, berusaha bangun sebisanya.


"Tidak akan!" ucap Rion tegas lalu menutup pintu mobil.


"Kau ingin mengambil milikku? Langkahi dulu mayatku bedebah!" Rion mencemoh, kemudian masuk kedalam mobil.


______________________________________________


Sepanjang jalan di dalam mobil itu Adara memilih diam, menghindari tatapan Rion yang mencuri pandang padanya di sela-sela menyetir. Adara menyandarkan punggungnya ke jok mobil dan menatap keluar jendela.


Hari ini sudah cukup menyadarkan dirinya kalau Rion pria iblis, yang terobsesi padanya. Entah itu sejak menikah atau setelah perceraian mereka.


Bukankah kau mengatakan aku harus bahagia, Rion? Kau bilang aku harus bahagia, tapi nyatanya kau sendiri yang menghancurkan hidupku.


"Dara ayo keluar," Adara tersadar dari lamunannya, mobil sudah berhenti di area parkiran Apartemen yang tidak pernah Adara kunjungi. Apartemen itu milik Rion yang sebelumnya di tinggali Calista.


"Rion kenapa kita kesini? Seharusnya kau mengantarku pulang." Rion mencondongkan tubuhnya, membuat Adara sedikit terkejut. Pria itu menipiskan bibirnya saat melihat Adara terkesiap.


"Apa yang kau pikirkan?" Rion mendesis di telinga Adara membuat wanita itu merinding geli. Rion tersenyum penuh ironi, melepaskan sabuk pengaman Adara. "Ayo keluar." Ajaknya, Adara merasa lega setelah berpikir Rion akan menciumnya saat pria itu mendekat padanya.


Rion terlebih dulu keluar dan membukakan pintu untuk Adara, pria itu bersikap normal melupakan kejadian yang baru saja terjadi diantara mereka. Rion begitu cepat berubah mood. Ia menjadi sosok yang lembut dan berkarisma.


"Aku mau pulang," Adara mengeluh,


"Nanti, setelah kita menikmati waktu bersama." Adara mengeryitkan keningnya. Ia butuh penjelasan pada kata 'waktu' yang di maksud Rion.


Adara diam di tempat duduknya, ia enggan keluar. "Kau mau aku gendong?" bisik Rion, pria itu bersiap menggendong. Tapi Adara masih waras, lagipula siapa yang mau bermanja dalam gendongan pria aneh seperti Rion. Setidaknya begitu asumsi Adara.


"J-jangan, aku masih punya kaki untuk berjalan." suara Adara terdengar gugup bahkan bergetar. Rion terkekeh, setelah Adara berdiri di luar mobil.


Rion menutup pintu lalu dengan sigap merangkul Adara di bahu dan membawanya ke arah lift yang akan membawa mereka ke lantai enam belas.


Emre maafin aku, bagaimana keadaanmu sekarang. Adara membatin, ia sangat khawatir pada pria disana. Adara terpaksa menurut pada Rion demi menyelamatkan Emre dari kekejaman pria yang tengah merangkulnya posesif saat ini.


Pintu lift yang membawa mereka terbuka.


"K-kau beli Apartemen di sini? Sejak kapan?" Tanya Adara setelah tiba di depan pintu, ia penasaran. Rion menekan kunci pintu digital dan menunggu bunyi Bib.


"Ayo masuk," ujar Rion, selepas pintu itu terbuka. Rion menarik tangan Adara masuk lalu menutup pintu itu.


Tatapan Adara langsung dimanjakan pada interior mewah, dekorasi ruangan itu kesukaan Adara. Warna cat lembut pada tembok dan tataan ornamen bisa membuat siapa saja betah tinggal di dalam.


Ruangan bernuasa erofa klasik, Rion sudah merencanaka hal itu sebelumnya. Setelah mengetahui kalau dia benar-benar tak sanggup kehilangan Adara ia menyuruh dekorator interior menyulap ruang itu sesuai selera Adara.


"Mmm ..., belum lama, Honey." ucap Rion, menekan Adara pada dinding samping pintu lalu menuduk untuk mendapatkan bibir tipis Adara. Adara mengerjap, membiarkan pria itu bersenang-senang pada bibirnya itu. Toh jika Adara menolak atau melawan ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Adara seorang diri tanpa perlindungan.


Selama ini, pria yang mencicip bibirnya itulah yang menjadi tempatnya berlindung. Adara menaruh hatinya pada pria yang selalu berujar cinta padanya. Pria yang kini menjadi orang asing, pria yang ia benci sekaligus Adara cintai.


"Honey, aku menginginkanmu," Nada suara Rion rendah penuh kelembutan. Adara membeliak, netranya bertemu tatap dengan manik Rion.


Bersambung ...