
Calista mendengkus, berkacak pinggang menatap Adara yang meringis kesakitan. Adara takut dengan bau anyir yang membasahi lengannya. Tangannya yang lain gemetar menahan denyut perih pada bagian tangan yang tertusuk.
Darah menetes mengenai ujung meja, sementara Adara masih dalam posisi berlutut. Rasa takut yang melingkarinya seketika lenyap, ada senyum tipis di bibir Adara yang membuat Calista jengkel.
Adara menginginkan kematian, ia ingin kegelapan memeluknya, membawanya menuju kedamaian.
Dunia hanya tempat sandiwara, bukan? Karena itu wanita pemilik senyum cantik itu ingin mengakhiri perannya sebagai wanita yang menyedihkan di dunia ini.
"Sampai mati, tidak akan kuserahkan Calista. Kau tahu justru inilah yang aku inginkan. Akhir-akhir ini aku ingin kematian memanggilku. " Desis Adara, bibirnya gemetar dan kulit putihnya yang selalu berseri dulu berubah pucat pasi.
Calista terkekeh, ia membuka map itu dan meletakkan pena di atasnya.
Wanita menyedihkan, batin Calista
"Aku akan mengirimmu dengan cepat. Kau tidak akan mati hanya karena tertusuk begitu, yang ada hanya rasa perih."
Calista mendorong map itu tepat di hadapan Adara, "Cepatlah!" perintahnya.
Adara bertahan, tatapannya mulai nanar ia menurunkan tangannya yang berdarah dan meraih pena.
Untuk apa aku menahan ini semua. Calista pasti akan menjaga semua milik suaminya itu.
Jemarinya bergerak dan menggoreskan tanda tangannya pada surat wasiat itu. Calista tersenyum puas, ia menarik map itu dan memperhatikan tanda itu.
"Seharusnya kau melakukan ini sebelum aku melukaimu." Calista menunduk sedikit dan memperhatikan wajah Adara lekat, mencela.
"Pergilah!" Teriak, rupanya suara itu sampai pada Lulu yang tengah menikmati kamar barunya. Ia membuka pintu perlahan, dan menghampiri sumber suara.
"Aku akan pergi, tapi kau harus mendengar satu hal dariku." kata Calista lalu seketika ia meringis melihat cairan merah kental itu semakin banyak. "Kau akan mati kehabisan darah," gumamnya tanpa belas kasihan.
Sementara Lulu, tercengang melihat Calista berada di tempat itu. Ia mencari keberadaan Adara dan kesulitan karena terhalang sandaran sofa. Lulu menutup mulutnya agar tak terdengar oleh Calista yang tampak duduk santai pada sofa.
"Tapi kau memang ingin mati kan? Jadi itu tidak masalah." Tambah Calista santai. Kemudian wanita picik itu mengingat sesuatu yang selama ini membuatnya penasaran.
"Adara, bagaimana Rion terseret ombak? Benarkan dia mengajakmu bunuh diri karena kau menolaknya?" Tanya Calista, info yang ia dapat dari Hana adalah Rion mengajak Adara bunuh diri
"Pergilah Calista, kau sudah dapat yang kau mau." gumam Adara, tubuhnya melemah, ia tidak berniat bercerita manis dengan wanita menakutkan itu.
"Aku ingin melihatmu terjatuh karena kehabisan darah, jadi jangan mengusirku."
Lulu mendengar kata-kata itu terkesiap dengan tangan menutup mulut. Apa yang di lakukan Calista hingga Nona nya itu kehabisan darah, begitu pikiran Lulu.
"Tapi sebelum itu terjadi aku akan mengatakan sesuatu padamu, sampaikan maafku pada ibumu."
Adara mengangkat kepalanya begitu ibunya disinggung oleh Calista.
"Katakan padanya, orang yang aku suruh menakutinya tidak sengaja membunuhnya."
Adara membeliak, rasa sakit pada lengannya tidak sebanding dengan perih hatinya saat mendengar kalau ibunya meninggal karena di bunuh.
Selama ini ia hanya berasumsi dan menuduh Rion lah yang melakukan itu. Tapi nyatanya pengakuan Calista membuatnya terkejut. Wajah pucatnya menggelap, ia meringis manahan sesak dadanya.
"Jadi benar ibuku dibunuh? Dan kau pelakunya?" Adara menggelap, ia mencaput pisau yang menancap pada lengan itu. Suara teriakan sakit ia lontarkan saat berhasil menarik pisau itu.
Darah semakin deras, ia menopangkan tangan pada meja untuk berdiri sekuat tenaga yang ia punya. Kadang -kadang dalam situasi emosi tenaga kita semakin besar. Adara berhasil berdiri di hadapan Calista yang duduk santai tanpa ada rasa takut sama sekali.
Lulu perlahan masuk kedalam kamar dan berpikir apa yang akan ia lakukan untuk menolong Adara.
"Aku hanya bermain-main, Adara. Tidak kusangka akan begini. Kata pria itu ibumu saja yang lemah."
"Kau bilang bermain-main? Nyawa ibuku kau buat mainan?" Adara melangkah mengayunkan pisau ke arah Calista.
"Bukan salahku, tapi salahkan Rion. Pria itulah yang menjadi sumber masalah dan kau tidak bisa mengatasinya. Lalu aku berinisiatif untuk membantumu menjauhi dia. Hanya saja Ibumu sangat lemah hingga permainan itu berakhir tidak sesuai rencana. Aku hanya ingin mengirim Ibumu ke rumah sakit seperti yang diancamkan Rion padamu." Calista berujar panjang lebar, sambil mengambil langkah mundur menjauhi Adara yang menyeret langkahnya dan mengayun -ayunkan pisau dapur itu ke arah Calista.
"Bagaimana bisa kau setenang itu Calista? Sorot matamu sama sekali tidak merasa bersalah? Kau membunuh ibuku dan ingin menyalahkan Rion? Wanita jahat! Kau pantas mati." Bentak Adara.
Adara melakukan penyerangan, melangkah lebih cepat hendak menusuk perut Calista, akan tetapi wanita yang berhadapan dengannya itu sangat lihai membaca gerak Adara. Hingga bisa terhindar dari pisau itu. Calista mendorong Adara hingga tersungkur ke lantai. Sungguh perempuan malang dan lemah. Calista berdecak melihat betapa menyedihkannya Adara saat ini.
"Kau tidak akan pernah bisa menyakiti seorang Calista. Aku bukanlah tandinganmu." Calista menarik rambut tengkuk Adara membuat perempuan itu memekik kesakitan.
"Lemah dan tak berguna! Cih ...."
Lulu memukul jidatnya, betapa bodohnya dirinya saat ini. Ketegangan yang memenuhi dirinya membuatnya tak bisa berpikir jernih.
Polisi? Iya seharusnya aku menelpon polisi dari tadi. Ah bodohnya diriku. rutuk Lulu, lalu mengambil ponselnya dari atas ranjang dan menghubungi center tanggap darurat.
"Menyusullah ke neraka Adara, aku tidak perduli jika kau dan Rion berjodoh di dunia dan akhirat." Calista melepaskan kasar rambut Adara. Perempuan itu akhirnya roboh juga. Darah membajiri tangan dan ruangan itu penuh tetesan darah.
"Kau akan mati disini sendirian, dan cerita kita akan berakhir." Calista tergelak, lalu mengambil map yang ada di atas meja dan melangkah keluar dari tempat itu setelah memastikan Adara roboh tak berdaya.
Rion, aku sudah mengirim Adara untukmu. Kau pasti bahagia, bukan?
Suara sirene mobil polisi terdengar memasuki halaman rumah Adara, sesaat setelah Calista membukakan pintu rumah itu. Calista kelimpungan begitu berhadapan dengan dua polisi yang mendapat laporan saat mereka patroli tidak jauh dari lokasi perumahan elite itu.
"Ada laporan dari rumah ini, apa anda Nona Adara?" tanya polisi itu saat berhadapan dengan Calista di depan rumah. Calista terseyum hendak mengiyakan. Ia tak ingin polisi itu menaruh curiga padanya.
"Be—"
"Itu orangnya pak yang menyakiti Nona saya." Tiba-tiba saja Lulu menyela dari belakang Calista.
Calista tercengang melihat kehadiran Lulu di tempat itu.
Sejak kapan dia disini? pikirnya gugup.
Polisi langsung mengamankan Calista dan bukan Calista namamya jika ia tinggal diam. Calista berontak saat di masukkan ke dalam mobil. Ia menyupahi pembantu yang tidak setia pada majikannya itu.
"Jangan memaksaku! Aku bisa naik sendiri." ketusnya pada polisi. Sementara satu polisi lain berlari masuk kedalam rumah dan mengangkat tubuh Adara keluar dari sana dan membawanya menggunakan mobil patroli.
"Nona maafkan aku karena tidak bisa menolongmu, aku terlalu takut." sesal Lulu dengan raut menyendu seraya memperhatikan mobil itu keluar dari halaman rumah dan ada beberapa pasang mata melihat ke arah rumah Adara, curiga apa yang sedang terjadi.
Bersambung ...
Terima kasih banyak untuk like, vote dan juga komentarnya. Kalian yang terbaik dan terus dukung Obsessive Loves ya, teman ...
Regards
Rion: Kapan aku hadir author, aku rindu istriku.
Author : Istri yang mana? Calista? Tuh lagi di bawah ke penjara.
foto gugel