OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Hubungan kita belum usai



Jie Ranita berdiri di depan pintu ruangan Emre dengan paper bag berisi makan siang di tangannya, Jie merasa ragu mengetuk karena sebelumnya wanita itu tidak memberi kabar akan menemui Emre.


Napasnya terasa berat, menyesakkan dada ia ingin berbalik dan meninggalkan tempat itu tapi wanita itu kembali mengingat pesan Adara kalau Ia harus berusaha masuk kedalam kehidupan Emre.


Jie menghembuskan napas kasar kemudian memberanikan diri mengetuk pintu di hadapannya, tidak ada jawaban. Jie menarik kembali tangannya.


"Jie," Jie berbalik dan tersentak kaget, nyaris menjatuhkan paper bag ditangannya, beruntung Emre sigap menangkap hingga tas kertas itu tidak menyentuh lantai.


"Ma-maaf," gumam Jie, sembari menunduk untuk menutupi rasa gugupnya. Emre tersenyum ternyata pria itu tidak di ruang kerjanya.


"Tidak apa-apa, justru aku yang minta maaf sudah membuatmu kaget," ujar Emre, mengembalikan paper bag Jie.


"K-kau sudah makan siang, Emre?" tanya Jie, masih menundukkan kepala, entah kenapa Jie tampak malu-malu dihadapan Emre.


"Belum,"


"Kalau begitu ini untukmu," Jie memberikan kembali Paper bag berisi makanan itu pada Emre.


"Kotak makan?" tanya Emre, memeriksa paper bag setelah menerimanya kembali dari Jie.


Jie kembali mengangguk.


"Ada apa denganmu, Jie? Kau tampak aneh. Ayo masuklah," ujar Emre memperhatikan Jie yang tidak berani menatapnya. Emre membuka pintu dan mengijinkan Jie masuk lalu menutup pintu di belakangnya.


Emre membawa Jie duduk di sofa dan meletakkan paper bag di atas meja.


"Terima kasih ya, Jie." ujar Emre, mulai membuka kotak makannya. "Oh ya kau sudah makan?"


"Sudah," Jie mengangguk, lalu mengangkat sedikit kepalanya melihat Emre yang tengah memperhatikannya. Tatapan mereka bertemu dalam hitungan detik lalu kemudian saling menunduk diam. Suasana menjadi canggung.


"Aaku pulang saja, kau pasti sibuk bukan?" Jie berdiri, jantungnya berdegub sementara wajahnya pucat. Saat wanita itu berdiri, Emre ikut berdiri dan menarik tangan Jie.


"Jie," Emre memejam, menarik napas pelan ia ingin mengambil keputusan untuk masa depan hubungan mereka. Jie menelan salivanya, menatap wajah Emre yang berkarisma. Ia makin jatuh cinta pada pria itu.


"Menikalah denganku."


___________________________________


____________________


Setelah selesai memimpin meeting, Rion kembali keruangannya. Ia tersenyum, menatap photo Adara yang ada di meja kerjanya. Dalam photo itu Adara tampak masih remaja.


"Aku mencintaimu, Adara." gumamnya, siang ini Rion tampak bahagia pekerjaanya lancar berkat semangat yang diberikan Adara. "Kau memang kehidupanku." katanya lagi, sumringah.


Adara hendak menemui Rion di Company Emirat, ia terpaksa menepikan mobilnya saat ponselnya berdering. Nomer tanpa nama, Adara meragu mengangkatnya. Ia berpikir kalau itu Abizard.


"Halo," Adara memutuskan mengangkat panggilan itu.


"Hai Nona, Adara. Ini aku Abizard kau pasti masih ingat bukan?" Sahut Abizard yang sedang berdiri menikmati jalanan kota yang padat dari balkon Apartemenya.


"A-abizard ...?" Adara sengaja berpura-pura lupa.


"Yah, kita pernah bertemu di kota pesisir," Abizard memainkan jemarinnya, hanya mendengar suara Adara ia sudah gugup.


"Oh, yah mmm aku ingat sekarang," Adara tersenyum miring dalam mobilnya.


"Aku senang kau mengingatnya, mmm apa aku menganggu?"


"Oh tidak juga, hanya saja saya mau bertemu calon suamiku. Tuan Abizard, aku sangat senang Anda menghubungiku dengan begitu saya bisa menjamu, Anda. Bagaimana kalau Anda luangkan waktu untuk kita bertemu," ujar Adara, ia ingin menjamu Abizard sebagai rasa terima kasihnya karena sudah menolong Illy saat itu dan mengakhiri balas budi itu.


"Baiklah Nona Adara, besok malam aku punya waktu. Bagaimana dengan, Nona?" Tanya Abizard, wajahnya muram ketika Adara menyebut calon suami. Abizard tahu pria itu adalah Mert.


"Ya. Besok malam, saya akan mengatur waktu dan tempatnya. Nanti saya kirim lewat pesan, Tuan Abizard."


"Saya tunggu, Nona Adara. See you." Abizard mengakhiri perbincangannya, ia segera menelpon Ipek adiknya.


Wanita itu tampak seksi, dengan ginju bewarna merah dibibirnya yang ranum. Pakaianya melekat pas ditubuh seksinya dan di sempurnakan dengan sepatu bertumit tinggi menghiasi kakinya yang putih.


"Maaf pak Rion, saya gagal menghalau," Anatha menunduk meminta maaf berulang kali. Ipek menajamkan matanya pada wanita itu. Ia benci setelah beradu mulut dengan Anatha saat menerobos masuk ke raungan Rion.


"Tidak apa-apa, kau bisa tinggalkan kami," ujar Rion, menipiskan bibirnya ke arah Anatha. Wanita itu perlahan keluar dan menutup pintu.


Ipek, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu sembari memaikan ujung rambutnya. Menilai dan mengagumi, ruangan itu begitu luas dan tertata rapi. Tentu saja, bagi Adara saat menjadi pimpinan di Emirat ruangan itu adalah rumah keduanya. Bahkan di balik rak file berukuran besar itu di sulap menjadi kamar untuk istirahat saat mata lelah dengan segala pekerjaanya.


Ipek menghampiri Rion yang sudah duduk di meja kerjanya. "Jadi ini semua milikmu, Mert?


"Rion Emirat, itu namaku!" sahut Rion dengan cepat.


"Aku tidak perduli, Rion dan Mert adalah orang yang sama. Tapi jika kau mau aku memanggilmu Rion, aku tidak keberatan, Mert." Ipek, menggigit bibir bawanhnya lalu melangkah semakin mendekat. Tatapannya sensual.


Riong menghela napas panjang, "Apa yang kau inginkan?" Tanya Rion, tangan Ipek menyentuh dasinya. Pria itu tersenyum miring melihat keberanian Ipek.


"Ada sofa disana sebagai tempat duduk tamu, kau bisa duduk dan katakan apa maumu," Rion menunjuk sofa yang ada di ruangan itu. Posisi mereka berdiri sangat dekat dan bahkan Rion bisa melihat jelas bintik hitam di wajah Ipek yang ditutupi dengan perona wajah.


"Jadi ... sekarang apa aku hanya seorang tamu untukmu, Mert?" tanya Ipek, menarik sudut bibirnya.


Rion terkekeh, lalu berjalan melewati Ipek menuju sofa. Ipek tersenyum simpul melihat sikap penolakan Rion padanya.


"Aku masih berbaik hati menganggapmu tamu, Ipek. Jadi bersikaplah layaknya tamu." Rion mendaratkan bokongnya di sofa tunggal dan memberi isyarat lewat jari panjangnya agar Ipek duduk.


Ipek menurut, ia duduk pada salah satu sofa di sana dan menyilangkan kakinya.


"Katakan apa yang kau inginkan," ujar Rion dengan nada tegas.


Senyum Ipek mengembang, ia semakin terpesona pada pria itu. "Kenapa buru-buru, Mert—"


"Rion!"


"Oke, Rion Emirat." Sebut Ipek dengan jelas, kedua matanya menajam ke arah Rion. "Baiklah, kedatanganku kemari untuk mengingatkan kalau hubungan kita belum usai, Mer eh Rion Emirat. Astaga aku suka kedua namamu, " ujar Ipek dengan kekehan jenaka. Rion muak melihatnya.


Adara berjalan riang memasuki gedung Emirat. Langkahnya ringan dan sesekali membalas sapaan karyawan yang menyapanya. Adara tiba di depan ruangan Rion dan saat tangannya menyentuh gagang pintu Anatha segera menghalaunya, Adara mundur dan menatap Anatha bingung.


"Maaf bu, Adara." gumam Anatha berdiri bersandar di pintu.


"Ada apa?" Tanya Adara, tatapannya seketika dingin. Anatha tampak gugup, lalu berujar.


"Wanita yang mengaku tunangan pak Rion ada di dalam," Adara membeliak mendengarnya. Jadi karena itu kau menghalangi jalanku?


"Minggir!" perintah Adara dengan suara datar.


"Tapi ...."


"Beraninya kau menghalangi jalanku," gumam Adara dan memasang wajah angkuhnya. Anatha menunduk.


"Kau lupa kalau pemilik perusahaan ini Saya?" Gertak Adara hingga suara itu tertangkap oleh Rion dan Ipek di dalam ruangan itu.


"Dara ...." Rion menaikkan kedua alisnya, saat mendengar suara Adara. Ipek tersenyum miring, keduanya berdiri bersamaan dan menoleh ke arah pintu.


Anatha kelimpungan, ia dengan sigap membukakan pintu untuk Adara dan mengijinkan masuk.


Ipek bergerak cepat menarik dasi Rion, memaksa pria itu menunduk sedikit lalu mencium bibir Rion. Pria itu membeliak, membeku merasakan bibirnya di cium paksa Ipek. Adara membawa langkahnya masuk ke ruangan itu dan menyaksikan adegan dan memukul hatinya seketika, Ia kecewa bibir kekasihnya yang selama ini menciumnya di nikmati wanita lain.


Bersambung ....


Penampakan Ipek