
"Tutupi kissmark di lehermu, atau kau sengaja memamerkan itu?"
Spontan tangan Adara menyentuh lehernya, ia menipiskan bibir.
Rion ... jadi itu sebabnya kau menyibak rambutku? Akan aku balas kau!
"A-aku alergi, aku lupa makan apa tadi." Adara menciptakan alasan sambil menutupi lehernya dengan rambutnya. Seketika Emre menolehkan kepalanya dengan tatapan tajam. Ia kesal mendengar jawaban Adara.
"Baiklah, ini memalukan. Aku akan pergi jangan menatapku begitu." Adara menutup pintu ruangan Emre dan berlalu dari sana.
Emre melempar bolpoin ditangannya, hatinya sakit begitu melihat Adara dengan tanda merah di leher. Cemburu.
Adara melempar tatapan tajam pada Rion, ia ingin sekali melempar pria itu dengan tombak jika ada disana. Ah sayang sekali benda itu tidak ada.
Rion tersenyum puas melihat rambut Adara acak-acak dan juga tatapan Adara seolah ingin mencabik-cabik tubuhnya.
Pria itu pasti melihatnya hahaha ...
Rion tidak perduli jika perlu ia akan menulis spanduk atau mengiklankan di baliho kalau Adara adalah miliknya, Istrinya, Cintanya dan kehidupannya.
Melihat tatapan Adara yang seakan berapi-api kepadanya, ia bersyukur Illy ada di tempat itu dengan begitu dirinya aman dari amukan wanitanya itu.
"Illy kemarilah," panggil Rion, sembari mengulurkan tangan. Illy bergerak ke belakang Adara dan mengintip dari belakang.
Adara menghela napas panjang, nanti ia akan membalas Rion tapi sekarang ia harus mengenalkan Illy pada ayahnya.
Adara membungkuk menyamakan tinggi dengan Illy, "sayang semalam Mommy berjanji akan memberimu kejutan, kau ingat? Illy mengangguk.
"Bukankah kejutannya paman Emre?" Illy bertanya sembari mencuri pandang pada Rion.
"Iyah ... itu kejutan pertamanya dan kejutan utamanya ada disini," Adara mencubit ujung hidung Illy pelan, gadis kecil itu terkekeh lalu mengedip-gedipkan bulu matanya yang lentik.
"Menggemaskan." kata Rion seraya menggigit bibirnya, melihat tingkah lucu Illy dan tanpa ia sadari kedua matanya kini berkaca-kaca.
"Illy, Tuhan sudah mengirim Daddy kembali." Adara menangkup dagu Illy dan mengarahkannya pada Rion yang berjarak semeter darinya.
"Itu dia kejutan untukmu, sayang." Bisik Adara,
"He is your Daddy," Illy melebarkan matanya, ia melihat Rion tengah tersenyum padanya sembari merentangkan tangan menunggu Illy memeluknya.
"Really ...?
"Yah ... Tuhan mendengar doamu, sayang. Kau merindukannya bukan?" Illy mengangguk kecil tapi tidak berani menatap Rion.
"Berhenti disitu Illy! Biar Daddy yang memelukmu." Rion bangun dari tempatnya dan menghampiri. "Putriku ...." gumam Rion membawa Illy kedalam pelukannya, memeluk erat sambil terisak.
"Daddy minta maaf, Illy." Rion menenggelamkan kepalanya di bahu Illy, air matanya masih berlinang membanjiri wajahnya.
"Tidak masalah, Daddy. Bukan salah Daddy jika pergi jauh demi masa depan Illy," Rion merasa terpukul mendengarnya, ia melihat ke arah Adara yang turut menangis juga.
Masa depan apa? Rion bahkan tidak memikirkannya. Itulah mengapa hati Rion sakit, hancur tak terperih. Putrinya yang ia abaikan semenjak berbentuk darah kini membalas pelukannya.
"Kata Mommy, Daddy membangun istana di surga untuk kita tinggal nanti. Apa istananya sudah jadi?" Illy menghapus air mata Rion dengan punggung jari-jarinya.
Rion kembali terisak, menatap mata kecil Illy sangat indah meski berkabut air mata.
Tidak ada kata yang bisa diucapkan Rion, ia hanya mengangguk lalu kemudian mengecupi wajah basah Illy.
"Kamarilah, Dara." Rion mengulurkan sebelah tangannya meraih Adara dan memeluk kedua perempuan itu bersamaan.
"Terimakasih sudah membesarkan putriku dengan baik," gumam Rion, mengecupi kepala Adara lalu beralih pada Illy. Adara mengangguk sembari menyeka air matanya.
"Illy, Daddy janji mulai saat ini dan seterusnya Daddy akan menjagamu. Kita akan hidup bersama." Rion mencium kepala Illy dan untuk waktu yang cukup panjang mereka bertiga berpelukan.
Di ambang pintu Hana berdiri mematung. Ia melihat dan mendengar semua apa yang terjadi di ruangan itu. Netra wanita tua itu bahkan ikut berkaca-kaca. Tidak ingin membuat suasana kacau ia mengambil langkah mundur dan menutup pintu pelan.
______________________________________________
Adara packing pakaianya kedalam koper sudah saatnya ia keluar dari rumah Emirat. Hari ini Rion akan kembali dari rumah sakit. Hana berencana menjemput.
"Apa kau tidak menunggu Rion kembali, Dara? Pergilah setelah dia kembali." Pinta Hana, menghentikan gerakan Adara.
"Kalau aku menunggu Rion, dia tidak akan mengizinkan aku pergi, Bu." Adara kembali menyusun pakaiannya ke dalam koper.
"Baiklah ...," Hana berbalik, ia menipiskan bibir saat telah di ambang pintu Hana kembali berujar, " J-jangan bawah semua pakaianmu, Mama ingin kau kembali ke rumah ini."
Adara menghentikan gerakannya, ia menolehkan kepalanya pada Hana. Wajah Hana sangat lembut, tidak seperti biasanya yang selalu memasang raut kecut seperti jeruk mentah saat berhadapan dengannya.
"Demi putraku," sambungnya, memasang wajah angkuhnya tapi terkesan terpaksa kemudian berlalu dari sana. Adara menitikkan air mata, ia tidak menyangka Hana akan mengatakan itu.
"Mama ...." gumam Adara sembari menitikkan air matanya kemudian tersenyum haru.
Di rumah sakit Rion mengajak Illy bermain. Semenjak hari itu Bapak anak itu tampak akrab seolah tidak terpisahkan, Illy kadang meminta menginap di rumah sakit.
"Kalian sudah siap?" tanya Hana menghampiri Rion dan Illy yang tengah bersanda gurau di sofa.
"Sudah Ma," Rion mencari keberadaan Adara, ia mengerutkan keninganya. "Dara mana?"
"Dara ada meeting hari ini, jadi ia meminta Mama yang menjemputmu." Hana berjalan ke arah bangsal Rion, disana sudah ada tas berisi pakaian bekas Rion.
"Dara tidak bilang kalau hari ini ada meating," Rion terlihat kecewa.
"Rion ..., agenda kerja Adara bisa saja berubah. Lagipula dia sudah meminta mama menjemputmu," Hana menjinjing tas Rion dan menunggu kesiapan Rion ikut pulang.
"Baiklah ... ayo kita pulang, sayang." ajak Rion, meraih tangan Illy dan menggandeng tangan gadis kecilnya itu meninggalkan rumah sakit.
Setibanya di rumah Rion melangkah masuk, ada rasa akrab yang menyatu dalam dirinya saat memasuki rumah itu. Rion mengedarkan pandanganya kesegala arah, kakinya seolah mengajaknya melangkah lebih jauh lagi. Rion tertarik dan melebarkan langkahnya menaiki anak tangga kemudian menyusuri koridor dan berhenti tepat di depan pintu kamarnya.
"Kamarku, Ma? Rion bertanya untuk memastikan. Hana mengangguk, perlahan Rion meraih handle pintu dan mendorongnya. Ia melangkah masuk, Rion memejamkan matanya mencoba mengingat mengenai kamar itu dan hasilnya masih Nihil. Saat Rion membuka matanya ia langsung di hadapkan pada photo pernikahannya dengan Adara yang menempel di dinding berukuran besar.
Rion tersenyum bahagia, ia mendekat dan mengangkat tanganya meraba photo itu.
"Istriku." gumam Rion, kedua bola matanya kini berkaca-kaca. Entah kenapa akhir-akhir ini Rion sangat sensitif. Saat memperhatikan wajah Illy tertidur ia juga menitikkan air matanya.
Rion tidak tahu harus berkata apa, mengenai kehidupannya sekarang. Tuhan memang maha dasyat, memberi cobaan yang begitu berat untuknya.
Jika ia tidak menikahi Calista maka Illy tidak pernah ada. Ia benci Calista tapi, saat melihat Illy. Rion sangat bersyukur. Ah, seandainya Illy terlahir dari rahim cintanya. Sudah pasti kebahagian itu sempurna.
"Rion, kau harus banyak istirahat," Hana mengejutkan Rion saat memandangi photo Adara yang ada di atas nakas.
"Bahkan saat dalam mimpiku aku jatuh cinta padanya, Ma." ujar Rion mengabaikan ucapan Hana.
"Ya ..., aku tahu itu." Hana mengelus lengan Rion lembut, "tapi jangan abaikan Mama sayang. Kadang aku sangat cemburu." Rion terkekeh, lalu diletakkannya bingkai foto itu di atas nakas kemudian memeluk Ibunya erat. Hana terkejut ini pelukan kedua Rion setelah kembali, air mata Hana menitik tanpa bisa ditahan.
"Mama, Adara dan Illy. Kalian bertiga adalah hidupku. Aku mencintai kalian," gumam Rion, masih memeluk Hana.
"Putraku, terima kasih sudah kembali." Hana mengusap-usap lengan Rion sambil terisak.
"Illy juga sayang nenek." sahut Illy dari belakang Hana sembari menarik ujung baju Hana.
Meski Adara meminta Hana menghabiskan waktu tiga jam setia hari bersama Illy bukan berarti Hana langsung bisa menerima Illy. Hana masih bersikap acuh pada cucunya itu tapi sekarang hati Hana kini melembut. Ia tidak bisa menyalahkan gadis kecil itu atas kesalahan orang dewasa.
"Ya, Nenek juga sayang Illy. " Hana berlutut menyamakan diri dengan Illy lalu memeluknya erat dan tentu menyesali semua kemarahannya selama ini pada cucunya itu.
Di malam hari Rion berulang kali menelpon Adara tapi tidak di angkat. Rion menggeram mengusap rambutnya kasar kebelakang.
"Astaga aku bisa gila." Rion keluar kamar dan pelan-pelan menuruni anak tangga. Ia melihat Hana bermain dengan Illy di ruang nonton.
"Ada apa, Rion?" Hana bertanya saat melihat raut Rion marah.
"Jam segini Adara belum pulang. Pekerjaan apa yang menahannya disana. Aku mau menjemputnya. Siapa yang akan mengantarku kesana?"
Hana mengusap wajahnya, ia menggigit giginya sendiri. Hana lupa mengatakan kalau Adara sudah keluar dari rumah itu.
"Rion ..., Dara sudah kembali kerumahnya. Mama mencoba menahannya tapi dia bilang tidak baik kalian tinggal bersama karena bukan pasangan suami istri lagi."
"Sejak kapan, Ma? Dan kenapa Mama baru bilang!" Rion mengeraskan suaranya, Hana terkesiap. Ya, Rion memang iblis berbalut manusia kalau sudah menyangkut masalah Adara.
Rion melihat ke arah Illy yang menunduk diam. Rion berdecak, menyesali kenapa harus berteriak.
"Maafin Rion, Ma." Gumam Rion, kemudian menghampiri Illy, " hei sayang ... pergilah ke kamarmu. Daddy akan menyusul nanti."
"Baik Dad, apa Mommy belum pulang?" Rion mengangguk kecil.
"Daddy akan menjemputnya,"
"Selamat malam, Dad." Illy menunjuk pipihnya sendiri, minta di kecup.
Rion terkekeh dan memeluk Illy lalu mengecup dahi, hidung dan kedua pipih Illy. Membuat putrinya itu bahagia dan berlari ke arah tangga.
"Perhatikan jalanmu, sayang." Seru Rion menatap putrinya itu melompati anak tangga.
"Aku akan menjemput, Dara." Rion mengecup pipih Hana, ia menyesal mengeraskan suara pada ibunya itu.
"Jangan memaksanya, Dara benar kalian tidak baik tinggal satu atap," ujar Hana.
Rion mengangguk, " Mmm, setidaknya aku pastikan dia aman disana." sahut Rion, berjalan menuju pintu rumah dan meminta Ahmed mengantarnya.
Bersambung ....
Terima kasih masih tetap di Obsessive loves. Terima kasih untuk Vote, like dan ulasannya. Maaf ya nggak balas komentar kalian. Harap mengerti tapi saya sangat antusias membacanya.