OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Perempuan dalam mimpi



Suster mendorong kursi roda Hana ke meja makan, ia duduk di posisi meja utama menggantikan posisi Rion di rumah itu. Adara menunggu Hana mencicipi makanannya.


"Hambar," protes Hana pada makanan yang ia cicipin. Meletakkan sendoknya lalu meneguk minumannya. "Bawah saya kembali ke kamar." Perintah Hana pada suster yang berdiri di belakangnya.


Adara tersenyum, tidak ada yang salah dengan makanan itu. Hanya karena dirinya ada disana Hana mencela masakan Lulu. Adara bahkan tergiur melihat penampilan masakan Lulu dan ingin melahapnya.


"Ibu, aku tahu orang tua itu semakin tua semakin rewel tapi jangan begini. Nanti jika Ibu lapar kembalilah ke meja makan dan rasakan bagaimana enaknya masakan ini." Adara meletakkan sendoknya, ia bahkan tidak menyetuh makanan itu, seleranya hilang.


"Aku pergi," Adara pamit membungkuk sedikit pada Hana yang memalingkan wajahnya ke arah lain. " Aku dan Illy akan berlibur, Ibu bebas menghirup udara tanpa adanya kami berdua." ucap Adara dengan wajah datar.


Adara sengaja melakukan itu, ia ingin Hana membenci dirinya selama hidupnya. Adara tidak pantas mendapatkan cinta siapapun.


Hana terkekeh, "pergi saja dan jika perlu jangan kembali. Rasanya sesak jika ada pembawa sial di rumah ini." ketus Hana, sengaja dengan suara keras.


Orang tua itu ingin sekali bertengkar dengan Adara.


Dulu Adara akan marah mendengar kata 'sial' dilontarkan padanya, tapi sekarang ia tidak perduli, Adara sudah terbiasa bahkan ia menerima itu. Kalau dirinya memang pembawa sial bagi Emirat.


Adara tersenyum miring, sembari melangkah membawakan tas tangannya meninggalkan Hana di meja makan. Berjalan dengan hak tinggi yang ia kenakan menjadikan Adara bak model papan atas. Ya, dia wanita sukses dan berkelas saat ini. Semua harga yang ia kenakan akan melebarkan mata jika di sebutkan satu persatu.


Hana merasa jengkel melihat Adara seperti tidak terpengaruh dengan hinaannya, yang ada ia kesal dengan ucapan Adara yang mengatainya tua.


"Dorong aku ke kamar," katanya pada suster yang berdiri di belakangnya.


"Baik, Nyonya."


Kemudia Hana melihat ke arah Lulu yang turut berdiri disana. "dan kau! Bawakan makananku ke kamar." titahnya pada Lulu tanpa ada rasa malu yang sudah jelas-jelas mengejek makanan itu hambar.


"Baik, Nyonya." Lulu menahan senyum, dan menyiapkan makanan untuk Hana dan membawahnya ke kamar wanita itu.


______________________________________________


Mert terlihat gusar di dalam mobil, ia melihat kearah Ipek yang tertidur disampingnya. Lelap seolah perempuan itu dibuai dalam mimpi indah.


Mert kembali mengingat pembicaraanya dengan Elif saat mendapatkan hasil sketsa yang ia minta.


"Gadis yang cantik," kata Elif menyerahkan hasil sketsa pada Mert. Pria itu melebarkan mata, gambar yang dibuatkan Elif sempurna seperti dalam mimpinya.


Rambut ikal panjang membingkai wajah kecil perempuan itu, netra yang indah dengan senyum manis di bibirnya yang merah muda.


Hanya dengan melihat sketsa itu Mert jatuh cinta.


"Terima kasih Nona Elif, ini sangat sempurna." ucap Mert. Andai saja Elif teman atau adiknya ia akan memeluk Elif sebagai tanda terima kasihnya. Segera ia memotret sketsa itu dengan ponselnya dan menyimpan kertasnya dalam saku celana.


"Anda pernah bertemu dengannya?" tanya Elif penasaran. Mert menggelengkan kepala lalu ....


"Entahlah," jawabnya sembari mengamati gambar dalam layar ponsel itu. Elif menautkan kedua alisnya merasa kalau Mert pria tampan yang aneh.


Dia sangat cantik, siapa kau sebenarnya ...?


Dan sekarang ia kembali mengamati sketsa dalam layar ponselnya, seolah ada rasa rindu yang tak dapat ia jelaskan pada perempuan dalam sketsa itu.


Mert memejamkan mata berharap dunia mimpi menjemputnya. Ia ingin mendengar tawa bahagia perempuan itu dalam pelukannya.


"Sayang, aku mau ke toilet," gumam Ipek terjaga. "Shakil, cepatlah carikan tempat istirahat." Ipek kembali memejamkan matanya setelah memberi perintah. Shakil setuju ia juga butuh istirahat berbeda dengan Mert yang lebih menikmati alam mimpinya.


Sementara di jalan yang sama dan tujuan yang sama Adara mengemudikan mobilnya menuju kota pesisir yang direkomendasikan Anatha. Penginapan sudah dipesan dan semua segala keperluan Adara dan Illy sudah disiapkan.


Adara menolak untuk di temani pengawal, ia ingin menjadi Adara biasa tanpa ada embel-embel penguasa. Adara ingin menjadi seorang ibu normal untuk Illy.


fly, fly little butterly


fly, fly, fly.


star small grow up big and tall...


fly, fly, fly.


Berulang kali lagu itu di putar dan anak manis itu tidak ada rasa bosan mendengarnya. Adara sampai hapal lirik dari lagu tersebut.


"Mom, Illy mau pipis," ucap Illy mematikan ponselnya dan menyerahkan benda itu pada Adara.


"Oke, kita cari restoran ya. Kita mampir." ucap Adara memberi pengertian, Illy mengangguk.


"Mommy minta maaf, seharusnya kita naik pesawat saja tadi. Kau pasti lelah, kan?" Adara menyesal mengajak Illy melakukan perjalanan panjang menggunakan mobil.


"Tidak masalah, Mom. Illy suka melihat bangunan dan pohon-pohon mengejar kita." ucap Illy polos memandang lewat kaca mobilnya. Adara terkekeh mendengar perkataan Illy.


Sungguh anak yang manis.


Adara memasuki parkiran restoran dan berhenti disana. Ia juga merasa lelah dan ingin melegakan pinggang dan bokongnya yang berteriak panas meminta tolong.


"Illy kita istirahat dulu, perjalanan masih panjang. Kau ingin ke toilet, kan?"


"Yes, Mom." seru Illy dan membukakan pintu mobil dengan tangan mungilnya. Illy melompat keluar seraya mengoyangkan rambut kritingnya.


"Ayo ikut, Mommy." Adara mengulurkan tangannya dan segera di raih Illy, ibu anak itu masuk ke dalam restoran berpengang tangan. Wanita cantik dengan balita mungil mencuri perhatian pelanggan tamu restoran itu.


Adara tampak seksi dengan bentuk tubuh padat di bagian tertentu. Rambut coklatnya di gulung asal ke atas menggunakan cepitan rambut sementara kakinya di hiasi sneakers putih berceklis hitam. Ia terlihat muda di usia dua puluh delapan tahun.


Illy mengenakan kaos putih bergambar hello kitty dengan celana jeans pendek. Rambut coklatnya dilepaskan sementara kakinya dibungkus sneakers merek yang sama dengan Adara.


"Mom, akan mengantarmu ke toilet," ujar Adara mencari tahu letak toilet dan setelah melihat petunjuk Adara menarik tangan Illy masuk ke sana.


Illy masuk kebilik satu sementara Adara masuk kebilik lain.


"Mom, celana Illy basah, maaf tidak sengaja saat cebok." ucap Illy dari bilik itu dengan suara keras dan penuh penyesalan.


"Baiklah, akan Mommy ambilkan gantinya di mobil." Adara menyiram toiletnya dan segera mengenakan celananya. Ia keluar dari bilik dan mengetuk bilik Illy.


"Sayang bukalah, kau bisa keluar dari sana." kata Adara.


"Tapi Mom ...,"


"Tidak masalah Illy, kau bisa menunggu Mommy di luar. Toiletnya sedikit pengap, ayolah." Illy keluar masih mengenakan celana dalamnya.


"Tunggu saja disini, Mommy akan ambilkan gantinya. Oke." Illy mengangguk patuh. Adara tersenyum dan keluar dari kamar mandi.


Bruk ...


Tidak sengaja Adara ditabrak seseorang saat keluar dari kamar mandi itu.


"Maaf," Adara mengangkat kepalanya melihat sosok yang di tabraknya.


Bersambung ....