OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Pulang dengan kesedihan



Ahmed membukakan pintu mobil untuk Rion, pria itu menarik napas sebelum memutuskan keluar dan memasuki rumahnya. Kaki panjang itu melangkah lebar, menaiki anak tangga ke lantai atas dimana kamarnya berada.


Di depan pintu, ia menghela napas panjang lalu menekan gagang pintu dan membukanya.


"Hun ...." Panggilnya masuk ke tengah ruangan, ia tidak menemukan Adara di sana. Rion membuka pintu kamar mandi dan ruang ganti, kosong.


Kemana dia? Seketika kepanikan memeluknya, ia keluar dari ruang ganti dan berlari keluar.


"Honey ...." Panggilnya dari lantai atas. "Dara ...." Suaranya semakin meninggi. Rion menuruni anak tangga.


"Dara!" Panggilnya menggelegar di ruangan itu. Lulu berlari kecil menghampiri.


"Tuan ...,"


"Dimana nonamu?" Teriak Rion, takut- takut Lulu menjawab.


"Nona pulang, Tuan."


"Apa?" Rion menelengkan kepalanya, minta di perjelas.


"Nona Adara pulang, dia membawa kopernya." Rion tergelak, menatap Lulu tajam kemudian berujar.


"Ini rumahnya, apa kau bodoh?" Bentaknya membuat Lulu terperanjat ketakutan.


Rion bergegas keluar, merampas kunci mobil dari tangan Ahmed yang tengah berdiri di samping mobilnya.


"Minggir!" Ahmed menyingkir jauh, melihat Rion di penuhi emosi membuatnya menggelengkan kepala.


Rion mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menyalip dan kadang juga menyalakan klakson membabi buta. Seolah jalanan itu miliknya.


______________________________________________


Adara menepikan mobilnya, tidak jauh dari rumah ibunya. Ia pulang dengan kesedihan, Adara bingung bagaimana menceritakan ini pada Lidia. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana ibunya menyikapi semua ini. Tapi yang pasti ibunya akan kecewa.


Di depan sana ia melihat mobil terpakir di depan rumah ibunya, mobil itu milik mertuanya. Ia menghela napas panjang.


Kenapa ibu mertua di sini? Apa Rion disana juga? Menyebalkan! Mereka mau apa? Pamer kalau Rion menghamili wanita itu.


Adara berdecih, memutar balik mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Untuk saat ini ia ingin menghindar dari Rion dan menenangkan diri. Adara menyetir tanpa tujuan yang jelas.


____________________________________________


Deru mobil Rion terdengar memasuki halaman rumah mertuanya, ia keluar dengan kekesalan bercampur rasa takut. Takut berhadapan dengan Lidia, ibu mertuanya.


Selama ini Lidia sangatlah baik padanya, menganggapnya seorang putra dan menjadi teman baik mengurus Adara. Tapi sekarang entah apa yang terjadi setelah masalah ini.


Rion melihat mobil ibunya terparkir di sana. Ia melebarkan mata, bertanya dalam hati apa yang di lakukan Hana di sana.


Rion menekan bel dan tidak lama di bukakan pelayan, mempersilahkan pria itu masuk.


Satu tarikan napas panjang dari Rion, membawanya masuk ke ruang tamu. Disana ia melihat Hana dan Lidia saling diam.


"Di mana Dara, Ma?" Tanya Rion, menatap ke lantai atas.


"Apa maksudmu dimana? Tentu saja di rumah." sahut Hana, ia juga bingung kenapa Rion datang.


"Lulu bilang di pulang, Dara juga bawa kopernya," Rion melihat Lidia yang tampak tenang, wanita itu menggenggam gelas kopinya lalu meletakkan di atas meja tanpa suara.


Lidia menatap Rion, sorot matanya dingin.


Rion menciut hanya dengan tatapan itu, Rion langsung berlutut di lantai menundukkan kepalanya meratapi kesalahannya. "Mama mertua, maafkan aku ..., aku minta maaf tidak bisa menepati janjiku ... aku sudah mengecewakan Adara. Aku bersalah Mama mertua ...." Tubuhnya berguncang karena terisak.


Melihat apa yang di lakukan Rion, hati Hana berdenyut sakit. Seolah diremas di dalam dadanya. Berbeda dengan Lidia yang tampak tak peduli.


"Jika putriku memilih pulang, biarkan dia pulang. Aku masih hidup untuk mengurusnya. Maafkan aku besan, sepertinya permintaanmu tidak dapat aku penuhi. Adara tidak akan pernah berbagi suami."


Rion mendongak, menolehkan kepalanya pada Hana. Tatapan suram terpancar dari matanya, Rion tidak suka rencana ibunya itu. Hana menghela panjang seraya memalingkan wajahnya dari tatapan suram Rion.


"Mama mertua, tidak, tidak, itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan menikahi wanita itu." Rion menggeleng-gelengkan kepalanya. Lidia mendengus.


"Besan ...," Suara Hana terdengar memohon.


"Meski begitu, aku akan sampaikan keinginanmu pada Adara." ujar Lidia pada Hana. "Maaf, kalian bisa pulang." Tambahnya.


_____________________________________________


"Terima kasih, Mama." gumam Adara, mulutnya penuh makanan. Ia mendongak, air matanya menitik. "Astaga, sejak kapan mama suka makanan pedas. Dara sampai menangis." Tambah Adara berasalan, mengusap ujung hidungnya yang memerah. Kening Lidia mengkerut, mengingat tak satupun cabai ia taruh dalam makanan itu.


Kau sangat terluka, Adara.


Lidia mengerti, "lakukan apapun yang bisa mengurangi kesedihanmu. Jangan tahan kau bisa sakit nanti." Lidia mengulurkan tangan mengelus kepala putrinya itu lembut.


Adara mengangguk, meletakkan sendoknya.


"Maafin aku, Ma." Desisnya, "pernikahanku berakhir. Maaf karena sudah membuatmu kecewa." Adara menunduk dalam.


"Itu bukan salahmu," Lidia menarik napas panjang. "Apa ...kau sudah bertemu dengan wanita itu?" Tanya Lidia.


"Untuk apa? Begini lebih baik," gumam Adara, menarik sudut bibirnya.


Malam itu di langit yang sama dalam waktu bersamaan.


Calista, mengusap perutnya, rautnya yang selalu murung akhirnya dapat tersenyum.


Rion terduduk di lantai kamar, bersender pada dinding. Penampilannya berantakan, menggenggam cincin Adara yang terlepas.


Adara menenggelamkan wajahnya dalam bantal sembari sesegukan, meratapi kemalangannya.


____________________________________________


"Adara," sapa Hana mendatanginya di halaman rumahnya, Adara menarik napas perlahan. "Ikutlah sebentar." Pintanya membukakan pintu mobilnya. Adara tampak berpikir lalu masuk kedalam mobil. Supir membawakan mereka ke suatu tempat dan menepi di jalanan sepi.


Hana memberi isyarat supaya supirnya meninggalkan mereka berdua di dalam.


"Adara, apa yang harus aku lakukan untuk hubungan kalian ini? Rion mengurung dirinya di kamar dan tidak bisa di ajak bicara sementara wanita itu butuh kepastian." Hana bertanya, menoleh pada Adara yang duduk di sampingnya.


Adara tersenyum kecut, jadi ini alasan Ibu mertuanya itu mengajaknya keluar.


"Kenapa Mama bertanya padaku? Hubunganku dan Rion sudah berakhir." Adara memamerkan jari-jarinya, menunjukkan kalau tanda pengikat hubungan mereka telah terlepas.


"Dara ...," Hana membeliak, "apa kau akan menyerah pada pernikahanmu? tanya Adara, ia tidak percaya semudah itu Adara melepaskan Rion.


"Rionlah yang menyerah bukan Dara. Aku tidak menerima penghianatan dalam hidupku, apapun alasannya." Jawab Adara. "Mama bisa nikahkan mereka, Mama juga pasti senang, bukan? Mama akan memiliki cucu yang sudah lama mama inginkan." sambung Adara menatap mertuanya itu.


"Mama tidak bisa mengabaikan bayi itu, Dara. Mama minta maaf tapi aku tidak menyangka kau akan menyerah. Dara, Rion sangat mencitaimu melebihi apapun itu. Biarkan mereka menikah hanya demi bayi itu. Tapi mama minta bertahanlah, aku menginginkan kau tetap menjadi menantuku."


"Maaf, Ma. Aku teramat mencintai Rion hingga tidak dapat berbagi dengan wanita lain." Hana menghela napas berat,


"Dara ...," mohon Hana, tapi menantunya itu memalingkan wajahnya ke arah lain. "Baiklah, mama paham." lirih Hana, membukan jendela mobilnya dan. "antarkan Adara pulang!" katanya pada supir yang berdiri di luar mobil.


_____________________________________________


Sekeras apapun Rion meminta maaf dan memohon supaya Adara kembali dan membatalkan gugatan cerainya, Adara tetap kekeh dalam pendiriaanya. Ia menolak apalagi setelah Calista menemuinya dan mengatakan kalau hubungan Adara dan Rionlah yang terjalin karena sebuah kesalahan.


"Delapan tahun yang lalu, aku pernah mengatakan cintaku padanya, tapi pria itu terobsesi pada gadis remaja. Aku kecewa dan memilih pindah ke Shanghai. Rupaya takdir mempertemukan kami kembali. Malam itu memang sebuah kesalahan, kami memutuskan untuk menguburnya menjadi rahasia selamanya. Tapi Tuhan memberiku bayi ini. Menurutmu bukankah kami berjodoh?" Dengan sombongnya Calista mengatakan itu pada Adara.


Masa sekarang ...


"Dara ...," sapa pria itu dengan senyum merekah di bibirnya, menyambut kedatangan Adara di restoran tempat ia berjanji temu.


"Maaf, apa aku terlambat?" tanya Adara,


Pria itu kembali menyungingkan senyum. Tidak peduli seberapa lama ia menunggu disana tapi begitu melihat Adara berkenan menemuinya itu sudah cukup sebagai imbalan dari rasa bosannya.


"Tidak sama sekali," balasnya, menarik kursi untuk Adara.


"Terima kasih, Emre." ucap Adara dengan suara lembutnya.


Bersambung ...


Catatan kecil : Boleh dong minta like


: Boleh dong minta poinnya🤗


: Boleh dong minta klik ❤️


: Boleh dong minta klik Rate 5


Yang berkenan terima kasih, karena sudah bantu author!