
Rion membuka pintu kamar dan melihat Adara sedang berbicara lewat ponselnya. Pria itu penasaran siapa yang menelpon istrinya itu pada malam hari begini.
"Yee, umm baiklah terima kasih untuk kabarnya, Jie." Seketika wajah Rion pucat pasi. Mengurut tengkuknya yang terasa pegal.
Apa Jie mengatakannya? Berakhir sudah!
Rion mematung di tengah ruang, melihat Adara menatapnya kesal.
"Dara ...," gumam Rion saat melihat Adara menghampirinya. Istrinya itu berdecak sebal seraya berkacak pinggang. "Aaaku ...,"
"Ck, sayang kamu dari mana? Malam begini baru pulang? Lupa ya kalau punya istri?" Rion kelimpungan, menghembuskan napas lega.
Syukurlah Jie masih bisa tutup mulutnya.
"Eh? Tidak kok, mana mungkin aku lupa pada istri tercintaku," Rion menarik tangan Adara lalu mengecupnya. "Siapa yang menelpon, honey?" Rion bertanya meski jelas ia mendengar Adara menyebut nama Jie, dan sekaligus ingin tahu apa yang mereka bahas.
"Jie," Adara sudah ada dalam pelukan Rion. " Mau memberitahu kalau hasil pembagian pendapatan kafe sudah di transfer." Rion lega tanpa sadar memeluk erat istrinya itu.
"Sayang kau mau apa? Aku sesak," Adara merasakan pelukan Rion membuatnya sesak.
"Aku sayang kamu, Dara." ucap Rion melonggarkan pelukannya. Istrinya berdecih.
"Aku tahu itu,"
"Selamanya,"
"Aku juga tapi, lepaskan pelukannmu sayang. Kau harus mandi dan makan." Didorongnya dada suaminya itu agar pelukan itu lepas.
"Tidak mau! Aku mau makan kamu aja," ujar Rion terdengar manja. Membuat istrinya itu terkekeh geli. Rion mengangkat istrinya itu naik ke atas ranjang dan memeluknya di sana.
Adara merasa heran dengan sikap Rion yang menurutnya aneh. Tapi meski begitu ia tetap memberi Rion menguasainya dalam pelukannya.
______________________________________________
Calista membuang semua isi perutnya yang belum lama ini ia makan. Di usia kandungannya yang masih muda rasa mual sering ia rasakan. Terutama di pagi hari dan sore hari. Ia menarik napasnya yang terengah-engah sembari menekan tombol siram pada toilet.
Calista menangis saat seperti ini ia butuh seseorang yang bisa mendampinginya, memberi perhatian sebanyak yang ia mau tapi lihatlah apa yang terjadi pada gadis malang itu? Kesepian dan menyedihkan begitulah gambaran mengenai dirinya saat ini.
Calista mengingat bagaimana ia mengancam Rion saat bertemu dan berpikir akan benar-benar menemui orang tua Rion.
Jika Rion menolakmu kita cari yang mau menerimamu yaitu nenekmu. Ia pasti menyukaimu bayiku.
_____________________________________________
Setelah melakukan serangkaian tes kesehatan pada Adara dan Rion, kini mereka berada di ruang praktek kerja dokter Kevin.
Untuk pengambilan sel telur dan ******.
Adara terbaring di bangsal setelah di beri obat bius untuk pengambilan sel telur lewat bantuan usg, mencari folikel dalam rahim sebelum di ambil denagan jarum.
Rion disana menunggu, melihat bagaimana Adara meringis saat pembiusan hingga pengambilan sel telur lewat jarum khusus.
"Pak Rion, anda bisa masturbasi?"
"Eh ...?" Pertanyaan vulgar dokter Kevin membuatnya tercengang sekaligus malu.
Sudah lupa caranya ...
"Ha ha, pengambilan sel telur istri anda akan berakhir dan kita butuh mani pak Rion. Aku rasa masturbasi cara yang nikmat untuk mengeluarkannya atau bisa kita ambil pakai jarum kalau pak Rion sungkan, tapi rasanya beda loh pak?" Dokter Kevin menjelaskan dengan kekehan ringan mengubah suasana canggung di ruangan itu.
Rion tampak berpikir dan seketika bergidik ngeri membayangkan jarum menyentuh kelaminya. Jantungnya berdetak cepat menggeleng.
"Ya, aku akan melakukannya di mana tempatnya?" Rion bertanya dengan semangat bangun dari duduknya, dan dokter itu menunjukkan toilet lewat telunjuknya. Perawat tersenyum memberi komdom sebagai wadahnya.
Rion memerah masuk kedalam toilet dan merasa tidak nyaman.
Aku rasa aku membutuhkan vidoe miyabi saat ini. batinya mulai menurunkan resleting celananya dan memulai aktivitasnya.
____________________________________________
Diam-diam Calista mendatangi rumah Rion dan di sambut Lulu pelayan di rumah itu.
"Permisi apa benar ini tempat tinggal Ny. Hana Emirat?" tanya Calista setelah Lulu membukakan pintu.
"Teman Rion, putra Nyonya Hana, apa orangnya ada?" tanya Calista.
"Nyonya besar dan tuan muda sama istrinya lagi kerumah sakit," ujar Lulu dengan sopan.
"Ada ...apaan memangnya?"
"Oh itu, Tuan dan Nyonya muda akan segera punya bayi." Calista tercengang spontan mengelus perutnya.
Apa mungkin yang di maksud pembantunya ini bayi tabung itu? Atau Dara hamil? Tidak! Sebelum itu terjadi aku harus aman dulu. Aku harus benar-benar memastikan kalau Calista akan menjadi bagian keluarga Emirat meskipun harus mempermalukan diriku sendiri.
"Nyonya ...?" Panggil Lulu melihat Calista termangu.
"Baiklah, aku akan kembali nanti. Maaf," kata Calista meninggalkan rumah itu.
____________________________________________
"Setelah sel telur dan mani di pertemukan kita akan melihat perkembangannya kurang lebih lima hari." ujar dokter Kevin setelah selesai praktek.
"Jadi kapan kita kesini lagi?" tanya Rion, Adara terlihat pucat duduk di sampingnya.
"Akan aku pantau perkembangannya. Mudah-mudahan ini berhasil menjadi embrio dan kita akan melakukan transfer pada rahim sang istri," ujar dokter Kevin. "Aku akan kabari dan pak Rion jaga kesehatan istri anda jangan sampai stres." Tambahnya.
"Pasti dokter," Adara tersenyum mendengar jawaban suaminya itu dengan semangat. "Kita akan punya bayi," gumam Rion membelai rambut Adara di hadapan dokter Kevin, membuat pria itu turut merasakan kebahagian pasangan itu.
...
Tiga hari kemudian ...
Calista mendatangi rumah Emirat di siang hari, ia kesal Rion tidak mengabaikannya setelah pertemuan terakhir mereka di kafe.
"Siapa?" tanya Hana membukakan pintu rumah dan di pertemukan sosok Calista, wanita berusia dua puluh delapan tahun dengan tubuh sedikit kurus dan pucat.
"Calista, pacar putra anda," ucap Calista mengulurkan tangannya. Gadis itu memasang raut tidak tahu malu saat mengatakan kata 'pacar'.
Hana memindai penampilan Calista dengan tatapan mencemoh, mengabaikan tangan yang terulur itu.
"Apa, kau, bilang?" Tanya Hana dengan satu persatu kata. "Pacar?" Hana terkekeh tidak percaya.
"Pergilah ...!" kata Hana dengan nada memerintah dan hendak menutup pintu mengabaikan pengakuan Calista.
"Aku hamil ...," Hana kembali membuka pintu dan keluar lalu menutup pintu di belakangnya.
Hana tercengang menatap Calista dari atas hingga bawah, lalu menarik tangan Calista menjauh.
"Apa katamu tadi? Hamil? apa kau sudah gila? " Hana melipat tangannya di dada, memberi tatapan mengancam pada Calista.
"Iya, itu benar ... saat ini aku mengandung benih Rion dan sudah tiga bulan." ucap Calista membenarkan.
"Lalu kenapa kau mengatakan itu padaku? atau kau ingin mengatakanya pada menantuku?" tanya Hana penasaran.
"Rion menolaknya bahkan berpikir untuk menyingkirkannya. Itulah sebabnya aku datang kesini minta perlindungan."
Hana terkejut mendengarnya, tapi seketika merubah wajah tengangnya itu dengan senyum sinis.
"Katakan berapa banyak yang kau inginkan?" Hana membicarakan nominal, ia tidak boleh percaya begitu saja dengan wanita di hadapannya ini.
"Apa maksudnya?" tanya Calista bingung.
"Harga dari tubuhmu? Mungkin putraku pernah menikmati tubuhmu tapi bukan berarti ia menghamilimu." Hana mengatakannya dengan sorot mata tajam penuh penghinaan.
Siapa wanita ini berani-beraninya dia mencari masalah pada keluargaku.
Calista tersenyum, menjadi orang baik itu ternyata sangat susah. Ia berharap wanita tua yang sudah lama menginginkan cucu itu akan menerimanya. Nyatanya penghinaanlah yang ia terima.
Calista tergelak, mengangkat kepalanya dengan tatapan sombong. Harga tubuhku ...Hah? Ia menahan air matanya supaya tidak terlihat lemah.
"Putramu, hanya itu yang aku mau."
Bersambung ...