OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Morning Kiss



Jie terbangun tanpa selembar pakaian dalam tubuhnya. Ia menggigit bibir bawahnya melihat Emre sama seperti dirinya.


Astaga, apa yang sudah aku lakukan?


Jie, melangkah pelan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Sementara Emre masih tertidur dengan posisi miring di lantai tanpa alas. Jie berjalan jinjit meninggalkan ruangan itu dan memakai pakaianya di toilet.


Setelah rapi Jie, mengambil tas tangannya di meja kasir ia menoleh pada pintu ruangan dimana Emre masih terlelap sebelum akhirnya ia meninggalkan tempat itu.


"Mau mati saja! Bagaimana aku menghadapi Emre? Apa yang sudah aku lakukan? Aku yang menciumnya duluan. Aku sudah gila." rutuk Jie, memukul-mukul kepalanya pada stir mobilnya.


"Aku berharap pria itu lupa. Apa ada yang menjual obat biar ingatan kita lupa? Akan aku beli berapapun harganya." Jie bermonolog sendirian kemudian ia meringis bagian sensitifnya terasa nyeri. "Astaga ... ini masih perih. Punya Emre lumanyan tangguh juga. Ah ... kenapa aku mengingat itu. Seseorang tolong bunuh aku." Teriaknya, memukul geram stir mobil itu.


______________________________________________


Adara terbangun, ia mengangkat kepala lalu mengusap wajahnya lembut. Melihat ke arah Rion yang masih tertidur.


"Ya ampun ini terasa pegal." gumam Adara, merentangkan kedua tangannya sembari melebarkan mulutnya. Ia menguap, Rion tersenyum melihat mulut lebar itu. Adara menyadari lalu membalas senyum Rion canggung.


"Kau sudah bangun?" Tanya Adara menggaruk tengguknya. Astaga memalukan kenapa harus menguap.


"Tepat saat kau menguap." jawab Rion lalu mengalihkan tatapannya ke arah sofa dimana Hana terlelap.


"Siapa dia?"


"Yang mana?" Adara mengikuti tatapan Rion.


"Perempuan itu." Keninga Adara berkerut, lalu menoleh kembali pada Hana. Memastikan kalau Hana lah yang di maksud Rion.


"K-kau tidak mengenalnya?" Adara gugup, lalu menelan salivanya. Ia ingin minum tenggorokannya terasa kering. Adara berdehem, "aaku siapa?" tanya Adara lagi, menunjuk dirinya sendiri. Rion tersenyum.


"Istriku." jawabnya percaya diri.


Mantan istri bodoh. Kau membuat jantungku berdebar.


"Siapa namamu?"


"Apa? Pertanyaan macam apa itu. Aku suamimu, Rion." gumam-gumam.


"Ini bukan saatnya bercanda Rion. Jangan membuatku jengkel." Adara menatap jengah Rion.


"Aku tidak bercanda, Adara. Aku tidak pernah menganggap serius perceraian kita." Adara terdiam, saat Rion mengatakan itu dengan sorot serius.


"J-jadi kenapa kau tidak mengenalinya?" Adara menunjuk ke arah Hana.


"Apa aku harus mengenalinya juga?" Rion balik bertanya. Adara mengangguk.


"Aku akan bicara pada doktermu, istirahatlah! Jangan terlalu keras pada dirimu." Adara menepuk punggung tangan Rion lalu berdiri dan ingin menemui dokter Rion.


"Dara," panggil Rion menghentikan langkah kaki wanita itu.


"Iya," Adara menoleh, tangannya sudah meraih handle pintu.


"Ada sesuatu di mataku, apa kau bisa melihatnya?"


"Ya, tentu." Adara berjalan, lalu mendekati Rion dan mencondongkan tubuhnya melihat mata Rion. "Aku rasa tidak ada? Apa sesuatu masuk?"


"Mungkin kau kurang dekat melihatnya. Ini rasanya perih." sudut bibir Rion berkedut, menahan senyum. Adara mendekat dan mencoba melihat dengan jelas.


"Muah ...." bibir hangat pria itu membuat Adara mengerjap, Rion mengecup tepat di sudut bibir Adara. "Morning kiss." gumamnya.


Rion tersenyum puas, wajah Adara dipenuhi rona. Pria sialan! Batinya seraya menahan malu. Jantungnya berdegub.


"Kau menipuku?" Adara menatap tajam Rion, berusaha bersikap normal. Tapi merah di pipih itu tidak dapat ditutupi.


"Tidak, memang ada sesuatu di mataku, Dara. Peri cantik namanya Adara, kau tidak melihatnya?" jawab Rion, ia terlihat bahagia.


Adara terkekeh garing, "Kau pikir ini lelucon?" Adara berdecih, "Jaga sikapmu, aku bukan istrimu kalau kejadian seperti ini terjadi aku akan menggigitmu." Ancam Adara.


"Aku menantikan gigitanmu, honey." Rion mengerlingkan sebelah matanya menggoda.


"Menjengkelkan!" Adara berbalik, menggigit bibir bawahnya menahan senyum. Begitu sampai di luar ia menyenderkan dirinya pada dinding sembari menyentuh sudut bibirnya. Masih terasa hangat. Jantungnya meledak-ledak seolah minta tempat lebih luas di dalam dadanya.


"Apa? Morning kiss? Cih. Astaga dia membuat jantungku meledak." Adara bermonolog sendiri, tersenyum sembari menepuk-nepuk dadanya.


Tidak! Aku tidak boleh lemah! Jantungku jangan coba-coba berhianat padaku. Saat bersamanya kau harus berdetak normal. Ancam Adara sambil menepuk-nepuk dadanya yang masih terasa penuh.


______________________________________________


"Ada beberapa macam amnesia, dan salah satunya amnesia lakunar dimana seseorang mengalami hilang ingatan mengenai sebuah peristiwa secara acak. Jenis Amnesia ini tidak merusak ingatan masa lalu atau masa baru yang terjadi. Amnesia jenis ini terjadi karena kerusakan bagian otak mungkin karena benturan keras pada bagian limbik."


Dokter menjelaskan pada Adara mengenai keadaan Rion. "Akan tetapi untuk memastikan itu kita akan melakukan tes lebih akurat sebelum mengambil tindakan." Tambah dokter itu lagi. Adara mengangguk.


"Tindakan seperti apa dokter? Apa harus operasi?" Adara tidak bisa membayangkan jika pria lemah yang baru saja tersenyum padanya tanpa dosa harus mengalami pembedahan pada bagian kepalanya.


"Kita lakukan terapi, salah satunya terapi kognitif. terapi ini untuk memperkuat daya ingat pasien dengan cara bantuan teknologi seperti ponsel, agenda eloktonik. Pasien juga harus dibantu suplemen dan vitamin untuk mencegah kerusakan otak lebih parah. Mohon bantuannya Ibu Adara, pasien tidak boleh stres, minum alkhol dan merokok. Mert tidak melakukan itu, kan?"


Mert? Raut Adara berubah masam saat mendengar nama itu. "Namanya Rion Emirat. Anda tahu dia lupa ingatan masih saja memanggilnya dengan nama itu." Entah kenapa seketika Adara benci mendengar nama itu.


"Maaf, bu. Data pasien memang masih atas nama Mert."


"Ganti!"


"Perawat saya akan mengganti data pasien sesuai keinginan Ibu."


"Bukan begitu, aku ... sangat jengkel mendengar nama itu. Lakukan yang terbaik untuk pasien, aku mengandalkanmu." ucap Adara bangun dari duduknya.


Ia tidak lagi Adara yang beberapa saat lalu seperti orang memohon penjelasan. Sikap intimidasinya muncul, raut datar dan tatapan dingin seperti bongkahan es.


Dokter itu mengangguk patuh, kalau saja Adara bukan orang istimewa di rumah sakit itu. Sudah pasti dokter itu mengusir dan bertindak abai. Sayangnya direktur utama rumah sakit MF bahkan memberi perintah untuk mengistimewakan pendonasi, Adara.


Adara kembali ke ruangan Rion. Ada tiga perawat yang sedang membersihkan tubuh Rion dan mengganti bebat luka di punggungnya. Hana sudah bangun dan tampak gelisah. Begitu melihat Adara muncul ia langsung menyerat tangan Adara ke sudut ruangan.


"Adara, kau yakin itu Rion?" tanya Hana dengan suara kecil.


"Ibu tidak merasakan adanya kontak batin?" Adara balik bertanya dengan nada mengejek.


"Eih, dia tidak bicara dan mengenaliku,"


"Ayo kita buang saja dia,"


"Apa?" Hana spontan berteriak memenuhi ruangan itu. Membuat gerakan bersih-bersih padat tubuh Rion terhenti. Semua mata tertuju ke arah mereka, kecuali satu perawat berambut pendek mendongak ke atas, hidungnya mimisan punggung Rion terlalu mempesona.


"Kenapa Ibu marah? Ibu yang meragukannya dan dengan senang hati aku memberi ide."


"Ah wanita ini menguji kesabaranku." gumam-gumam Hana. "Aku tahu kau mau membalasku, kan?"


"Tidak juga."


"Adara, ayo kita berdamai demi Rion. Dia hanya mengingatmu. Sibodoh itu mencarimu dari tadi. Mmm?" Adara tersenyum melihat Hana mertuanya memerah. Semenjak Rion hilang keduanya tidak pernah akur. Adara memikirkan sesuatu. Ia teringat Illy, gadis kecil yang selalu di tatap Hana dengan kebencian.


"Baiklah, tapi ada syaratnya."


"Dara kemarilah ...." panggil Rion setelah di berpakaian rapi dan ditinggal perawat, Adara mengangguk kecil kemudian mencondongkan tubuhnya pada Hana.


"Dia memanggilku, aku lebih baik pulang Illy pasti mencariku. Aku dengar orang yang hilang ingatan suka mengamuk." Bisik Adara menakuti Hana.


"Dasar menantu sialan!" Hana menampar Adara, menarik rambut panjang itu sembari terbahak mengerikan memenuhi ruangan itu.


"Kau memang pantas mendapatkan ini. Aku akan membuangmu kelaut dan menjadi santapan ikan hiu." Teriaknya, Adara berusaha melepaskan diri.


"Ibu ..."


Bersambung ...


Terima kasih buat dukungan kalian pada cerita ini. Cerita ini ada karena kalian ada. Salam hangat dari Kirei.