OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Pembawa Sial



Perawat mendorong Calista diatas Brankar masuk ke ruang unit gawat darurat. Ia mengeluh sakit karena kontraksi hebat yang terjadi di usia kandungannya yang masih tujuh bulan.


Keringat memenuhi dahinya hingga mengucur di pelipis. Calista butuh sandaran, butuh perhatian seperti ibu hamil lainnya yang didampingi para suami saat masa-masa sulit begini. Tapi, Calista tidak akan mendapatkan itu, pria yang menikahinya tidak pernah menoleh kepadanya meski ia mengandung benih pria itu.


Rion sengaja menjauh, ia tidak ingin menjalin hubungan emosional pada Calista yang akan menyulitkan dirinya jika akan menceraikan Calista. Ah, jangankan untuk Calista untuk menyapa atau melihat perut besar Calista. Rion tidak pernah. Alasannya juga sama, jika ia menjalin hubungan emosional pada bayi itu maka dengan ibunya ia akan memberi perhatian. Rion tidak ingin itu terjadi. Katakan dia egois, manusia terlaknat sejagat raya. Rion masa bodoh, baginya Adara adalah dunia, nyawa dan kehidupannya.


"Lahirkan bayi itu dengan selamat, aku akan menghubungi Rion." kata Hana, saat mendampingi Calista di UGD.


"Ibu," panggil Calista, suaranya berat dengan tatapan mata mengiba.


Hana berdecak, lalu mendekat pada Calista.


"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi, tapi untuk saat ini aku akan mengunci mulutku sampai kau pulih." Bisik Hana, mengabaikan tatapan sendu Calista dan melangkah keluar mengizinkan para medis melakukan tugasnya.


Hana mencoba menghubungi Rion, masuk tapi tidak diangkat. "Ck, Rion angkat sayang." Hana mencoba lagi.


"Halo Nyonya," sapa dari seberang. Ahmed menjawab ponsel Rion yang tertinggal di dalam mobil.


"Rion di mana?" Disaat bersamaan perawat memanggilnya ke ruangan dokter kandungan.


"Maaf Nyonya, T-tua —,"


"Katakan pada Rion supaya datang ke rumah sakit, Calista akan melahirkan." Hana menyela ucapan Ahmed yang tengah kebingungan di tepi pantai menunggu team sar mencari Rion. Ponsel itu terputus. Hana mengikuti langkah perawat yang memanggilnya tadi.


"Nyonya Emirat?" Hana mengangguk, lalu duduk di hadapan dokter kandungan itu.


"Saya ingin menyapaikan posisi bayi dalam kandungan Nyonya Calista sunsang. Jadi untuk melahirkan normal sepertinya tidak mungkin."


"Ambil tindakan bedah saja," kata Hana


"Dan bayi dalam kandungan Nyonya Calista juga sangat kecil. Itulah mengapa bayi itu lahir prematur."


"Apa?" wanita itu! bagaimana bisa dia tidak peduli dengan bayinya sendiri. Dia berbangga hati dengan kehamilannya tapi hasilnya memalukan begini. Apa aku tidak memberinya makan? Aish Calista ...!"


"Kenapa bisa begitu, menurutku asupan nutrisinya cukup baik." tanya Hana, air mukanya berubah kecut.


Dokter menjelaskan adanya faktor lain kalau kelahiran prematur pada bayi tidak melulu masalah nutrisi. Tapi pasien kemungkinan besar mengalami stres, anemia, darah tinggi adalah penyebab hal umum yang terjadi. Tapi bisa jadi ada faktor yang lebih serius, seperti gangguan ginjal, jantung dan masih banyak lagi.


Calista pasti mengalami stres selama kehamilannya. Tapi bukankah dia harusnya lebih perhatian pada bayi itu daripada pusing memikirkan Rion? Aku yakin perlahan Rion pasti menyukainya setelah melihat bayi itu.


Hana mengangguk paham, "Baiklah dokter, lakukan yang terbaik untuk cucuku dan ibunya." ujar Hana mempercayakan tindakan yang terbaik menurut dokter kandungan itu.


Saat Hana keluar ruangan dokter, ponselnya berdering ia mengangkatnya.


"Apa?" Spontan ia menyender pada dinding, Hana sangat terkejut, seakan -akan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari polisi mengenai Rion. Terlalu kaget hingga polisi memutus telpon sepihak.


"Terseret ombak? apa yang terjadi? Rion bukannya ada di rumah Adara?" Hana bertanya pada diri sendiri, kelimpungan menyeret langkahnya masuk ke ruang UGD, dilihatnya Calista merintih tengah di periksa perawat.


"Aku akan menyewa perawat untuk mengurusmu, Calista. Aku tidak bisa mendampingimu. Putraku terseret ombak, entah apa yang terjadi aku tidak paham." Calista membeliak, rasa sakit seketika hilang dari tubuhnya. Ia tercengang sembari melihat Hana melangkah keluar.


"Cepat bius aku!" teriaknya pada perawat yang bertugas untuknya, ia ingin mengurangi rasa sakit dalam dirinya saat ini.


______________________________________________


Penyelam sudah dikerahkan mencari Rion kedasar laut, empat titik telah di telusuri yang diperkirakan menjadi tempat tenggelamanya Rion. Tapi hasilnya masih nihil. Matahari sudah terbenam pantai juga terasa damai. Gulungan ombak kecil terlempar ke tepian.


Adara berdiri mengenakan selimut membungkus tubuhnya yang mengigil. Tidak ada air mata untuk pria itu meski begitu hatinya tetap berdenyut, menyesali kenapa ia meminta jiwa untuk maafnya. Adara menatap jauh ke tengah pantai, rambutnya masih basah dan acak-acakan. Emre berlari kecil membawakan dua cup kopi panas. Ia memberikan satu untuk Adara.


"Minumlah," Emre mulai mencicip kopinya, sementara Adara tak berselera tapi untuk menghargai niat baik Emre ia mencicipnya sedikit.


"Kau masih sanggup menikmati kopimu Adara!" Hana tiba-tiba datang dan menampar Adara. Membuat cup miliknya terjatuh.


Adara terdiam, ia mengabaikan tatapan membunuh dari Hana.


"Kau! Apa salah putraku sampai kau menghukumnya seperti ini? Apa Adara? Dia mencintaimu dan ini balasan yang kau buat untuknya?" Teriak Hana, menuding Adara. Emre menarik Adara kebelakangnya memisahkan kedua orang itu.


" Jangan menyalahkan Adara, Nyonya. Bukan salah Adara jika putra anda terseret ombak." Emre mencoba membela.


"Menyingkir dari hadapanku!" Hana menarik kemeja Emre. "Adara kau harus bertanggung jawab untuk ini. Kalau sampai putraku kenapa-napa, aku akan mengirimmu ke penjara." Ancam Hana dengan tatapan mengerikan.


"Aku akan menjadi saksi Nyonya, bagaimana putra anda menarik Adara masuk ke dalam laut untuk bunuh diri bersama." Emre berujar, berhasil menutup mulut Hana.


"Ayo Dara kau tunggu di mobil saja, sampai penyelam membawakan hasilnya." Emre menarik tangan Adara. Wanita itu diam di tempat. Ia menatap Emre, seolah meminta waktu untuknya berbicara dengan Hana. Emre menarik napas perlahan lalu mengangguk dan melepaskan tangan Adara.


"Kenapa ibu tegang sekali begitu mendengar Rion mengajakku bunuh diri?" Adara bertanya begitu Emre menjauh. Ia membaca pergerakan Hana yang menunjukkan raut kegelisahan kental.


Hana berlutut, tenaga yang ia punya telah terkuras setelah mendengar kabar mengenai Rion. Hati Hana hancur berkeping, memikirkan bagaimana kehidupan sempurna anaknya hancur berantakan hanya demi cinta.


Belum lagi ia harus memikirkan masa depan cucunya yang tengah berjuang di lahirkan dengan bobot tubuh kecil yang akan kemungkinan memiliki kelainan di masa mendatang. Hana tidak bisa membayangkan bayi itu hidup tanpa seorang ayah meskipun Rion belum menerimanya.


"Dara ..., semua ini salahmu. Andai saja kau tidak menceraikan Rion. Kejadian ini tidak akan terjadi. Kehidupan putraku akan baik-baik saja. Apa susahnya untuk berbagi hati pada wanita itu, toh cinta putraku hanya untukmu. Kau patut dipersalahkan, putraku kembali dari London untuk menjemputmu dan sekarang ... ia ..." Hana menangis, suaranya pecah menggenggam pasir dalam tangannya.


Hana membayangkan seperti apa Rion sekarang. Ketakutan di dalam laut yang gelap, atau mungkin para ikan buas telah berpesta pora mengkoyak tubuhnya hingga hancur tak tersisa. Spontan Hana memekik ketakutan.


"Tidak! Putraku harus hidup." Teriaknya pada Adara. "Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Adara. Tidak akan! K-kau seperti pembawa sial bagi keluargaku." katanya, berhasil melebarkan tatapan Adara. Mengusik diamnya wanita itu. Kata sial menjalar dalam hatinya, menggerogoti tubuhnya hingga ke tulang -tulangnya. Selama hidup ia baru mendengar kata itu di lontarkan dengan tatapan tajam dan nada kejam padanya.


Adara tersenyum kecut dengan tatapan sinis, beradu mata dengan wanita tua itu.


"Seharusnya, aku yang ada di posisi itu Nyonya Emirat, hanya aku yang berhak mengatakan itu pada Nyonya. Kalau putra yang anda lahirkan itu pembawa sial bagi kehidupanku. Ia menghacurkan kehidupanku dalam seketika, ia membuatku hidup tanpa seorang ibu. Kau bahkan tidak tahu apa yang telah di lakukan putramu pada Ibuku dan sekarang kau menatap mataku mengatakan kalau aku pembawa sial?" Adara tidak terima dengan sebutan pembawa sial di cap padanya saat ini. Adara berdecak, ia tidak bermaksud menantang mantan mertuanya itu. Bagaimanapun wanita di hadapannya ini pernah menyanyaginya sepenuh hati, memperlakukannya dengan baik.


Hana tercengang mendengarnya, ia melihat sisi gelap Adara yang sebelumnya tidak pernah ia lihat.


"Bukan Rion, Adara ... bukan putraku yang menyebabkan kau seorang diri. Dia tidak akan pernah melakukan itu. Aku mendidiknya dengan benar. Adara kau salah, bukan Rion. Bukan putraku, Adara ...." Hana terisak kembali. "Putraku yang malang, aku bahkan tidak melihat wajahnya akhir-akhir ini." Adara membisu di tempatnya, ia ingin menyentuh Hana tapi niatnya urung.


Mulai sekarang ia harus membiasakan diri, menunjukkan sikap permusuhan bagi keluarga Emirat.


Hana mengusap hidungnya, suaranya serak. Menatap Adara yang berjarak semeter darinya. Ia ingin mengatakan kalau Calista yang melakukan itu.


Tidak, Calista harus membesarkan bayi itu. Aku harus merahasiakan ini sampai Rion ditemukan.


Hana membawa langkahnya meninggalkan Adara di tepi pantai. Adara menelan saliva membasahi tenggorokannya. Lalu menjatuhkan diri menangis tersedu-sedu.


Aku mohon Rion, jangan hukum aku dengan rasa bersalah ini. Kembali dengan selamat, hanya itu ... yang aku inginkan.


Bersambung ...


Terima kasih untuk komentar terbaik kalian. Maaf aku tidak tahu membalasnya yang pasti Aku antusias membacanya. Untuk masalah lama Up, maafkan aku. Sekarang sudah aktif kerja lagi jadi waktu untuk nulis sedikit terlambat. Tapi tetap di usahai up sebisa mungkin ya.


Terima kasih untuk Like, Vote, Komen dan semoga kalian terhibur ya.