
Rion terbangun karena mendengar suara ketukan keras pada pintu kamarnya. Pria itu membuka matanya, berdecak kesal tidurnya terganggu. Rion bangun dan meletakkan photo Adara yang di bawa dalam pelukannya saat tidur di lantai kamarnya.
"Rion! Bukan pintunya! Apa kau masih hidup bodoh?" Teriak Hana meninggikan suaranya bersamaan dengan gedoran pintu. Hana kesal, setelah panik gara-gara Calista pingsan di dalam kamar mandi.
Rion membuka pintu, dan melihat raut kesal Hana. "Rion ...!" Teriak Hana dengan mata melebar.
"Apaan?" Rion berdecak, mengurut tengkuknya yang terasa pegal.
"Astaga anak ini! Calista pingsan di kamar mandi dan kau malah enak-enakan tidur?"
"Lalu aku harus apa?" Rion membuka pintu lebar dan berjalan santai duduk di tepi ranjangnya. Melirik photo Adara yang ada di atas nakas.
"Rion ..., beri perhatianmu setidaknya buat bayi yang ada di rahim Calista," Hana menghampiri duduk di samping Rion.
Rion menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Mengabaikan ucapan Hana.
"Jangan sampai kau menyesal, Rion." ujar Hana mengingatkan putranya itu.
Rion menghela napas panjang, bangun dari rebahannya, lalu mengangguk pada ibunya itu. Hana lega, mengusap lengan Rion lembut. Setelah itu putranya itu keluar kamar, menuju kamar Calista yang ada di samping ruang baca.
Tanpa mengetuk, Rion langsung masuk dan melihat Calista duduk di tepi ranjang.
"Rion," Wanita itu kaget melihat kehadiran Rion dalam kamarnya. Ini pertama kali pria itu menginjakkan kaki dalam kamar itu.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rion, wajahnya datar dengan suara dingin, membuat Calista menarik napas panjang, menatap Rion yang memberi jarak jauh darinya.
"Aku tidak apa-apa, hanya pusing mungkin karena tiba-tiba bangun dari tidurku."katanya lembut.
"Jaga kesehatanmu, kau yang tahu kondisimu." Rion menghela napas panjang,
" Calista jangan berharap perhatian dariku, maaf aku tidak bisa memberinya." ujar Rion tanpan beban.
Calista mengangguk, kemudian seketika senyumnya terbit menoleh ke bagian perutnya. "Rion ...," Panggil Calista. "Kemarilah," Pintanya. Rion yang masih mematung di belakang pintu menautkan kedua alisnya. Ia enggan menghampiri Calista.
Melihat Rion bergeming, Calista bangun dari duduknya menghampiri suaminya itu. Lalu mengambil tangan Rion dan meletakkannya di bagian perutnya.
"Apa yang kau lakukan?" Rion menarik tangannya. Air muka Calista berubah masam.
"Aku hanya ingin kau menyentuh bayimu, dia bergerak, Rion." Gumam Calista dengan tatapan sendu.
"Maaf," lirih Rion, entah kenapa pria itu tidak tertarik sama sekali dengan bayi dalam rahim istrinya itu. Rion keluar dari kamar itu meninggalkan Calista dengan raut sedih.
Rion aku harus bagaimana supaya kau melihatku dan memberi sedikit perhatianmu.
______________________________________________
Tempatkan masa lalu pada tempatnya, jadikan masa lalu sebagai guru yang mendewasakan. Begitu kata bijak yang di dengar Adara. Tapi meski demikian kata bijak itu tidak dapat di terapkan secara langsung. Bagi Adara perceraian mereka memang sudah terjadi tiga bulan yang lalu tapi untuk perpisahan hati tentu masih tahap proses.
Adara menatap ponselnya, melihat foto Rion yang masih setia menghiasi layar itu. Tanpa sadar air matanya menitik di pipi pucatnya. Hatinya masih saja merindu pria itu, rindu segalanya. Rindu sentuhannya. Dapat di mahklumi, Adara pernah merasakan gejolak hasrat. Tubuhnya secara alami meminta kehangatan. Terkadang itu membuatnya seperti orang kebingungan hingga terlihat seperti wanita kesepian.
"Dara," Adara terkesiap saat merasakan sentuhan Jie Ranita pada bahunya.
"Ya apa, Jie?" Adara meletakkan ponselnya yang masih mode on di atas meja. Jie melihat benda itu, melihat photo Rion dengan Adara memamerkan cincin pernikahan.
"Kau ada tamu," ujar Jie membawa tatapanya pada pria yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Emre," Adara sontak kaget, ia tidak menyangka akan kedatangan Emre. Pria itu mendekat dengan buket bunga di tangan.
"Kebetulan aku lewat," ujar Emre, menyerahkan bunga di tangannya. Adara mengerutkan kening menunjukkan mimik tidak percaya.
"Lalu bunga ini juga kebetulan, kan?" Emre terkekeh wajahnya tampak merah.
"Baiklah, aku tidak pintar berbohong." Emre menyerah.
"Oh iya kalian boleh kenalan." ujar Adara, mengijikan kedua temannya itu berkenalan.
"Jie Ranita,"
______________________________________________
Rion baru saja keluar dari sebuah perusahaan besar dan sukses mengajukan penawaran sebagai penyedia jasa transportasi udara, laut maupun darat yang semakin membesarkan nama Company Emirat di dunia bisnis. Wajahnya cerah, keluar dari sana bersama Anatha sekretarisnya menuju area parkir gedung pencakar langit itu.
Suara tarikan napas lega ia keluarkan begitu mendaratkan tubuhnya di jok mobilnya.
"Bagaimana penampilanku tadi Anatha?" Tanya Rion, meminta pendapat Anatha, sepertinya pria ini minta di puji setelah berhasil menghempaskan lawan bisnisnya.
"Anda luar biasa, Pak. Saya bahkan tidak berkedip saat melihat pak Rion presentasi di meja podium." Dan benar saja, pria itu terkekeh, pujian Anatha berhasil membuatnya tertawa.
Tapi seketika tawa itu redup dari wajah tampannya saat ia membaca beberapa pesan dari Mete.
Emre yang datang dengan buket bunga dan memasuki kafe milik Adara, sebagai info dari murungnya Rion saat ini. Di genggamnya erat ponsel itu dengan rahang mengetat.
"Kemudikan lebih cepat mobilnya!" Perintahnya pada Ahmed seraya mendegus kesal. Anatha membisu diam tanpa bergerak di samping Rion. Bicara sedikit bisa jadi sasaran emosi.
Mobil keluaran negara ratu elisabet itu akhirnya tiba di area office Emirat. Begitu Anatha keluar dengan Ahmed. Rion mengambil kunci dari tangan supirnya dan segera masuk kedalam pengemudi. Menghidupkan mesin mobil itu dan langsung melajukannya ke suatu tempat.
______________________________________________
Emre yang sudah kembali ke rumah sakit, duduk di kursi kerjanya. Senyumnya terbit membayangkan senyum Adara yang kini menghiasi memori otaknya.
Dia sangat menggemaskan, Emre membatin seraya tersenyum sendiri.
Brakk ...
suara pintu ruangannya terbuka keras, ia sontak terkejut melihat Rion masuk paksa dan mengabaikan perawat yang menghadangnya.
"Maafkan saya, Dokter." perawat itu meminta maaf menundukkan kepala karena gagal mengatasi masalah penerobosan itu.
"Tidak apa-apa, kau boleh keluar." ujar Emre pada perawatnya, tidak lupa pria itu memberi senyum hangat yang bisa melelehkan hati para gadis seketika.
Rion berdecih melihat ramah tamah pria di hadapannya itu.
"Jadi apa yang bisa saya bantu, pak Rion?" Alis tebal Emre berkerut menyatu melihat kedatangan Rion ke ruanganya.
"Sejak kapan kau mengenal istriku?" tanya Rion dengan tatapan merendahkan ke arah Emre.
Emre tersenyum, dengan tatapan ramah ia menjawab." kenapa aku harus mengenal istrimu?" suara Emre terdengar ramah.
Rion tampak kesal, ia mendekat dan mencengkram kerah jas, Dokter Emre.
"Aku peringatkan jangan dekati istriku, mengerti!" Ancam Rion dengan tatapan menusuk.
Emre tampak tenang melepaskan tangan Rion darinya.
"Apa yang kau maksud itu Adara?" tanya Emre dengan suara dingin dan sinis.
"Kau cukup mengingatnya jangan dekati dia!" Emre terkekeh mendengar permintaan konyol Rion.
"Aku rasa kita perlu meluruskannya pak Rion. Aku tidak mendekati istrimu tapi ... mantan istrimu. Adara bukan istrimu," Emre mendekat lalu berujar kembali. "Kau tidak berhak melarangku menemui teman lama juga kandidat pasanganku." Senyum miring dari Emre terlihat jelas oleh Rion.
Mendengar perkataan Emre, aura dingin Rion memenuhi ruangan itu, pria itu mengacam lewat tatapannya kemudian keluar meninggalkan ruangan itu dengan membanting pintu keras.
Emre menarik napas seraya menggelengkan kepalanya. Berpikir kalau Rion benar-benar butuh pendamping medis.
Bersambung ...
Catatan kecil : Boleh dong minta like
: Boleh dong minta poinnya🤗
: Boleh dong minta klik ❤️
: Boleh dong minta klik Rate 5
Yang berkenan terima kasih, karena sudah bantu author