
picture from gugel
Adara keluar dari ruang ganti, mengangkat bawah gaunnya yang menyapu lantai menuju dimana Rion duduk menunggu. Netra hitam jernih milik pria itu mengangumi betapa cantiknya Adara dengan gaun itu.
Adara melangkah tampak malu- malu mendekati Rion.
"Bagaimana ...?" tanya Adara meminta pendapat. Sesaat Rion terpaku melihatnya lalu terdengar kekehan ringan Elif menyadarkan Rion yang mengangumi pesona Adara dengan balutan gaun itu.
Pria itu bergembira dalam hati, ia berdiri dan menghampiri Adara. Memeluk dari belakang dan berbisik di belakang telinga Adara. "Bagaimana bisa kau secantik ini, Honey."
Adara tersipu malu, "Jadi kita ambil gaun ini?" tanya Adara, memutar tubuhnya menghadap Rion. Pria itu mengangguk setuju.
"Ion," Bibir Adara bergetar, air matanya menitik di wajah pucatnya. Air mata bahagia, Adara senang Rion akan memperolehnya kembali.
"Hei ... ada apa, Honey? Kenapa kau menangis? Aku mengajakmu menikah bukan mati," Rion menyeka air mata Adara sambil terkekeh, Adara mencubit pinggul Rion jengah mendengar lelucon kasar Rion.
"Dia sangat cantik, Tuan Rion. Anda sangat beruntung mendapatkan Nona Adara."
"Aku tidak keberatan dengan kata-kata itu," ujar Rion setuju dengan perkataan Elif.
"akulah yang beruntung mendapatkanmu, Hun." bisik Rion, mengecup bibir Adara sekilas.
"Ion," protes Adara, wajahnya bersemu ada Elif di tempat itu.
"Kenapa? Bibir ini sudah lama jadi milikku," Rion berbisik, membawa Adara dalam dekapannya.
"Kami ambil gaun ini nona Elif dan tolong kirimkan ke alamat Adara."
"Baik Tuan, Rion." Sahut Elif, tersenyum melihat pasangan romantis itu.
Rion melepas pelukannya dan mengijinkan Adara kembali ke ruang ganti.
___________________________________________
Jie kaget saat melihat Emre mendatanginya di kafe, segera wanita itu mempersilahkan Emre duduk dan ditolak oleh Emre.
"Aku rasa kita harus menyiapkan persiapan pernikahan kita, Jie. Hari ini aku libur kau bisa kan?" Jie mengangguk, ia sedikit canggung karena seharusnya dirinyalah yang memikirkan itu bukan Emre.
"Persiapan seperti apa?" gumam Jie, perempuan itu berubah jadi pemalu di hadapan Emre.
Emre tersenyum, "Pernikahan seperti apa yang kau inginkan, Jie? Kita akan membicarakan ini." Emre mengulurkan tangannya. Jie membeku menatap tangan itu, Ia gugup. Emre kembali tersenyum, raut pria itu sangat lembut. Ia mengambil tangan Jie dan membawanya keluar dari kafe.
"Per-pernikahan sedernaha, aku mau pernikahan sederhana." ujar Jie mengikuti langkah Emre dari belakang seraya memperhatikan genggaman tangan Emre.
" Ruangan terbuka atau tertutup?"
"Aku suka ruang terbuka, seperti halaman belakang rumah,"
"Pesta kecil?" Emre menghentikan langkah kakinya setibanya di parkiran. Pria itu membuka pintu mobil dan mempersilahkan Jie masuk.
"Iya, lagipula keluargaku sangat jauh, Emre." kata Jie setelah Emre duduk di tempatnya.
Emre memperhatikan Jie, "Jie, aku tahu hubungan kita terjalin karena suatu hal tapi, kau tidak perlu khawatir dengan biaya pernikahan kita. Aku banyak uang Jie, kau boleh memeraskan dan aku tidak akan keberatan. Di hotel mewah, atau kapal pesiar aku bisa menyanggupinya. Bagaimana bisa kau memikirkan pernikahan di halaman belakang rumah." ujar Emre, pria itu menghela napas berat setelah menyombongkan diri.
"Tapi aku memang menginginkan pernikahan yang seperti itu, Emre. Kau pasti merasa aneh bukan?" Jie menunduk, ia tahu Emre kecewa sama keinginannya. Wanita mana yang tidak ingin pernikahannya mewah begitu Emre berpikir.
"Kalau kau ingin pernikahan mewah, aku tidak apa -apa," tambahnya dengan nada terpaksa. Emre terkekeh.
"Kau sangat labil ya, baiklah kita menikah sesuai rancanganmu." ujar Emre, menatap Jie dengan tatapan bahagia. Emre tahu Jie serius dengan keinginannya.
"Kau nyakin?"
"Aku nyakin, tapi akan butuh tenaga untuk menyakinkan Ibuku, dia type wanita pamer," Emre tergelak, Jie menanggapinya dengan senyum manisnya.
"Jadi kita mau kemana?"
"Ketempat dimana gaun pengantin berada," Emre menghidupkan mobilnya, Jie menunduk tersipu. Dara benar, Emre hanya butuh waktu untuk menumbuhkan cinta untuknya.
______________________________________________
"Pantai?" Adara berdecak, melipat tangan di dada. Rion membawanya ke pantai. Perempuan itu tidak benci pantai sebelumnya. Ia bahkan suka berjemur dan bermain pasir di pantai namun, kejadian yang menimpa Rion dan Illy membuatnya enggan ke tempat indah itu.
"Lebih baik dari Mall, kan?" Rion, membuka pintu mobilnya setelah menepi di pinggir jalan. Melihat Adara tidak bergerak dari tempat duduknya dan bahkan memasang raut cemberut membuat pria itu tersenyum simpul.
Rion membuka pintu mobil dan mencondongkan tubuhnya hingga tatapannya dengan Adara sangat dekat.
"Aku benci tempat ini," katanya ketus.
"Aku merindukan pantai, Honey." Rion menarik dirinya dari mobil dan menatap birunya air pantai yang indah.
"Aku tahu kau benci tempat ini, ayolah aku akan membantumu menyukainya kembali." Rion mengulurkan tangannya, Adara memejam lalu menerima uluran tangan itu dan keluar dari dalam mobil.
Rion menutup pintu mobil, lalu keduanya berjalan bergandengan tangan. Rion melihat Adara kesusahan berjalan di atas pasir, sepatu wanita itu bertumit rucing.
Adara terpekik tiba-tiba Rion berjongkok di hadapannya. "Honey, kau sangat cantik mengenakan sepatu ini, tapi ini pasir bukan karpet merah. " Rion membantu Adara melepas sepatu itu, Adara terkekeh sekaligus terharu. Pria itu begitu manis padanya.
Rion menenteng kedua sepatu itu, dan membawa Adara mendekat ke bibir pantai. Air yang terhempas ketepian menerjang kaki keduanya.
"Rion," Adara berhenti melangkah, ia menatap lurus ke tengah pantai yang memesona laksana surga. "Di tempat ini aku kehilanganmu karena salah paham, aku membencimu saat itu bahkan memintamu untuk lenyap. Tapi, pantai jugalah yang mempertemukan kita kembali lewat Illy, putrimu." ujar Adara, ia mendongak menahan air matanya yang hampir tumpah.
Rion meraih bahu Adara dan memutarnya supaya mereka berhadapan. " aku ingat itu," Adara melebarkan matanya.
"Kau ingat?" Rion mengangguk, "Bukan salahmu, Hun. Semua itu salahku, akulah sumbernya. Saat aku membawamu ke dalam air, dan ombak menyeret kita aku mendorongmu kembali dan aku pikir aku sudah tiada maka aku berharap ada kehidupan kedua saat itu meski disisi lain aku ingin tetap bersamamu."
"Bagaimana kau mengingatnya?" Adara meletakkan wajahnya di bahu Rion, sementara tangan wanita itu melingkar di pinggang Rion.
"Entahlah, kilas balik datang begitu saja saat ...." Rion menggantung ucapannya.
"Saat apa?" tanya Adara penasaran, ia mendongak melihat wajah Rion yang tiba-tiba pucat.
"Entahlah," Rion menggesekkan ujung hidungnya pada ujung hidung Adara.
saat aku ketakutan kehilangan kamu di mimpi buruk itu, Honey.
Malam itu, saat Rion terbangun dari mimpi sialnya, ingatan itu kembali dan anehnya hanya dibagian kejadian memilukan itu saja.
Adara mengecup bibir Rion singkat, memberi rasa manis nan lembut, Rion melepas sepatu Adara di tangannya lalu menarik tengkuk Adara. Melabuhkan ciuman lembut, lama dan perlahan pria itu menghidupkan gairah lewat ciuman itu, memberi gigit-gigitan kecil pada bibir bawah wanitanya itu.
Adara mendorong pelan dada Rion, kalau tidak ia akan kehilangan napasnya. Rion melepas ciuman itu dengan napas terengah-engah, tatapannya sudah berkabut hasrat. Menatap bibir Adara yang merekah karena ciuman itu. Ia ingin mengulangnya tapi, Adara menolak.
"Sepuluh kecupan kalau bisa menangkapku," kata Adara, berlari cepat Rion terkekeh itu keuntungan baginya langkah wanita itu bahkan sangat pendek.
Rion mengejar Adara yang sudah jauh di depan, pasangan itu berlarian di bibir pantai, saat tangan Rion menangkap Adara ia mengangkat tubuh Adara lalu membawanya berputar. Adara terbahak, suaranya beradu dengan ombak. Rion melepasnya lalu sebagai hadiah sepuluh kecupan ia terima. Pria itu mengendong Adara di punggungnya dan berlari mengejar air surut lalu berlari cepat saat ombak kecil mengejar mereka kebibir pantai.
"Rion!" gertak Adara saat keduanya terjatuh di pasir, memukuli pria itu sekeras yang ia mau. Adara ketakutan melihat ombak berukuran setengah meter mengejar mereka.
Rion terbahak, seolah kepanikan Adara lelucon baginya.
"Aku benci kau, bodoh." Teriak Adara, teriakan itu berubah menjadi tangisan. Rion menyesal, ia segera memeluk Adara, menenangkannya. Ia tidak menyangka Adara akan setakut itu.
"Maaf, Hun. Jangan takut ada aku Honey. Aku cuma mencoba menghilankan rasa bencimu sama tempat ini. Tapi itu malah melukaimu," Rion mengusap punggung Adara lembut.
"Aku mau pulang," gumam Adara masih dalam dekapan Rion.
"Baiklah kita pulang. Lagipula ini sudah sore." Rion berjongkok, Adara naik kepunggungnya dan pria itu perlahan bangun dan berjalan menjauh dari tempat itu.
"Maaf ya, Hun."
"Mmm,"
"Aku mencintaimu,"
"Sepatuku, Ion."
"Nanti aku belikan yang baru,"
"Aku mencintaimu, Hun."
"Aku tahu itu,"
"Kau tidak mencintaiku?"
"Tanyakan besok lagi,"
"Astaga wanita ini," Adara tersenyum di punggung pria itu sampai Rion menggendongnya ketempat mobil mereka terparkir.
Bersambung ....