
Adara berlari kecil masuk ke dalam kafe, ia memeluk Jie dari belakang membuat temannya itu sontak kaget.
"Jie, aku akan menikah." ujarnya. Jie turut bahagia mendengarnya tapi jalinan jemari Adara di perutnya menjadikanya sesak.
"Rion melamarmu?" Jie berbalik melihat wajah bahagia Adara.
Adara mengangguk semangat, tapi seketika dahinya berkerut. Ia tak ingat Rion mengajaknya menikah. Rion memutuskan segalanya.
"Dia tidak mengajakku menikah seperti yang di lakukan pria lain. Kita akan menikah, kita menikah. Seperti biasa Rion mengambil keputusan tanpa bertanya pendapatku." Adara mengulangi ucapan Rion dengan nada mengejek. Wajah wanita itu kembali menekuk.
"Lalu?" Jie mengikuti langkah Adara duduk di meja bar.
"Gaun pengantin sudah tersedia," gumam Adara. Bola mata Jie membola cerah. "tapi cincinnya ia bahkan tidak menyinggung hal itu," ujar Adara dengan raut sedih.
"Jangan khawatir Emre juga belum melingkarkan cincin di jariku tapi, gaun pengantin sudah kami pesan,"
"Apa?" Keduanya bersitatap, lalu terkekeh bersamaan.
"Para pria sangat aneh," ucap kedua sahabat itu serentak lalu kemudian tergelak lepas.
Tawa itu berhenti, ketika wanita paruh baya hadir di ruangan itu dengan aura mendominasi. Berdiri dengan wajah terangkat dan tatapan dingin.
"Ibunya Emre," bisik Adara Jie tampak bingung berdiri cepat dan menyapa dengan gugup.
"Selamat datang—"
"Jie Ranita?"
"Iya saya sendiri," Jie merendahkan kepalanya sebagai rasa hormatnya. Ibunya Emre menarik sudut bibirnya setelah memindai penampilan Jie.
"Aku tidak percaya kalau putraku akan menikahi pelayan kafe," katanya dengan nada merendahkan. Adara melebarkan matanya melihat wanita itu. Beraninya ia menghina temannya. Jie hanya terdiam, menyadari posisinya saat ini.
Wanita paruh baya itu, mengeluarkan selembar cek kosong dari dalam tasnya dan menyerahkan pada Jie. "Ambillah, dan tinggalkan Putraku, kau tidak pantas untuknya." katanya dengan suara dingin, bahkan tatapan wanita itu sangat menusuk.
Adara tersenyum kecut, ia mengingat bagaimana wanita itu menganggapnya remahan. Intimidasi yang kental dari wanita paruh baya itu bahkan menciutkan nyali Jie Ranita.
Adara menghembuskan napasnya panjang, "Angkuhnya." ujar Adara dari tempat duduknya, wanita itu menoleh pada Adara yang ikut campur. Adara berdecih tatapan suram wanita itu tidak mempengaruhinya.
"Orang asing tidak diijinkan ikut campur," ucap wanita itu, Adara menarik sudut bibirnya lalu turun bangun dari bangkunya. Ia menyambar cek dari tangan wanita itu dan menatapnya.
"Cek kosong," gumam Adara, mencebik bibirnya. "Satu juta dolar, apa anda memilikinya?"
"Apa? Kau ingin mencoba memerasku?"
"Lalu apa yang anda lakukan? Mengintimidasinya dengan cek ini? Satu juta dolar tidak sebanding dengan harga dirinya yang, Nyonya."
"Ya, satu juta dolar terlalu mahal untuk harga diri itu, wanita ini tidak pantas masuk ke dalam keluargaku," Wanita itu menatap remeh Jie yang menunduk dengan wajah pias di depan Ibunya Emre. Hatinya hancur mendengar penghinaan itu.
"Pantas atau tidak bukan Anda yang menentukan, tapi putramu. Satu juta dolarmu tidak diterima untuk membeli harga dirinya. Itupun jika Nyonya memilikinya."
"Kau! Siapa kau?" Ibunya Emre menatap tajam Adara yang membela Jie di hadapannya.
"Remahan, yang pernah anda tolak sebelum mengenalku, Anda pasti ingat janda kembang yang di gemari putramu?" ujar Adara sekaligus bertanya. Wanita itu membeliak. Adara terkekeh.
"Tapi putramu orang baik Nyonya, bertolak belakang dengan sifat Anda yang angkuh. Andai aku mencintainya aku akan menjadikan dunia Nyonya seperti neraka. Sayangnya cinta itu tidak pernah tumbuh untuknya." ujar Adara memain-mainkan ujung rambutnya. Lalu tatapannya beralih pada Jie yang tampak seperti mayat hidup.
Adara geram melihatnya, kenapa ada orang seperti Jie yang diam membisu tanpa membela dirinya sedikitpun setelah direndahkan.
"Dan Anda mungkin sangat beruntung mendapatkan perempuan ini menjadi menantu Anda. Lihatlah dia bahkan gemetaran. Menyebalkan!" Adara kesal melihat Jie. Ia berjalan kebelakang Jie menarik rambut belakang Jie membuat wanita itu terkesiap hingga secara terpaksa menatap Ibunya Emre yang menelan kedua wanita itu dalam tatapannya.
"Angkat kepalamu, bodoh! Katakan padanya kalau Emre mencintaimu dan hasil cintanya kini menjadi jiwa dalam rahimu." Adara sengaja mendesiskan ucapannya dan wanita di hadapannya itu membeliak. Jie bahkan meringis, Adara seperti Ibu tiri kejam baginya.
"Hamil?" Wanita itu menaikkan kedua alisnya.
"Jadi putramu tidak mengatakan kalau dia hamil?" Tanya Adara. "Jie, kau harus duduk jangan banyak berdiri. Bayimu harus aman." Adara membawa Jie duduk dengan rasa khawatir yang di buat-buat.
"Berapa bulan?" Tanya Wanita itu dengan satu gertakan.
"K-kurang lebih satu bulan," jawab Jie lalu kembali menunduk.
"Menyedihkan!" Wanita itu mengepal kedua tangannya, lalu berbalik meninggalkan ruangan itu.
"Jadi sekarang kau memohon? Tadi bahkan kau seperti singa mengaum," wanita itu berdecih.
"Dia pernah melarikan diri dan ingin membesarkan bayi itu sendirian, jika Emre tidak memikirkan bayi dalam kandungan Jie. Wanita itu mungkin sudah berada di Canada."
"Kenapa kau mengatakan itu padaku?" Gertak wanita itu. Ia tidak ingin alasan apapun untuk menerima Jie menjadi menantunya. Setelah bersusah payah mengikuti Emre saat berkunjung ke kafe itu ia ingin menggertak wanita itu tapi kenyataan lain ia harus telan, Wanita itu hamil.
"Kau tidak ingin hidup putramu hancur bukan? Dosa akan diterima oleh tujuh turunan. Putramu meskipun menikah dengan orang yang ia suka tapi karena masalalunya yang suram ia akan menerima hukumanya sampai tujuh turunan."
"Kau tidak pantas berkhotbah, Sialan!" ujar Wanita itu lalu melanjutkan langkahnya. Adara menahan senyum ia bahkan geli mendengar apa yang ia ucapkan.
"Nyonya aku percaya padamu," Seru nya dan melihat Ibunya Emre memberengut. Adara kembali setelah melambaikan tangan saat mobil Ibunya Emre menghilang dari tatapannya.
Di lihatnya Jie, sesugukan ia menghampiri dan memeluk.
"Aku tidak seberani kau Adara, bahkan tidak sedikitpun." Jie memeluk Adara.
"Waktu akan membuat kita kuat Jie, aku sama denganmu. Cuma keberuntungan sedikit berpihak padaku. Rion mencintaiku dengan sangat begitu juga dengan Ibu Hana yang mencintai putranya dengan sangat. Jika Rion marah karenaku, Ibu Hana akan menelanku, tapi jika Rion bahagia karena aku maka Ibu Hana akan mencintaiku. Cinta Hana padaku tergantung putranya. Emre juga mungkin akan seperti itu. Ibunya akan menerimamu saat melihat kalian bahagia."
"Tapi Emre tidak mencintaiku,"
"Nanti akan tiba waktu itu, Jie."
Dua minggu kemudian ....
Sesuai keinginan Jie, halaman belakang rumah Emre di sulap menjadi sebuah taman yang indah. Acara pernikahan kecil yang hanya menghadirkan kerabat saja. Jie hanya mengundang kedua orang tuanya dari Canada dan selainnya adalah kerabat Emre.
Di tempat itu juga ada Adara yang menjadi penggiring pengantin.
Rion hanya menjadi tamu. Pria itu duduk di deretan tamu yang lain bahkan Rion tidak tertarik dengan acara itu, ia sibuk dengan ponselnya dan mengurus pekerjaanya. Pernikahan Emre bukan hal penting baginya.
Pagi itu Adara merayunya dengan cara bermanja-manja dan mencumbui pria itu supaya mau menemaninya ke acara pernikahan Jie Ranita.
Rion tidak suka dengan pengantin pria di depan sana, Rion bahkan berspekulasi kalau di pikiran Emre saat ini adalah Adara. Mengagumi Wanitanya yang tampak bak peri dengan mahkota bunga di kepalanya saat ini.
Setelah kedua mempelai selesai mengikat janji di depan Imam dan para tamu sebagai saksi. Emre menyematkan cincin di jemari Jie, lalu mengecup kening Jie lembut. Tepuk tangan dari tamu terdengar bergembira. Pasangan itu sah menjadi pasangan suami istri.
"Selamat ya Jie, aku sangat bahagia melihat kalian." ucap Adara mengenggam tangan Jie.
"Emre, temanku. Kau harus melindungi wanita bodoh ini, dia sangat lemah dengan tatapan Ibumu yang mematikan," Adara setengah berbisik pada Emre. Emre melirik ibunya yang berdiri tanpa ekspresi. Lalu terkekeh, pria itu berusaha keras menyakinkan Ibunya untuk merestui pernikahan itu.
"Jie akan terbiasa nantinya, aku akan melindunginya." ujar Emre, dengan nada kecil Adara terkekeh, sebuah deheman mengusik tawa itu hingga berhenti secara atomatis. Aura mendominasi menatap Adara, meminta jarak supaya kedua orang itu berhenti cekikikan.
"Ion,"
"Aku rasa kita harus pulang, Dara." Rion menggenggam tangan Adara erat, menatap Emre sinis. Emre sama menatap Rion dengan dingin.
"Rion, tapi aca—"
"Kau ingin berdansa juga denganya?" Sela Rion.
"Denganmu, Mmm ...," Mohon Adara, ia ingin menemai Jie hingga akhir acara.
Jie masuk dalam perdebatan kecil mereka.
"Aku pikir supaya Adara tidak melirik pria lain, kau harus cepat mengikatnya dalam pernikahan." gumammya pada Rion lalu menyerahkan bunga pengantin yang seharusnya di lempar pada para lajang di acara itu.
Adara berharap, ia pura -pura menulikan telinganya, menoleh kesana-kemari.
Rion terdiam seolah memikirkan sesuatu lalu setelah mendapatkan hasilnya, ia berlutut hingga mengundang para tamu yang sedang menikmati jamuan menoleh ke arah mereka.
"Seperti yang kau tahu aku ingin selalu bersamamu, dalam duka dan suka cita. Adara Yash, untuk kesekian kalinya aku ingin meminta dan mendengar jelas kau mengatakan Ya."
Rion memberi kode supaya Adara memberi tangannya padanya. Rion dengan lihai mendapatkan pita bunga lalu mengikat di jemari manis Adara.
"Marry me,"
Bersambung ....