
Tatapan mereka bertemu dan terkunci. Adara melongarkan pelukannya pada Illy, ia terpaku melihat Mert. Mengerjap, lalu perlahan membuka matanya kembali. Wajah Rion sangat jelas pada Mert. Hanya saja pria itu sedikit berkulit hitam dan memelihara brewok tipis di sekitar rahangnya. Kata yang pertama keluar dari mulutnya.
"Rion ...,"
Sama halnya dengan Mert, ia bergumam memanggil "Hun," tapi dalam hati, wajah wanita dalam mimpinya itu jelas ada pada Adara.
Mert menggelengkan kepala, ia berpikir kalau dirinya memang benar-benar sudah gila. Bagaimana bisa ia melihat wajah dalam mimpinya pada wanita yang tak jauh dari hadapannya itu.
"Ayo, Mert aku bantu berdiri." Kemudian Ipek menghalangi tatapan mereka yang saling bertemu. Membantu pria itu berdiri sepenuhnya.
"Ipek, tunggu biar aku yang membawanya." Abizard menghampiri saat melihat Ipek memapah Mert.
"Nyonya, kembalilah ke kamarmu. Putrimu pasti ketakutan." Ucap Mert menatap samar Adara.
Suara itu mengingatkan Adara pada Rion dan Adara sangat mengenal suara itu. Adara spontan memanggilnya.
" Rion ...,"
Tak satupun diantara mereka yang menoleh. Kecuali Ipek yang merasa tak asing pada Adara. Perempuan itu berbalik dan menghampiri Adara yang masih memeluk Illy dalam keadaan berlutut.
"Hei kau! Kau wanita sombong di toilet bukan?" Tanya Ipek menyipitkan mata menatap Adara. "Wah, kebetulan sekali kita bertemu. Semalam aku ingin menghancurkan mulut tajammu itu Nyonya dan sekarang kau menyusahkan tunanganku." Teriak Ipek dengan raut sombong.
Adara tidak perduli bahkan mengabaikan Ipek yang menatapnya penuh permusuhan.
"Ipek ...." Panggil Abizard tanpa menoleh begitu mendengar suara keras adiknya itu.
Ipek berdecak kesal kemudian mendengkus
"Siapa pria itu?" Adara bertanya tanpa mengindahkan tatapannya dari dua pria yang sedang menjauh darinya.
"Mom," panggil Illy, tubuh gadis kecil itu gemetar kedinginan.
"Untuk apa kau tahu, menyebalkan!" Ketus Ipek. Dia benar-benar sinting. Ipek mendengkus lalu mengoyangkan pinggulnya berjalan mengejar Mert.
"Sayang, kau tidak apa-apa, kan? Ayo kita ke kamar."
"I'm sorry mom." gumam Illy, tanpa melepas pelukannya. Adara mengangguk dan mengangkat tubun Illy pergi dari tempat itu.
Kamar Mert.
Mert menggeram kesal melihat Ipek berada di tempat tidurnya, ia mengenakan kemeja Mert. Menggoda seperti wanita liar. Mert melempar handuk basa dan mengenai wajah Ipek.
"Keluar kau!"
Ipek melompat dari tempat tidur. Mendekati Mert yang masih bertelanjang dada. Pria itu baru saja mandi.
"Mert, ayolah ... aku tahu kau juga menginginkan belaian yang seperti ini, bukan?" Jemari Ipek bergerilla pada dada Mert.
Mert memejamkan mata, bukan menikmati tapi merasa geli melihat ketidakmaluan Ipek saat ini.
"Kau mau aku panggil, Izard."
Ipek mengerjap, pria macam apa itu? Seharunya dia mengangkat dan melempar Ipek yang mempesona ke atas ranjang lalu menikmati kemolekan tubuh tunangannya itu.
Mert bodoh, lebih tertarik bercinta dengan bayangan semu ketimbang Ipek yang terang-terangan menggodanya.
"Kau!" Ketus Ipek, ia memukul lengan Mert keras dan tanpa ada rasa malu lagi. Ia membuka kemeja Mert yang ia kenakan dan melemparnya kesal pada pria itu.
"Ck, tidak ada yang indah di tubuhmu." Mert menatap Ipek dengan tatapan mencela. Ipek hanya mengenakan Bra dan celana dalam bewarna hitam. Ipek melempar tatapan tajam pada pria yang baru saja menolaknya sembari memuguti pakaiannya dari lantai dan mengenakannya.
"Saat kau sudah menjadi suamiku, aku akan membalasmu." Ipek mendorong dada Mert dan keluar dari kamar itu.
Mert menelan air ludahnya, sungguh demi apapun tubuh Ipek sangat menggiurkan. Tapi entah kenapa Mert seolah menjaga dirinya agar tetap terhindar dari Ipek.
Mert mengambil ponselnya dan membuka penyimpanan photo kemudian larut mengamati gambar dan mencoba mengingat tatapan Adara kepadanya.
______________________________________________.
"Maaf aku mengacaukan liburan kita, Mom." Illy menunduk meminta maaf pada Adara. Ia merasa bersalah sudah membuat Adara ketakutan karenanya.
"Dengar sayang, kita akan kembali hari ini ke rumah. Kau harus di periksa paman Emre." ucap Adara, mengambil tangan Illy dan menciumnya.
"Tapi jangan menginap di rumah sakit." Illy gelisah, ia pernah tinggal sebulan di rumah sakit karena bermasalah dengan jantungnya. Illy bertahan hidup setelah melakukan operasi. Gadis kecil itu hidup penuh rintangan dan Adara menyalahkan Calista yang tidak menjaganya saat di kandungan.
"Tidak, hanya pemeriksaan rutin. Oke." Illy mengangguk lemah. "Tapi sebelum pulang Mommy mau keluar sebentar untuk menemui paman yang sudah membantu Illy keluar dari air. Mommy akan berterima kasih padanya."
"Mom, aku ingin bertemu Daddy." Jantung Adara berdenyut, setiap kali Illy menanyakan tentang ayahnya.
"Tidurlah ...," Adara membaringkan Illy di ranjang dan membungkus tubuh Illy dengan selimut. Menunggu sampai gadis kecil itu terlelap.
Adara keluar pelan dari kamar Illy dan menutup pintu itu. Ia ingin menemui pria yang sudah menyelamatkan Illy.
Adara berjalan menuju rumah besar yang ada di samping penginapan mereka. Ia melihat Ipek dan Izard masuk ke dalam mobil, sepertinya mereka ingin meninggalkan rumah itu. Adara berlari kecil menghampiri dan mengetuk kaca jendela mobil itu. Abizard membukanya.
"Oh, Nyonya." Abizard segera keluar begitupun dengan Ipek. "Ada apa? Bagaimana keadaan putri, Anda." tanya Izard, pria itu gugup melihat Adara.
Ipek berdecak melihat tingkah kakaknya itu.
"Ya, putriku sudah membaik. A-aku ingin bertemu anda dan pria tadi."
"Mert?" Tanya Abizard dan Adara mengangguk.
"Oh, Mert mungkin lagi istirahat. Apa terjadi sesuatu?"
"Ah tidak, hanya ingin mengucapkan terima kasih. Sorry atas ketidaksopananku tadi pagi. Aku hanya panik. Dan terima kasih sudah menyelamatkan putriku." ucap Adara, ia tampak bingung untuk merangkai kata-katanya.
"Tidak apa-apa, "
"Lalu bagaimana denganku? Tatapanmu Nyonya sangat tajam padaku tadi malam. Seolah kau ratu di dunia ini." Sahut Ipek dari belakang Abizard.
"Ipek!" Abizard bingung, dan tersenyum canggung pada Adara. Adiknya itu sangat susah di atur.
"Aku tidak tahu masalah kalian, tapi sungguh untuk masalah tadi aku tidak apa-apa." Abizad menimpali perbincangan mereka.
"Terima kasih, bagaimana caraku untuk membayarnya? Rasanya hanya ucapan terima kasih sepertinya sangat tidak adil. Hari ini aku akan pulang, kantorku sudah mengirim helikopter untuk menjemput di bandara terdekat." Abizard menelan ludahnya sendiri. Selain cantik wanita ini juga dari kalangan atas pikirnya.
Ipek berdecih, "Sombong," gumamnya tidak percaya. Adara menipiskan bibirnya.
Abizard tampak berpikir, lalu mengeluarkan ponselnya. " Aku akan menghubungi, Nyonya." Katanya mengulurkan ponselnya pada Adara.
Adara menatap benda itu, ia bingung untuk apa Abizard memberikan ponsel padanya.
"Oh ya ampun kak! Wanita angkuh ini tidak ingin memberikan nomer ponselnya. Kau menyedihkan, Izard." Tukas Ipek, menatap tak suka pada Adara. Izard menarik kembali tangannya.
"Oh jadi kau meminta nomer ponselku, maaf pikiranku tidak fokus. Aku pikir kau ingin memberikan ponsel ini padaku." ucap Adara polos.
Adara menyambar ponsel dari tangan pria itu sembari tertawa garing kemudian mengetik nomernya dan menyerahkannya pada Abizard.
"Terima kasih," Dia sangat manis.
"Jadi kapan kau akan menghubungiku, Izard?" Abizard membeliak saat namanya di sebutkan Adara , hatinya bergembira mendengarnya.
"Kau tahu namaku?"
"Aku baru saja menyebutkan namamu, bodoh!" Sahut Ipek, kesal melihat Abizard yang ingin berlama-lama bicara dengan Adara.
"Apa yang kau harapkan, dia punya putri dan pastinya punya suami juga, kan?" Selidik Ipek.
"Diamlah ... Ipek." ujar Abizard tanpa mengalihkan tatapannya dari Adara. "Maaf adikku selain tua dia juga kekanak-kanakan."
"Kakak!"
"Tidak masalah, jadi kapan?" Adara mulai bosan melihat sikap Ipek yang selalu turut campur.
"Mungkin aku akan mengundangmu di hari pernikahan adikku. Kau bisa membayar rasa terima kasihmu hari itu." ucap Abizard, ia ingin Adara datang di hari pernikahan Ipek dan Mert sebagai pasanganya. Ya begitulah Abizard berpikir dan berharap.
Adara menelan salivanya, " kapan?" tanya Adara.
"Dalam bulan ini." Adara menganngguk.
"Baiklah, aku tunggu Tuan Izard." ucap Adara ia berbalik kemudian ...
"Apa aku bisa bertemu dengan pria itu? Maksudku tunanganmu, Nona Ipek?" tanya Adara pada Ipek yang hampir masuk kedalam mobil.
"Aku akan menyampaikan rasa terima kasihmu, pergilah." sahut Ipek.
"Okay ...."
______________________________________________
"Aku sudah gila, bagaimana bisa aku melihat wajah wanita itu mirip ...." Mert, memperhatikan sketsa di tangannya dan mengingat tatapan Adara padanya beberapa jam lalu.
"Bagaimana kalau aku menemuinya?" Tanya Mert pada kertas itu. "Yah, aku akan kesana dan memastikannya sendiri." Mert bangun dari duduknya dan berniat menemui Adara.
sementara Adara sudah berada di dalam mobil bersama Illy, ia akan kembali menggunakan helikopter yang sudah dikirim Anatha menjemput di bandara terdekat. Ahmed juga ikut untuk membawa mobil Adara kembali ke kota.
"Kau sudah siap?" tanya Adara sebelum menyalakan mesin mobilnya.
"Sudah Mom,"
"Baiklah, kita pulang dan atur kembali liburan kita. Mungkin kita akan ke London ke rumah nenek Saidah."
"Yah ... Illy setuju." Seru Illy, gadis kecil itu sudah terlihat segar.
Aku harap pria itu menghubungiku.
Adara mengemudikan mobilnya, keluar dari halaman resort itu.
Disaat bersamaan Mert masuk ke penginapan Adara.
"Bibi Aisyah, apa wanita dengan satu putri itu ada disini?" tanya Mert pada wanita paruh baya yang mengelolah penginapan itu.
"Oh, baru saja pulang. Mereka keluar lebih awal. Masih ada satu hari lagi waktunya untuk bersenang-senang di tempat ini." jawab Aisyah prihatin.
"Sudah lama?" Mert menautkan kedua alisnya.
"Belum lama, Lima menit yang lalu." Mert kecewa, ia berbalik dengan wajah malas.
"Mert,"
"Yah?"
"Dia meninggalkan kontaknya." Aisyah, mencari di laci mejanya.
"Berikan padaku."
"Kau sangat bersemangat, ingat kau sudah tunangan."
"Aku tahu itu," Mert mengambil kartu nama dari tangan Aisyah dan membacanya. "Aku akan menghubunginya." Kata Mert berlari ke rumahnya.
Bersambung ....
Terima kasih masih setia di Obsessive loves. Terima kasih poin, like dan ulasannya. Jangan lupa terus dukung ya.
Regards
Kirei