OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Kita akan menikah



Range Rover berwarna putih mengkilap melesat menyatu ke jalan ramai, membawa Adara yang masih pingsan. Perawat Adara melihat waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. Efek bius tidak akan lama lagi akan hilang dan Adara sadar


Ponsel wanita itu berdering, ia memberi isyarat agar temannya menggatinkan posisinya menahan tubuh Adara yang lemah.


"Halo," sapanya, lalu ia sesekali memperhatikan jalanan yang macet.


"Dimana?" Suara pria dari ponselnya bertanya.


"Tidak lama lagi kami akan sampai, Tuan."


"Bagaimana dengannya?"


"Masih pingsan, Tuan."


Pria itu memutus sambungan telponnya.


Lima belas menit akhirnya mobil itu tiba di tujuan. Supir menepikan mobilnya di area parkiran. Perawat Adara keluar dari dalam mobil dan menyambut pria yang menelponnya tadi.


"Tuan," sapa perawat itu, membuka pintu mobil untuk pria itu.


"Baiklah, kalian bisa pergi dan bergabung dengan yang lain. Aku akan menemaninya sampai sadar."


Pria itu masuk ke dalam mobil dan mengambil alih Adara dari dua wanita yang menahan tubuh Adara di dalam mobil. Pria itu menempatkan Adara dalam pangkuannya. Ia menikmati wajah wanita itu, riasan halus membuat wajahnya semakin cantik.


"Perasaan aneh, aku tidak butuh apa-apa lagi di dunia ini selain dirimu." ucapnya, membelai lembut rambut Adara sembari menunggu wanita itu sadar.


Sepuluh menit kemudian Adara sadar, ia perlahan membuka matanya. Mengumpulkan kesadarannya penuh. Ia sontak kaget, menyadari dirinya berada di dalam mobil juga dalam rangkulan seorang pria.


"Kau sudah sadar, Honey?" desis pria itu membuatnya merinding. Adara memperhatikan dengan tatapan intens.


"Rion," gumamnya, setengah percaya. Beberapa saat lalu ia masih di rumah sakit dan sekarang ia seolah disulap hingga dalam sekejab berpindah tempat tanpa ia sadari.


"Kau pasti terkejut," ucap Rion, menyelipkan rambut Adara kebelakang telinganya.


Adara menelan salivanya, ia masih belum memahami apa yang terjadi.


"Rion," gumamnya lagi. Ia berpikir keras kenapa dirinya berada di pangkuan Rion. Ia benci Rion, pria yang menghilang begitu saja dalam beberapa hari ini.


Adara memperhatikan dirinya lantas membeliak. Ia menyadari kalau dirinya mengenakan gaun pengantin.


"A-apa maksudnya ini?" Tanya Adara, menoleh pada Rion. Pakaian mereka senada, Rion mengenakan jas bewarna putih lengkap dengan dasi kupu-kupu melingkar di lehernya.


"Kita akan menikah,"


"Tidak mau!" Adara menampar Rion keras. pria itu terdiam menelan salivanya. "Aku benci kamu, aku tidak mau menikah denganmu. Ada apa? Kau menghilang, butuh waktu untuk memikirkan untuk menerimaku. Kau tidak perlu berbelas kasihan padaku. Menikahiku karena iba. Pergi!"


"Ini mobilku,"


Adara tergelak ia ingin menghajar Rion hingga tidak berdaya. Andai kesempatan itu ada.


"Baiklah aku yang akan pergi,"


"Dara!" Gertak Rion, Adara terkesiap spontan melepas tangannya yang bertopang pada leher pria itu.


"Aku tahu, kau akan menolak menikah denganku. Kau akan menganggap dirimu jadi beban, menganggap kau tidak pantas untukku. Aku tahu kau akan mengatakan itu semua. Itu sebabnya aku menculikmu dari rumah sakit. Aku tidak akan meminta pendapatmu. Kau hanya bisa menerima dan mengatakan Ya didepan Imam nanti. Kita menikah." Adara menggelengkan kepalanya, menolak.


"Kau benar Rion aku akan jadi beban untukmu. Aku tidak mau menikah denganmu. Kau akan malu nanti, lihatlah aku sangat menyedihkan. Satu kaki?" Adara terbahak, menertawakan dirinya yang tampak menyedihkan.


"Aku tidak bisa kemana-mana, aku tidak bisa menjadi seorang istri bagimu. Mulai saat ini hidupku terbatas, Rion."


"Sudah? Sudah cukup merendahkan dirimu?" Adara terdiam, ia memukul dada Rion, kemudian melingkarkan tangan di leher pria itu. Wanita itu terisak.


"Dara," Rion mengecup bening yang keluar dari netra Adara. "Seperti yang aku duga kau akan mengatakan itu. Aku mencintaimu, aku pernah memilikimu saat kau sempurna dan sekarang kau tetaplah sempurna bagiku. Kita menikah, Hun. Kau tidak boleh menolakku."


"Rion ...,"


"Demi Tuhan, Hun. Aku mencintaimu, bukan cinta obsesi seperti yang kau tuduhkan selama ini. Tapi tulus dari hatiku. Sungguh." ucap Rion, pria itu ikut menitikkan air matanya.


"Kau menerimaku tanpa kaki ini?"


"Tentu saja, aku akan menjadi kaki bagimu selama aku hidup. Jangan takut, itu janjiku. Karena cinta bukan karena iba."


"Sungguh?"


"Kau akan melihat buktinya dari sekarang, Hun."


Rion mendudukkan Adara di jok, lalu ia keluar kemudian mengangkat Adara dalam gendongannya.


lima belas meter dari mereka parkir, Rion menggedong Adara dengan gaun pengantin yang indah. Adara di rias di rumah sakit oleh ketiga perawat yang di kirim Rion. Pria itu sudah merencanakannya dari awal. Ia menyiapkan pernikahannya sesuai mimpi Adara.


"Kau tidak ingin mengenalkan aku pada dunia seperti rencanamu?"


"Senyumlah, jangan menangis kau harus tampak cantik di tabloid nanti. Majalah bisnis turut di undang di tempat ini."


Rion terus melangkah menggendong Adara menuju lokasi. Sesuai pilihan Adara enam puluh meter dari mereka berdiri kini terbentang luas samudra dengan air biru dan angin perlahan lembut meniup.


Suara sorai tepuk tangan para undangan membuat Adara tersipu, Rion terus melangkah membawa Adara pada Imam dan menggedong Adara dengan tubuh tegapnya.


"Dara,"


"Bibi Saidah," Rion menghentikan langkahnya, saat Adara menyebut nama bibinya.


"Aku juga menculik mereka dari London," bisik Rion, Adara terkekeh.


"Tanteku juga? Jie dan suaminya?" Adara memperhatikan satu persatu tamu yang berbaris dua sisi menyambut mereka.


"Mmm, kecuali suaminya. Aku tidak mengundangnya kesini. Dia memelukmu kemarin dan aku ingin menghajarnya."


"Kau disana?"


"Saya punya banyak mata, Hun. Kau harus waspada." ucap Rion, ia sempat geram saat perawat Adara menelpon mengabari apapun tentang Adara selama ia tidak datang ke rumah sakit.


Rion berhenti di depan imam, disana diberi meja tempat mereka meminta restu Tuhan.


"Sudah siap?" Rion mengangguk yakin. Begitu juga dengan Adara, Rion menurunkan Adara di kursi yang sudah di siapkan khusus untuknya, sementara Rion tetap berdiri. Acara sakral itupun di mulai.


Adara juga mengatakan hal yang sama. Namun, suaranya terdengar gemetar ia menyadari kalau dirinya hanya akan menjadi beban bagi Rion. Rion mengeratkan genggaman tangannya supaya Adara tidak berpikir buruk.


"Baiklah, kalian bisa bertukar cincin." Saat sesi pertukaran cincin Illy menghampiri membawakan kotak kecil bewarna merah berlapis beledu.


"Daddy," gumam Illy menyerahkan benda itu.


"Thank you, dear." ucap Rion,


"I love you, Mom." bisik Illy sebelum kembali ke tempat duduknya. Adara tersenyum, ia ingin memeluk Illy bahagia.


Rion membuka kotak itu dan mengeluarkan satu cincin bermahkota berlian. Cincin yang ia pesan khusus dari desainer perhiasan ternama di dunia. Rion mengirim Mete ke New York menjemput benda mahal itu.


Rion Menyematkan di jari manis Adara begitupun dengan Adara ia melingkarkan cincin di jemari manis Rion dan sesi terakhir sebagai sah nya mereka menjadi satu tidak lagi dua. Rion mengecup bibir Adara mesra. Tepuk tangan bahagia dari para undangan terdengar.


Malam sudah tiba, setelah acara dari pantai Hana mengadakan jamuan makan di restoran mewah untuk para tamunya. Saidah dan suaminya menginap di hotel dekat bandara yang di pesan Rion. Rion membawa Adara ke hotel bintang lima yang sudah di pesan.


"Kau akan capek menggedongku kemana-mana Rion, kenapa tidak menggunakan kursi roda saja." ucap Adara, saat supir membukakan pintu mobil. Rion menggendong Adara memasuki lift private yang di khususkan untuk pelanggan VVIP.


"Tidak akan capek, Hun. Tubuhmu bahkan seringan kertas."


"Jadi aku sangat kurus?"


"Aku menyukai postur tubuhmu, tidak kurus juga tidak berlemak." Adara tergelak mendengarnya.


Setelah tiba di tujuan, Rion menempatkan Adara di ranjang, lalu berjalan menyibak tirai. Kamar mereka ada di lantai dua puluh posisi paling nyaman menatap laut dari ruangan itu.


"Penerangannya remang, jadi lautnya tidak jelas lagi." ucap Rion, menutup kembali tirai lalu menghampiri Adara duduk di tepi ranjang. Ia memandang lekat Adara.


"Aku mencintaimu, wanitaku." desis Rion, tatapan pria itu mulai sayu. Ia berhasrat.


"Terima kasih karena masih mencintaiku, Rion." balas Adara, tanpa ia sadari air matanya menitik. Rion menyeka dan mengecupin wajah Adara.


"Jika suatu saat kau bosan? Jangan tinggalin aku. Aku mohon, aku akan menutup mata dan telingaku dan mengijinkanmu menikah lagi."


"Dara!" Rion menggeram, ia menyugar rambutnya kasar. Adara menunduk, "Kau, aku harus bagaimana mengatakannya. Demi Tuhan, ini hari pernikahan kita kenapa harus membahas yang tidak penting."


"Aku takut Rion, saat kau tidak berselera padaku."


"Aku mengerti perasaanmu saat ini. Dengar, mari kita hidup bahagia. Aku janji Hun akan menjagamu selamanya dengan cintaku."


Adara memeluk Rion, mencoba membuang ketakutannya.


Rion menarik resleting gaun Adara, sementara bibir keduanya saling bertautan. Rion meloloskan gaun itu hingga dada Adara terlihat jelas. Rion perlahan mendorong Adara tiduran dan bergerak melepas gaun Adara dan menjatuhkannya di lantai.


"Sangat Indah, Hun." desis Rion, mengamati tubuh polos Adara. Pria itu melucuti pakaiannya dan mulai melakukan aksinya.


"Mulai sekarang kau akan repot,"


"Tidak masalah,"


"Aku akan minta di gendong ke kamar mandi saat kau sibuk,"


"Aku tidak keberatan."


"Orang -orang akan mengejekmu,"


"Persetan dengan mereka."


"Kau mencintaiku?"


"Sangat,"


"Selamanya?"


"Selama aku hidup,"


Adara menggigit bibirnya, Rion mengisap kewanitaanya, bercumbu dengan lidahnya di sana. Ia menahan erangannya tubuhnya menikmati.


"Hun, mau lembut atau kasar?" tanya Rion saat pria itu naik dan mengecupi jenjang leher Adara.


"Keduanya,"


"Bagaimana caraku tahu kau ingin lembut atau kasar," suaranya semakin berat. Rion beralih ke bagian dada. Mengisap gumpalan lemak itu. Adara mengkulum bibirnya sendiri. Tubuhnya semakin ingin di sentuh lebih dalam lagi.


"Dari caraku mendesah,"


"Seperti ini,"


"Auhh, ahh ...," Adara mendesah saat Rion memasuki lobang hangat wanitanya itu "Itu terlalu kasar untuk permulaan." desis Adara, menarik lengan Rion lalu melu*mat bibir Rion panas. Ia berhasrat.


Rion melepas ciumannya, mereka mengambil napas.


"Aku akan menjaga pergerakanku, Honey. Katakan kalau kakimu sakit ya " Rion melebarkan tungkai Adara dan sekilas menatap kaki Adara yang di bebat. Lalu menciumnya lembut. Rion kembali mendesakkan miliknya.


Adara mengangguk, "Aku menginginkanmu." ucap Adara, Rion tersenyum kemudian melakukan gerakan serius. Rion menggerakkan pinggulnya, naik turun mengikuti desiran darahnya.


Malam itu bukan malam pertama mereka, tapi malam itu adalah awal dari kebahagian keduanya. Rion memperoleh Adara kembali dengan cintanya yang tulus bukan semata obsesi.


"Perasaan yang aneh," gumam Rion, saat keduanya selesai menikmati nikmat dunia. Wanita itu masih dalam dekapannya.


"Perasaan apa?"


"Aku tak butuh apa-apa lagi, selain hidup bersamamu." Adara tersenyum, ia mengecup bibir Rion dan disambut lembut oleh Rion.


___________________TAMAT___________________


Hi ... buat yang masih baca Obssesive loves


thank you very much. Saya tahu cerita ini mungkin mengecewakan kalian tapi inilah yang keluar dari pikiran saya. Cerita punya ceritanya sendiri. Saya berterima kasih pada like, ulasan, poin da koin yang kalian sumbangan untuk cerita ini. Sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa di lain waktu dengan karya baru tapi setelah hiatus dulu sampai waktu tidak di tentukan.


Regards


Kirei