
"Kau tidak selingkun, Kan Ion?" gumam Adara nyaris tak terdengar. Meski Rion mendengarnya ia berpura-pura menulikan telinganya.
Rion mendorong pelan bahu Adara, memberi jarak untuk mereka bersitatap.
"Umm apa, Hun?" Rion membelai pipi Adara lembut.
Akan aku coba mempercayaimu, Rion. Batin Adara seraya menyunginkan senyuman manis. Mengabaikan pertanyaan Rion.
"Aku istrimu, Ion. Apapun masalahmu itu masalahku juga, jadi ... kenapa harus menunggu waktu untuk berbagi beban untukku."
Rion menatap Adara dengan tatapan hangat. "Akan aku katakan nanti, Honey." Rion menipiskan bibir.
"Mmm, baiklah. Aku menunggu," ujar Adara mengoyangkan surai gelombangnya.
"Kau sangat cantik," puji Rion, mengambil tangan Adara dan membawanya ke pipinya.
Meski sudah sering mendengar pujian itu tetap saja Adara bersemu.
"Honey ...," Desis Rion, bergeser sedikit mendekati Adara. "Aku mencintaimu," ujarnya memainkan rambut Adara.
"Aku tahu itu," Adara tersenyum, " pergilah mandi lalu makan, aku akan tidur duluan."
"Aku tidak lapar, Hun."
"Mandi!"
"Aku mau tapi harus di mandiin sama kamu," desis Rion seraya mengedipkan sebelah matanya, menggoda Adara.
"Jangan merayuku, aku tidak lemah," Adara menahan senyum.
"Hun ..., ayolah, kamu tidak mau merasakan hangatnya tubuh suamimu ini." Rion berujar dengan nada sensual.
"Berhenti merayuku, Ion!" Memalingkan wajah dengan bibir mencebik. Rion tertawa melihat tingkah lucu Adara.
"Baiklah, tidak nikmat jika dipaksa." Rion membaringkan Adara di tempat tidur dan membawanya dalam pelukannya. Adara tersenyum merasa yaman.
"Kau yakin tidur tanpa mandi, sayang?" bisik Adara di dada Rion.
"Aku akan mandi kalau Dara mau memandikanku." Rion berujar di pucuk kepala Adara, suaranya merayu.
"Baiklah, ayo kita tidur." Adara mengeratkan pelukannya.
Rion membelai rambut panjang Adara yang masih lembab, turun ke pipi mulus istrinya itu. Cukup lama hingga wanitanya itu terlelap dan Rion kembali dalam pikiran dan masalahnya.
Hanya satu caranya ...
_____________________________________________
Rion mengemudikan mobilnya melewati jalanan panjang dan lebar menuju pusat kota. Di kursi pengemudi, Rion menyetir dengan satu tangan, sementara tangan satunya bersandar di jendela yang sengaja ia buka sementara di sela jari tangannya terselip sebatang rokok yang sudah menyala.
Sesekali ia menghisap rokoknya dengan harapan nikotin itu bisa menekan stres dan meningkatkan konsentrasinya untuk menghadapi masalah yang ia hadapi.
Pria itu melajukan mobilnya menuju rumah sakit elite di pusat kota itu, namun tanpa sepengetahuannya Adara mengikutinya dari belakang. Adara sudah merencanakan hal itu, ia ingin menghilangkan segala rasa curiganya mengingat Rion selalu berkata nanti.
Ketika mobil Rion memasuki area rumah sakit, kening Adara mengkerut dan mulai di hinggapi pertanyaan.
Kenapa? Ada apa kau kesini? Apa kau sakit? Siapa yang kau kunjungi?
Adara bahkan melihat Rion melempar sisa rokoknya dari jendela mobil ke tong sampah sesaat setelah mengambil tiket parkir, lalu mobil itu melaju memasuki parkiran bawah tanah.
Langkah kaki suaminya itu bergerak menyusuri koridor rumah sakit hingga berhenti di koridor satu ruangan.
"Emre?" Gumam Adara, saat melihat pria yang ia kenal menyambut Rion dengan ramah dan membawanya masuk kedalam ruangannya.
Adara mendekat, dan saat ini wanita itu kini berdiri di depan pintu. Tangannya terulur pada gagang pintu dan menekannya kebawah pelan. Namun, pintu itu terkunci dari dalam. Sepertinya pertemuan mereka rahasia.
Apa yang mereka bicarakan? Apa Rion sakit?
Adara mengeluarkan ponselnya dan menekan nomer 'Suamiku'. Benda itu tersambung dan dalam dering ketiga terangkat.
"Sayang, kau dimana?" Kekehan ringan terdengar dari dalam ponsel itu.
"Mmm, aku akan mampir membawakan makan siangmu."
"Hun, untuk hari jangan ya. Saat ini aku sedang berada di Warehouse yang ada di bandara."
Air muka Adara menjadi hampa, tanpa sadar ia menggenggam erat ponselnya. Suaminya berbohong.
"Baiklah." ucap Adara dan tanpa menunggu balasan ia mematikan sambungan itu.
Adara masih diam di tempatnya, menatap pintu di depan. Kesedihan tersirat di wajah cantiknya. Masalah yang di sembunyikan Rion sangat menyiksanya.
suara langkah kaki dari dalam terdengar mendekat. Menyadarkan Adara dan hendak berlalu namun tertahan dengan perbincangan di dalam sana.
"Maafkan saya tidak dapat memenuhi apa yang anda minta. Tugas saya sebagai dokter adalah menjaga rahasia pasien."
"Ha ha, tapi dalam tes DNA itu saya juga pasien anda bukan? tapi tidak apa-apa kalau anda tidak bisa membantu. Saya sangat menghargai kedisiplinan anda."~ Rion
"Sungguh saya minta maaf, saya akan menghubungi Ny. Hana selaku wali anda jika hasilnya sudah keluar," ~Dokter Emre.
"Baiklah, tapi anda bisa merahasiakan kedatangan saya, Kan?" Rion terkekeh.
Setelah tertegun mendengar pembincangan dari dalam, Adara memejamkan matanya kemudian membukanya perlahan. Hatinya berdenyut sembari menyeret kakinya dari sana untuk menjauh. Suara pintu terdengar terbuka dan menampilkan dua pria berkarisma.
Adara menghela napas panjang, berbalik begitu kedua pria itu mengucapkan salam perpisahan.
Senyum seringai muncul di wajahnya, menatap punggung Rion dari belakang. Semua perbincangan itu membingungkannya. Dari tes DNA, Ny. Hana Lalu kenapa ia tidak terlibat dalam masalah itu! Rasa penasaran itu semakin besar, dan menyeretnya memasuki ruangan dokter Emre.
"Nona Adara ...," kehadiran Adara mengangetkan Emre, wanita yang pernah ia sukai. Emre berdiri, dengan rasa gugup dan mempersilahkan Adara duduk pada sofa yang ada diruangan itu.
"Sudah lama ya kita tidak bertemu? Bagaimana kabarmu?" tanya Adara, menolak duduk dan mematung di depan kerja Emre.
"Delapan tahun," ujar Emre, berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
"Baik seperti yang kamu lihat " Tambahnya, Entah kenapa meski sudah lama membuang perasaan suka sama Adara tetap saja jantungnya berdegup kencang saat pertemuan dadakan mereka.
"Kau seorang dokter sekarang? Aku kagum." Adara menatap penampilan Emre yang mengenakan jas putih seragam dokternya.
Dahulu mereka teman sekelas dan diam-diam Emre menjatuhkan hatinya pada wanita yang ada di hadapannya ini. Namun tak tersampaikan karena Adara menerima cinta seorang anak kuliahan. Rion Emirat.
"Dan kau bagaimana kabarmu?"
"Emre ... apa kau bisa membantuku?" Adara mengabaikan pertanyaan Emre. Karena ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan pura-pura mengatakan baik. Karena hatinya saat ini sangat sakit seperti di remas dalam genggaman kepiluan.
Emre Samir mengeryitkan kening, dengan satu alis terangkat keatas.
"Bantuan apa yang kau inginkan dariku, Nyonya Emirat? Segalanya sudah kau miliki. Suami tampan, kekayaan dan juga ...." Emre menghela napas panjang, "maafkan saya." katanya setelah melihat mata Adara berkaca-kaca.
"Aku baru saja mendengar perbicaraanmu dengan suamiku, bisakah kau jelaskan apa maksud tes DNA itu?"
Seperti mendapatkan pukulan keras, Emre memejamkan matanya. Apa yang terjadi hingga terseret dalam masalah ini, pikirnya.
"Maafkan saya ..."
"Apa karena itu rahasia pasien?" Adara memotong perkataan Emre.
"Adara ...."
"Tolong bantu aku," tatapan memohon.
apa mungkin hubungan Adara dengan suaminya rumit? Ck, tapi walau bagaimanapun aku tidak bisa membocorkan rahasia pasien.
"Saya minta maaf, sepertinya saya ti...."
"Aku mohon ...,"
Emre terlihat bingung, saat melihat tatapan memohon Adara. Ia berdecak, dan merasa sedih pada tatapan itu, "hasilnya belum keluar. Ny. Hana dan suami kamu melakukan tes DNA pada wanita hamil." ujarnya.
"Apa ...?" Adara terduduk dalam diam, tubuhnya terasa kaku juga dingin dan dadanya terasa tersengat. Inilah masalah yang di sembunyikan Rion darinya dan sungguh itu sangat mengejutkan Adara.
Bersambung ...