OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Menjaulah darinya sekalipun dia mencintaimu



Pancaran mentari menembus masuk dinding kaca ruangan Rion, mengusik pria itu dari mimpinya hingga bangun dan duduk.


Dilihatnya ke arah sofa, seorang pria tengah berbaring disana. Ia ingat pernah bertemu dengan Mete di kota pesisir.


Ternyata Adara yang mengirim Mete ke kota itu untuk mencari tahu tentangku. Andai saat itu aku menyadari cepat aku tidak perlu berada di rumah sakit ini.


Rion menurunkan kakinya ke lantai dan pelan berdiri, berbaring dengan waktu yang lama cukup membuat tubuhnya terasa ringan. Ia ingin keluar ke taman rumah sakit dan mendapatkan cahaya penuh untuk dirinya.


"Pak Rion," panggil Mete, saat mendengar pintu terbuka.


"Ah, maaf apa tidurmu terganggu?" Rion merasa bersalah, sudah mengusik tidurnya Mete.


"Tidak pak, anda mau kemana?" Mete setengah sadar menghampiri, nyaris saja pria itu terjatuh karena bangun mendadak.


"Eih hati-hati, Man. Tetaplah disana aku ingin ke taman." ujar Rion.


"Tidak pak, saya akan membantu anda kesana. Naik kursi roda?" Mete menawarkan, melihat Rion masih tampak lemah.


"Punggungku yang terluka bukan kakiku. Aku rasa tidak perlu. Tetaplah disana." ucap Rion, kemudia meninggalkan ruangan itu.


Emre tidak sengaja melihat Rion saat keluar dari pintu lift, Emre baru saja datang dari rumahnya. Seketika rautnya masam melihat pria yang tertatih-tatih keluar pintu rumah sakit itu.


Emre penasaran, akan kemana Rion dengan seragam pasien di tubuhnya. Emre mengikuti dari jarak jauh hingga tiba di taman.


Emre tersenyum miring, melihat Rion duduk di kursi taman dengan tubuh tegap mendongak ke atas mengizinkan matahari pagi membakar kulit wajahnya.


Si keparat ini! Wah, menikmati matahari pagi ya? Semoga tiba-tiba hujan.


Emre makin kesal saat melihat pria itu senyum -senyum.


Ck, pria sialan ... hidupmu terlalu beruntung mendapatkan Adara.


Emre tampak kesal, ia berjalan menghampiri. Emre berdehem, mengusik ketenangan Rion menikmati mentari.


"Dokter," sapa Rion, melihat Emre mengenakan jas praktenya. "Saya hanya berjemur."


"Kenapa kau kembali?" Tanya Emre, membuat dahi Rion berkerut.


"Maksudnya?"


"Jangan berpura-pura bodoh, sialan!" Emre memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya menatap Rion penuh kebencian.


"Apa masalahmu? Apa aku membuat kesalahan?"


"Yah,"


"Aku hanya menikmati matahari pagi lalu salahnya dimana? Dan apa kau tidak terlalu kasar mengumpat padaku?" tanya Rion, menatap tajam Emre.


"Aku bahkan ingin membunuhmu." sahut Emre dengan sinis. "Kau menyakitinya hingga titik terdalam dan kembali tanpa rasa malu." Tambah Emre dengan nada datar.


Rion memejamkan matanya, ia mencoba mengingat siapa pria ini tapi tidak dapat, kepalanya berdenyut sakit. Rion memengangi bagian tengkuknya.


"Menjauhlah darinya sekalipun dia mencintaimu, hidupmu terlalu banyak masalah dan aku yakin Adara tidak akan pernah tenang bersamamu. Kau cukup kembali sebagai Rion Emirat dan lepaskan Adara untuk mendapatkan kebahagiannya." ujar Emre memperingati.


"Aku dengar kau bahkan bertunangan. Aku rasa kau cukup bahagia selama dua tahun ini." Tambah Emre.


"Rion ...." Suara Adara terdengar dari belakang, ia mendengar samar percakapan itu. Emre berbalik dan melihat Illy bersama Adara, begitupun dengan Rion. Kini kedua pria itu berdiri sejajar.


"Paman ...," Illy melepaskan tangannya dari Adara dan berlari ke arah dua pria itu. Emre tersenyum begitu juga dengan Rion.


Rion berjongkok kemudian merentangkan kedua tangannya. Siap menerima lompatan Illy.


"Oh my dear ...." Emre menangkap lompatan Illy. "Bagaimana kabarmu?" Emre memeluk erat Illy dan melemparnya ke atas seperti biasa ia lakukan setiap mereka bertemu.


Rion menelan ludah, berusaha bangun kembali. Hatinya sakit melihat kemesraan Emre dan Illy, tapi ia juga menyadari dia tidak pantas kecewa. Illy tidak mengenalnya, begitupun dengannya. Ia bahkan mengabaikan Illy saat dalam kandungan Calista.


Aku patut di hukum untuk itu.


Adara menyadari bagaimana reaksi Rion melihat putrinya di gendong mesra oleh pria asing.


"Baiklah, kau mau ke ruangan paman?" tanya Emre, mencubit ujung hidung Illy. Gadis kecil itu mengangguk semangat. "Baiklah, kita terbang ..." Emre menempatkan Illy di tengkuknya kemudian merentangkan kedua tangan Illy dan membawanya berlari kecil. Illy kegirangan, jelas terdengar dari suara cerianya.


Emre hanya menatap Adara sekilas lalu berlalu dari sana


"Illy jangan menyusahkan paman oke!" Seru Adara.


"Yes Mom." Kedua orang itupun menghilang dari pandangan mereka. Rion dan Adara bersitatap, suasana hening dan terasa canggung. Acara pengenalan Rion dengan Illy sepertinya harus di rencanakan ulang.


"Putrimu, mereka sangat dekat." ujar Adara menghampiri Rion yang masih mematung di tempatnya.


"Aku bisa melihat itu, kebahagian Illy tadi menjelaskan segalanya." balas Rion, ia menarik tangan Adara mendekat padanya.


"Tidak ada hubungan spesial diantara kalian, kan?" tanya Rion, menjatuhkan tatapannya pada Adara.


Pantas saja dia marah


Adara mendongak, saat merasakan tangan Rion mengerat di lengannya. Marah mendengar pengakuan Adara mengenai perasaan pria itu terhadapnya.


"Rion ada apa?" tanya Adara, ia merasakan sakit di bagian lengannya.


"Honey, aku sangat posesif sama pasanganku. Jangan pernah menjalin hubungan apapun dengannya termasuk pertemanan. " Rion mendesis tepat di belakang telinga Adara.


"Jangan berlebihan," Adara mendorong dada Rion, menjauh dari pria itu. "Sebelum mengenalmu aku sudah mengenalnya dan Emre juga tidak pernah memaksaku untuk mencintainya. Tidak seperti kamu."


"Kenapa denganku? Aku hanya ingin melindungi milikku." Rion menarik Adara mendekat dan memutar tubuh mungil itu agar membelakanginya kemudian ia melingkarkan lengannya di pinggang Adara dan memeluknya erat. Rion menempatkan dagunya di bahu Adara dan menikmati aroma soap yang di keluarkan tubuh Adara lewat penciumannya yang tajam.


"Aroma bunga bakung ... kau sangat menyiksaku, Dara." gumam Rion kemudian tanpa malu pria itu mulai mengecupi lekukan leher Adara.


"Rion jangan disini, kau sangat sembarangan." Adara menggigit bibirnya, merasakan hangatnya bibir Rion di kulit lehernya. Meski menolak, sentuhan itu sangat menggoda hingga tanpa sadar Adara semakin memiringkan kepalanya dengan begitu Rion semakin bebas menyesapnya dan memberi gigitan kecil di kulit pucat leher Adara.


Rion tersenyum penuh ironi, sebelum kemudian ia menyampukan lidahnya yang basah menggoda Adara untuk mendesah. Hanpir saja Adara mengerang, Rion melepaskan mulutnya dan memutar cepat tubuh Adara menghadapnya lalu melabuhkan ciuman manis di bibir Adara.


"Selamat pagi, Honey." ucapnya tanpa rasa dosa. Adara menggeliat menahan sesuatu yang berdenyut dalam tubuhnya. Rion hanya menggodanya dan ia sudah terpancing. Wajahnya memucat dengan tatapan berkabut.


"Kau sangat cantik pagi ini, aku suka gaunmu. Lembut dan pas dilekukan tubuhmu yang indah dan akan semakin cantik jika rambutmu di gulung ke atas, Honey." ucap Rion.


"A-aku tidak membawa jepitan rambut atau semacanya." Entah kenapa kali ini Adara gugup saat mendengar pujian dari Rion padahal saat pria itu menjadi suaminya dia sering memuji kecantikan Adara tapi kali ini terasa berbeda. Rasanya sangat manis kata-kata itu keluar dari mulut pria posesif itu.


"Kalau begitu, sisikah rambutmu semua ke sebelah ini." ujar Rion, menyibak rambut Adara ke satu sisi hingga menunjukkan sebelah lehernya indah itu.


"Apa aku bilang, kau sangat cantik." Rion mengecup kembali bibir Adara membuat rona makin memenuhi wajah Adara. "Aku akan kembali ke kamar, pergilah menjemput Illy aku tidak suka mereka terlalu dekat." Bisik Rion.


"Rion, jangan begitu Illy nyaman sama Emre." protes Adara.


"Baiklah, aku akan mengambil hati Illy untuk memisahkan mereka."


"Terserah, Rion." Rion mengambil tangan Adara dan membawanya masuk ke gedung rumah sakit itu.


________________________________


Setelah berpisah dengan Rion di depan lift, kini Adara berada di depan pintu ruangan Emre. Dari luar sudah terdengar cekikikan Illy, entah apa yang mereka bicarakan di dalam sana. Adara mengetuk pintu, dan tanpa disuruh masuk ia segera masuk.


"Emre ...." sapa Adara, kembali menutup pintu di belakangnya lalu menghampiri Emre yang tengah duduk bercanda dengan Illy.


"Oh kau sudah datang?" Emre menghentikan gerakannya menggelitik pinggang Illy, jadi itu alasan gadis kecil itu cekikikan. Adara bahagia melihatnya.


"Apa kalian membicarakan sesuatu tadi?" tanya Adara penasaran perihal pertemuan Rion dan Emre.


Emre mengangkat sebelas alisnya menatap Adara. " Yah, hanya memperigatkan supaya dia meninggalkanmu." ucap Emre jujur.


"Emre!" Entah kenapa Adara tidak menyukai apa yang baru saja ia dengar.


Emre tersenyum miring. Illy bahkan menatap ibunya ketakutan. Adara menyesal telah mengeraskan suara di hadapan Illy.


"Sorry, tapi kau tidak seharusnya mengatakan itu. Dia lupa ingatan."


"Lupa ingatan? Tapi sepertinya tidak Adara?" Emre menyela dengan cepat.


"Hanya aku yang ia ingat, bahkan ibunya sendiri ia lupakan. Itu terdengar konyol tapi itulah yang terjadi, Emre."


Emre berjalan kemeja kerjanya, meninggalkan Illy di sofa sibuk dengan mainannya.


"Kau mengabaikan cintaku Adara tapi begitu si brengsek itu kembali dengan mudah kau menyerahkan dirimu padamu."


"A-apa maksudmu? Kita sudah sepakat jadi teman. Ayolah Emre, apa begini sikap seorang teman?"


"Sebentar lagi jam praktekku akan di mulai. Bawahlah Illy keluar."


"Emre ..." Adara memohon tapi tampaknya Emre sedang tidak ingin di ganggu. Adara menghela napas panjang, melihat sikap Emre padanya. "Baiklah, kita bicarakan lain waktu." ucapnya kemudian memanggil Illy dan menyuruhnya berpamitan dengan Emre.


"Sampai jumpa, paman." Illy mencium pipih Emre.


"Manisnya, baiklah cantik jaga dirimu. Oke!" Emre membalas ciuman itu. Setelah Adara di ambang pintu Emre memanggilnya.


"Dara,"


"Yah Emre." Adara begitu cepat menyahut dan menolehkan kepala. Ditatapnya Emre duduk di meja kerjanya tanpa melihatnya.


"Tutupi kissmark di lehermu, atau kau sengaja memamerkan itu?"


Bersambung ...


Terima kasih masih tetap di Obsessive loves. Terima kasih untuk Vote, like dan ulasannya. Maaf ya nggak balas komentar kalian. Harap mengerti tapi saya sangat antusias membacanya.